Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 67


Rainero melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Shenina sambil menggenggam tangan sang wanita. Sejak keluar dari rumah itu, Shenina hanya terpaku memandang ke luar jendela, hingga Rainero tiba di tempat yang cukup sepi, ia pun segera menepikan mobilnya membuat Shenina mengerutkan keningnya.


"Kenapa berhenti di sini, Rain?" tanya Shenina bingung.


Rainero justru melepaskan seat belt mereka berdua dan memposisikan duduknya hingga mereka kini saling berhadapan. Digenggamnya kedua tangan Shenina.


Wajah Shenina terlihat sendu. Meskipun ia berusaha untuk bersikap baik-baik saja, tapi Rainero dapat merasakan luka hati wanita itu kini kembali menganga. Rainero yang mendengar umpatan dan sumpah serapah Harold saja sakit hati, apalagi Shenina yang merupakan anak kandung laki-laki itu, sudah pasti sakitnya begitu mendalam.


"Are you okay?" tanya Rainero dengan tatapan sendunya.


"I'm okay. Kenapa? Tak perlu khawatir, aku ... tidak apa-apa." Shenina memaksakan tersenyum dan Rainero tahu itu.


"Shen, kau ingat kan apa kataku padamu tempo hari? Kini aku akan selalu ada untukmu. Aku bersedia melakukan apapun untukmu. Jadikan aku tempatmu berkeluh kesah dan bergantung. Jangan sembunyikan lagi rasa sakit mu sebab kau memiliki aku. Menangislah bila kau ingin menangis. Tak perlu ragu, tumpahkan segala rasa sakit dan sesak di dadamu padamu. Aku mencintai dengan segala kelebihan dan kekuranganmu. Tumpahkan, lepaskan, jangan kau pendam. Manfaatkanlah aku sesuka hatimu karena aku ada memang untukmu," ujar Rainero lembut, tapi penuh ketegasan dan kasih sayang.


Dipandanginya wajah Rainero yang masih aaih menatap lekat dirinya. Perlahan, mata Shenina memerah, tampak kaca-kaca di bola matanya. Lambat laun, kaca-kaca itu pun pecah menjadi bulir-bulir yang membasahi pipi.


Bibir merah Shenina bergetar, kemudian ia pun terisak. Melihat raut wajah penuh kesakitan itu membuat hati Rainero ikut menjerit sakit. Ia mengumpati kelakuan Harold yang tidak mencerminkan sikap seorang ayah sama sekali. Diam-diam, tangan Rainero terkepal erat. Dadanya bergemuruh saat mendengar tangis Shenina yang menyiratkan lukanya yang begitu dalam.


"Rain, apa salah aku membenci ayahku sendiri?" lirihnya sambil terisak.


Rainero menggeleng tegas, "kau tidak salah. Kalau aku berada di posisimu pun mungkin aku akan membencinya hingga ke seluruh aliran darahku."


"Dia jahat, Rain. Dia kejam. Padahal aku anak kandungnya sendiri, tapi ia begitu membenciku. Apa salahku? Kenapa dia begitu tega? Bahkan dia lebih menyayangi anak wanita lain, dibandingkan aku ... putri kandungnya sendiri. Kenapa dia begitu jahat, Rain? Kenapa dia begitu kejam? Hiks ... hiks ... hiks ..."


Shenina memang sudah mati rasa pada ayah kandungnya sendiri, tapi rasa ia tetap tak bisa mengabaikan akan rasa sakit itu. Rasa sakit diabaikan, tidak dianggap, oleh satu-satunya keluarga membuat Shenina merasa sakit luar biasa.


"Apa kau ingin membalaskan dendam mu? Kalau iya, aku akan membantumu? Katakan saja, apa yang harus aku lakukan untuk mengobati rasa sakitmu itu?" tanya Rainero seraya mengusap punggung Shenina.


Shenina merenggangkan pelukannya dan mendongakkan wajahnya.


"Balas dendam?"


Rainero mengangguk, "kalau kau ingin membalaskan dendammu, aku bersedia membantu. Akan aku buat mereka menyesal telah menyakitimu sedemikian rupa," ucapnya dengan rahang mengeras. Diusapnya pipi basah Shenina dengan jemarinya. Lalu dikecupnya mata itu yang Rainero yakini telah banyak menumpahkan air mata dan salah satu penyebabnya adalah dirinya. Sampai sekarang pun Rainero masih kerap mengutuk dirinya sendiri yang pernah menjadi salah seorang penyebab rasa sakit wanita itu.


Shenina menggeleng, "aku sebenarnya tidak ingin membalas dendam sebab aku yakin tanpa aku membalas pun pasti suatu hari nanti mereka akan mendapatkan pembalasan sendiri, tapi ... "


"Tapi apa?" tanya Rainero saat Shenina menjeda kalimatnya.


"Tapi aku ingin sekali membuktikan kalau mommy tidak bersalah. Mommy pasti difitnah dan aku juga merasa kematian mommy terasa janggal. Namun sayang, hingga saat ini aku belum bisa membuktikannya. Aku ingin sekali membersihkan nama mommy," ucapnya dengan sorot mata menerawang.


"Mommy mu difitnah?"


"Ya, mommy difitnah berselingkuh. Aku tidak mengerti, waktu itu mommy sedang sakit dan beristirahat di kamar. Saat itu aku masih kecil dan juga berada di kamarku. Lalu entah bagaimana caranya, tiba-tiba saya Daddy pulang, ada seorang laki-laki keluar dari kamar Mommy. Mommy sendiri sudah menjelaskan tidak mengenal laki-laki itu, tapi laki-laki itu justru mengaku merupakan kekasih Mommy. Sejak saat itu, Daddy begitu membenci mommy. Bahkan Daddy secara terang-terangan menjalin hubungan dengan Ambar yang merupakan pelayan di rumah kami. Hingga suatu hari, mommy ditemukan sudah tidak bernyawa di kamar mandi. Aku tidak mengerti apa yang telah terjadi, menurut mereka mommy terjatuh kemudian meninggal. Tapi entah mengapa, aku meyakini mommy bukanlah meninggal karena jatuh, tapi


... ada yang sengaja ingin menyingkirkannya," tukas Shenina dengan tatapan menerawang.


Rainero lantas kembali menarik Shenina ke dalam pelukannya, "kalau begitu, tenanglah, aku akan membantumu. Aku akan buktikan kalau mommy mu tidak bersalah dan aku juga akan membersihkan nama baiknya. Dan bila memang ada yang sengaja memfitnah apalagi melenyapkan nyawa mommy mu, aku berjanji akan menghukum mereka dengan lebih menyakitkan," ucapnya penuh kesungguhan.


...***...


"Rain, Shenina, kalian baru pulang?" seru Delena saat melihat kepulangan Shenina dan Rainero.


Shenina dan Rainero pun segera menghampiri Delena dan memeluknya secara bergantian.


"Iya Mom," jawab Shenina, sedangkan Rainero hanya diam.


Tiba-tiba mata Delena memicing saat melihat mata sembab Shenina.


"Rain, kau menyakiti Shenina? Kau membuatnya kembali bersedih, hah?" sentak Delena dengan sorot mata tajam.


Mata Rainero membulat saat tiba-tiba dijadikan tersangka sembabnya mata Shenina, "No, Mom. Rain tidak melakukan apa-apa. Mana mungkin Rain menyakiti Shenina."


"Lalu itu ... "


"Apa yang Rain katakan benar, Mom. Rain tidak menyakitiku," bela Shenina.


"Sudahlah Shen, jangan membela anak nakal ini. Kalau memang dia yang telah menyakitimu, katakan saja, biar Mommy yang memberinya pelajaran," desis Delena dengan mata melotot. Delena bahkan telah berdiri dan bersiap memukul Rainero.


"Astaga, Rain berani bersumpah Mom, Rain tidak melakukan apa-apa," seru Rainero gusar.


"Kalau bukan kau yang membuat Shenina sedih, lantas siapa? Bukannya Shenina pulang bersamamu. Tidak mungkin kan Mark yang membuatnya bersedih."


"Mom, tapi apa yang Rain katakan itu benar, bukan Rain yang telah membuatku bersedih. Justru sebaliknya, Rain lah yang melindungi ku dan berhasil menenangkan ku," ucap Shenina sungguh-sungguh.


Lalu Shenina pun menceritakan apa yang terjadi padanya. Wajah Delena pun menggelap tak menyangka kalau keluarga Shenina akan memperlakukannya seperti itu. Bahkan Delena juga mendukung apa yang akan Rainero lakukan.


"Oh ya Shen, pernikahan kalian akan dilakukan satu Minggu lagi, jadi bersiaplah," tukas Delena setelahnya.


"Hah, apa itu tidak terlalu cepat, Mom?" tanya Shenina terkejut. Sedangkan mereka saja baru tiba di negara itu dua hari yang lalu, tapi dalam satu Minggu ke depan pernikahan mereka tiba-tiba akan segera dilangsungkan. Bukankah pernikahan itu membutuhkan banyak persiapan dan waktu satu minggu terlalu singkat untuk mempersiapkan semuanya.


"Tidak sayang. Kau tidak perlu khawatir. Bukankah semakin cepat semakin baik, benar begitu Rain?"


Rainero tersenyum lebar, "mommy memang paling mengerti diriku," serunya bahagia.


Shenina hanya bisa menghela nafas pasrah kemudian tersenyum. Ia menyerahkan segalanya pada Rainero dan keluarganya sebab ia yakin mungkin ini yang terbaik.


Sebenarnya, justru ini permintaan Rainero sendiri agar pernikahan mereka dilangsungkan secepat mungkin. Rainero hanya ingin menunjukkan pada dunia kalau Shenina adalah istrinya dan Rainero juga khawatir kegagalan pernikahannya kembali terjadi. Untuk itulah ia berencana mempercepat pernikahannya untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...