
Rhea masuk ke dalam ruangannya dan segera menguncinya. Ia bersandar di pintu sambil memegang dadanya yang berdegup dengan kencang.
Bagaimana tidak reaksinya seperti itu, sebab tadi saat akan membalikkan badannya kembali ke ruangan, ia dapat melihat sosok yang sudah membuatnya terluka. Laki-laki yang sudah menanamkan benihnya di dalam dirinya. Sosok yang tak bisa melepaskan diri dari belenggu masa lalu sehingga membuatnya benar-benar terluka. Sosok yang sampai saat ini masih kerap dirindukannya.
Tok tok tok
Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunan Rhea. Ia pun gegas menetralisir degup jantung dan keterkejutannya. Ia menghela nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Setelah dirasa tenang, Rhea pun segera membuka pintu. Di hadapannya ternyata telah berdiri salah seorang pramusaji di restoran tersebut.
"Ada apa?" tanya Rhea.
"Ini Nona, ada seseorang yang ingin bertemu dengan Anda," ujarnya membuat dahi Rhea mengernyit.
"Siapa?" tanya Rhea heran.
"Bisa kita bicara sebentar?" ucap seseorang membuat Rhea reflek menegang kaku. Bahkan jantungnya telah terpompa kencang. Lebih kencang dari sebelumnya. Rhea menelan ludahnya sendiri. Ia tidak menyangka akan bertemu sosok itu di sini. Di tempat kerjanya. Tepat di depan ruangannya. Bukankah tadi laki-laki di hadapannya ini tidak melihatnya.
"K-kau, Theo. Mau bicara apa? Bisa lain waktu saja. Aku sedang benar-benar sibuk," ucapnya yang hanya beralasan saja. Rhea memang sibuk, tapi tidak sesibuk itu sampai tidak memiliki waktu untuk berbicara sebentar saja.
"Aku ingin bicara sekarang. Sebentar saja," ucap sosok laki-laki itu kekeh pada tujuannya.
Rhea menghela nafasnya, "baiklah. Silahkan masuk."
Rhea membuka lebar pintunya dan menggeser tubuhnya untuk mempersilakan laki-laki itu masuk.
Laki-laki yang tak lain adalah Theo itu justru menggeleng membuat Rhea bingung.
"Tidak perlu. Aku hanya sebentar. Kalau bisa, sore ini sempatkan pulang ke rumah. Ada yang ingin aku bicarakan," ucapnya datar dan dingin. Nyaris tanpa ekspresi sama sekali.
Setelah mengucapkan itu, Theo langsung membalikkan badannya. Pergi dari sana meninggalkan Rhea yang mematung di tempatnya.
Setelah punggung Theo benar-benar berlalu dari hadapannya, Rhea menghembuskan nafas panjang. Ia tadi sempat menahan nafas karena tidak percaya kalau Theo akan menemuinya di ruangannya. Bahkan ia memintanya segera pulang. Rhea tersenyum tipis. Hanya dengan bersikap begitu saja ternyata mampu membuat darah Rhea berdesir.
Tapi senyum itu seketika berubah surut. Kebahagiaan yang sempat menghampiri tiba-tiba berganti kekhawatiran.
"Sebenarnya apa yang ingin ia bicarakan padaku? Apakah ia ingin mengajakku berpisah? Kalau iya, bagaimana dengan anak ini?"
Rhea menarik nafas dalam-dalam. Berusaha menetralisir rasa sesak yang tiba-tiba mendera. Meskipun sebelumnya ia menyatakan siap berpisah dengan Theo, tapi saat tiba-tiba Theo ingin mengajaknya berbicara, justru rasa takut seketika menghantam batinnya. Nyatanya, mulut boleh mengatakan siap, namun hati tak semudah itu melepaskan.
Tak ingin terlalu banyak berpikir yang hanya akan berdampak pada kehamilannya, Rhea pun kembali masuk ke ruangannya untuk menyibukkan dirinya. Berharap, dengan menyibukkan diri dapat membuat pikirannya bisa lebih tenang dan tidak selalu kepikiran dengan nasib rumah tangganya.
Sementara itu, setelah berbicara sedikit dengan Rhea, Theo pun segera kembali ke mejanya sebentar.
"Sebentar lagi waktu istirahat habis. Ayo, kita kembali sekarang!" ujar Theo setibanya di mejanya.
"Ck ... kenapa waktu cepat sekali berlalu sih. Padahal masih pingin bersantai. Siapa tahu manager cantik tadi keluar lagi jadi aku bisa berkenalan dengannya," ujar teman Theo bernama Reed tersebut.
"Huuu ... Mimpi kali. Perempuan secantik dia, aku yakin sudah ada yang punya. Jangan terlalu berharap deh kamu, Reed," cibir salah seorang teman perempuan mereka sambil melemparkan sepotong kentang goreng ke arahnya.
"Belum tentu ya. Udah lah, kamu pasti iri kan sama dia. Secara dia itu cantik, pintar, tidak seperti kamu yang ... " Reed memperhatikan teman perempuannya itu dari atas ke bawah lalu kembali ke atas.
"Stop body shaming ya. Kalau aku kurus dan tomboi memangnya kenapa? Setiap perempuan itu memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing jadi jangan suka membanding-bandingkan," sergah perempuan bernama Emma itu.
"Udahlah, sampai kapan kalian akan terus bertengkar? Bikin malu saja," desis Theo yang segera membalikkan badannya, selanjutnya ia melangkah keluar lebih dulu.
"Woy, cepat, woy, nanti Theo ninggalin kita."
"Kamu juga sih ngajakin ribut mulu."
"Kamu yang mulai lebih dulu."
"Hei, Theo, stoooop," teriak mereka saat melihat Theo sudah hendak menjalankan mobil meninggalkan mereka. Mereka lantas berlarian mengejar mobil. Mereka masuk ke mobil dengan terburu-buru. Setelah masuk ke dalam mobil, mereka pun tertawa terbahak-bahak.
"Dasar teman lucknut, seenaknya mau meninggalkan kami begitu saja."
"Eh, ngomong-ngomong, Reed mana?" tanya salah seorang temannya saat menyadari ketiadaan Reed di dalam mobil itu. Mereka pun saling celingukan. Namun setelahnya, mata mereka kompak membelalak saat melihat Reed sedang menghadang Rhea untuk berkenalan.
*
*
*
Beberapa saat sebelumnya
Rhea tampak sedang memeriksa laporan daftar bahan makanan yang habis. Tiba-tiba ponsel yang selama dua Minggu lalu ia nonaktifkan berdering. Ya, semenjak keberadaannya diketahui oleh Theo, Rhea lantas kembali mengaktifkan ponselnya. Rhea sendiri memiliki dua ponsel. Satunya ponsel lama yang sering ia gunakan untuk menghubungi teman-temannya. Beruntung malam itu teman Rhea menghubungi nomor lamanya jadi ia Isa segera menuju club malam dimana Theo berada.
Rhea melirik nama pemanggil di ponselnya. Matanya membulat saat melihat ibunya lah yang menghubunginya.
Rhea lantas segera mengangkat panggilan itu.
"Hallo, mom."
"Ah, akhirnya nomormu bisa mommy hubungi juga, Rhea."
"Maaf mom, ponsel Rhea waktu itu rusak dan baru sempat Rhea perbaiki. Ada apa, Mom?"
"Rhea, kau bisa ke rumah sakit? Daddy jantungnya kumat."
"Astaga, baik Mom. Tunggu aku. Aku segera berangkat ke sana. Rumah sakit yang biasa kan, Mom?"
"Iya, Rhea. Mommy tunggu."
Rhea pun segera menutup panggilan itu. Kemudian ia mengambil tasnya dan bergegas pergi dari sana. Saat hendak menuju mobilnya, tiba-tiba seorang laki-laki menghentikan langkahnya.
"Hai, maaf mengganggu Kenalkan, nama saya Reed." Reed berujar sambil mengulurkan tangannya.
Rhea menatap tangan itu. Ingin menolak, tapi rasanya tak sopan. Ia lantas menyambut tangan itu sambil tersenyum tipis.
"Rhea," ujarnya.
"Em, aku sebenarnya salah satu penggemar kamu. Sumpah, cara kamu menghadapi perempuan pembuat onar tadi sangat keren."
"Ah, sudah menjadi tugasku melindungi karyawan kami. Saya hanya bertindak sesuai dengan SOP dan asas keadilan. Apabila karyawan kami yang melakukan kesalahan, tentu saya akan menindaknya."
"Wow, lihat, bahkan kau tetap rendah hati. Kalau yang lain pasti sudah akan menyombongkan dirinya."
Rhea melirik jam di pergelangan tangannya, "maaf tuan, saya harus pergi sekarang. Tak apa kan?"
"Ah, tak apa. Saya pun harus segera kembali ke kantor. Tapi sebelum itu, boleh aku meminta nomor teleponmu?" ucapnya seraya tersenyum semanis mungkin.
Dengan tersenyum tipis, Rhea pun berkata, "maaf, tapi saya sudah memiliki suami."
Sontak saja senyum lebar di wajah Reed seketika pudar. Reed paham maksud dari kata-kata Rhea. Sebuah penolakan halus yang menyiratkan kalau ia tidak bisa memberikan nomor ponselnya karena ia sudah bersuami. Tentu bagi seorang yang sudah berkurang rasanya tidak etis memberikan nomor ponselnya ke sembarangan orang terutama itu lawan jenis.
...***...
......HAPPY READING 🥰🥰🥰......