Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 78


Akibat pemberitaan tentang perlakuan Ambar, Jessica, dak Harold pada Shenina selama ini, para pengguna sosial media beramai-ramai menghujat mereka. Mereka dianggap manusia yang tidak berperasaan. Bagaimana tidak, mereka bisa dengan tega menyakiti seorang gadis kecil hingga dewasa. Bukan hanya menyakiti, mereka juga mengabaikan dan menelantarkannya.


Selang beberapa saat setelah video beredar, tersebar juga video bagaimana Harold yang mengutuk Shenina yang merupakan putri kandungnya sendiri saat datang ke rumahnya bersama Rainero. Bahkan ia lebih mengagung-agungkan Jessica yang merupakan anak tiri.


Jelas saja, umpatan demi umpatan ditujukan kepada Harold, Ambar, dan Jessica. Tak pelak, akibat beredarnya berita itu, semakin banyak pula orang-orang yang mengenal Ambar dan Jessica ikut membuka suara bagaimana sifat mereka berdua.


Ambar dan Jessica benar-benar ketakutan saat ini. Apalagi semenjak video panas Jessica tersebar, Harold jadi mendiamkan mereka.


"Bagaimana ini, Mom? Kenapa justru berbalik seperti ini? Bukannya nama Shenina yang hancur, justru kita yang kian dibully?" ujar Jessica dengan nafas yang tercekat. Ia khawatir, kemana ia melangkah, maka hanya akan ada caci maki yang mengiringinya.


"Tunggu, kemana siaran yang kau buat tadi, Jess? Sepertinya tidak ada. Kenapa bisa tiba-tiba menghilang?" gumam Ambar keheranan.


Jessica yang tadinya hanya fokus dengan pemberitaan mengenai dirinya dan juga keluarganya seketika terperangah.


"Mom benar," gumamnya.


Lalu Jessica segera memeriksa akunnya dan benar saja, dari siaran langsung sampai semua notifikasi yang tadi membanjiri sosial medianya, semuanya benar-benar lenyap. Tak tersisa satupun. Bahkan orang-orang yang tadi ikut menyebarkan beritanya, tidak terlihat dimana rimbanya.


Tak lama kemudian, tiba-tiba akunnya keluar secara otomatis. Saat Jessica ingin masuk ke akun sosial medianya, ternyata ia tidak bisa. Akunnya tiba-tiba saja menghilang tak berbekas.


Mata Jessica terbelalak, "mom, apa mungkin tuan muda Sanches itu yang melakukan semua ini? Tapi ... bagaimana bisa?"


"Tapi itu bisa saja terjadi, Jess. Pria itu merupakan seseorang yang berpengaruh. Ia kaya raya dan apapun bisa ia lakukan."


"Gila!!! Bila benar dia yang melakukannya, matilah kita! Kita harus bagaimana, Mom? Bagaimana kalau dia melakukan hal yang lebih nekat lagi?" Seketika Jessica merinding sendiri membayangkan tindakan Rainero selanjutnya. Bila Rainero bisa membalas perbuatannya dalam sekejap mata, maka ada kemungkinan ia bisa bertindak yang lebih menakutkan daripada ini.


Di saat Jessica dan Ambar tengah ketakutan dengan apa yang akan mereka alami selanjutnya, di sebuah kamar hotel ternama tampak Rainero sudah tidak sabar ingin membawa Rainoconda menjelajahi gua kenikmatan yang sudah lama ia impikan.


Bahkan saat ia sedang mengguyur tubuhnya di bawah shower, Rainero tak henti-hentinya membayangkan malam panas yang akan segera ia lewati malam ini.


"Errr ... kenapa tubuhku rasanya kayak gini ya? Benar-benar tak nyaman," gumamnya saat air dingin membasahi badannya. Ia merasa perutnya bergejolak, bahkan tubuhnya jadi sedikit menggigil.


Rainero lantas terpaksa menyudahi kegiatan mandinya karena kondisi tubuhnya yang kian terasa tak nyaman.


Rainero keluar kamar hanya dengan mengenakan handuk yang menggantung di pinggangnya. Tampak Shenina sedang duduk di salah satu sofa dengan tubuh yang masih tertutup bathrobe. Rainero menelan salivanya.


Rainero yang tadi hendak mengambil pakaian ganti tanpa sadar berjalan menuju Shenina yang kini tengah menatapnya tanpa kedip.


Laki-laki yang sudah resmi menjadi suami dari Shenina itu kini telah berdiri di hadapan sang istri. Melihat pahatan sempurna dari tubuh Rainero jelas saja membuat jantung Shenina terasa dag dig dug. Darahnya berdesir. Begitu pula darahnya ikut ser-seran.


"Kenapa? Apa istriku ini baru sadar kalau suaminya ini sangat tampan?" goda Rainero yang sudah mengungkung tubuh Shenina.


Jarak yang terlalu dekat membuat Shenina dapat menghidu aroma sabun dan sampo dari tubuh gagah suaminya itu. Jelas saja hal itu membangkitkan sesuatu yang tak pernah ia alami selama ini. Ada rasa ingin mendekap, menyentuh, meraba, bahkan menyusuri setiap inci bagian tubuh dari suaminya itu. Tubuh itu begitu gagah. Otot-ototnya terbentuk begitu sempurna di matanya. Kencang, padat, dan berisi.


Sebelumnya, Shenina tidak pernah merasakan hal ini. Mungkin karena ia bukan termasuk orang-orang yang menganut budaya free se x, jadi ia tidak pernah tertarik sama sekali dengan sesuatu yang bersifat sensualitas.


Berbeda dengan sekarang. Laki-laki yang ada di hadapannya itu telah resmi menjadi suaminya. Menatapnya saja membuat aliran darahnya seketika melonjak hebat. Jantungnya pun seakan dipompa dengan begitu kencang. Aliran oksigen di sekitar seakan menipis apalagi saat Rainero mendekatkan wajahnya. Nafas Rainero yang beraroma mint menerpa wajahnya. Shenina pun reflek memejamkan matanya.


Mata Shenina terbelalak saat melihat wajah pucat Rainero. Rainero bahkan memijit pelipisnya. Peluh sebesar biji jagung turun dari sela-sela rambutnya, membasahi dahi hingga turun ke rahang.


"Rain," seru Shenina khawatir. "Kau kenapa?" tanyanya sambil membantu Rainero duduk di sampingnya.


"Entahlah. Sejak semalam kepalaku rasanya begitu berat. Perutku pun rasanya terus-terusan bergejolak. Humppp ... " Rainero menahan gejolak rasa yang ingin menerobos tenggorokannya.


Tak mampu menahannya lebih lama lagi, Rainero pun segera berlari menuju kamar mandi. Ia memuntahkan semua isi perutnya. Shenina yang khawatir pun ikut menyusul. Shenina terbelalak, bukankah beberapa hari ini Rainero sudah tidak mengalami sindrom cauvade lagi? Tapi kenapa malam ini Rainero tiba-tiba kembali muntah-muntah?


"Rain, kau tidak apa-apa?" tanya Shenina khawatir sambil memijat tengkuk Rainero.


"Aku benar-benar lemas, Sweety. Bagaimana ini?"


"Bagaimana apa? Jangan membuatku khawatir. Ayo, aku bantu ke kamar. Lebih baik kau istirahat. Atau aku perlu memanggilkan dokter keluargamu?"


Rainero menggeleng cepat. Ia tidak mungkin melakukan itu. Ia tak ingin keluarganya apalagi sampai orang lain tau kalau ia tiba-tiba sakit di malam pertamanya. Bisa jatuh harga dirinya di mata orang-orang. Bisa saja setelahnya ia akan menjadi bahan ejekan orang-orang. Bagaimana kalau ia dicibir sebagai laki-laki lemah? Oh, no! Rainero tak ingin sampai hal itu terjadi. Lebih baik ia menahan rasa sakit kepala, mual, dan lemasnya daripada ia menjadi bahan ejekan orang-orang.


"Jangan! Tidak perlu. Biarkan aku istirahat saja, tapi ... apa kau tak apa?" tanyanya ambigu.


"Kenapa aku yang kau tanyakan? Kau yang sakit, seharusnya kau yang aku tanyakan apa kau tak apa?"


"Bukan itu maksudku," ujarnya lemah sambil membaringkan diri di atas kasur setelah mencapai sisi ranjang.


"Lantas?" tanya Shenina bingung.


"Bukankah seharusnya malam ini kita melaluinya dengan penuh kehangatan, bahkan rasa panas bergelora," ujarnya membuat pipi Shenina seketika memanas. "Tapi karena keadaanku seperti ini, sepertinya kita ... "


"No, aku tidak apa-apa. Kau tak perlu berpikir seperti itu. Aku ... aku tidak masalah. Bukankah ... masih ada hari esok?"


"Hemmm ... kau ... huek ... huek ... huek ... "


Tiba-tiba rasa mual kembali menerjang membuat Rainero tak dapat menahan gejolak itu dan memuntahkan begitu saja isi perutnya di atas ranjang. Mata Shenina terbelalak, tapi apalah daya, ia justru merasa kasihan dengan keadaan Rainero saat ini.


"Sepertinya kau masuk angin, Rain," ujar Shenina setelah selesai membantu Rainero membersihkan diri dari bekas muntah.


"Masuk angin? Apa itu?" Di negara barat, tidak ada istilah masuk angin, karena itu ia tidak paham.


"Iya. Itu sejenis penyakit. Aku dapat istilah ini saat berada di Indonesia," jelas Shenina.


"Penyakit? Apa masuk angin itu termasuk penyakit berbahaya?" tanya Rainero khawatir. Bagaimana tidak, ia baru saja menikahi wanita pujaannya. Bahkan Rainocondanya saja belum bisa menjelajahi goa kenikmatan impiannya, bagaimana kalau masuk angin itu termasuk sakit parah dan berbahaya? Tidak, aku belum mau mati. Risau Rainero dalam hati.


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...