
Mendengar penuturan Eve sontak saja membuat Jevian tergelak kencang. Bagaimana tidak, baginya apa yang Eve ucapkan merupakan sebuah omong kosong. Tidak mungkin kan seseorang yang selama beberapa tahun tidak menganggap anaknya, tiba-tiba berubah dan ingin menjadi ibu yang baik.
Bullshittt!
Jevian akui dia laki-laki yang naif. Tapi itu dulu. Kini ia sudah bisa berpikir jernih. Apalagi hal itu menyangkut putra satu-satunya. Ia tak ingin masuk ke lubang yang sama alih-alih ingin membuat anaknya bahagia. Toh ia sangat mengetahui kalau anaknya sudah tidak menginginkan ibunya lagi. Bila sebelumnya Jefrey masih mengharapkan ibunya bisa menyayanginya, maka sekarang tidak lagi. Mungkin Eve memang wanita yang sudah melahirkan Jefrey, tapi wanita itu tidak pernah sekalipun memosisikan dirinya sebagai seorang ibu.
Jadi saat mendengar tawaran yang Eve ucapkan jelas saja membuat Jevian geli sendiri. Namun seketika Jevian sadar, ia masih di ruangan Jefrey. Ia tidak boleh membuat keributan yang akan membuat istirahat anaknya terganggu. Jadi Jevian pun menutup mulutnya untuk meredam tawa yang sempat meledak.
"Apa yang kau tertawakan?" Eve sepertinya terpancing emosi. Ia yang pantang diremehkan seketika tersinggung dengan reaksi Jevian.
"Kau pikir apa lagi? Setelah mengucapkan sesuatu yang sangat menggelikan tadi, bagaimana aku tidak tertawa," ujar Jevian sambil terkekeh sinis.
"Kau ... Memangnya apa yang salah dengan permintaanku tadi? Jangan egois, Jevian. Kalau bukan demi anak, aku pun tak sudi menjadi istrimu lagi," ujarnya meradang.
"Kau pikir aku mau? Dan tadi apa kau bilang, aku egois? Siapa yang sebenarnya egois saat ini? Kau pikir aku tak paham akan isi otakmu itu? Aku yakin, telah terjadi sesuatu yang pada akhirnya membuatmu bersikap seolah-olah ingin menjadi ibu yang baik, padahal kenyataannya ... sedikitpun kau tidak memiliki sifat keibuan itu. Bahkan satu kali pun kau tak pernah memikirkan keadaan Jefrey. Yang ada di pikiranmu hanyalah apa yang kau inginkan harus kau dapatkan. Kau pikir siapa yang membuat Jefrey tersiksa seperti ini? KAU. KAULAH YANG MENJADI PENYEBAB UTAMANYA. KAU YANG MEMBUAT JEFREY TERSIKSA DARI SEJAK DALAM KANDUNGAN BAHKAN SAMPAI SUDAH SEBESAR INIPUN SEPERTINYA KAU BELUM PUAS UNTUK MENYAKITINYA. Jadi menurutmu haruskah aku menerima permintaanmu tadi?"
Lidah Eve mendadak kelu. Apalagi saat melihat sorot mata Jevian yang penuh dengan bara amarah dan kekecewaan, tapi Eve pantang mundur. Ego Eve terlalu tinggi. Hanya ia yang pantas mencampakkan, bukan sebaliknya. Namun untuk malam ini Eve akan mengalah, tapi esok ia akan kembali untuk meluluhkan hati Jevian. Ah, lebih tepatnya Jefrey. Ia akan mencoba mendekati anak itu.
...***...
Eve baru saja pergi beberapa saat yang lalu. Akhirnya Jevian bisa bernafas dengan lega. Jevian sedang melamun sambil menatap langit-langit kamar perawatan Jefrey, tiba-tiba saja ponselnya berdering nyaring. Dilihatnya, pengacara yang bertugas mengajukan perceraian lah yang menghubunginya.
"Ya, ada apa?"
"Tuan, saya ingin mengabarkan perihal ajuan perceraian Anda."
"Ya, kenapa?"
"Begini tuan, pihak pengadilan memang menerima permintaan perceraian Anda, tapi pengadilan baru akan mengabulkan ajuan perceraian Anda setelah Anda dan Nyonya Eve hidup terpisah terlebih dahulu selama setidaknya 6 bulan," papar pengacara Jevian membuat laki-laki itu terbelalak.
"Apa? Apa tidak ada jalan lain untuk mempercepat perceraian?"
"Maaf tuan, sayangnya tidak bisa."
Jevian mendesah frustasi. Setidaknya saat ini Eve memang sudah tidak tinggal di kediamannya lagi, tapi bagaimana bila ia tiba-tiba kembali.
'Sepertinya aku harus meningkatkan pengamanan di rumah. Bagai, Eve tidak boleh kembali ke rumah. Aku juga harus mengumpulkan bukti kelalaian Eve sebagai seorang ibu untuk mempermudah pengadilan mengabulkan gugatan ceraiku. Ah, aku juga akan mencari tahu kebiasaan buruk Eve di luar. Entah apa yang kerap ia lakukan di luar. Semoga saja aku bisa menemukan sesuatu,' batin Jevian bermonolog. '
"Baiklah. Tolong atur sebagaimana baiknya. Semoga ada celah untuk mempercepat perceraian kami."
"Baik, tuan."
Klik ...
...***...
Seminggu telah berlalu, namun operasi Jefrey belum bisa dilakukan. Prosedur yang panjang membuat Jefrey tidak bisa dioperasikan sesegera mungkin.
"Daddy, Jef bosan di sini. Memangnya sampai berapa lama Jef akan berada di sini?" tanya Jefrey yang memang sudah merasa begitu bosan berada di rumah sakit tersebut. Bukan hanya itu, selama 2 Minggu ini, Jefrey benar-benar belum keluar dari dalam kamarnya. Sungguh, Jefrey merasa begitu bosan.
"Jef bosan? Mau jalan-jalan ke taman rumah sakit?"
Jefrey mengerucutkan bibirnya, "Jef mau pulang, dad, bukannya ke taman rumah sakit."
Jevian mengerti perasaan anaknya, ia lantas mengusap puncak kepalanya dengan sayang.
"Untuk sementara waktu, Jefrey harus di sini dulu sampai Jef benar-benar sehat."
"Tapi Jef sehat kok, Dad. Jef tidak sakit."
Jefrey memang terlihat lebih baik, tapi bukan berarti kesehatannya sudah benar-benar membaik. Ia masih harus selalu dalam pengawasan tim medis. Apalagi Jefrey masih harus melewati serangkaian proses pemeriksaan untuk memastikan kondisinya tetap stabil sampai saatnya tiba untuk menjalani operasi.
Jefrey mengerucutkan bibirnya. Ia hanya bisa mengangguk pasrah pada akhirnya.
Di taman, wajah Jefrey yang tadinya mendung seketika tersenyum lebar. Apalagi saat melihat aneka bunga berwarna-warni yang indah bermekaran dimana di atasnya ada kupu-kupu yang berterbangan kemudian hinggap di salah satu bunga yang sedang merekah manja.
"Daddy, ada kupu-kupu," pekik Jefrey seraya bertepuk tangan. Matanya berbinar bahagia membuat Jevian tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya. Tak ada yang lebih membahagiakannya saat ini selain melihat senyum indah sang anak yang sedang merekah.
"Jefrey suka kupu-kupu?"
Jefrey mengangguk, "Jef suka kupu-kupu. Suka bunga. Suka burung, kura-kura, kelinci, emmm ... Jerapah juga. Tapi Jef takut ular. Nanti gigit. Jef takut," celoteh balita 3 tahun itu.
Jevian terkekeh. Namun kekehan itu seketika surut saat ia tanpa sengaja melihat sosok yang amat sangat dirindukannya. Sosok tersebut tampak sedang berjalan melintasi koridor dengan didampingi suaminya. Sepertinya mereka baru saja melakukan entah pemeriksaan apa. Ekspresi ceria dan bahagia tercetak jelas di wajahnya membuat hati Jevian seketika gerimis.
Bukan tak suka, hanya saja ia sedih sosok itu bukan bahagia karena dirinya, tapi karena orang lain.
"Adisti ... " gumamnya dengan sorot mata sendu.
"Daddy, tolong ... " pekik Jefrey yang seketika menyadarkan lamunan Jevian yang sejak tadi terfokus ke arah Adisti yang kian menjauh.
Mata Jevian membulat saat menyadari kursi roda Jefrey bergerak sendiri menuju danau kecil yang ada di dekat taman itu.
"Jefrey ... " pekik Jevian panik saat tinggal beberapa meter lagi kursi roda itu akan meluncur ke dalam danau. Jevian pun gegas berlari sekencang mungkin, namun tiba-tiba kursi roda itu sudah berada di tepi danau membuat Jevian kembali berteriak sekencang mungkin dengan jantung berdegup begitu kencang seolah nyaris putus.
"Jefrey ... "
"Daddy ... Help, me!"
Happ ...
Tiba-tiba ada sepasang tangan menangkap pegangan kursi roda tersebut dan menariknya menjauh dari tepi danau.
"Hei, boy, kau tidak apa-apa?" tanya seseorang yang baru saja menyelamatkan Jefrey.
Mata Jefrey yang tadinya terpejam karena takut, perlahan membuka. Matanya membulat saat melihat sosok di depannya.
"Jefrey, kau tidak apa-apa, Sayang?" tanya Jevian dengan nafas terengah-engah. Ia bahkan langsung berlutut dihadapan Jefrey yang tampaknya masih shock.
"Jef, tidak apa-apa, Dad," jawab Jefrey terbata.
Jevian memeriksa tubuh Jefrey dengan seksama. Ia lantas menghela nafas lega melihat anaknya tidak apa-apa. Ia pasti akan amat sangat menyesal bila sampai terjadi sesuatu pada putra satu-satunya itu.
Jevian lantas menoleh ke samping. Ia melihat sesosok perempuan yang tadi menyelamatkan anaknya.
"Hai, terima kasih sudah menolong anakku," ujar Jevian ramah.
"Tidak masalah, tuan. Saya juga hanya kebetulan saja berada di sini. Kalau begitu saya permisi!" ujar perempuan yang mengenakan seragam cleaning service rumah sakit tersebut.
"Tunggu!" Jevian menghentikan langkah perempuan itu.
"Iya, tuan," ucap perempuan itu setelah kembali membalikkan badan.
"Ini, terimalah sebagai ucapan terima kasihku." Jevian menyodorkan beberapa lembar uang yang ia ambil dari dalam dompetnya, tapi perempuan itu menolak secara halus.
"Terima kasih kembali, tuan. Itu tidak perlu. Saya melakukannya dengan ikhlas. Kalau begitu, saya permisi," ujar perempuan itu seraya tersenyum. Ia juga menyempatkan menebar senyum ke arah Jefrey yang juga menatapnya. Setelahnya, perempuan itupun membalikkan badannya dan segera beranjak dari sana hingga akhirnya benar-benar menghilang dari pandangan keduanya.
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...