Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 164 (S3 Part 7)


Semenjak Eve dinyatakan hamil, semenjak itu pula sikap Jevian jadi lebih perhatian pada Eve. Ia jadi lebih sering menghubungi pun melakukan apapun untuk membuat Eve merasa nyaman.


"Kau ingin makan sesuatu?" tawar Jevian menghampiri Eve. Ia baru saja pulang bekerja dan bergegas mandi agar bisa mendekati sang istri yang sedang berbaring lemas di atas ranjang.


Eve menggeleng lesu.


"Atau mau aku kupaskan buah?" tawar Jevian lagi.


Eve lagi-lagi menggeleng.


"Kata pelayan kau tidak makan sejak siang. Kau harus makan. Ingat, di dalam sini sedang ada anak kita. Dia juga membutuhkan nutrisi agar bisa ... "


"Kamu bisa diem tidak sih? Kamu tahu, bukannya aku tidak mau makan, tapi aku tidak bisa. Kamu tidak tahu bagaimana tertekannya aku, makan ini muntah, makan itu muntah. Kecium aroma apa tiba-tiba mual terus muntah. Kenapa sih, hamil itu begitu menyiksa?" kesal Eve sambil menyentak tangan Jevian di kepalanya sehingga usapan itupun terlepas.


Jevian menghela nafas. Ia mengerti, Eve terlalu dimanja selama ini. Ia nyaris tidak pernah mengalami kesulitan apapun. Alhasil kehamilan ini seakan begitu menyiksanya. Jevian bisa melihat ada ke ketidakrelaan pada Eve. Ia seakan tidak bisa menerima kehamilannya itu.


"Padahal udah satu bulan, tapi masih begini-begini saja. Aku bosan, kau tahu. Padahal beberapa hari yang lalu aku ada rencana ke Jerman bersama teman-temanku. Akan ada peragaan busana internasional di sana. Tapi gara-gara kehamilan ini, aku jadi tidak bisa menghadirinya," Eve mengungkapkan kekesalan dan kekecewaannya.


"Tidakkah kau bisa bersabar? Hanya 9 bulan. Ah, bahkan tidak sampai 9 bulan, bayi ini akan segera lahir. Aku mohon, bersabarlah. Lagipula, seharusnya kau bersyukur. Banyak perempuan yang menantikan momen seperti ini, tapi tidak bisa. Namun kita justru mendapatkan anugerah terindah ini. Anak kita pasti akan sedih saat tahu kalau ibunya seakan tidak menginginkannya," ujar Jevian mencoba menenangkan Eve. Ia menganggap hal ini wajar. Mungkin Eve seperti demikian karena faktor hormon kehamilan yang membuat moodnya tidak stabil.


Eve tidak menanggapi. Ia justru kembali berbaring sambil membelakangi Jevian. Jevian hanya bisa menghela nafasnya. Padahal ia belum makan dari siang. Ia ingin sekali mengajak Eve makan bersama, tapi sikap Eve justru membuatnya kehilangan selera makannya.


Jevian tersenyum miris. Ia lantas menarik selimut Eve sebatas dada. Jevian mencium puncak kepala Eve. Setelahnya, Jevian pun segera beranjak menuju ruang kerjanya. Setibanya di ruang kerja, Jevian membuka kunci laci meja kerjanya. Kemudian ia mengangkat beberapa tumpukan berkas dan mengambil selembar foto di sana. Jevian tersenyum miris.


"Bagaimana aku bisa melupakanmu, Adisti, sementara sosok yang ku harap bisa menjadi pelipur laraku justru tidak memedulikan diriku sedikitpun," desahnya sambil menatap lekat foto di tangannya. "Adisti, kira-kira bagaimana kabarmu di sana? Aku harap, kau selalu berbahagia dengannya, laki-laki yang kau cinta," imbuhnya lagi.


Jevian memang menutup segala sesuatu yang berhubungan dengan orang-orang di masa lalunya. Bahkan segala sesuatu yang bisa menjadi sumber informasi mereka pun Jevian hindari. Pernah selintas Jevian melihat majalah bisnis yang memberitakan perihal diangkatnya Mark menjadi CEO ALV Company, tapi Jevian langsung menyingkirkannya. Ia tak ingin tahu dan tak pernah ingin tahu.


Hari terus berganti, tak terasa kehamilan Eve sudah memasuki bulan kelima. Mual muntah yang kerap Eve rasakan sudah berkurang. Eve pun akhirnya bisa kembali beraktivitas seperti biasa.


Awalnya Jevian memaklumi, tapi dari hari ke hari, Eve seakan lupa waktu. Ia mengabaikan bayi di dalam kandungannya. Yang dipikirkannya hanyalah kesenangannya saja.


Seperti malam ini, Eve baru pulang saat jarum jam sudah menunjukkan hampir dini hari. Saat Eve memasuki rumah, lampu seketika menyala membuat Eve seketika terperanjat.


"Ah, Sayang. Kau belum tidur?" tanya Eve yang langsung menghampiri Jevian yang masih duduk dengan tangan terlipat di depan dada. Sorot matanya menatap dingin pada Eve yang penampilannya terlihat kacau. Bahkan Jevian bisa mencium aroma alkohol dari tubuhnya.


Jevian mendengkus saat Eve sudah duduk di sampingnya sambil memeluk erat lengannya. Tapi Jevian segera melepaskan pelukan itu dan gegas berdiri.


"Kau mabuk?" tanya Jevian dengan mata membulat.


Eve terkekeh, "aku hanya mencicipi sedikit saja. Hanya segini ... " Eve menggestur banyaknya alkohol yang ia tenggak menggunakan ibu jari dan jari telunjuknya.


"Kau itu sebenarnya ibu macam apa, hah? Kau itu sedang hamil? Kau tidak berpikir, dampak ulahmu ini padanya? Kau benar-benar ibu yang egois? Kau selalu saja lebih mengutamakan kesenangan mu tanpa memikirkan risikonya. Atau jangan-jangan kau sengaja ingin membunuh anak itu? Iya?" sentak Jevian yang akhirnya meluapkan kekesalannya pada Eve.


Eve terkesiap saat melihat raut kemarahan di wajah Jevian untuk pertama kalinya.


Bukannya merasa bersalah, Eve justru terkekeh sinis.


"Kalau aku jawab iya memangnya kenapa, hah? Bukankah kau yang ingin terus mempertahankan bayi ini? Kalau bukan karenamu, sudah sejak lama aku singkirkan bayi ini. Seharusnya kamu bersyukur, aku tetap mempertahankannya dan tidak menggugurkannya. Aku rela menekan kebebasanku demi bayi ini. Aku rela terkurung dalam rumah ini selama beberapa bulan demi dia. Seharusnya kau tidak menghalangi kesenanganku. Terserah aku mau melakukan apa dan bagaimana, itu bukan urusanmu. Jangan pernah halangi aku karena aku tak suka," sentak Eve tak kalah murka.


Jevian terkesiap. Walaupun sebelumnya Jevian sudah bisa melihat gelagat ketidaksukaan Eve atas kehamilannya, tapi saat mendengar sendiri kata-kata itu secara langsung dari mulut Eve, sungguh hal itu menggores harga diri Jevian. Harga dirinya sebagai seorang laki-laki sekaligus calon ayah bagai dicabik. Ia tidak menyangka Eve tidak memiliki rasa kasih sedikitpun pada calon buah hatinya.


Padahal biasanya seorang ibu lebih peka terhadap kondisi anaknya. Seorang ibu biasanya akan selalu menomorsatukan anaknya dibandingkan yang lainnya.


Tapi berbeda dengan Eve. Apakah ini terjadi karena Eve tak pernah sama sekali merasakan kasih sayang seorang ibu sehingga ia bersikap seperti itu pada calon anaknya? Pikir Jevian. Tidak memiliki keterikatan batin sedikitpun pada calon anaknya.


"Eve, apa yang kau katakan? Bagaimanapun, dia anak kita, darah daging kita. Ia akan sangat bersedih saat tahu ibunya tidak pernah menginginkannya."


"Aku tidak peduli. Oh ya, setelah anak ini lahir pokoknya aku tidak mau mengurusinya. Terserah kau mau urus sendiri atau menggunakan jasa nanny. Yang penting, aku tidak ingin kebebasanku terganggu karena keberadaan anak ini. Selamat malam," ucap Eve ketus Eve yang kemudian segera berlalu dari hadapan Jevian yang masih mematung di tempatnya.


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...