
Eve tampak mematut dirinya di depan cermin. Ia berputar-putar seraya memperhatikan gaun yang ia kenakan saat itu. Setelah memastikan penampilan dirinya sudah pas, Eve pun segera beranjak menuju ruang tamu. Ia tengah menantikan kedatangan Lynda. Tadi Lynda mengatakan sudah dalam perjalanan menuju ke apartemennya. Dengan tak sabar, Eve menanti kedatangan sang kekasih. Ia tak peduli sudah diusir ayahnya ataupun diceraikan Jevian, tapi yang penting baginya adalah Lynda tetap berada di sisinya. Ia sangat mencintai Lynda. Terserah orang-orang memandang rendah atas kelainan yang ia alami. Yang penting baginya, ia suka dan ia bahagia. Persetan pada orang-orang yang mengatainya bodoh karena sudah menyia-nyiakan laki-laki sebaik dan setampan Jevian demi seorang perempuan. Ia tidak peduli sama sekali.
Terdengar bunyi bel pintu ditekan. Dengan tersenyum lebar, Eve pun segera berjalan menuju pintu dan membukanya.
Eve tersenyum lebar dan langsung menarik Lynda ke dalam apartemennya. Setelah pintu tertutup, Eve pun segera berhambur ke pelukan Lynda.
Namun bukannya sambutan hangat seperti biasa yang ia dapatkan, Lynda justru mendorongnya kasar hingga tubuhnya terhempas ke dinding dan merosot di lantai.
Bugh ...
"Lyn-Lynda, apa yang kau lakukan?" tanya Eve dengan menatap nanar Lynda yang kini berdiri menjulang tepat di hadapannya.
"Kau pikir apa? Kau pikir aku mau kembali memadu kasih denganmu? Cih, menjijikan," sahut Lynda tak terduga. Eve sampai membeliakkan matanya saat mendengar kata-kata penuh cemoohan itu.
"Apa maksudmu? Kenapa kau berkata seperti itu?" Lynda lantas berjongkok kemudian merenggut rambut Eve yang tertata rapi sambil menyeringai.
"Kau pikir aku suka melayani napsu gila mu itu, hah? Tidak. Kau tahu, sejujurnya aku amat sangat jijik padamu," ujarnya tanpa peduli kalau Eve terluka atas kata-katanya itu.
"Tapi kau yang sudah membuatku seperti ini?" ujar Eve dengan suara bergetar.
"Dan dengan bodohnya kau menurut, jadi jangan salahkan aku. Aku hanya ingin mempermainkan mu. Kau tahu kenapa? Karena kau adalah tambang emas bagiku," ujar Lynda seraya terkekeh membuat mata Eve memerah karena kecewa yang teramat sangat.
"Ja-jadi selama ini kau hanya ingin memanfaatkan ku? Begitu?"
"Baguslah kalau kau sadar," sahut Lynda seraya melepaskan tangannya dari rambut Eve.
Air mata Eve luruh. Ia tergugu di tempatnya. Ia bahkan kehilangan tenaganya. Namun saat ia melihat Lynda tampak mengemas barang-barang berharganya ke dalam sebuah tas besar, Eve membeliak marah.
"Apa yang kau lakukan dengan barang-barang ku?" desis Eve.
"Aku hanya sedang mengemas barang-barangmu. Anggap saja ini sebagai kompensasi atas perbuatanmu padaku dan ... atas tersebarnya video panas kita di sosial media," ujarnya acuh tak acuh membuat mata Eve melotot tajam.
"Kau gila! Kau sudah mendapatkan banyak uang dariku selama ini lalu kau masih ingin menguras habis hartaku yang tinggal tidak seberapa itu?" pekik Eve murka.
Hidupnya sudah hancur karena Lynda, lalu dengan sesuka hati Lynda ingin mengambil barang-barangnya. Tentu saja ia tidak terima. Ia sudah diusir. Ayahnya sudah tidak peduli lagi padanya, lalu Lynda ingin mengambil semua barang-barangnya, lalu bagaimana hidupnya ke depannya?
"Sudah aku bilang, anggap ini kompensasi. Sedangkan uang yang selama ini kau beri, itu memang hakku. Apa kau lupa bagaimana cara kau memperlakukan aku? Kau jadikan aku pemuas napsu sialan mu itu, kau pikir aku senang? Kau tahu, aku jijik. Sudah, lebih baik kau ikhlaskan semua ini. Toh kau masih bisa meminta lagi dengan ayahmu yang kaya raya itu," ujar Lynda sambil membawa tasnya yang berisi perhiasan dan beberapa barang mewahnya.
Melihat Lynda yang hendak pergi, dengan cepat Eve menahan lengan Lynda. Namun Lynda dengan cepat menghempasnya. Lalu ia juga mendorong tubuh Eve hingga terjengkang ke belakang.
"Mulai sekarang, ini milikku. Dan mulai sekarang, hubungan kita berakhir. Jangan pernah hubungi aku lagi karena aku ingin hidup normal dan menikah dengan laki-laki yang aku cintai."
Setelah mengucapkan itu, Lynda pun pergi tanpa memedulikan Eve yang masih terkapar di lantai karena kesakitan. Ia memegang perutnya, sakitnya terasa begitu mencengkeram. Wajah Eve memucat, peluh sebesar biji jagung mengalir deras membasahi wajahnya.
"Lynda, tolong jangan tinggalkan aku! Lynda, tolong aku! Aaargh ... Sakit," desis Eve sebelum kehilangan kesadarannya.
Di saat Eve sedang kehilangan kesadarannya di apartemennya, maka di rumah sakit tampak Jevian yang merasa cemas sebab sebentar lagi putranya, Jefrey akan masuk ke ruang operasi.
Namun sebisa mungkin ia bersikap tenang di depan sang putra sebab ia tak ingin membuat sang putra ikut khawatir.
"Dad," panggil Jefrey.
"Ya, Boy. Kamu ingin sesuatu?" tanya Jevian yang sudah duduk di samping sang putra. Sementara Roseline duduk di sisi lainnya.
"Dad, Daddy pernah bilang, mommy Seline belum bisa jadi mommy Jefrey sebenarnya karena mommy Seline belum menikah dengan Daddy."
Mata Roseline dan Jevian seketika mengerjap. Mereka bingung kenapa Jefrey tiba-tiba mengatakan hal seperti ini.
"Ya, memangnya kenapa?"
"Dad, Jefrey mau mommy Seline jadi mommy Jefrey yang sebenarnya. Apa Daddy mau menikah dengan mommy?"
Mendengar pertanyaan yang persis permintaan tersebut, jelas saja membuat jantung Roseline berdegup kencang. Bagaimana bisa Jefrey meminta hal yang mustahil baginya?
Jefrey pun mengalihkan pandangannya pada Roseline yang sudah membelalakkan matanya. Ia menatap horor Jevian. Bagaimana bisa laki-laki itu mengatakan mau menikah dengannya dengan begitu enteng. Seolah tidak ada beban sama sekali.
"Mom, mommy mau kan jadi mommy Jefrey? Mommy mau kan menikah dengan daddy?" pinta Jefrey dengan wajah memelas.
Roseline bingung. Bagaimana cara menjawab permintaan anak asuhnya itu? Ingin langsung menjawab tidak, tapi Roseline takut Jefrey tiba-tiba drop sehingga operasi gagal atau lebih parah dari itu, berakhir buruk. Bukankah kondisi mental seseorang juga berpengaruh.
Tapi bila menjawab iya, dirinya saja belum memiliki perasaan apa-apa dengan Jevian. Begitu pula dengan Jevian, ia yakin kalau ia masih memendam perasaan pada perempuan masa lalunya itu. Lalu, bagaimana bisa mereka menikah sedangkan mereka tidak saling memiliki perasaan satu sama lain.
"Mom," panggil Jefrey lagi membuat Roseline yang tadinya melamun seketika terkesiap.
"Ya," jawabnya gelagapan.
"Bagaimana? Mommy mau kan jadi mommy Jefrey?" melas Jefrey yang sudah menggenggam tangan Roseline dengan mata berkaca-kaca.
Lalu tiba-tiba Jevian pun ikut menggenggam tangannya membuat Roseline kian linglung saja.
"Jawablah! Tak perlu ragu. Jefrey tidak akan memaksa bila kau tidak bersedia," ujar Jevian lembut.
Roseline lalu menatap Jevian yang sedang menatapnya lembut. Ada kelembutan, kehangatan, dan ... entahlah. Roseline takut salah menafikan apa yang ia lihat.
"Jef, untuk sekarang mommy tidak bisa menjawab. Tapi ... "
Roseline diam membuat ayah dan anak itupun ikut diam sembari menantikan sebuah jawaban.
Roseline menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya. Ia lantas tersenyum lembut sambil membalas genggaman tangan Jefrey.
"Tapi Mommy janji akan menjawab permintaan Jefrey setelah Jefrey sembuh. Jadi kalau Jefrey ingin jawaban dari Mommy, Jefrey harus sembuh dulu. Jefrey mau kan berjanji dengan mommy untuk sembuh?"
"Apakah kalau Jefrey sembuh mommy mau menikah dengan daddy dan menjadi mommy Jefrey yang sesungguhnya?" tanya Jefrey antusias.
Tak ada salahnya memberikan harapan pada Jefrey kan. Yang terpenting ia sembuh terlebih dahulu. Untuk urusan ke depannya, ia serahkan pada Tuhan. Ia yakin, bila memang Jevian merupakan jodohnya, maka mau menolak pun, mereka pasti akan tetap bersama nantinya.
"Emmm ... Rahasia. Makanya, Jefrey harus sehat terlebih dahulu. Oke Boy, sepertinya sudah saatnya Jefrey bertemu dengan paman dokter. Jefrey harus tenang dan yakin, setelah ini, Jefrey pasti sembuh. Jefrey tidak mau kan membuat mommy dan Daddy sedih?" Jefrey menggeleng.
"Good boy. Semangat, Sayang. Mommy loves you."
Roseline pun melabuhkan satu ciuman di pipi Jefrey.
"Baiklah, Jefrey akan menunggu jawaban mommy. Tapi sebelum itu, mommy dan Daddy harus cium pipi Jefrey lebih dulu."
Seketika Roseline dan Jefrey terhenyak. Ingatan mereka seketika kembali ke beberapa hari yang lalu saat Jefrey dengan sengaja membuat mereka berciuman tanpa sengaja.
"Mommy kan sudah cium, kini giliran daddy."
"No, Jefrey mau mommy dan Daddy cium Jefrey bersamaan. Kalau tidak mau, Jefrey akan sedih," Jefrey memasang wajah murung membuat Jevian dan Roseline bingung.
"Seline, aku mohon, lakukan saja!" tukas Jevian dengan tampang memelas.
Ditatapnya wajah polos Jefrey yang sepertinya memang menunggu momen tersebut. Lalu dengan terpaksa, Roseline pun mengikuti kemauan Jefrey.
Cup ...
Bila sebelumnya Jefrey mengerjai mereka dengan menarik diri, tapi kali ini tidak. Mereka benar-benar mencium pipi Jefrey. Setelahnya, Jefrey merentangkan tangan meminta agar Roseline dan Jevian memeluknya. Roseline pun mendekap tubuh mungil Jefrey. Namun tanpa diduga, Jevian menarik keduanya ke dalam pelukannya, kemudian mencium puncak kepala mereka bergantian.
Degh ...
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...