
"Theo ... " Rhea yang baru saja terbangun dari pingsannya seketika tersentak duduk. Kepalanya masih terasa pening, matanya berlarian ke sekeliling, memerhatikan dimana kini ia berada.
"Kau sudah bangun?" tanya Ael yang baru saja masuk.
"Theo, bagaimana keadaannya? Apa benar dia ... dia ... "
"Aku belum tahu keadaannya. Aku masih menunggumu bangun."
Mendengar penuturan itu, Rhea pun gegas turun dari tempat tidurnya.
"Rhea, pelan-pelan!" sergah Ael saat Rhea turun dengan cepat.
"Nggak, aku aku harus bertemu Theo sekarang. Dia tidak boleh meninggalkanku. Ayo Ael, temani aku sekarang. Aku mohon. Aku ingin bertemu dengan Theo sekarang juga," ujar Rhea sambil mengguncang-goncang lengan Ael. Ael yang tak kuasa menolak pun mengangguk.
"Tapi kamu pakai kursi roda ya! Tubuhmu belum fit. Kamu tidak boleh berjalan cepat-cepat apalagi berlarian."
"Terserah, yang panting aku harus segera melihat keadaan Theo."
Ael pun mengangguk. Lalu ia meraih kursi roda yang memang sudah disiapkannya sejak tadi.
Rhea pun segera duduk di kursi dibantu Bianca. Lalu Theo pun segera mengambil alih dan mendorongnya menuju kamar jenazah.
Setibanya di sana, jantung ketiga orang itu berdegup kencang. Perasaan bergemuruh menjadi satu. Apalagi Rhea dan Ael. Mereka berdua diliputi rasa bersalah.
Rhea merasa bersalah karena pergi begitu saja dari rumah tanpa mendengar penjelasan terlebih dahulu. Mengutamakan ego sehingga berakhir tragedi, sedangkan Ael merasa bersalah karena kata-katanya yang loss control. Ia tidak berpikir kalau kata-katanya bisa menjadi kenyataan. Padahal ia hanya melampiaskan emosinya saja. Namun kata-katanya kini berbuah pahit. Tragedi yang menimpa Theo membuatnya benar-benar merasa bagai orang paling jahat di dunia. Bagaimana bisa, karena kata-katanya ia telah membuat seorang istri kehilangan suaminya dan seorang anak yang bahkan belum lahir ke dunia harus kehilangan sang ayah.
Bila Theo benar-benar meninggal, maka bisa dipastikan Ael akan hidup dalam penyesalan berkepanjangan.
'Bagaimana ini? Aku benar-benar menyesal telah mengatakan hal yang tidak-tidak.'
Melihat kedua orang itu bungkam dengan mata memerah, Bianca pun bergerak maju. Ia langsung menyampaikan tujuan mereka pada seseorang yang bertugas menjaga ruangan penyimpanan jenazah tersebut.
Setelahnya, mereka bertiga pun segera dihadapkan dengan mayat yang wajahnya rusak parah. Bahkan wajah tersebut tak bisa dikenali lagi.
Rhea menangis histeris. Ia sampai terduduk di lantai karena menangis. Ael yang tak pernah menitikkan air mata pun ikut menangis. Ia tidak menyangka, kalau laki-laki yang ia anggap rival justru pergi begitu cepat dan dengan jahatnya itu bersumber dari mulutnya yang loss control.
Bianca bergidik ngeri melihat jenazah tersebut. Melihat Rhea terus-terusan menangis, Bianca pun tak dapat menyembunyikan kesedihannya. Sudut matanya pun sudah basah.
"Barca ... Oh Barca ... Barca, bangun sayang! Ini aku Rona. Huhuhu ... "
Tiba-tiba seorang perempuan bertubuh tambun menerobos masuk ke ruangan jenazah. Ia langsung memeluk jenazah yang diduga adalah Theo tersebut sambil terisak-isak.
"Huhuhu ... Bangun, Sayang. Ini aku, Roona. Maaf karena sudah menolak lamaranmu. Bangunlah, Barca, aku akan terima lamaran mu asal kau bangun."
Rhea, Ael, dan Bianca saling menoleh satu sama lain dengan dahi berkerut.
"Maaf, Anda siapa?" tanya Ael pada perempuan yang bernama Roona tersebut.
"Aku ... aku kekasih Barca. Semalam dia melamar ku, tapi aku menolaknya. Aku tidak tahu kalau ... kalau dia begitu sedih dan memilih mabuk-mabukan hingga dia ... dia berakhir seperti ini. Huhuhu ... " aku Roona tersedu-sedu membuat kebingungan tercetak jelas di netra ketiga orang itu.
"Dan kau ... Kau siapa? Kenapa kau ada di sini? Kau bukannya istri dari Barca kan? Atau ... Kau selingkuhan Barca?"
"Saya memang istri dia, tapi dia bukan Barca. Mungkin kau salah orang," ujar Rhea.
"Tidak, kau salah. Dia Barca."
"Dia bukan Barca, Nona, tapi Theo."
"Tidak, kau yang salah. Dia ini Barca, bukan Theo," kekeh perempuan bernama Roona itu.
Lalu Rhea pun memanggil seseorang yang bertugas berjaga di kamar jenazah itu dan menanyakan jenazah siapa yang terbaring di atas tempat tidur itu.
"Em, maaf, kalau boleh tahu, dia benar kan korban kecelakaan pagi tadi di jalan X?"
"Benar, Nona. Dia korban kecelakaan pagi tadi. Namanya Barcalana Uno."
Sontak saja, mata Rhea, Ael, dan Bianca terbelalak mendengarnya.
Jelas saja mereka jadi kebingungan.
"Lantas, dimana Theo?" pikir mereka.
Saat berjalan di koridor, otak mereka terus berpikir. Ternyata Barca adalah pengemudi yang telah menabrak mobil Theo. Tapi sayang, petugas tadi tidak tahu bagaimana keadaan Theo dan berada di ruangan mana. Jadi mereka pun bergegas kembali ke meja resepsionis untuk menanyakannya.
Namun, belum sampai mereka di meja resepsionis, ponsel Ael tiba-tiba berdering.
"Aunty?" gumam Ael.
"Siapa?" tanya Rhea.
"Aunty July," jawab Ael yang gegas mengangkat panggilan itu. "Halo Aunty."
"Halo Ael, apa kau tahu dimana Rhea? Aunty tidak bisa menghubunginya sejak tadi," ucap July saat panggilan itu diangkat.
"Rhea, ada aunty."
"Apa dia sedang bersama mu?"
"Iya aunty. Aunty ingin bicara dengan Rhea?"
"Iya, cepat berikan pada Rhea. Bilang saja, penting."
"Baik aunty."
Ael lantas segera memberikan ponselnya pada Rhea.
"Hallo, mommy."
"Rhea, kau kemana saja sih? Kenapa kau tidak bisa dihubungi? Kau tahu, Theo kecelakaan dan dia sedang kritis saat ini."
"Apa? Apa Mommy tau dimana Theo dirawat sekarang?"
"Tentu saja tahu sebab mommy yang lebih dulu datang kemari. Mertuamu juga sudah dalam perjalanan kemari. Segera datang kemari, ke rumah sakit Elsa Hospital. Theo masih ditangani tim medis di IGD."
Mata Rhea kian terbelalak. Benar, Theo dirawat di rumah sakit yang mereka datangi.
Jadi tanpa bicara apapun, Rhea pun gegas menuju ke ruang IGD rumah sakit tersebut. Tak butuh waktu lama, ia pun akhirnya tiba di sana.
"Rhea," panggil July cemas. "Kau cepat sekali tiba di sini?"
"Ia mom, sebenarnya kami sudah tiba di sini sejak tadi, hanya saja tadi sempat terjadi kesalahan. Bagaimana keadaan Theo?"
"Dia kritis. Dia harus segera dioperasi. Tadi Mommy sudah menandatangani surat pernyataan operasi agar Theo segera dioperasi. Ingin menunggu mu, kau saja tidak bisa dihubungi. Menunggu orang tua Theo, terlalu lama. Beruntung mommy cepat tahu karena ada kenalan mommy yang ingat Theo adalah menantu Mommy dan segera menghubungi mommy sebab saat kejadian ia berada tidak jauh dari lokasi. Kalau tidak, entah bagaimana nasibnya. Memangnya kau kemana sih? Mengapa di jam seperti itu Theo bisa di jalan X? Apa sudah terjadi sesuatu?" cecar July membuat Rhea seketika bungkam.
Tak lama kemudian kedua orang tua Theo datang. Emery yang sempat mendengar cecaran July pada sang menantu pun segera bergerak menyelamatkannya. Ia tak ingin masalah anak-anaknya makin besar karena orang tua yang ikut campur masalah mereka.
"July, bagaimana keadaan Theo?"
"Theo sebentar lagi dioperasi. Kau yang sabar ya! Aku yakin, Theo laki-laki yang kuat. Mana mungkin ia meninggalkan anak dan istrinya serta orang tuanya," ujar July mencoba menguatkan.
Ael yang tak ingin terjadi kesalahpahaman di sana lantas segera undur diri. Walaupun sebenarnya ia pun benar-benar mengkhawatirkan keadaan Theo, tapi untuk mencegah orang-orang berpikir yang tidak-tidak tentang mereka, Ael dan Bianca pun segera berpamitan.
Operasi pun akhirnya dimulai. Rhea tak henti-hentinya berdoa dalam hati agar Theo diberikan keselamatan dan kesembuhan.
"Theo, aku mohon, maafkan aku. Bertahanlah. Aku dan anak kita menunggumu."
Operasi itu berjalan sekitar 2 jam. Setelah selesai, Theo dinyatakan belum baik-baik saja sebab ia belum melewati masa kritisnya. Kepala Theo mengalami benturan yang cukup keras. Untung saja, pengaman mobil bekerja cukup baik sehingga benturan tersebut tidak begitu fatal. Tapi tangan Theo terjepit dan ada retakan di tulang pundaknya. Begitu juga dengan kakinya. Hal tersebut membuat rasa bersalah Rhea kian menjadi.
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...