
Beberapa orang berseragam safari pun segera turun dari dalam mobil. Hanya ada dua mobil yang orangnya belum turun. Lalu dua orang pun segera bergerak membukakan pintu kedua mobil tersebut. Mata Bastian seketika terbelalak saat melihat siapa yang turun dari kedua mobil tersebut.
"Ka-kalian? Kenapa kalian bisa berada di sini secara bersamaan?" gumam Bastian dengan wajah sedikit pias.
Kedua orang yang baru saja turun dari dalam mobil itu tersenyum sinis sambil berjalan mendekati Bastian.
"Jadi ini yang kau sebut perjalanan bisnis perjalanan suamiku?" tanya seorang perempuan lembut, namun tegas di setiap kata yang terucap. Bastian sampai tertegun mendengarnya. Ia tidak menyangka perempuan itu bisa ada di sini. Pun Jevian, mengapa mereka berdua bisa kompak ada di sana secara bersamaan.
Melihat keadaan Roseline yang tampaknya tidak baik-baik saja, membuat Jevian mengepalkan tangannya murka.
"Lepaskan calon istriku, brengsekkk!" desis Jevian.
"Tidak. Jangan harap! Setelah aku bersusah payah mendapatkannya, kau pikir aku akan melepaskan Rose begitu saja?"
"Lepaskan dia, Bastian! Apa kau sudah gila menculik calon istri orang?" desis perempuan yang tak lain adalah istri Bastian itu.
"Heh, kau pikir kau siapa? Dia ini kekasihku. Andai orang tua kita tidak menjodohkan kita, andai kau menolak perjodohan itu, sudah pasti aku telah bahagia hidup dengan Rose. Asal kau tahu, dia ini kekasihku. Dialah perempuan yang aku cintai, bukan kau!" desis Bastian tanpa memikirkan perasaan istrinya sama sekali. Perempuan itu mengeram marah. Ia sakit hati dan murka.
"Kau pikir dulu aku mau menikah denganmu? Tidak. Tapi justru daddymu lah yang selalu membujuk dan meyakinkan aku agar mau menerimamu. Meyakinkan kalau aku bisa bahagia hidup denganmu. Kau pikir dulu aku tidak memiliki seseorang yang aku cintai? Gara-gara kau, aku pun harus berpisah dengan laki-laki yang aku cintai. Namun aku tidak sekejam itu, tetap mencintai laki-laki lain sementara aku telah menikah. Aku berusaha melupakannya dan menerima kau dengan tangan terbuka. Tapi apa ini? Kenapa justru ini balasanmu! Brengsekkk!" teriak perempuan bernama Morra tersebut.
Bukannya merasa bersalah, Bastian justru menyeringai sinis.
"Memangnya aku peduli, hah! Minggir kalian! Jangan halangi langkahku!" usir Bastian.
"Berani kau membawa Seline, kau akan habis di tanganku!" ancam Jevian masih berusaha untuk tenang, meskipun hatinya sudah bergemuruh. Amarahnya sudah meletup-letup, apalagi saat melihat Roseline terkulai tak berdaya. Entah apa yang Bastian lakukan pada Roseline. Yang pasti, ia takkan memaafkan Bastian kalau terjadi sesuatu pada Roseline.
"Kau pikir aku takut, hah!" seringai Bastian.
Lalu ia memberi kode pada anak buahnya yang ada di belakangnya untuk maju memberi pelajaran pada Jevian. Tapi sebelum mendekati Jevian, anak buah Rainero sudah lebih dulu bergerak. Hingga akhirnya terjadilah perkelahian sengit di pelabuhan itu.
Orang-orang di sekitar pelabuhan merasa terkejut saat tiba-tiba terjadi kerusuhan di sana. Orang-orang berjatuhan. Baju hantam tak terelakan. Orang-orang sekitar berlari berhamburan, khawatir menjadi sasaran amukan orang-orang tak dikenal itu.
Jevian yang tidak bisa tinggal diam pun segera maju. Bastian menyeringai, ia tak takut sama sekali menghadapi Jevian. Apalagi ia menguasai banyak kemampuan bela diri.
Jevian dan Bastian pun akhirnya saling berhadapan. Jevian yang dirundung emosi pun segera bergerak maju untuk memukul Bastian, tapi laki-laki itu dengan cepat menghindar. Bahkan ia dengan cepat menghantamkan tinjunya ke wajah Jevian membuat sudut bibir Jevian terluka.
Jevian menyeka darah di sudut bibirnya. Pukulan itu sangat kuat, tapi ia tak merasakan sakit sama sekali. Ia tidak memedulikan hal itu, fokusnya saat ini hanyalah ingin memberikan pelajaran pada Bastian.
Jevian kembali maju. Ia menyerang Bastian semampunya hingga akhirnya ia berhasil menendang perut Bastian. Bastian yang tidak terima pun melemparkan kaki panjangnya ke arah Jevian, tapi dengan cepat Jevian memblokir serangan Bastian dan memutar tubuhnya lalu menendang bokong Bastian hingga ia tersungkur.
Amarah Bastian makin memuncak. Sifat arogannya membuat Bastian tidak terima mendapatkan pukulan seperti itu. Ia pun kembali menyerang Jevian. Saling pukul, saling baku hantam, saling terjang pun tak terelakkan.
Sementara Jevian dan Bastian sibuk berkelahi, Morra memanfaatkan situasi untuk membawa Roseline pergi. Ia membawa Roseline ke sisi mobil. Lalu ia berusaha menyadarkan Roseline. Ia yakin Roseline telah dibius oleh Bastian.
"Dasar bajingaan!" umpatnya kesal saat menyadari Bastian tidak pernah mencintainya sama sekali. Ia hanya memanfaatkan dirinya untuk mencapai tujuannya.
Panggilan ditutup, Morra pun segera mengambil botol berisi air mineral dan memercikkannya di wajah Roseline sambil terus menggoyangkan tubuhnya agar segera membuka mata.
Tak lama kemudian, mata Roseline mengerjap. Ia mengernyitkan dahi saat melihat keberadaan Morra.
"Kau ... Bukankah kau ... "
"Aku istri Bastian. Sekarang ia sedang berkelahi dengan tuan Jevian," ujar Morra segera memberitahu.
Mata Roseline membulat. Ia pun segera berdiri, namun karena efek obat bius belum sepenuhnya hilang, tubuhnya sedikit terhuyung.
"Minumlah terlebih dahulu!" Morra menyerahkan sebotol air mineral yang baru saja ia buka tutupnya.
Roseline menerima botol air minum itu dan segera menenggaknya.
Roseline menghela nafas panjang. Ia sedang memulihkan kesadarannya. Setelah merasa tubuhnya baik-baik saja, Roseline pun gegas keluar untuk melihat situasi di luar.
Saat di luar, mata Roseline terbelalak sebab saat ini Jevian sedang berada di bawah kaki Bastian. Bastian menginjak dada Jevian sambil tertawa terbahak-bahak. Ia sudah seperti orang yang mengalami gangguan kejiwaan. Jevian berusaha menyingkirkan kaki Bastian, tapi Bastian justru makin mengeratkan injakannya.
Brakkk ...
Bugh ...
Mata Bastian seketika terbelalak saat merasakan terjangan dari seseorang yang membuatnya tersungkur di tanah. Bastian mengeram marah, namun ekspresinya berubah saat mendapati Roseline lah yang sudah berdiri di hadapannya.
"Sayang, kau sudah bangun." Seolah tak peduli dengan perutnya yang sakit akibat terjangan Roseline, Bastian justru mendekat dengan senyum lebarnya.
Roseline yang sudah tak mampu menahan kesabarannya pun kembali menerjang Bastian. Bastian terbatuk-batuk karena tendangan Roseline tepat di dadanya. Belum sempat ia menyetabilkan keadaannya, Roseline kembali memukul Bastian dengan tinjunya hingga bertubi-tubi.
Bastian yang awalnya tak ingin melawan, akhirnya kehilangan kesabarannya. Ia pun kini berdiri berhadap-hadapan dengan Roseline.
"Kau pikir kau bisa mengalahkan ku, hah? Jangan lupa kalau ... "
"Aku tidak lupa. Tapi bukan berarti kau bisa bersikap semena-mena terhadapku. Mari kita bertarung! Kita buktikan, siapa yang lebih tangguh saat ini. Siapa yang mampu bertahan sampai akhir, dia pemenangnya," Raung Roseline dengan dada bergemuruh. Apalagi saat melihat Jevian yang sudah babak belur membuat api amarahnya menggelora seketika.
"Baiklah kalau itu maumu. Tapi agar permainan lebih menarik, bagaimana kalau kita buat kesepakatan," tawar Bastian.
"Apa itu?"
Bastian menyeringai, "kesepakatan yang mudah. Bila kau menang, aku akan menyerah, tapi bila kau kalah ... kau harus bersedia menjadi istriku, bagaimana?" tantang Bastian dengan seringai licik di bibirnya.
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...