
Lagu Beautiful in White mengalun merdu dari bibir Putri Ariani, mengiringi dua sejoli yang baru saja meresmikan hubungan mereka dalam ikatan tali pernikahan itu berdansa di hadapan ratusan tamu yang hadir malam itu. Lampu sorot tampak mengiringi setiap langkah mereka. Bagaikan seorang raja dan ratu, mereka tampak begitu memukau.
"Adisti, maukah kau berdansa denganku?" ajak Mark yang kini telah mengulurkan tangan kanannya ke depan , sedangkan tangan kirinya terlipat ke belakang dengan lutut sedikit ditekuk.
Adisti menatap Mark dengan wajah datar, "sorry, aku tidak bisa berdansa," jawabnya jujur.
Mark menyunggingkan senyuman, "aku yang akan mengajarimu," tawarnya, tapi Adisti tidak berminat sama sekali.
"Tidak. Terima kasih," jawabnya acuh tak acuh. Lalu Adisti membalikkan badannya berjalan menuju stand minuman. Ia memilih mengambil mocktail sebab mocktail tidak mengandung alkohol. Adisti memilih minuman itu sebab ia memiliki toleransi alkohol yang rendah. Ia tak mau tiba-tiba berakhir tidur di kamar seorang laki-laki yang tidak dikenal akibat mabuk.
Melihat Adisti mengacuhkannya jelas saja membuat Mark kesal. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Marah pun tidak bisa. Ia sadar, Adisti berbuat seperti itu karena kesalahannya. Tak ada lagi yang selalu ceria menyapanya dan Adisti yang sigap membalas pesan-pesannya. Adisti benar-benar tidak mengacuhkannya. Entah mengapa, Mark merasa gelisah sendiri. Padahal mereka tidak memiliki hubungan apa-apa.
"Ayolah, Dis, kapan lagi kau bisa datang ke pesta sebesar ini dan berdansa diiringi lagu nan indah ini? Ayo kita berdansa, kau mau kan?" bujuk Mark lagi.
Adisti melengos, "aku bilang tidak ya tidak. Ajak saja kekasihmu itu, kenapa harus aku. Sana, minggir, aku mau lewat," ketus Adisti membuat Mark menggaruk tengkuknya kembali merasa bersalah.
Lalu Adisti duduk di salah satu kursi bersebelahan dengan Gladys sambil menyesap mocktailnya.
"Hai, mau berdansa denganku?" tiba-tiba seorang laki-laki berparas tampan dengan jas berwarna navy berdiri di hadapannya dan mengajaknya berdansa.
Dia adalah Jevian. Sahabat Axton yang kini juga berteman dekat dengan Rainero.
Bukan hanya Adisti yang mendapatkan tawaran, tapi juga Gladys yang mendapatkan ajakan dari Axton.
"Mau berdansa denganku?" tanya Axton.
Adisti dan Gladys saling menoleh. Adisti meminta saran, Gladys bingung.
"Ayolah, tak perlu malu-malu!" Tanpa banyak bicara, Axton menarik lengan Gladys ke lantai dansa.
Adisti terbelalak. Saat matanya melihat wajah Mark, tiba-tiba saja ia mengiyakan ajakan Jevian. Lalu ia pun ikut bergabung berdansa dengan Jevian.
Adisti mengalungkan lengannya di leher Jevian, sedangkan Jevian melingkarkan tangannya di pinggang Adisti. Begitu pula Gladys dan Axton. Mereka lantas berdansa diiringi lagu Beautiful in White yang dilantunkan si pemilik suara emas Putri Ariani.
Mark kesal. Ia benar-benar kesal. Entah apa sebabnya.
"Ck ... sialan. Tadi diajak dia tidak mau, giliran teman bos Rain yang ajak, dia mau-mau saja. Dasar perempuan, sama saja. Hanya karena aku seorang sopir, jadi dia menolak ajakanku mentah-mentah," geram Mark.
Ia pikir Adisti menolak ajakannya karena ia hanyalah seorang sopir. Padahal Adisti hanya masih kesal dan ingin menjaga jarak dari laki-laki yang membuatnya kebingungan pulang saat itu. Padahal ia tidak tahu jalan pulang, tapi Mark meninggalkannya begitu saja. Bukan sebentar ia menunggu, tapi lebih dari 3 jam.
Adisti telah mencoba menghubungi Mark, tapi panggilannya tidak direspon sama sekali. Karena langit mulai gelap, ia pun terpaksa menghubungi Shenina. Beruntung Shenina langsung meminta Rainero mengirimkan jemputan, kalau tidak, entah bagaimana caranya ia pulang sebab alamat mansion Ranveer pun ia tidak tahu.
Acara dansa pun berakhir, tapi para tamu tampaknya masih begitu menikmati acara malam itu. Tak peduli langit kian larut, banyaknya bintang tamu yang memeriahkan acara itu pun banyaknya hidangan istimewa membuat mereka betah berlama-lama di sana.
Tapi tidak dengan Rainero. Ia sadar kalau Shenina tengah mengandung jadi ia meminta undur diri lebih dahulu. Apalagi sejak tadi, Rainero melihat sepertinya Shenina sudah kelelahan. Bukan sekali Rainero melihat Shenina memijat kakinya sendiri, tapi bila Rainero menawarkan bantuan, Shenina selalu saja menolak.
"Ayo Sweety, kita kembali ke kamar!" ajak Rainero.
"Tapi Rain, tamu kamu masih banyak. Apa kata mereka kalau tuan rumahnya malah pergi secepat ini."
Shenina tentu saja merasa tak enak hati sebab tamu Rainero masih sangat banyak dan sepertinya mereka terlalu menikmati acara sehingga enggan untuk segera kembali.
"Mereka pasti mengerti, Sweety. Ingat, kau sedang hamil twins saat ini. Kau butuh istirahat. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada kalian bertiga, please!" Melas Rainero yang memang benar-benar mengkhawatirkan keadaan Shenina.
Shenina akhirnya mengangguk. Ia pun sebenarnya telah kelelahan. Sebenarnya bukan hanya Shenina, tapi Rainero. Perutnya terasa bergejolak sejak tadi. Tapi ia tahan agar tidak membuat semua orang khawatir.
"Mau aku gendong?" tawar Rainero, tapi Shenina menggeleng.
"Aku bi--- aaaakh ... " Shenina hampir saja terjatuh karena keram di kakinya. Namun dengan sigap Rainero menahan tubuh Shenina.
"Astaga, hampir saja!" decak Rainero khawatir. Lalu tanpa ba bi Bu, Rainero membawa Shenina ke pangkuannya dan menggendongnya ala bridal style membuat semua mata tertuju pada mereka.
"Rain, turunkan aku! Aku bisa berjalan sendiri."
"Yakin?" sindir Rainero. "Bagaimana kalau aku tidak cepat menahan tubuhmu tadi? Kamu pikir, kamu akan tetap baik-baik saja?"
"Maaf," cicit Shenina. Bukannya merespon ucapan maaf Shenina dengan kata, Rainero justru membungkam dengan sebuah ciuman sambil terus berjalan menuju lift khusus yang akan membawa mereka ke lantai teratas di hotel itu. Dimana kamar presidensial suite tempat mereka menginap berada.
Semua orang bersorak melihatnya. Kecuali tiga pasang mata, siapa lagi kalau bukan Delianza, Justin, dan Bianca. Delianza menatap sendu, sedangkan Bianca dan Justin menatap tak suka.
Setibanya di kamar, Rainero menurunkan Shenina dengan perlahan.
"Kau mau membersihkan diri, Sweety?"
Shenina mengangguk malu-malu.
"Perlu ku bantu?" tawar Rainero seraya mengerlingkan sebelah matanya.
Rainero terkekeh, "tapi kakimu sedang sakit, Sweety. Aku bantu ya?" goda Rainero.
"Tidak perlu. Aku ... aku bisa sendiri. Lihat, aku sudah bisa berdiri. Tidak keram lagi. Lebih baik, kau angkat teleponmu yang sejak tadi berdering. Jangan-jangan ada hal penting," tolak Shenina.
Meskipun ia telah hamil anak Rainero dan meskipun seminggu ini mereka telah tidur di satu kamar yang sama pun ranjang yang sama, Shenina belum pernah sekalipun membuka pakaiannya di hadapan Rainero. Jelas saja ia malu.
Rainero akhirnya pasrah. Ya, memang sejak tadi ponselnya berdering. Sejak dari dalam lift tadi. Sepertinya memang ada hal penting yang akan disampaikan padanya.
"Ya sudah, kalau begitu, hati-hati. Panggil aku kalau kau butuh bantuan seperti ... memandikanmu ... mungkin." Rainero mengedipkan sebelah matanya. Pipi Shenina memerah.
"Aku hanya ingin mandi, Rain. Bukannya ingin bepergian," sahut Shenina dengan bibir mengerucut.
"Ya, aku tahu. Tapi tetap saja, kau harus hati-hati. Lantai kamara mandi itu rentan licin. Apalagi bila kita tidak berhati-hati. Aku hanya tidak ingin terjadi sesuatu pada kalian. Kau paham kan maksudku?"
Rainero menatap Shenina serius. Sebenarnya ia sudah memerintahkan orangnya untuk memeriksa kamar mandi sebelum ia masuk ke kamar ini. Tentu saja untuk memastikan lantainya tidak licin, tapi terkadang meskipun tidak licin, akibat kecerobohan kita yang tidak berhati-hati, kita tetap saja bisa terpeleset. Tidak sedikit orang yang celaka karena kurang berhati-hati saat di kamar mandi dan Rainero tidak ingin hal buruk itu menimpa sang istri. Apalagi ia kini sedang mengandung.
Shenina mengangguk. Ia sangat paham akan kekhawatiran Rainero. Ia justru amat sangat bersyukur karena Rainero begitu memperhatikannya. Bahkan Theo pun tidak pernah memperhatikannya sedemikian manis.
"Iya, baiklah. Kalau begitu, aku ke kamar mandi dulu."
Shenina pun segera beranjak ke kamar mandi. Sementara itu, Rainero pun segera mengangkat panggilan yang ternyata dari Axton.
"Halo Axton, ada apa kau menghubungiku? Jangan bilang kalau kau hanya ingin mengerjaiku?" desis Rainero yang memang tahu Axton kerap usil untuk hal tertentu.
Axton terkekeh mendengar seruan kekesalan Rainero.
"Aku tidak seusil itu untuk mengganggu malam panas mu itu," ujar Axton sambil menahan tawanya.
"Bisa saja. Aku sangat tahu bagaimana sifat mu itu."
Axton lagi-lagi terkekeh, "ya, sebenarnya aku memiliki rencana seperti itu sebelumnya. Tapi ternyata ada hal yang lebih penting dari itu yang harus segera aku sampaikan."
Rainero mengerutkan kening saat mendengar suara Axton yang tiba-tiba serius.
"Ada apa? Apa telah terjadi sesuatu?"
"Ya, sesuatu yang sangat menjijikkan."
"Maksudmu?"
"Seperti dugaanmu, keluarga Shenina tadi hendak membuat kekacauan, tapi berhasil penjaga hentikan. Namun ternyata mereka tidak berhenti sampai di situ. Saudara tirinya telah membuat siaran langsung dan menjelek-jelekkan Shenina. Mereka benar-benar keterlaluan. Kau buka link yang aku kirim lalu katakan, apa tindakan yang harus aku lakukan?"
Rainero pun segera membuka link yang dikirimkan Axton. Rahang Rainero mengeras. Ia benar-benar marah. Apalagi akibat siaran langsung itu, banyak orang yang menjelek-jelekkan Shenina.
"Sepertinya mereka cari mati!" desis Rainero sambil menyeringai.
Lalu ia pun segera mengetikkan sebuah pesan, "lakukan plan A!"
"Siap! Laksanakan!" balas Axton.
Sementara itu, di kediaman Harold, tampak Jessica dan Ambar terus tersenyum lebar. Mereka terus memantau berita, berharap malam pengantin Shenina justru segera berakhir menjadi sebuah malam mala petaka.
"Jess, coba buka sosial mediamu! Jangan-jangan berita tentang Shenina yang diceraikan di malam pertama viral. Mommy sudah tidak sabar menantikan kehancuran perempuan sialan itu," ucap Ambar menghampiri kamar sang putri.
Jessica yang sedang mengenakan masker berwarna putih itu pun segera mengambil ponselnya.
Dan dalam hitungan detik matanya pun terbelalak.
"Bagaimana? Apa perempuan sialan itu sudah diusir?" tanya Ambar tak sabaran.
"Mom, i-ini ... "
"Ada apa sih? Kenapa? Apa rencana kita berhasil?" tanya Ambar antusias.
Jessica menelan ludahnya kasar, lalu menggelengkan kepalanya.
"Kau kenapa sih?"
Ambar lantas merebut ponsel Jessica dan melihat apa yang terpampang di layar tersebut. Seketika ponsel itupun terjatuh ke lantai dengan kedua bola mata yang terbelalak.
"Ini ... "
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...