
"Kau ... " desis Rainero, tapi justru dibalas senyuman manis oleh perempuan itu.
Tanpa malu, perempuan yang tak lain adalah Delianza itu masuk ke ruangan Rainero dan duduk di sofa yang ada di dalam ruang kerja Rainero. Mata Rainero mendelik tajam, tapi Delianza acuh tak acuh.
Sekretaris Rainero tampak kebingungan karena ulah Delianza yang terkesan tak tahu malu.
Ia pun menoleh tak enak hati pada Rainero. Rainero menghela nafasnya dan menggestur sekretarisnya untuk segera keluar.
Rainero menumpu kedua sikunya dibatas meja kemudian meletakkan dagunya di atas kedua tangan yang ia satukan.
"Tak perlu berbasa-basi, katakan, apa tujuanmu datang ke mari?" desis Rainero dengan sorot mata tajam.
Delianza sempat tertegun melihat sorot mata tajam Rainero pun kata-katanya yang datar serta dingin.
"Apakah seperti ini sambutanmu padaku? Mantan kekasih terindahmu? Yang bahkan mungkin hingga saat ini masih meraja di hatimu?" ujarnya percaya diri.
Mata Rainero terbelalak, kemudian ia tergelak kencang. Tapi tawa itu bukannya menyiratkan kebahagiaan, justru sebuah ejekan terhadap kata-kata Delianza barusan.
"Are you kidding, Me? Kau kira aku akan tetap mencintaimu setelah apa yang kau lakukan padaku, hm?" sinis Rainero.
Delianza tertegun di tempatnya. Jantungnya berdetak kencang. Respon Rainero sungguh di luar perkiraannya. Selama mengenal dan menjalin hubungan, Rainero tidak pernah sekalipun berbicara dengan nada datar, dingin, apalagi terkesan merendahkan seperti ini.
"Rain, aku tahu, aku bersalah. Tapi aku tidak bermaksud benar-benar meninggalkanmu. Aku melakukan ini karena terpaksa. Kau tahu, baik keluargaku maupun keluargamu membutuhkan penerus, sedangkan keadaanmu sangat tidak memungkinkan," ujar Delianza dengan memasang wajah nelangsa. Lalu ia berdiri dan berjalan mendekati Rainero
"Kau tahu, kini aku benar-benar menyesal telah meninggalkanmu dulu. Aku memang telah berhasil mengandung buah hati yang selama ini aku idam-idamkan, tapi ... aku tidak bahagia. Bodohnya aku tidak pernah percaya padamu saat kau mengatakan kalau Justin itu merupakan laki-laki brengsekkk. Dia kerap bermain wanita. Tapi setelah menikah, aku baru tahu kalau apa yang kau katakan itu benar. Dia ... dia masih sering bermain wanita. Huhuhu ... "
Delianza menangkup wajahnya. Ia menangis tersedu-sedu, tapi Rainero tidak berniat sedikitpun untuk menghibur Delianza. Mungkin bila Delianza mendatanginya sebelum ia menghabiskan malam panas dengan Shenina, maka dapat ia pastikan kalau ia akan menerima Delianza dengan tahan terbuka. Tapi tidak dengan sekarang. Ada hati yang harus ia jaga. Pun rasa hatinya ternyata telah berubah.
Awalnya ia terkadang masih bimbang, apakah perasaannya pada Shenina hanya pelarian atas kesakitan yang Delianza berikan padanya.
Tapi ... kedatangan Delianza siang ini membuka tabir kalau rasa itu ternyata benar-benar telah mati. Tak ada lagi rasa yang tersisa. Semua telah punah tak bersisa.
Tiba-tiba Delianza mendekat. Rainero sampai terlonjak mencoba menghindari. Ia tak ingin tiba-tiba Delianza memeluknya lalu menimbulkan kesalahpahaman pada orang yang melihatnya. Tidak. Ia tidak sebodoh itu.
"Rain ... kau menghindar?" tanya Delianza tak percaya dengan sikap Rainero padanya. Sungguh di luar ekspektasi. Sebab selama mereka saling mengenal dan menjadi pasangan kekasih, Rainero tidak pernah mengabaikannya. Tangannya selalu saja terbuka dan siap menyambutnya ke dalam pelukan hangat laki-laki itu. Dekap hangat, usapan lembut, dan kata-kata penuh cinta selalu teruntai padanya.
Tapi kini, jangankan menatapnya hangat, untuk memeluknya saja ia tak bisa.
Dahi Rainero berkerut, "memangnya aku harus apa? Harus memelukmu dan menenangkan seperti dulu-dulu?" Senyum miring tampak di bibir Rainero. "Jangan harap! Masa itu telah berlalu dan takkan terulang lagi di masa kini. Ingat, kau telah menjadi istri Justin, dan aku pun akan segera menikah."
"Menikah?" Delianza tertawa, "aku yakin dia hanya pelarianmu kan? Rain, daripada kau menikah dengan perempuan yang tidak kau cinta, bagaimana kalau kita kembali bersama? Aku akan meninggalkan Justin. Lihat, aku sudah hamil. Apa yang aku inginkan telah ku dapatkan. Kita bisa membesarkannya bersama. Bukankah sama saja dia merupakan bagian dari keluarga Sanches, jadi tak masalah kalau kau menjadi ayahnya," ucap Delianza yang terdengar konyol di telinga Rainero.
"Apa kau pikir aku sebodoh itu mau menerima anakmu dan laki-laki lain sebagai anakku?" ejek Rainero.
"Rain, jangan bodoh. Kau pikir wanita mana yang mau menerima kekuranganmu? Tapi denganku, kau tak perlu memikirkan kekuranganmu karena aku akan memberikanmu anak yang bisa kau jadikan penerus. Soal Justin, tak perlu kau pikirkan. Dia pasti takkan memusingkan masalah ini. Lagipula dia masih bisa memiliki anak dengan perempuan lain. Bagaimana? Kau pasti tertarik dengan penawaranku kan?"
Delianza terus mendekat, tapi Rainero terus menghindar.
"Berhenti!" sentak Rainero membuat Delianza tertegun di tempatnya.
"Rain, kenapa kau berubah? Kau tidak pernah berbicara kasar padaku apalagi membentak, tapi sekarang ... hiks ... hiks ... hiks ... "
"Kau masih bertanya? Kau benar-benar menjijikan, Anza. Kau pikir kau bisa kembali padaku setelah perbuatanmu di masa lalu? Jawabnya tidak. Sampai kapanpun aku takkan pernah kembali padamu. Sebaiknya kau keluar sebab sebentar lagi calon istriku akan datang," usir Rainero seraya menunjuk ke arah pintu masuk.
Mata Delianza melotot tajam, "apa? Apa kelebihan perempuan itu, hah? Seharusnya kau bahagia aku masih mau kembali padamu. Aku yakin, perempuan itu hanya menginginkan hartamu saja, tapi tidak dengan aku. Kita sama-sama dari kalangan atas, harta kita bahkan masih cukup untuk anak cucu kita nanti, tapi cinta, hanya aku yang mencintaimu dengan tulus apa adanya. Tidak ada yang lain. Selain itu, aku bisa memberikanmu penerus. Darahnya dan darah yang mengalir di darahmu sama, jadi tak masalah. Ayolah Rain, jangan keras kepala, hanya aku ... hanya aku yang mencintaimu dengan tulus, begitu pula kau, aku yakin kau hanya mencintaiku kan? Jangan mau berbuat bodoh dengan mengorbankan masa depanmu dengan hidup bersama orang yang salah."
Delianza terus berupaya membujuk Rainero agar mau memaafkan dan kembali padanya.
Bukannya merespon dengan baik ajakan mantan kekasihnya itu, Rainero justru tergelak kencang.
"Apa kau sedang bermimpi, Rain? Kau lupa kalau kau itu ... "
"Mandul maksudmu?" potong Rainero dengan tersenyum miring.
"Ya, jangan lupakan fakta itu! Kau takkan bisa memiliki anak sendiri. Sampai kapanpun tak bisa. Jadi lebih baik kau batalkan rencana pernikahanmu itu dan kembalilah padaku. Kita akan membesarkan anak ini bersama-sa ... "
Brakkkk ...
"Jangan mimpi!" seru seseorang yang baru saja membuka pintu dengan kencang.
Rainero membulatkan matanya terkejut. Namun dalam hitungan detik, Rainero tersenyum lebar dan langsung berhambur ke pelukan Shenina.
Mata Delianza melotot tajam. Ia tahu siapa Shenina.
"Kau ... kau bukankah sekretaris Rainero?"
Namun saat melihat bagaimana Rainero memperlakukan Shenina dengan manis dan penuh perhatian membuat jantung Delianza terasa diremas.
"Ka-kalian ... jangan bilang calon istrimu itu sekretarismu sendiri?" Delianza tertawa mengejek. "Perempuan seperti dia yang akan kau jadikan istri? Common, Rain, apa matamu sudah buta? Dia ... hahaha ... "
"TUTUP MULUT KURANG AJAR MU ITU, SIALAN!" bentak Rainero berang. Ia sudah berusaha bersikap sabar sejak tadi. Ia hanya menghargai kalau Delianza tengah hamil dan ia tidak mau bersikap kasar yang mana akan berakibat fatal pada kehamilan Delianza. Tapi Rainero pun memiliki batas kesabarannya sendiri. Ia takkan rela kalau ada yang merendahkan Shenina.
Shenina tersenyum penuh kemenangan. Ini sebenarnya bukanlah sifatnya, tapi setelah mendengar sejak tadi bagaimana Delianza mencoba membujuk dan merayu Rainero cukup membuatnya kesal. Meskipun ia belum yakin sepenuhnya kalau ia sudah mulai mencintai Rainero, tapi ia tetap tak terima bila ada perempuan lain yang mencoba merebut ayah dari anak-anaknya. Cukup dirinya yang mengalami kehilangan kasih sayang seorang ayah karena anak lain yang bukan anak kandung ayahnya, tapi tidak dengan anak-anaknya. Ia akan memperjuangkan hak anak-anaknya meskipun harus menentang dunia sekalipun.
Apalagi Rainero sudah berusaha memperjuangkannya, jadi kini gilirannya yang memperjuangkan Rainero.
"Rain ... " lirih Delianza yang telah bercucuran air mata.
"Kenapa dengan aku? Apakah karena aku hanya mantan sekretaris, jadi aku tak pantas bersanding dengan Rainero?" Shenina kini berdiri di samping Rainero sambil mengusap perutnya yang membulat.
Delianza membulatkan matanya, "Rain, apa kau bodoh mau menerima perempuan murahan ini? Lihat, dia saja sedang hamil anak orang lain. Anak tak jelas siapa ayahnya," cibir Delianza. "Tapi berbeda denganku, aku hamil anak ... "
"Aku hamil anak Rainero. Ini anak Rainero," potong Shenina cepat dengan wajah datarnya.
Mata Delianza melotot kemudian tertawa terbahak-bahak.
"Sepertinya berpisah denganku membuat kewarasanmu berkurang," ejek Rainero sambil membimbing Shenina menunju salah satu sofa dan mendudukkannya. Kemudian Rainero berjongkok tepat di depan perut Shenina dan melabuhkan banyak kecupan ke atas perut bulat yang besarnya hampir sama dengan perut Delianza.
Tangan Delianza terkepal. Ia tidak terima Rainero meratukan perempuan lain tepat di depan matanya.
"Rain, dia hamil anak ... "
"Anakku. Dia hamil anakku. Apa telingamu mengalami gangguan pendengaran? Aku ulang sekali lagi, Shenina hamil anakku. Ah, lebih tepatnya anak-anakku, benarkan Sweety?" Senyum Rainero merekah sambil menatap wajah cantik Shenina membuat dada Delianza terasa terbakar.
"Tidak. Itu tidak mungkin. Kau pasti bohong kan? Kau hanya ingin menyakitiku dengan mengatakan itu, benar kan?"
"Sayang, udara di sini kok makin panas ya? Aku jadi mau makan gelato, boleh?" Shenina mengerjapkan matanya membuat Rainero gemas dan mengecup bibirnya sekilas. Makin panas lah dada Delianza.
"Dengan senang hati, Sweety. Aku pun sudah mulai gerah. Sebaiknya kita segera pergi," sahut Rainero.
Shenina tersenyum lebar sambil melirik Delianza yang wajahnya kini pias. Sorot mata penuh luka terlihat di netra Delianza. Wajah itu kian nelangsa saat Rainero benar-benar meninggalkannya seorang diri.
"Aaargh ... tidak, itu tidak mungkin. Mana mungkin perempuan itu mengandung anak Rainero. Dia pasti telah membohongi Rainero. Aku harus melakukan sesuatu. Ya, aku akan membuktikan kalau perempuan itu telah membohongi Rainero. Atau ... jangan-jangan mereka sekongkol untuk membalaskan sakit hati Rainero padaku? Ya, mungkin juga begitu," gumam Delianza yang masih meyakini bahwa Rainero masih mencintainya.
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...