
"Rain, aku dapat telepon dari kantor polisi," ujar Axton yang baru saja masuk ke ruangan Rainero.
Rainero yang sedang mengetik sesuatu di laptop miliknya pun segera mendongak.
"Apa yang mereka katakan?" tanya Rainero sambil bertopang dagu.
"Keadaan nyonya Ambar sudah semakin memburuk. Tubuhnya pun sudah semakin sulit digerakkan."
Mendengar penuturan tersebut, Rainero pun tersenyum sinis.
Baginya, itu masih belum sepadan dengan apa yang wanita itu lakukan pada Shenina dan ibunya. Oleh sebab itu, Rainero memerintahkan seseorang untuk mencampur sesuatu ke dalam makanan Ambar di setiap harinya. Sesuatu itu adalah obat yang sama yang pernah Ambar berikan pada ibu Shenina dan mantan suaminya. Obat yang mampu melumpuhkan syaraf-syaraf tubuh. Namun dosis yang diberikan hanya sedikit saja. Tujuannya agar Ambar tidak lekas mati. Dia hanya akan merasa tubuhnya makin lama makin terasa lemah tak berdaya. Bahkan untuk menggerakkan tubuh saja membutuhkan kekuatan ekstra. Sama seperti yang Ambar lakukan pada ibu Shenina.
Sementara pada mantan suaminya, Ambar memberikannya dalam dosis yang lebih besar. Bahkan berkali lipat. Oleh sebab itulah, dalam hitungan detik mampu melumpuhkan syaraf-syaraf mantan suaminya.
Kejam.
Ya, Rainero menyadari hal itu. Tapi menurutnya, hal itu lantas ia lakukan setelah apa yang Ambar lakukan selama ini. Ia bukan hanya memfitnah ibu Shenina dan merebut Harold dari Shena dan Shenina, ia juga meracuni Shena secara diam-diam, membuat ibu kandung dari Shenina itu semakin sakit dari ke hari hingga akhirnya berakhir di tangan Ambar sendiri setelah memergoki Ambar dan mantan suaminya yang sedang bercinta. Dia juga menyiksa Shenina dan membuat Shenina kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya. Dibenci sang ayah. Jadi apa yang ia lakukan ini Rainero anggap masih belum seberapa sebab penderitaan Shenina selama ini jauh lebih besar dari apa yang Ambar rasakan.
"Biarkan saja. Kita lihat saja, sampai sebatas mana ia sanggup bertahan," ucap Rainero yang kini telah berdiri dihadapan kaca yang menampakkan pemandangan jalanan serta gedung-gedung pencakar langit yang ada di sekeliling perusahaannya.
Rainero sungguh salut, bahkan sudah dalam keadaan terpuruk pun tak ada sedikitpun niat Ambar untuk meminta maaf. Sepertinya ia tidak pernah menyesali sedikitpun perbuatannya selama ini.
Sementara itu, di sebuah minimarket, tampak Shenina masuk ke dalam sana dengan syal yang menutupi sebagian wajahnya. Ia juga mengenakan topi bucket hat sehingga bagian dahi hingga mata sedikit tertutup. Ia seakan-akan memilih barang-barang yang terpajang di rak-rak, padahal sebenarnya ia sedang memperhatikan sang ayah yang sedang menggantikan kasir melayani pembeli.
Shenina lantas mengambil beberapa barang dan membawanya ke kasir. Harold tidak menyadari siapa yang tengah berdiri di seberangnya itu. Hingga saat Shenina mengucapkan terima kasih setelah melakukan pembayaran, Harold seketika tertegun. Mata Harold sampai tak lepas memandangi punggung Shenina yang mulai menjauh.
"Shenina," lirih Harold yang bisa merasakan kalau perempuan tadi adalah Shenina. "Tapi ... mungkinkah itu dia?" lirihnya lagi yang entah mengapa tiba-tiba ia meragu. Apalagi ia sangat tahu kalau anak perempuannya itu begitu membenci dirinya.
...***...
"Apa? Menikah? Kau ingin menikah hari ini juga?" pekik Eleanor yang benar-benar syok setelah mendengar pernyataan sang anak.
Mark mengangguk tanpa ragu, "memangnya kenapa?"
"Mark, kau ini sudah sinting atau apa?Madre dan Padre memang memintamu segera menikah, tapi dengan keadaanmu seperti ini?"
"Memangnya apa masalahnya? Madre, aku hanya ingin menikah. Soal pesta, bisa kita adakan lain waktu dan yang pasti setelah aku sembuh. Tapi aku tidak bisa menunda menikahi Adisti. Aku tidak ingin Adisti menikah dengan laki-laki lain karena terlalu lambat bergerak."
"Astaga, Mark, kau benar-benar gila."
"Ya, aku gila karena calon menantu Madre yang cantik itu," jawab Mark sambil senyum-senyum sendiri membayangkan wajah cantik Adisti sekaligus ciuman panas mereka semalam.
Mark sampai mengusap bibirnya. Rasanya sudah tak sabar ingin kembali merasai bibir lembut itu lagi.
Jelas saja Mark tersenyum lebar. Lalu ia melirik ke salah satu kakinya yang dinyatakan patah.
"Kakimu sedang seperti itu, bagaimana kau akan melakukan malam pertama? Jangan bilang kau ingin meminta Adisti berada di atas? Di rumah sakit?" tuding Eleanor tanpa filter dengan mata melotot.
Mark pun ikut melotot, tak percaya kalau ibunya akan melontarkan pertanyaan seperti itu.
"Tentu saja tidak, Madre. Apalagi ini pengalaman pertama Adisti, aku pasti akan memberikan kesan yang indah."
Mendengar hal tersebut, Eleanor sontak menyipitkan mata, "apa katamu? Jadi Adisti masih ... "
Mark tersenyum lebar, "dia perempuan langka, Madre. Ya, ini pengalaman pertamanya."
"Kau benar-benar belum pernah menyentuhnya?"
"Ck, sudahlah Madre. Berhenti bertanya. Lebih baik Madre temui calon menantu Madre. Takutnya dia tiba-tiba menghilang dengan laki-laki lain," omel Mark.
Mark paham kenapa sang ibu menanyakan hal tersebut. Seperti yang banyak orang ketahui, hal itu lumrah di negara seperti yang mereka tinggali saat ini. Karena itu, ibunya merasa heran saat tahu sang putra belum pernah menyentuh wanitanya.
Eleanor terkekeh, "sepertinya tinggal selama 2 tahun di Indonesia membuatmu lebih menghargai seorang perempuan, hm. Bagus. Madre suka itu. Baiklah, Madre akan melihat calon menantu Madre terlebih dahulu. Kalau tidak salah, ia sudah diizinkan pulang hari ini," tukas Eleanor seraya meraih tas tangannya di atas meja.
"Oh ya? Madre, bisakah Madre mengganti ranjangku dengan yang lebih besar? Jadi Adisti tidak perlu pulang setelah ini. Aku ingin dia tidur di sini menemaniku," ucap Mark dengan wajah sumringah.
Mulut Eleanor sampai menganga dibuatnya. Ia tak menyangka, putranya itu telah kebelet kawin eh nikah dulu maksudnya. Mana bisa dia kewong sekarang, lah kaki aja masih di gips. Hahaha ...
Eleanor menggelengkan kepalanya seraya menghembuskan nafas kasar.
"Ya, ya, ya, Madre paham. Sangat paham. Kau tunggu saja, Madre akan atur semuanya. Yang penting kau bahagia dan lekas pulih," pungkas Eleanor.
Setelahnya, Eleanor pun gegas keluar dari dalam kamar itu. Tanpa ia sadari, ada seorang laki-laki menatap nanar punggung Eleanor yang menjauh. Sejak tadi, laki-laki itu berdiri di balik pintu kamar Mark. Ia ikut mendengarkan perbincangan hangat anak dan ibu itu. Laki-laki itu tersenyum miris, seandainya ibunya seperti Eleanor, betapa bahagianya dirinya. Dan laki-laki itu yakin, dirinya lah yang akan jadi pemenang atas gadis yang dicintainya itu. Tapi sayang, karena sikap sang ibu, kesempatannya untuk mendapatkan gadis pujaan hatinya telah benar-benar kandas. Bahkan gadis itu akan segera menikah dengan Mark.
Laki-laki yang awalnya ingin menemui Mark dan meminta maaf atas perbuatan ibunya itupun lantas mengurungkan niatnya. Hatinya terlalu pedih. Ia tak sanggup untuk menemui laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi pemilik gadis yang ia cintai.
Dengan langkah gontai, laki-laki itupun segera keluar dari rumah sakit itu.
...***...
Yang mau tengok lingerinya Axton bisa intip ke igeh dwie.author yapz! 😂
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...