
"Apa kau cemburu padaku, hm?" tanya Jevian to the point membuat mata Roseline mengerjap sambil menelan ludahnya.
"Cemburu?" Roseline terkekeh sumbang. "Tidak," kilahnya.
Padahal dalam hati ia mengumpat, tanpa sadar dirinya sudah merasakan kecemburuan pada guru Jefrey itu. Apalagi setelah tahu kalau sang guru menyukai Jevian. Dan yang lebih membuatnya kesal karena nama yang tertera di ponsel Jevian adalah Miss Sasya Cantik. Bagaimana ia tak kesal.
'Cemburu? Benarkah aku cemburu? Sial. Kenapa aku bisa cemburu?'
Roseline bertanya pada dirinya sendiri seperti orang bodoh. Bagaimana ia bisa cemburu? Ya karena ia sudah mulai menyukai Jevian lah. Masa' begitu saja mesti dikasi tahu pembaca sih.
"Yang benar?" tanya Jevian dengan tersenyum meremehkan.
"Ya, ya benar lah. Masa' ya salah."
"Tapi aku merasa kalau kau cemburu."
"Untuk apa aku cemburu. Memangnya cemburu dengan apa dan siapa? Kamu sepertinya sedang berhalusinasi," kilahnya sedikit gelagapan.
Alis Jevian menukik tajam. "Yakin?"
"Kamu kenapa, sih?" omel Roseline kesal. Bukan kesal dengan tuduhan Jevian, tapi fakta yang gengsi ia ungkapkan.
"Ya sudah, aku mau telepon Miss Sasya balik," ujar Jevian acuh tak acuh sambil membaringkan tubuhnya di samping Roseline, kemudian ia menggapai ponselnya yang tadi terjatuh di atas kasur.
Mendengar Jevian ingin menelepon Miss Sasya, tiba-tiba Roseline kembali dongkol.
"Oh, Silahkan! Silahkan kalian teleponan atau kalau perlu video call'an seperti pagi tadi. Aku keluar. Aku tidak mau mengganggu kemesraan kalian," cerocos Roseline dengan dada naik turun. Rasanya kuping dan kepala Roseline berasap, tapi sayang asapnya tidak kelihatan. Coba dirinya seperti karakter dalam kartun atau anime, pasti bukan hanya kepala dan telinganya saja yang berasap, tapi hidung dan mulutnya juga. Dengan mata dipenuhi api yang menyala-nyala pun tanduk di atas kepala.
Mendengar Roseline ingin keluar, Jevian langsung mengangkat kakinya dan menimpakannya ke atas kaki Roseline. Seperti kurang puas, tangan kirinya pun sudah menyelip di bawah punggung Roseline kemudian melingkar ke depan, menahan tubuhnya agar tidak kemana-mana.
"Jev, lepas!" sentak Roseline dengan gigi bergemeletuk.
"Tidak. Aku tidak mau ditinggal. Aku mau kau di sini, temani aku. Bagaimana kalau aku tiba-tiba dirayu guru cantik Jefrey, kan kamu juga yang nantinya repot," ujar Jevian asal membuat Roseline semakin dongkol.
"Lepas, Jev! Aku mau keluar!"
"Halo, selamat malam, tuan Jevian," ucap seseorang dari seberang sana membuat dada Roseline kian bergemuruh.
"Halo juga, Miss Sasya. Oh ya, tadi Miss Sasya menelpon saya, ada apa ya?" tanyanya sambil mendesis sebab Roseline sudah menggigit jarinya agar segera melepaskannya.
"Kau apa-apaan?" tanya Jevian pelan.
"Lepas!"
"Tidak mau." Keduanya justru sibuk berdebat membuat Miss Sasya di seberang sana bingung saat mendengar bisik-bisik itu.
"Tuan."
"Oh, ya. Maaf, tadi saya ada pekerjaan sebentar. Ya, ada apa, Miss?"
"Oh, yang tadi, saya menghubungi Anda untuk mengabarkan kalau berkas-berkas Jefrey sudah diterima pihak sekolah jadi Senin depan Jefrey sudah bisa kembali bersekolah."
"Ah, bagus kalau begitu. Terima kasih atas bantuan, Miss Sasya."
"Ah, tak perlu sungkan. Saya justru senang sekali bisa membantu putra Anda, Tuan. Namun untuk validasi kesiswaan, tuan besok diharapkan datang untuk menandatangani berkas-berkas," ujar Miss Sasya lembut membuat Roseline kian dongkol. Matanya memicing tajam, namun justru disambut dengan senyuman mengejek oleh Jevian.
"Apakah harus saya?"
"Em, sebaiknya emang Anda, tuan, sebagai orang tuanya."
"Kalau ibunya? Bolehkan?" Di seberang sana dahi Miss Sasya berkerut dalam, bukankah ibu Jefrey ditahan pihak kepolisian karena kasus pembunuhan?
"I-ibu?"
Dahi Roseline berkerut, "kenapa aku yang mau suruh kesana?"
"Karena kau ibu Jefrey."
"Bukankah lebih baik kau yang kesana supaya kau bisa bertemu dengan Miss Sasya cantik-mu itu," sarkas Roseline yang justru membuat Jevian tergelak.
"Sekarang kau mau mengakui kalau kalau cemburu atau tidak?"
"Aku tidak cemburu," kekeh Roseline tidak mau mengaku.
"Aku memang awam dalam masalah percintaan, bahkan aku belum pernah pacaran, tapi aku bisa menebak kalau kau cemburu. Ayolah, Baby, mengaku saja, kau cemburu kan?" goda Jevian yang kini kembali mengungkung tubuh Roseline.
"Ti- ... "
Belum sempat Roseline menjawab pernyataan Jevian, laki-laki itu justru lebih dulu membungkam mulutnya dengan ciuman yang sangat panas. Mata Roseline sampai terbelalak. Namun anehnya, tangan Roseline justru mengalung di leher Jevian. Kemudian matanya memejam seolah ia sudah sangat menunggu pertautan bibir itu.
Merasa Roseline kehabisan pasokan oksigen, Jevian pun melepaskan tautan bibirnya. Kemudian ia tersenyum ke arah Roseline yang wajahnya sudah memerah bagai tomat matang.
"Masih mau berkilah kau tidak cemburu, hm?" goda Jevian sambil menyeka sisa-sisa saliva yang membasahi bibir Roseline. Dada Roseline masih naik turun membuat wajahnya tampak sangat menggairahkan. "Mengaku cemburu bukanlah hal yang memalukan, Seline. Tidak akan menjatuhkan harga dirimu. Kecuali yang kau cemburui adalah pasangan orang lain, istri orang lain, barulah kau pantas merasa malu," imbuh Jevian dengan tatapan teduhnya.
Roseline mendelik sambil mengatur nafasnya, "kalau iya, kenapa? Apa salah? Apa tidak boleh?" omel Roseline membuat tawa Jevian seketika menyembur.
"Hahahaha ... Ya, ampun, ternyata perempuan datar dan kaku sepertimu pun memiliki sisi menggemaskan seperti ini? Tentu saja tidak salah, Baby. Bukankah kau calon istriku jadi sudah sewajarnya kalau kau cemburu saat calon suamimu yang tampan ini dekat dengan perempuan lain. Tapi tenang saja, Baby, semua tidak seperti yang kau pikirkan. Sebab aku menghubunginya untuk menanyakan perihal Jefrey yang ingin kembali bersekolah. Begitu pula pagi tadi, kami terpaksa video call sebab Jefrey harus mengikuti sesi wawancara secara online untuk melihat keadaannya. Aku tidak pernah berkomunikasi dengannya kecuali untuk urusan Jefrey. Aku tidak memiliki hubungan apapun dengannya. Sungguh," ujar Jevian bersungguh-sungguh.
"Apa kau menyukainya?"
"Ya ... " Baru mendengar satu kata itu saja sudah membuat dada Roseline rasanya terbakar. Rasanya ingin sekali ia mencakar-cakar wajah Jevian saat ini juga, namun niatnya itu terhenti saat Jevian melanjutkan kata-katanya. " ... sebagai seorang guru sebab ia guru yang baik."
"Bukankah kau menyukainya?"
"Kan aku sudah jawab, memang aku menyukainya."
"Bukan suka sebagai seorang guru, tapi sebagai seorang perempuan, iya kan?"
"Kata siapa?"
"Buktinya itu nama dia di ponselmu," sungut Roseline membuat tawa kembali membahana dari bibir Jevian.
"Kau salah, Baby. Itu bukan aku yang membuatnya, tapi Jefrey dulu saat baru mengenalnya. Karena aku terlalu sibuk, aku jadi tidak menghiraukan hal tersebut. Jadi kau kesal karena namanya di ponselku Miss Sasya ... " Mata Roseline kembali melotot membuat Jevian tak mampu menahan gejolak bahagianya. Ia lantas berguling di samping Roseline dan memeluknya. "Jujur, aku tidak pernah menyukainya seperti aku menyukaimu. Jadi calon istri, apa kau masih marah?"
"Tapi dia menyukaimu."
"Aku tidak peduli. Aku tidak bisa melarang seseorang untuk menyukai ataupun membenci diriku. Itu hak mereka. Jadi, bagaimana, Baby, kau masih marah?"
Jevian menatap lekat wajah Roseline yang tersipu malu. Roseline menunduk kemudian menggeleng. Benar apa kata Jevian, mereka tidak bisa melarang seseorang untuk menyukai ataupun membenci. Sama sepertinya yang tidak bisa melarang Bastian menyukai dirinya, namun yang terpenting ia harus bisa menjaga hati untuk pasangannya.
Meskipun ia belum yakin 100% tentang perasaannya pada Jevian, namun ia sadar, ia bukan hanya merasa nyaman dengan laki-laki itu, tapi ia juga merasa bahagia. Mungkin bila dipersentase, rasa suka dan sayangnya pada Jevian sudah mencapai angka 75%. Mungkin tak butuh waktu lama untuk mencapai 100% mengingat bagaimana sikap dan perhatian Jevian padanya. Tidak sulit untuk mencintai laki-laki seperti Jevian sebab ia bukan hanya baik, tampan, kaya raya, tapi ia juga perhatian dan berhati hangat. Jangan lupakan ia yang begitu menyayangi putranya. Terlepas siapa ibunya, ia tetap menyayangi anaknya dengan sepenuh hati. Ia juga mau menerimanya apa adanya berikut masa lalunya. Lantas, apalagi yang mesti ia ragukan dari seorang Jevian? He's so perfect.
Jevian lantas kembali merengkuh Roseline ke dalam pelukannya. Namun tiba-tiba ia merasa tak nyaman saat merasakan sesuatu bergejolak di bawah sana.
'Astaga, bagaimana ini? Mengapa dia bangun sih? Ck, sepertinya aku harus segera mempercepat pernikahan kami. Sudah tidak bisa ditunda lagi. Kalau kelamaan ditunda, bisa-bisa ia kadaluarsa karena kelamaan hibernasi."
...***...
Hai kak, yang belum follow igeh othor, follow ya!
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...