
Hari berlalu begitu cepat. Tanpa terasa kehamilan Rhea telah masuk bulan ke-empat. Meskipun belum besar, tapi perut buncit Rhea sudah mulai terlihat. Apalagi saat ia mengenakan dress yang sedikit menunjukkan lekuk tubuhnya.
Theo malam ini pulang sedikit larut dari biasanya. Beberapa hari lagi akan diadakan rapat tahunan jadi ia dan beberapa staf kantor tempatnya bekerja ikut lembur untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tidak bisa ditunda.
Saat memasuki ruang tamu, Rhea terhenyak sebab ia melihat sang istri sedang tertidur lelap dengan televisi yang menyala. Theo menghela nafas lelah. Bukan lelah melihat sikap Rhea, tapi murni karena ia kelelahan. Ia tadi sudah menyampaikan pesan kalau ia akan pulang terlambat agar sang istri tidak menyiapkan makan malam. Ia pikir Rhea tidak akan menunggunya dan memilih tidur di kamar, tapi ternyata Rhea justru tertidur di sofa alih-alih di kamar. Entah Rhea tertidur karena lelah menunggunya atau dia memang tertidur karena kelelahan.
Theo berjalan begitu saja melewati Rhea yang tampak begitu pulas. Ia masuk ke dalam kamar untuk segera membersihkan diri. Setelah 15 menit berlalu, Theo pun keluar dari dalam kamar mandi dengan perasaan yang lebih segar. Diliriknya tempat tidur dimana Rhea sering meletakkan pakaiannya, ternyata memang di sana telah tergeletak pakaian ganti yang memang kerap dipakainya untuk tidur.
Setelah mengenakan pakaian, Theo pun kembali ke ruang tamu. Ia pikir Rhea telah bangun dan menyiapkan pakaiannya, nyatanya perempuan itu masih tertidur lelap. Artinya, pakaian tadi telah disiapkan sejak tadi.
Theo tidak pernah meminta dilayani seperti itu. Namun ia juga tidak melarang apa yang ingin Rhea lakukan. Ia membebaskan perempuan itu untuk melakukan apa saja yang ia suka.
Walaupun masih terkesan dingin, namun sebisa mungkin Theo tak lagi bersikap yang mana bisa menyakiti Rhea. Theo memang terkesan kaku dengan seseorang yang tergolong baru salam hidupnya. Apalagi itu perempuan. Ia merupakan laki-laki yang sulit dekat dengan perempuan. Theo memang hanya pernah dekat dengan beberapa perempuan saja dan yang paling dekat dan tentunya spesial hanya Shenina.
Oleh sebab itu, Theo kadang bingung harus bersikap bagaimana dengan Rhea. Terlalu canggung, itu yang ia rasa.
Melihat Rhea tertidur lelap, rasanya tak tega untuk membangunkannya. Tapi ia lebih tak tega melihat Rhea yang tengah hamil justru tertidur di tempat yang sempit seperti sofa. Theo lantas segera mematikan televisi dan membereskan cangkir dan cemilan Rhea yang tergambar di atas meja. Setelahnya, dengan perlahan, Theo meraih Rhea ke dalam gendongannya dan berjalan perlahan menuju kamar Rhea.
Rhea menggeliat. Tanpa sadar Rhea justru menyandarkan wajahnya di dada Theo. Theo sampai terpaku dan menghentikan langkahnya. Tak pernah ada perempuan lain yang menempel seperti ini di dadanya selain Shenina. Hal tersebut sontak saja membuat darahnya berdesir dan jantungnya berdetak kencang.
Namun sebisa mungkin Theo bersikap biasa saja. Ia menggelengkan kepalanya lalu kembali melangkah menuju kamar Rhea.
Setibanya di kamar perempuan itu, dengan perlahan Theo membaringkan Rhea. Theo juga memasangkan selimut hingga sebatas dada. Setelahnya, Theo mematikan lampu dan menyalakan lampu tidur yang terletak di nakas sebelah ranjang.
Namun masalah hati tak ada yang bisa mengatur. Ia pun sudah berusaha melupakan Shenina, namun tak semudah itu. Ia hanya berharap, dengan kesempatan yang ia beri pada Rhea dapat membuka hatinya secara perlahan untuk perempuan itu. Apalagi ia sedang mengandung anaknya. Ia pun tak ingin membuat anaknya tumbuh tanpa keluarga yang lengkap. Namun semua hanya menunggu sang waktu. Ia harap, seiring kebersamaannya dengan Rhea mampu membuat hatinya yang kadung beku agar dapat menerima perempuan itu seutuhnya.
...***...
Sinar matahari masuk melalui celah-celah gorden membuat wanita yang tengah terlelap di atas tempat tidur seketika terusik. Matanya terbuka dan mengerjap. Ia belum sepenuhnya sadar dimana ia sedang berada. Hingga dalam hitungan detik seketika ia terlonjak saat menyadari dimana ia sedang berada.
"Sejak kapan aku di sini? Bukankah semalam aku tertidur sofa." Rhea bergumam sambil memperhatikan sekeliling termasuk pakaian yang ia kenakan.
"Apa Theo yang memindahkan ku kemari? Ah, tapi mungkinkah?" Rhea merasa tak percaya kalau Theo lah yang memudahkannya ke dalam kamar. "Kalau bukan, lantas bagaimana aku bisa tiba-tiba terbaring di kamar? Apa aku pindah tanpa sadar?" gumamnya masih merasa bingung. Hingga saat ia melihat jarum jam sudah menunjukkan hampir pukul 9, Rhea pun terlonjak saat menyadari kalau ia sudah kesiangan. Rhea pun gegas ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Setelahnya, ia segera menuju dapur. Ia khawatir Theo telah menunggunya untuk sarapan. Namun saat melihat dapur yang tampak sepi, mendadak rasa kecewa menggelayuti benaknya. Ia pun berbalik menuju kamar Theo. Ia ingin memeriksakan keberadaan laki-laki itu. Rhea mencoba mengetuk pintu beberapa kali, tapi tak kunjung mendapatkan respon. Dengan perasaan gugup, Rhea lantas membuka pintu. Ia mendapati kamar itu sepi. Segalanya masih terlihat rapi. Kecewa di hatinya kian menjadi. Ia pikir Theo tidak pulang semalam.
"Sepertinya ia tidak pulang semalam," gumamnya kecewa. Hal itu mengingatkannya pada beberapa bulan yang lalu, dimana Theo jarang sekali pulang untuk menghindarinya.
Dengan langkah gontai, Rhea berjalan menuju dapur untuk minum air dingin guna meredam gemuruh kecewa di dadanya. Namun saat melihat meja makan yang telah terhidang semangkuk sereal lengkap dengan susu dan buah seperti yang kerap ia buat untuk dirinya sendiri. Tak lupa juga terhidang segelas susu hangat di sana. Mendung yang sesaat tadi tercetak jelas di wajah Rhea seketika berubah menjadi cerah. Secerah langit pagi itu yang membuat perasaannya membuncah bahagia.
Rhea lantas segera menarik kursi dan menghempaskan bokongnya. Seperti orang yang sudah sangat kelaparan, Rhea menyantap sarapan yang ia yakini disiapkan oleh Theo untuknya tersebut. Tanpa sadar, Rhea meneteskan air matanya. Kehamilan membuatnya jadi lebih sensitif. Terlebih kali ini ia mendapatkan perlakuan yang tidak biasa dari suami dinginnya. Jelas saja ia terharu luar biasa. Setelah berbulan-bulan menikah, akhirnya ia bisa merasakan perlakuan yang manis dari sang suami. Entah apa tujuannya. Apakah karena kehamilannya? Atau karena perlahan rasa cinta itu telah tumbuh di hati Theo? Terserahlah. Ia tak ingin terlalu memikirkannya. Bahagia itu kita yang ciptakan. Kalaupun ia melakukan ini karena kehamilannya, ia tak masalah. Ia justru senang. Artinya, Theo menyayangi calon anaknya terlepas dari hubungan mereka yang rumit ini.
Sementara itu, di kantor tempat Theo bekerja, tampak kasak hampir di setiap kubikel. Awalnya Theo ingin acuh tak acuh seperti biasa. Tapi setelah mendengar apa yang mereka perbincangkan, hati Theo mendadak gerimis. Rasa yang belum sirna itu seketika membuat dadanya bergemuruh pedih.
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...