Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 44


Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Sudah hampir satu bulan, tapi Rainero masih belum bisa meluluhkan hati Shenina. Hanya saja, Shenina tidak begitu keras seperti awal pertemuan mereka kembali. Perlahan, Shenina sudah tidak menolak keberadaan Rainero. Bahkan ia sudah tidak memanggil Rainero 'pak' lagi sebab menurut Rainero, ia bukan atasan Shenina lagi dan Shenina bukanlah bawahannya lagi jadi Shenina tidak perlu memanggilnya dengan sebutan 'pak' lagi.


Hari sudah malam, Rainero baru menyelesaikan makan malamnya. Kini Rainero sudah bisa makan makanan seperti biasa lagi. Tapi tetap saja bukan sembarang makanan yang bisa Rainero makan, melainkan harus masakan Shenina. Awalnya Shenina tidak percaya, tapi setelah melihat bagaimana tersiksanya Rainero saat melihat hidangan di depan matanya, ia tak henti-hentinya muntah, akhirnya membuat Shenina iba.


Sebelumnya memang Shenina melihat Rainero hanya menyantap bakso krispinya saja, mulai dari sarapan, makan siang, hingga makan malam. Shenina lantas mencoba menawarkan masakannya dan ternyata Rainero menyukainya tanpa drama mual muntah dan lagi.


Tring tring tring ...


Alunan nada panggilan terdengar dari ponsel Rainero. Setelah melihat siapa nama pemanggilnya, Rainero pun segera mengangkat panggilan itu tanpa beranjak sedikit pun dari kasir busa miliknya.


Ya, Rainero tidur menggunakan kasur busa. Bukan kasur mahal, tebal, dan empuk seperti yang sering ia gunakan. Bahkan semua perabot di dalam kontrakan itu sama seperti yang Shenina gunakan.


Bila ditanya apa alasannya sedang dia memiliki banyak uang dan bisa membeli barang termewah dan termahal sekalipun, maka jawabannya adalah agar ia bisa merasakan bagaimana menjadi Shenina. Bagaimana kehidupan yang Shenina jalani, ia ingin ikut merasakannya. Meskipun awalnya ia merasa kesakitan di sekujur tubuhnya, tapi ia tahan. Kadang Rainero berpikir, sebegitu kuatnya Shenina. Padahal ia sedang hamil, tapi ia harus hidup dengan memprihatinkan seperti itu.


Rainero juga pernah menawarkan untuk mengganti perabotan di dalam kontrakan Shenina, tapi wanita hamil itu menolaknya mentah-mentah. Ia tak mau merasa berhutang budi atau bergantung pada orang lain. Hal itu jua yang membuat kekaguman Rainero pada Shenina makin melonjak tajam. Sungguh perempuan yang langka. Yang dalam seribu, belum tentu bisa ditemukan satu perempuan seperti Shenina.


"Halo, Mom," ucap Rainero sambil memejamkan matanya. Kepalanya hari ini sedikit pusing membuatnya enggan melakukan apapun. Bahkan malam ini ia belum makan sama sekali.


"Ray, kau dimana, hah? Kenapa kau tidak masuk kantor sebulan ini?" cecar Delena saat panggilannya diangkat.


"Aku ada di Indonesia, Mom."


"What? Di Indonesia? Apa yang kau lakukan di sana selama itu? Bukankah tender itu telah kau menangkan, jadi seharusnya kau sudah kembali sejak berminggu yang lalu."


"Aku sedang ada pekerjaan penting di sini, Mom."


"Sepenting apa sampai kau melalaikan pekerjaanmu? Bahkan saat kau terpuruk saat itupun, kau masih menyempatkan diri mengurusi perusahaanmu."


"Sangat-sangat penting, Mom. Ini tentang masa depan Rain."


"Masa depan apa maksudmu? Mom tidak mengerti."


"Nanti juga Mom akan tahu."


"Beritahu Mom sekarang atau Mom cari tahu sendiri. Kau tahu kan kalau Mom sudah turun tangan. Jangan sampai kau menyesal!"


Rainero berdecak, "tidakkah Mom bisa bersabar? Setelah Rain berhasil, Rain pasti akan memberitahukan kalian semua."


"Tidak. Kau tahukan kalau Mom bukanlah perempuan penyabar? Cepat katakan? Apa ada hubungannya dengan apa yang kau ucapkan saat makan malam itu?"


Delena mengingat apa yang Rainero katakan saat makan malam dengan keluarga Bianca kalau ia akan ke Singapura untuk menemukan miliknya. Tapi kenapa Rainero justru ke Indonesia?


"Yah, Mommy benar. Memang itu ada hubungannya. Tapi maaf, untuk saat ini Rain belum bisa mengatakannya. Doakan saja agar misi Rain berhasil. Rain tutup dulu ya, Mom. Kepala Rain sedang sangat pusing. Rain mau istirahat dulu. Bye Mom."


Tanpa menunggu jawaban dari Delena, Rainero pun menutup panggilan itu.


Delena sampai mengumpat kesal saat Rainero menutup panggilannya begitu saja. Sebenarnya Delena merasa penasaran, tapi ia akan menunggu sebentar lagi sampai Rainero sendiri yang akan menceritakan apa sebenarnya maksudnya itu.


Dipandanginya kontrakannya, sekarang isi kontrakannya lebih lengkap. Rainero yang tak tega melihatnya tidur kepanasan, tanpa izin memasangkan AC. Ia juga membelikannya microwave agar ia bisa memanaskan makanan dengan mudah saat ia lapar. Tak lupa ia membelikannya susu ibu hamil dan bantal ibu hamil agar ia bisa tidur dengan nyaman.


Shenina menghela nafasnya, kenapa ia mendadak resah seperti ini. Bukannya bagus kalau Rainero tidak mengusiknya. Tapi kenapa ia justru merasa resah? Seperti ada yang hilang. Terasa hampa dan menjemukan.


Dilihatnya makan malam yang belum ia sentuh sama sekali. Semenjak tinggal di Indonesia, lidahnya sudah sedikit terbiasa dengan masakan mulai yang minim rempah sampai yang kaya akan rempah.


Malam ini ia hanya masak bening bayam plus jagung, tahu goreng, dan telur balado. Masakan sederhana tapi selalu saja berhasil membuat Rainero nambah hingga berkali-kali. Shenina tiba-tiba saja tersenyum mengingat ekspresi Rainero setiap ia makan.


"Kemana dia ya? Kenapa belum ke sini juga?" gumam Shenina penasaran. Tak mau larut dalam rasa penasaran, Shenina pun segera keluar dari dalam kontrakannya dan mengetuk pintu kontrakan yang dihuni Rainero. Tapi pintu itu tak kunjung terbuka setelah Shenina mengetuknya beberapa kali. Shenina mengerutkan keningnya, penasaran kemana Rainero pergi.


Shenina pun hendak kembali ke kontrakannya, tapi tiba-tiba kakinya sedikit tergelincir hingga tubuhnya menubruk pintu kontrakan Rainero. Untung saja Shenina segera berpegangan dengan handle pintu jadi ia tidak terjatuh.


Ceklek ...


Tiba-tiba pintu terbuka saat ia berpegangan di handle pintu.


"Lho, kok terbuka? Kenapa pintunya tidak terkunci?" gumam Shenina.


Shenina yang penasaran lantas tanpa sadar melangkahkan kakinya masuk ke dalam kontrakan. Sepi, Shenina pikir tak ada orang di dalam sana. Lalu ia pun terus berjalan sampai ke kamar Rainero dan matanya terbelalak saat mendapati Rainero sebenarnya ada di dalam kamar. Ia pikir Rainero sedang pergi.


Shenina hendak pergi, tapi tiba-tiba ia mendengar gumaman Rainero. Shenina yang penasaran lantas mendekat hingga ia bisa mendengar dengan jelas gumaman Rainero.


"Shen, Shenina, maafkan aku. Aku mohon, maafkan aku. Shen, Shenina ... "


Shenina yang mendengar jelas gumaman Rainero lantas menutup mulutnya. Dari gumaman itu Shenina bisa mengetahui kalau Rainero benar-benar menyesali perbuatannya.


Peluh mengucur deras dari dahi Rainero. Shenina yang khawatir lantas memegang dahi Rainero yang ternyata sangat panas. Shenina sampai dilanda kepanikan. Ia pun bergegas mencari baskom dan berniat memasak air panas untuk mengompres dahi Rainero, tapi ternyata di kontrakan Rainero tidak ditemukan kompor. Ia lantas mengambil air panas dari dispenser dan mencampurnya dengan air dingin agar tidak terlalu panas lagi. Dibawanya baskom berisi air panas itu dan mulai mengompres dahi Rainero dengan baju kaos yang tidak terlalu tebal.


Shenina terus mengulangi mengompres dahi Rainero hingga suhu tubuhnya sedikit menurun. Karena terlalu kelelahan, Shenina pun tanpa sadar tertidur.


Tak lama kemudian, mata Rainero mengerjap. Saat ia menoleh ke samping, mata Rainero terbelalak karena mendapati keberadaan Shenina yang tengah tertidur di sampingnya.


Rainero tersenyum senang. Dengan perlahan ia beringsut dari kasurnya dan mengangkat Shenina ke atas kasur. Dibaringkannya Shenina dengan senyum merekah.


"Cantik," puji Rainero. Kini gantian, Rainero yang terduduk di tempat Shenina tertidur tadi. Kemudian ia pun membaringkan kepalanya tepat di samping tangan Shenina. Ingin rasanya ia ikut berbaring dan merengkuh tubuh Shenina ke dalam pelukannya. Tapi sayang, kasurnya tak mendukung. Kasurnya berukuran single sehingga hanya muat satu orang saja.


"Ck ... sayang sekali. Padahal ini kesempatan emas," gumamnya lirih. Sebelum ikut memejamkan matanya, Rainero menyempatkan mencuri ciuman di kening dan bibir Shenina. Rainero tersenyum-senyum sendiri setelah berhasil mencuri ciuman itu.


Sementara itu, Shenina yang sedang tertidur merasa sedang bermimpi mendapatkan ciuman. Dengan mata terpejam, tanpa sadar bibirnya melengkung ke atas. Keduanya lantas tertidur dengan bibir yang sama-sama melengkung.


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...