Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 224 (S3 Part 66)


Roseline baru saja keluar dari ruang ganti. Roseline benar-benar bingung, setelah tadi di dandani, lalu kini ia diminta memakai sebuah gaun yang begitu cantik. Tak lupa rambutnya ditata sedemikian rupa dan dihiasi dengan sebuah mahkota yang berhiaskan mutiara yang begitu cantik.


Mata Delena berbinar cerah saat melihat Roseline yang begitu cantik, anggun, dan menawan. Dibawanya Roseline berdiri di depan cermin. Mata Roseline terbelalak. Nyaris ia tidak mengenali dirinya sendiri.


"Ini ... "


"Kau begitu cantik, Rose. Benar-benar cantik," sela Delena.


"Tapi nyonya, sebenarnya mengapa aku di dandani seperti ini? Apa kita akan menghadiri pesta? Pesta apa dan dalam rangka apa?" cecar Roseline.


Sebenarnya sejak awal menginjakkan kakinya di perusahaan, Roseline sudah menaruh bingung. Bagaimana tidak, saat ia menginjakkan kakinya di sana, ia tidak seperti memasuki area perkantoran, melainkan sebuah gedung pesta. Bukan tanpa alasan, sebab meskipun suasana terlihat sibuk seperti suasana kantor lazimnya, tapi pakaian yang mereka kenalkan tidaklah lazim untuk dikenakan ke kantor. Hampir semua orang sibuk, bahkan meja-meja kerja nyaris semuanya kosong. Semua orang sibuk kesana dan kemari. Bahkan kesibukan ini dua kali lebih sibuk dari kesibukan kantor biasannya.


"Ya, kau benar. Kita akan berpesta. Kita akan segera bersenang-senang. Kau pasti akan sangat menyukainya," ujar Delena tapi masih terdengar ambigu.


"Jadi benar ada pesta? Di perusahaan ini? Tapi dalam rangka apa?"


"Kau ikut saja, kau akan tahu sendiri nanti." Delena tetap tak mau menjelaskan sama sekali. Lagi-lagi Roseline hanya bisa pasrah.


Hingga saatnya mereka keluar. Delena menggandeng lengan Roseline di sebelah kanan. Lalu Shenina maju menggandeng Roseline di sebelah kiri.


"Mulai sekarang anggap aku mommy-mu. Mulai hari ini panggil aku mommy," ujar Delena saat pintu sudah terbuka.


"A-apa aku tidak salah mendengar?"


"Tidak," jawab Delena dengan tegas. "Ayo, panggil aku mommy!" titah Delena membuat mata Roseline berkaca-kaca. Telah lama ia menantikan momen seperti ini, memiliki seorang ibu. Ah, sungguh Roseline tidak mengira wanita yang sempat ingin ia sakiti justru memberinya hak untuk memanggilnya 'mommy'.


"Mommy," ucap Roseline terbata.


"No, jangan menangis! Nanti dandananmu jadi rusak," sergah Delena saat Delena hampir menangis. Bahkan Delena dengan cepat menyeka air mata di sudut mata Roseline dengan tisu yang diulurkan Shenina.


"Dan mulai sekarang aku akan menjadi adikmu," timpal Shenina.


"Dan aku Daddy-mu," timpal Reeves tiba-tiba. Entah sejak kapan ia sudah berdiri di hadapan Roseline dan Delena. Lalu Shenina menyerahkan lengan kiri Roseline pada Reeves. Reeves pun menggandeng tangan Roseline dengan posisi Roseline berada di tengah-tengah.


Sungguh, perasaan Roseline campur aduk menjadi satu. Gemuruh bahagia tak terkira menyesaki dadanya.


Apakah ini nyata?


Tidak. Tidak. Ini pasti hanya mimpi. Bagaimana orang seperti mereka yang bahkan pernah ia sakiti bisa menganggapnya sebagai anak.


Itu sungguh sangat mustahil.


Tak pernah Roseline bermimpi seindah ini. Bila memang ini mimpi, ia harap tidak pernah terbangun sebab untuk pertama kalinya ia merasakan kebahagiaan sangat luar biasa ini. Ia tak ingin kehilangan kebahagiaan ini. Biarlah mesti semu, yang penting ia bahagia. Amat sangat bahagia.


Roseline berjalan sambil digandeng Reeves dan Delena berjalan menuju taman yang ada di belakang perusahaan. Roseline belum pernah ke sana, jadi ia pun sebenarnya bingung mau dibawa kemana dirinya. Saat berdiri di pintu penghubung menuju taman belakang, ternyata telah terbentang karpet merah dengan lilin-lilin elektrik menghiasi di sepanjang sisinya. Roseline merasa takjub. Belum lagi hiasan bunga warna warni turut menghiasi membuat gedung itu bukan seperti kantor, melainkan gedung pernikahan.


Eh ...


Gedung pernikahan?


Tiba-tiba jantung Roseline berdegup kencang. Apalagi saat kakinya sudah menginjak pintu keluar menuju taman belakang. Mata Roseline terbelalak saat mendapati semua orang berada di sana dengan pakaian pesta terbaik mereka. Hingga saat Delena dan Reeves menuntunnya menuju sebuah tempat yang dihiasi bunga-bunga yang lebih menyerupai altar.


Ada seorang laki-laki bertubuh tegap dengan tuxedo putih membalut tubuhnya. Laki-laki itu berdiri membelakanginya yang lainnya membuat gemuruh di dada Roseline kian menggila.


Nafas Roseline tiba-tiba berhenti. Matanya berbinar meskipun ada kabut menyelimuti.


"Jevian ... " cicit Roseline saat laki-laki itu membalikkan tubuhnya.


Ia tersenyum kemudian berjalan menuju Roseline sambil memegang buket bunga mawar putih yang begitu indah.


"Selamat datang, calon istriku," ucap Jevian membuat bibir Roseline bergetar karena rasa haru yang luar biasa.


"Jevian, ini ... "


"Ini pesta pernikahan kita, kau suka?" tanya Jevian sambil tersenyum lembut.


Roseline mengangguk dengan cepat. Ia memang pernah bermimpi menikah dengan laki-laki yang ia cintai. Pesta pernikahan yang tidak begitu mewah, tapi indah dan berkesan. Namun ia tidak pernah menyangka, Jevian mewujudkan impiannya lebih dari ekspektasi. Meskipun pesta pernikahan ini dadakan, tapi tetap terasa sakral, indah, dan berkesan. Meskipun pesta ini kalah jauh dibandingkan pesta pernikahan Shenina, tapi tetap saja, pesta ini terasa istimewa baginya, sebab kini ia tidak sendiri lagi. Ia dikelilingi orang-orang yang mencintai dan menyayanginya.


"Ini bukan mimpi kan?" tanya Roseline berkaca-kaca sambil menatap Jevian kemudian menoleh ke arah Delena dan Reeves.


"Ini bukan mimpi, Rose. Ini nyata. Jemputlah bahagiamu! Ini saatnya kau berbahagia dengan laki-laki yang tulus mencintaimu," ujar Delena sambil menyerahkan tangan kanan Roseline pada Jevian.


"Aku percayakan Rose padamu. Tolong jaga dia, lindungi dia, dan bahagiakan dia. Kami percaya padamu," timpal Reeves membuat Roseline tak sanggup lagi menahan buncahan haru di dalam dadanya. Ia lantas berbalik memeluk Delena. Reeves tersenyum sumringah.


Kini Roseline dan Jevian telah berdiri di atas altar. Mereka baru saja mengucapkan janji dan sumpah pernikahan.


Wajah keduanya kini dipenuhi binar kebahagiaan.


"Terima kasih, Jevian. Terima kasih atas segala kebahagiaan yang tak pernah terbayangkan ini. Terima kasih. Aku jadi makin mencintaimu," ucap Roseline dengan derai air mata bahagia.


"Semua ini pantas kau dapatkan. Mari kita songsong bahagia bersama."


"Cium, cium, cium," terdengar teriakan dari para tamu undangan yang didominasi oleh karyawan J Company sendiri.


"Mereka meminta kita berciuman, kau mau?"


"Tapi ... "


Belum sempat Roseline menolaknya, Jevian sudah lebih dulu menarik pinggang Roseline dan merapatkan tubuhnya. Kemudian tanpa kata ataupun aba, Jevian langsung saja menyatukan bibirnya dengan bibir Roseline. Roseline pun reflek melingkarkan tangannya di leher Jevian sambil memejamkan mata. Ia menikmati setiap kecupan mesra yang Jevian lakukan di bibirnya.


Sorakan dan teriakan di sana sudah tak terdengar lagi sebab keduanya sudah larut dalam pagutan mesra. Hingga tarikan dari Jefrey akhirnya menyadarkan mereka kalau mereka masih berada di atas altar.


"Mommy, Daddy, Jefrey juga mau dicium," panggil Jefrey yang sudah menarik tangan pasangan yang baru saja resmi menjadi sepasang suami istri itu.


Gelak tawa terdengar membuat Roseline merasa malu luar biasa, berbanding terbalik dengan Jevian yang tampak santai.


Jevian lalu meraih Jefrey dalam gendongannya, "jadi Jefrey mau dicium juga?"


Jefrey mengangguk, "oke. Ayo mom, kita cium Jefrey."


Roseline pun mengikuti Jevian untuk mencium pipi Jefrey. Bocah laki-laki itu tampak begitu senang sekali hari ini.


"Mom, turun. Jefrey mau duduk sama Sky, Earth, Cloudy, Vanilla, dan Arquez," seru Jefrey saat melihat anak-anak Rainero, Axton, dan Mark tengah duduk bersama.


Jevian pun segera melepaskan Jefrey. Kemudian Jevian mengajak Roseline bergabung dengan Rainero dan yang lainnya. Mereka bercerita dengan penuh tawa dan canda. Entah bagaimana lagi cara Roseline untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya, sebab berkat Jevian akhirnya ia bukan hanya bisa berdamai dengan masa lalu, tapi ia juga bisa hidup berdampingan dengan mereka. Mereka pun mau menerimanya dengan senang hati. Sungguh rasa bahagia ini tak terperi. Roseline berjanji, akan menjadi istri dan ibu yang baik untuk keluarga kecilnya yang tercinta.


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...