Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 230 (S3 Part 72)


Tengah malam Jevian terbangun dari tidurnya. Perutnya tiba-tiba saja merasa lapar. Tapi ia tidak ingin makan makanan yang lain selain strawberry. Padahal sore tadi ia baru saja menghabiskan satu mangkok penuh strawberry, lalu kini telah di jam 01.23 dini hari, ia sudah ingin menyantap buah berwarna merah yang didominasi rasa asam tersebut.


Jevian mengusap perutnya yang terasa lapar. Dengan berjalan mengendap-endap, Jevian pun turun dari ranjang dan keluar kamar.


Jevian membuka kulkas. Dicarinya sisa buah strawberry yang dibelinya siang tadi. Ia harap Roseline masih menyisakan meskipun hanya sedikit saja. Namun sayang, ternyata ia tidak menemukan satupun buah yang tengah dicarinya tersebut.


"Ck, kenapa juga tadi aku beli sedikit. Seharusnya membeli yang banyak untuk stok." Jevian menghela nafas panjang. Ia menelungkupkan kepalanya di atas meja makan. Berpikir apa yang harus ia santap sebagai gantinya.


Jevian kembali membuka kulkas. Namun ia tidak menemukan satupun makanan yang membuatnya berselera. Lalu ia iseng membuka kulkas khusus menyimpan sayuran. Diantara sayur-sayuran itu, Jevian melihat tomat yang terlihat segar. Warnanya merah cerah membuat Jevian seketika menelan ludah. Ia pun mengambil beberapa buah tomat, mencucinya, kemudian meletakkannya ke dalam piring. Dibawanya tomat-tomat itu ke meja makan. Lalu ia mencoba menggigit satu buah. Matanya seketika berbinar cerah. Ia pun segera menghabiskan tomat-tomat tersebut dengan bersemangat.


"Ah, leganya!" gumam Jevian sambil mengusap perutnya yang terasa melegakan.


Setelah selesai menyantap tomat dan meminum segelas air, Jevian pun kembali ke kamar. Ia segera membaringkan tubuhnya sambil memeluk erat tubuh Roseline. Dihidunya dalam-dalam aroma Roseline yang sudah seperti candu baginya. Beberapa menit kemudian, mata Jevian pun kembali terpejam. Untung saja ada tomat penyelamat, gumamnya sebelum mata Jevian benar-benar terpejam.


Keesokan paginya, setelah membantu asisten rumah tangganya menyiapkan sarapan, Roseline membuka kulkas khusus sayur-sayuran. Alisnya bertaut. Ia memeriksa kesana sini, tapi yang dicarinya tak kunjung ditemukan.


"Gretha, apa kau melihat tomat-tomat di dalam sini?" tanya Roseline pada asisten rumah tangganya. Ia ingin membuat jus tomat pagi ini sebagai minumannya, tapi tomat yang baru dibelinya kemarin tiba-tiba menghilang. Hanya tersisa dua buah saja. Jelas saja Roseline merasa bingung.


"Saya tidak tahu, Madam. Saya tidak menggunakan tomat untuk memasak," jawab Gretha dengan wajah tertunduk.


Roseline menggaruk pelipisnya.


"Lalu kemana tomat-tomat yang ku beli kemarin?" gumamnya.


Roseline lantas kembali ke meja makan. Ia hanya mengambil sepotong sandwich membuat Jevian heran dengan ekspresinya.


"Kau kenapa, Baby?" tanya laki-laki itu.


"Itu, aku ingin membuat jus tomat, tapi ternyata tomatnya hanya tersisa dua buah. Itupun warnanya belum terlalu merah. Aneh," ujar Roseline dengan wajah murung membuat Jevian tersedak sosis yang ia santap.


"Hei, kau tidak apa-apa?"


"Daddy seperti anak kecil, makan sosis saja tersedak," ejek Jefrey membuat Roseline mengulum senyum.


Setelah berhasil meredakan tersedaknya, Jevian pun akhirnya mengakui kalau ia lah yang menyantap tomat-tomat tersebut.


"Em, baby, maaf, tomat-tomatmu sebenarnya ... aku yang memakannya," ujar Jevian sedikit cengengesan. Sengaja. Supaya Roseline tidak marah padanya.


"Apa? Kamu serius?" tanya Roseline memastikan dan Jevian mengangguk membuat Roseline menganga tidak percaya.


Sore harinya, lagi-lagi Jevian pulang kerja sambil membawa keranjang buah berisi strawberry. Roseline sampai membelalakkan matanya. Mulutnya membulat dengan apa yang ia lihat.


Ternyata Jevian bukan sekedar membeli strawberry, tapi ia juga membeli bibit tanamannya.


"Daddy, untuk apa strawberry sebanyak itu?" tanya Jefrey bingung.


"Tentu saja untuk makan. Memangnya untuk apa lagi?"


Roseline tidak bisa berkata-kata lagi. Suaminya itu makin hari makin aneh.


Keesokan paginya, saat Roseline sibuk menyiapkan sarapan, Jevian dan Jefrey justru sibuk di taman belakang.


Jevian mengajak Jefrey menanam bibit tanaman strawberry miliknya. Roseline menghela nafas panjang. Kenapa Jevian dari hari makin ke hari, ia semakin menggilai sesuatu yang berhubungan dengan strawberry.


...***...


"Ini ... "


"Itu gantungan kunci strawberry," ujar Jevian seraya menyodorkan sebuah gantungan kunci pada Roseline. "Aku juga sudah punya satu. Lihat, bagus kan?" Jevian menunjukkan kunci mobilnya yang sudah dipasang gantungan berbentuk buah strawberry.


"Iya, aku tahu. Tapi ... Jujur, kamu terlihat aneh, Jev. Kenapa akhir-akhir ini kau sangat suka sekali dengan segala sesuatu yang berbau dan berbentuk strawberry. Aku sampai kepikiran," ungkap Roseline yang memang benar-benar bingung bercampur penasaran.


Jevian menggaruk pelipisnya, "sebenarnya aku pun bingung. Setiap melihat sesuatu yang berbentuk strawberry, aku jadi langsung menginginkannya. Di kantor pun, beberapa hari ini aku selalu memesan jus strawberry dan cemilan strawberry. Aku juga meminta Matson mencarikan ku kue yang ada strawberrynya. Bahkan ... " Jevian kembali menggaruk kepalanya. "aku juga membeli piyama bergambar strawberry untuk kita pakai bertiga. Piyamanya sekarang ada di dalam mobil."


Mata Roseline melotot sempurna, "apa? Astaga, kau tidak belok menjadi laki-laki yang ... " Roseline menelan ludah. Ia khawatir suaminya tiba-tiba berubah menjadi kaum melambai dan kemayu. Bukankah rata-rata yang menyukai hal-hal seperti ini adalah perempuan. Roseline menggeleng cepat, tidak mungkin laki-laki gagah di hadapannya ini tiba-tiba berubah gender. Sedangkan hampir setiap malam saja, ia selalu digempur dengan gagah perkasa. Padahal sudah lelah bekerja seharian, tapi ia masih mampu membuat ranjang bergoyang hingga satu jam lebih.


"Yang ... Yang apa?" tanya Roseline bingung.


"Daddy, mommy," panggil Jefrey tiba-tiba.


Keduanya lantas menoleh. Tampak Jefrey sedang memegang sprayer berisi pupuk cair yang biasa digunakan tukang kebun mereka. Sprayer itu juga yang Jevian gunakan saat menanam bibit-bibit tanaman strawberrynya.


"Ya," jawab Roseline dan Jevian kompak.


"Dad, bantu Jefrey semprot mommy dengan ini yuk biar adik bayi dalam perut mommy tumbuh subur. Lihat, Arquez saja sudah punya adik baru, tapi Jefrey belum juga. Jefrey mau cepat-cepat punya adik seperti Jefrey," ujar Jefrey membuat mata sepasang suami istri itu terbelalak.


Tiba-tiba Jevian mengingat masa lalunya. Masa lalu saat ia menghadiri pesta pernikahan Mark dan Adisti di rumah sakit. Saat itu tingkah Axton sangat aneh. Ia mengenakan pakaian serba berwarna pink. Menurut Rainero itu karena bawaan sindrom couvade yang dirasakannya sebab saat itu Galdys sedang mengandung.


Jevian mengarahkan pandangannya pada Roseline dan perutnya. Tangan Jevian lantas terulur ke bagian perut dan memang perut yang masih datar itu terasa sedikit lebih keras.


Mata Jevian tiba-tiba berbinar, "Sayang, ayo!" ajaknya tiba-tiba.


"Hah, kemana?"


"Kau ikut saja. Nanti di saja juga kau akan tahu," ujar Jevian cepat.


Lalu Jevian melepaskan sprayer yang Jefrey pegang.


"Daddy, kenapa sprayernya diambil?"


Lalu Jevian pun membisikkan sesuatu ke telinga Jefrey.


"Hah, benarkah?" tanya Jefrey dengan mata berbinar-binar.


Jevian mengangguk cepat, "daddy yakin sekali. Ayo, Jefrey mau lihat kan?"


Jefrey pun mengangguk cepat, "ayo, Daddy."


"Kalian membicarakan apa sih? Kalian tidak sedang sekongkol untuk mengerjai mommy kan?" delik Roseline penuh curiga.


"No, Mommy. Jefrey hanya ingin ... Emmm ... Kata Daddy rahasia. Ayo, Mommy! Kita ke ... "


"Kemana?"


"Ayo, sudah! Wawancaranya dilanjutkan nanti! Common, Boy! Let's go!"


"Let's go, Daddy!" seru Jefrey bahagia sekali.


Tak lama kemudian, mobil Jevian sudah sampai di basemen sebuah rumah sakit terbesar di kota itu. Makin bingung lah Roseline.


"Kalian kenapa ke sini? Untuk apa? Jef, apa kau sakit lagi?"


"No, Mommy. Jefrey tidak sakit."


"Lantas? Jev, kenapa kita kemari? Apa kau sakit?" tanya Roseline khawatir.


"Kau duduk saja dulu di sini dengan Jefrey. Aku akan melakukan pendaftaran terlebih dahulu."


Roseline mendengus. Jevian tidak merespon pertanyaannya sama sekali. Hingga bermenit-menit berlalu, Jevian pun mengajak Roseline ke ruangan obgyn. Roseline mengerutkan kening. Tiba-tiba perasaannya berubah melow. Sudah satu bulan lebih ia menikah, tapi belum ada tanda-tanda kalau ia hamil. Pasti Jevian hendak mengecek kesuburannya, pikirnya.


'Bagaimana kalau aku memang sulit hamil?'


Pikiran buruk mulai menyergap benak Roseline. Sampai-sampai ia tidak mendengar apa yang Jevian konsultasikan dengan dokter yang ada di hadapannya.


Roseline hanya bisa pasrah saat seorang perawat membawanya ke atas ranjang dan meletakkan suatu gel ke atas perutnya. Setelahnya, perawat tersebut meletakkan sebuah transducer, sementara sang dokter mengamati layar monitor.


"Selamat, Mr. Jevian, istri Anda positif hamil dan ini calon buah hati kalian," ujar sang dokter sambil menunjuk ke arah bulatan kecil yang ada di layar monitor tersebut.


Mata Jevian seketika berbinar, sementara Roseline justru terpaku merasa apa yang didengarnya itu bagai sebuah kejutan tak terkira.


"Apa dok? Aku hamil? Jadi ... Aku ada calon anakku di dalam sini?" tanya Roseline memastikan sambil memegang perutnya.


Dokter perempuan itupun mengangguk dengan senyum merekah.


"Selamat ya."


Senyum Roseline merekah lebar. Setelah perutnya dibersihkan, ia segera berhambur ke pelukan Jevian. Ia benar-benar bahagia sekali. Roseline sampai terisak di pelukan suaminya.


Hingga tiba-tiba celetukan Jefrey membuat keduanya mengurai pelukan.


"Bu dokter, ini beneran adik Jefrey?" tanya bocah kecil itu.


Dokter itupun mengangguk sambil tersenyum, "ya. Sekarang Jefrey akan menjadi seorang kakak."


Jefrey mengangguk-angguk sambil memegang dagunya, "apa tidak salah dokter? Kenapa adik Jefrey kecil sekali? Seperti kacang. Itu bukannya kacang yang mommy makan kan? Mana tangan dan kakinya ? Kenapa kepalanya tidak ada? Matanya? Hidungnya?" tanyanya polos membuat dokter tersebut terkekeh. Begitu pula Roseline dan Jevian.


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...