Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 165 (S3 Part 8)


Bugh ... Bugh ... Bugh ...


"Brengsekkk! Ini semua karena kau. Karena kau Jevian jadi marah-marah padaku. Dasar anak sialan!" umpatnya kesal sambil memukul-mukul perutnya. Tak peduli dirinya sendiri yang merasakan kesakitan, yang penting ia ingin meluapkan kekesalannya pada anak yang ada di dalam kandungannya.


Namun tiba-tiba Eve merasakan sebuah tendangan di perutnya. Tiba-tiba ia merasakan sensasi yang aneh dalam benaknya. Ia reflek mengusap bagian yang anaknya tendang. Namun saat ia mengingat kembali akan kekesalannya, Eve kembali memukul perutnya. Tapi baru saja tangan Eve hampir mendarat di perutnya, sebuah tangan sudah menahannya.


Eve terkesiap. Ia tahu tangan siapa itu. Ia tidak tahu sejak kapan Jevian berada di dalam kamarnya. Tiba-tiba Jevian memeluk tubuh Eve dan mendekapnya hangat.


"Eve, aku mohon, jangan begini. Tidakkah kau merasa, menyakitinya hanya akan menyakiti dirimu sendiri."


Lalu Jevian mengarahkan telapak tangannya di atas permukaan perut Eve. Ada rasa hangat yang menjalar di benak Eve saat tangan itu mulai bergerak mengusap perutnya pelan.


"Aku tahu kau masih sulit untuk menerima keberadaannya, tapi ingatlah satu hal, mau bagaimana pun, dia tetaplah anakmu. Anak kita. Menyakitinya hanya akan menyakiti dirimu sendiri dan jangan sampai kau menyesali perbuatanmu ini kelak dikemudian hari," ucap Jevian lirih.


Meskipun belum ada cinta untuk Eve darinya, tapi Jevian tidak memungkiri kalau ia begitu menyayangi calon anaknya. Apalagi ia sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi. Kalaupun ia masih memiliki seorang ibu, tapi ibunya sedang berada di penjara. Ia memiliki harapan besar pada sang buah hati agar dapat menjadi pelipur laranya. Sumber kebahagiaannya.


Hari terus bergulir. Sebisa mungkin Jevian tetap memberikan perhatian pada Eve. Beberapa bulan ini pula Eve bersikap lebih lunak. Eve juga sudah mulai mengurangi kebiasaannya bepergian. Bahkan hampir setiap malam, Eve selalu berada di rumah. Ia tak pernah keluar malam lagi. Jevian tentu saja merasa senang. Apalagi kandungan Eve sudah makin membesar.


"Ini susunya diminum dulu," ujar Jevian menghampiri Eve yang baru saja bangun sambil membawa segelas susu ibu hamil. Eve pun langsung menerimanya dan menenggaknya hingga tandas.


"Sudah," ujar Eve sambil menyeka mulutnya yang basah karena sisa susu. Kemudian ia menyerahkan gelas kosong itu pada Jevian yang menyambutnya dengan tersenyum.


"Aku ada pertemuan penting di kota A. Sebisa mungkin aku kembali lagi setelah selesai. Mungkin agak larut, tidak apa-apa kan?" tanya Jevian yang mengkhawatirkan keadaan istrinya bila ditinggal seorang diri saja. Sebenarnya tidak benar-benar sendiri sebab di rumah besar itu ada beberapa maid, tapi ia tahu Eve tidak dekat satu pun dengan mereka. Eve benar-benar menjaga jarak dan batasan. Ia bersikap layaknya seorang nyonya besar sehingga para maid pun tidak ada yang berani berbicara padanya kecuali hal-hal yang penting.


Eve tersenyum lembut. Ia pun mengangguk.


"Kau bekerja saja yang tenang. Aku bisa menjaga diri. Tak perlu khawatir," ujar Eve seraya menggenggam tangan Jevian untuk menenangkan. Jevian lantas membawa tangan Eve ke bibirnya. Diciumnya punggung tangan Eve dengan lembut.


"Kalau begitu, baik-baik di rumah. Kalau ada apa-apa, kabari aku. Oke!"


Eve lantas mengangkat ibu jarinya, "oke," ujarnya seraya tersenyum.


...***...


Jevian tampak sangat sibuk pagi ini sebab jam 10 ia harus segera melakukan penerbangan ke kota A. Meskipun jarak tempuh ke kota A tidak memakan waktu lama, hanya kurang lebih 1 jam, tapi Jevian tetap harus menyiapkan segala sesuatunya dengan teliti agar urusannya bisa selesai lebih cepat. Bagaimanapun, Jevian khawatir meninggalkan Eve lama-lama. Andai bisa, ingin Jevian mewakilkan pertemuan itu pada asisten pribadinya. Tapi karena pihak perusahaan yang berpusat di kota A memintanya secara langsung untuk melakukan pertemuan, ia pun tak bisa menolak.


"Tuan, mobil sudah siap. Mau berangkat sekarang?" tanya asisten pribadinya, Matson.


Jevian mendongak kemudian melirik jarum jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Jevian mengangguk seraya membereskan berkas-berkas yang tergeletak di atas meja. Setelahnya, ia segera berdiri untuk segera berangkat ke kota A.


...***...


Saat dalam perjalanan tiba-tiba Jevian mengingat sesuatu. Ada satu berkas penting yang tertinggal di meja yang ada di ruang kerjanya. Jevian pun segera meminta sang sopir melajukan mobilnya ke rumahnya terlebih dahulu.


Namun saat mobilnya hendak berbelok ke jalan utama menuju rumahnya, tiba-tiba ia melihat mobil yang begitu familiar melintas melewati mobilnya.


Dahi Jevian sampai membentuk lipatan-lipatan yang begitu kentara. Sesampainya di rumah, Jevian pun segera masuk ke kamarnya terlebih dahulu untuk memastikan sesuatu.


Brakkk ...


Kosong. Itulah pemandangan yang Jevian dapati di kamarnya.


Jevian lantas segera berbalik sambil memanggil kepala pelayan di kediamannya itu.


Jelas saja kepala pelayan di kediaman Jevian itu gelagapan.


"Itu ... Nyonya ... "


"Bicara yang tegas! Jangan bertele-tele! Dan satu lagi, jangan berbohong!" tegas Jevian dengan raut wajah murka.


Kepala pelayan itu pun tertunduk dengan wajah pucatnya.


Brukkk ...


Kepala pelayan itu pun tiba-tiba bersujud di hadapannya.


"Maafkan saya, tuan. Maafkan saya. Bukan maksud saya untuk berbohong. Saya hanya ... "


"Tidak perlu banyak bicara. Cukup jawab pertanyaan saya tadi!" sentak Jevian dengan kedua tangan terkepal.


"Benar, tuan, nyonya memang kerap pergi saat tuan tidak ada di rumah. Terkadang Nyonya juga membawa teman-temannya berkumpul di sini untuk ... untuk ... untuk berpesta," ujar kepala pelayan itu dengan tergagap.


Mendengar pengakuan kepala pelayannya jelas saja Jevian kesal bukan main. Bukan ia melarang istrinya untuk bepergian atau berkumpul dengan teman-temannya, tapi bukankah ada waktunya. Dan kenapa harus dilakukan secara diam-diam. Eve selalu bertingkah seolah-olah ia selalu menunggu kepulangannya di rumah dengan patuh. Namun nyatanya, semuanya hanyalah kebohongan.


"Kalau memang demikian, kenapa kau tidak pernah melaporkannya padaku? Bukankah aku sudah meminta mu melaporkan segala hal yang berkaitan dengan nyonya?"


"Maaf tuan, maaf. Saya ... saya terpaksa melakukannya. Nyonya yang meminta saya untuk merahasiakannya. Nyonya juga mengancam akan memecat saya bila melaporkan kegiatannya pada Anda," ujar kepala pelayan itu seraya meringis. Ia benar-benar ketakutan saat ini.


Jevian mendengkus, "memangnya siapa yang menggaji mu sampai kau ketakutan seperti itu?"


Kepala pelayan itu menunduk dalam, ia tak tahu harus berkata apa lagi.


"Aku kan?" Kepala pelayan itu mengangguk. "Jadi seharusnya kepada siapa kau lebih patuh?"


"Kepada ... tuan."


"Kau tahu, tapi kenapa kau lebih patuh padanya dan lebih memilih berbohong di hadapan ku?"


Brakkk ...


Jevian melempar vas bunga yang ada di meja ke dinding. Jevian bukannya marah pada sang kepala pelayan. Tapi ia merasa kecewa karena merasa dipecundangi oleh istrinya sendiri.


Tak ingin kebablasan karena emosi, Jevian pun meminta kepala pelayan itu segera pergi dari hadapannya.


"Tuan, tuan Morgan mengundur waktu pertemuan karena keperluan mendesak. Jadi bagaimana?"


Jevian mengangguk, "tak apa. Kalau begitu kau kembali saja ke perusahaan. Sepertinya, aku tidak akan kembali lagi ke kantor. Kalau tak ada hal yang penting lagi, silahkan pergi."


Matson pun menganggukkan kepalanya dan segera beranjak dari sana. Sementara itu, Jevian masuk ke dalam kamar. Ia tak akan menghubungi Eve dan menanyakan keberadaannya. Namun sebaliknya, ia akan menunggu Eve di sana. Ia ingin melihat, kapan Eve pulang dan bagaimana reaksinya saat melihat keberadaannya yang sudah ada di rumah terlebih dahulu.


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...