Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 163 (S3 Part 6)


Hari-hari Jevian lewati dengan hambar. Meskipun ia sudah memiliki seorang istri, tapi istrinya justru lebih sibuk dengan kehidupan pribadinya. Bahkan dalam satu bulan, hanya bisa dihitung beberapa hari saja Eve berada di rumah.


Tepat satu Minggu yang lalu, akhirnya Austin menghembuskan nafas terakhirnya. Hal itu tentu saja bagai pukulan telak bagi Jevian. Di saat-saat terendahnya, sayangnya Jevian tidak memiliki siapapun. Bahkan istrinya pun sedang entah berada di mana saat itu. Tobey hanya muncul saat waktu jenazah sang ayah dimakamkan, setelahnya ia pun ikut menghilang. Sungguh, Jevian seperti seorang yang tidak berharga sama sekali.


Namun ada satu yang membuatnya bahagia. Ternyata Rainero dan Axton tetap menyempatkan waktu untuk mendatanginya. Padahal sudah sejak lama ia memutuskan komunikasi. Ia sengaja mengganti nomor ponselnya agar ia tidak berkomunikasi lagi dengan mereka. Namun di saat ia sedang terpuruk, Rainero dan Axton datang meskipun hanya untuk menyampaikan turut berduka cita.


Jevian tampak melamun di meja kerjanya. Sudah hampir 6 bulan ibunya di penjara, namun baru satu kali Jevian mengunjunginya. Tiba-tiba saja Jevian merindukan sosok sang ibu. Jevian lantas segera beranjak dari tempat duduknya. Ia ingin sekali mengunjungi sang ibu yang entah bagaimana keadaannya saat ini.


"Jevian," pekik Christina bahagia bisa melihat wajah putranya lagi. Diusapnya rahang sang putra yang tampak lebih kurus dari beberapa bulan yang lalu.


Jevian mengulas senyum. Meskipun senyum itu terkesan dipaksakan, namun Christina tidak mempermasalahkannya. Yang penting, akhirnya ia bisa melihat putranya lagi.


"Bagaimana kabarmu, Son?" tanya Christina pada sang putra.


"Seperti yang kau lihat, Mom," jawab Jevian singkat.


"Jev, kalau kabar ... Daddy mu, bagaimana?" tanya Christina ragu-ragu. Semenjak ia ditahan dan Austin terkena serangan jantung, selama itu pula ia tidak pernah bertemu dengan Austin lagi. Christina memang mencintai harta Austin, namun ia pun mencintai laki-laki yang sudah menyelamatkannya dari lembah kenistaan. Ada seberkas rindu yang menelisik sukmanya. Rasanya ingin sekali ia berjumpa dengan sang suami, namun apalah daya, ia yang dipenjara membuatnya tidak bisa kemana-mana.


Jevian menghela nafas panjang. Memang ibunya itu belum mengetahui perihal kepergian Austin seminggu yang lalu. Bukan sengaja tidak memberitahukan, tapi ia pun dalam keadaan yang tidak memungkinkan. Segalanya ia urus sendiri. Membuatnya tak sempat mengabarkan pada sang ibu kalau ayahnya sudah meninggal.


"Mom, Daddy, daddy sudah tiada. Daddy ... Sudah meninggal seminggu yang lalu," ujar Jevian dengan kepala tertunduk.


Christina terperanjat mendengar kalau suaminya telah tiada. Ia benar-benar shock mendengar hal tersebut.


"Tidak, itu tidak mungkin. Kau hanya bercanda kan, Jev. Hehehe ... Daddy, daddy tidak mungkin pergi begitu saja kan? Jangan bercanda dengan, Mommy! Mommy tahu, mommy salah, tapi jangan mengerjai mommy seperti ini. Katakan, Jev! Katakan kalau kau hanya berbohong! Katakan!" sentak Christina yang sudah menggebrak meja. Namun sudut matanya sudah basah dengan cairan bening nan asin. Christina sebenarnya tahu, tak mungkin putranya berbohong, tapi ia masih menolak kebenaran.


Jevian menghembuskan nafas kasar, "apa aku segila itu sampai bercanda dan membohongi Mommy dengan mengatakan daddy sudah meninggal? Aku ... Tidak mungkin melakukan itu, Mom. Daddy benar-benar sudah tiada."


Sudut mata Jevian sudah basah. Ia merasa hancur dan luluh lantak. Satu persatu orang-orang yang dekat dengannya menjauh dan menghilang. Entah kehilangan seperti apalagi yang akan ia hadapi ke depannya.


"Kau tahu, Mom, kini aku benar-benar hancur. Hidupku sudah seperti bukan milikku lagi. Aku masih di sini semata-mata hanya untuk meneruskan perusahaan keluarga kita. Banyak keluarga yang bergantung pada perusahaan kita, bila tidak mungkin aku pun akan menyusul daddy," ucapnya nyaris putus asa.


"Jangan bicara seperti itu, Jev! Bukankah ... bukankah kau sudah menikah dengan Eve. Dia itu mencintaimu. Setidaknya, kau memiliki seseorang yang ... "


"Seseorang yang apa? Bahkan saat aku sedang terpuruk pun ia tak ada. Menantu idaman mommy itu justru lebih suka menghabiskan waktunya dengan teman-temannya. Jalan-jalan, shopping, keliling dunia. Cinta? Bullshittt. Dia tidak pernah mencintaiku. Ia hanya terobsesi padaku," ujarnya sambil terkekeh miris. Hal tersebut bagaikan tamparan bagi Christina. Apalagi ia dapat melihat air mata keputusasaan di netra biru safir Jevian.


"Jev ... "


"Mommy tidak perlu khawatir.Aku tak masalah. Aku akan coba menjalaninya meskipun entah sampai kapan aku sanggup bertahan. Mommy baik-baik di sini. Aku pergi."


"Jevian, maafkan, Mommy. Semua salah, Mommy. Maafkan Mommy. Maafkan," lirih Christina sambil terisak pilu.


...***...


Tak terasa 3 bulan telah berlalu begitu cepat. Meskipun terasa hambar, tapi Jevian berusaha menerima segalanya dengan penuh keikhlasan. Walau rasa cinta itu belum hadir di hatinya, tapi sebisa mungkin Jevian bersikap baik dengan sang istri.


"Sayang," panggil Eve yang memang sudah 3 malam ini ada di rumah. Bahkan tumben ia pulang ke rumah lebih awal tidak seperti sebelumnya yang kerap pulang sangat larut.


"Hmmm ... kau kenapa? Apa kau sakit?" tanya Jevian saat melihat wajah pucat Eve.


"Tubuhku benar-benar lemas. Aku juga beberapa hari ini sering mual-mual," ujarnya yang masih meringkuk di dalam selimut.


Jevian lantas memegang dahi Eve, "tidak panas," gumamnya. "Kau berbaring saja. Nanti aku panggil dokter untuk memeriksamu," ujar Jevian sambil merapikan rambut Eve yang berantakan.


Eve mengangguk samar tanpa membuka matanya.


Satu jam kemudian, dokter pun datang untuk memeriksa Eve.


"Bagaimana, dok? Istriku sakit apa?" tanya Jevian.


"Em, kira-kira kapan terakhir kali nyonya Eve datang bulan?" tanya sang dokter membuat dahi Jevian mengernyit tak mengerti.


Eve mencoba mengingat-ingat, "kalau tidak salah, 2 atau 3 bulan yang lalu. Aku tidak begitu mengingatnya, dok."


"Memangnya kenapa, dok?" tanya Jevian.


"Setelah saya memeriksa denyut nadinya, aku merasakan kalau nyonya Eve sedang mengandung. Namun untuk memastikan lebih pastinya, Anda bisa membawa istri Anda ke spesialis obgyn," tukas dokter tersebut.


Mata Jevian seketika berbinar. Berbeda dengan Eve yang tampak muram. Padahal ia sebelumnya memang menginginkan memiliki seorang anak dengan Jevian, tapi saat ia merasakan bagaimana gejala hamil tersebut membuatnya jadi tidak seantusias sebelumnya. Ia dapat membayangkan kalau kehamilannya akan membuat gerakannya terbatas. Ia tidak bisa sebebas sebelumnya. Namun ia tidak menunjukkan hal tersebut di depan Jevian. Ia justru menunjukkan ekspresi bahagia di hadapan Jevian.


Sampai di rumah sakit, dokter pun menyampaikan hal yang sama. Eve dinyatakan hamil 11 Minggu. Jevian merasa senang hingga berinisiatif memeluk Eve terlebih dahulu bahkan mencium pipinya.


"Terima kasih, Eve. Terima kasih karena sudah mengandung anakku," ucap Jevian yang merasa hidupnya kini lebih berwarna. Akhirnya ia memiliki sesuatu yang berharga untuk menjadi penyemangat hidupnya. Namun berbanding terbalik dengan Eve yang justru merasa sedikit terbebani.


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...