
"Ael," pekik Rhea saat melihat Ael pulang. "Ael, tolong aku! Antarkan aku ke rumah sakit. Theo ... Theo, dia kecelakaan. Tolong aku, Ael. Tolong bantu aku menemuinya!" mohon Rhea dengan wajah berlinang air mata.
Mata Ael ikut memanas. Ia yakin Rhea sudah mengetahui perihal kecelakaan yang dialami oleh Theo. Dia pun juga sudah mengetahuinya dari berita yang perseteruan di media sosial. Bahkan di media sosial foto Theo yang dalam keadaan luka parah pun sempat berseliweran sebelum dihapus dan diganti dengan foto yang telah diblur.
Ael mengangguk dengan cepat, "ayo, kita temui Theo."
"Kau juga sudah tahu perihal kecelakaan yang dialami Theo?"
Ael kembali mengangguk. Sebenarnya ia ingin menceritakan, tapi ia khawatir Rhea makin terpukul akibat rasa bersalah.
"Mengapa Theo bisa kecelakaan, Ael? Kenapa dia bisa berada di sana? Bukankah itu daerah tempat tinggal lamaku?" gumam Rhea.
Ael memegang pundak Rhea. Sepertinya ia harus berkata jujur agar Rhea tidak berpikiran buruk lagi tentang suaminya. Rhea memang orang yang sering over thinking. Ia selalu saja menjadikan sesuatu beban pikirannya. Alhasil, ia sering berpikiran buruk terhadap sesuatu.
Belum lagi ditambah hormon kehamilan membuatnya makin over dalam memikirkan sesuatu. Ia yakin, telah terjadi kesalahpahaman antara dirinya dan Theo sebelum ini.
"Rhea, tadi aku sudah mencari tahu. Sepertinya semalaman Theo mencarimu. Ia benar-benar mengkhawatirkan mu. Ia mencarimu kemana-mana. Aku juga yakin ia mencarimu ke rumah lamamu tapi tak menemukan. Semalam di daerah sana sudah terjadi hujan badai dan baru berhenti menjelang pagi. Mungkin karena kabut tebal yang menghalangi penglihatan membuat mobil dari berlawanan arah tanpa sengaja menabrak mobil Theo," jelas Ael membuat perasaan bersalah Rhea makin menjadi.
"Ja-jadi benar aku lah penyebab kecelakaan itu? Aku memang bodoh. Seharusnya kalau ada masalah itu diselesaikan, tapi aku justru pergi begitu saja tanpa meminta penjelasan terlebih dahulu. Padahal ... padahal Theo akhir-akhir ini sudah bersikap sangat baik padaku. Ia sangat perhatian, tapi aku justru ... Aku justru ... "
"Sssttt ... Tak perlu menyalahkan diri sendiri. Lebih baik kita segera cari di rumah sakit mana Theo dirawat," ujar Ael.
Rhea mengangguk cepat, "ayo!"
"Boleh aku ikut?" tanya Bianca yang sejak tadi ikut mendengarkan pembicaraan kedua orang itu.
Ael menoleh, kemudian mengangguk.
Mereka pun segera mencari mulai dari rumah sakit yang terdekat. Entah orang tua Theo sudah tahu mengenai kecelakaan yang menimpa Theo apa belum. Ia ingin menghubungi, tapi ponselnya tertinggal di apartemen pikirnya.
Sudah 3 buah rumah sakit yang Rhea, Ael, dan Bianca datangi, tapi mereka tak menemukan Theo di sana. Rhea benar-benar frustasi memikirkan keadaan Theo.
"Bisa kau antar aku ke apartemen dulu? Aku ingin mengambil ponselku yang tertinggal di apartemen," tukas Rhea.
"Em, itu, Rhea sebenarnya ponselmu dibawa oleh Theo," ujar Ael yang kembali merasa bersalah.
"Hah, bagaimana kau tahu?"
"Sebenarnya, sebelum kecelakaan, Theo sempat menghubungi ku melalui ponselmu. Dan ... di saat itulah dia mengalami kecelakaan. Maafkan aku. Mungkin ada andilku juga dalam kecelakaan itu. Andai aku langsung memberitahukan dimana keberadaan mu padanya, pasti kecelakaan itu takkan pernah terjadi," papar Ael dengan perasaan bersalah yang kian menjadi.
"Maaf," ujar Ael yang tak kuasa menahan kesedihannya saat melihat Rhea yang kembali tergugu pilu.
"Tidak perlu meminta maaf. Ini semua berasal dari kesalahan ku. Tidak seharusnya aku pergi tanpa pamit dengannya. Aku memang bodoh. Padahal tidak segala permasalahan dapat diselesaikan dengan pergi. Permasalahan seharusnya dihadapi, bukannya dihindari. Aku memang bodoh, bodoh, bodoh," maki Rhea pada diri sendiri.
"Bisa kalian berhenti dulu tangis-tangisannya? Menangis takkan menyelesaikan masalah. Seharusnya kita pikirkan di rumah sakit mana suamimu itu dirawat saat ini. Ah, bagaimana kalau kita mencoba ke rumah sakit yang ada di daerah X itu? Bisa jadi kan dia dibawa kesana? Kalo di sini justru rasanya tak mungkin karena terlalu jauh," sela Bianca yang sejak tadi hanya menjadi pendengar.
Ael dan Rhea menoleh, kemudian setuju dengan pemikiran Bianca. Memang di saat ini hanya Bianca yang masih mampu berpikir secara benar sebab pikiran Ael dan Rhea justru sedang kacau karena perasaan bersalah.
Ael lantas segera melajukan mobilnya ke rumah sakit di daerah X. Rhea tidak membawa mobilnya sendiri. Pikirannya sedang kacau jadi Ael melarangnya membawa mobil sendiri.
Setelah menempuh dua jam perjalanan, akhirnya Rhea, Ael, dan Bianca telah tiba di rumah sakit di daerah X.
Dengan langkah tertatih, Rhea pun segera menuju meja resepsionis untuk menanyakan keberadaan suaminya.
"Permisi, apa korban kecelakaan di jalan X di rawat di sini?" tanya Rhea.
Resepsionis itu pun segera mengangguk, "apa Anda keluar korban?"
Mendengar kata korban membuat jantung Rhea kebat-kebit tak menentu.
"I-iya, benar. Saya-saya istrinya. Kira-kira dimana suami saya dirawat?" tanya Rhea terbata.
Resepsionis itu menghela nafas panjang, "silahkan Anda melihat suami Anda di ruang jenazah yang ada di lantai 3 rumah sakit ini. Setelah itu, silahkan urus administrasi untuk kepulangan jenazah."
Jeduar ...
Tungkai Rhea seketika lemas. Beruntung Ael masih setia di sisi Rhea sehingga ia bisa dengan sikap menahan tubuh Rhea agar tidak tumbang ke lantai.
"Ael, ini tidak mungkin terjadi kan. Tidak ... Theo tidak mungkin pergi kan! Ia tidak mungkin meninggalkan ku dan anak kami kan? Ini pasti salah. Ael, bilang kalau aku hanya salah dengar! Theo ... dia tidak mungkin mati kan! Ael, tolong katakan kalau aku ... "
Brukkk ...
...***...
Dah yah, dah nambah jemurannya. Ganti yang gantung tadi. 😅
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...