Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 86


"Aaargh ... " desis Harold saat Ambar tak sengaja menekan luka di wajahnya saat dibersihkan. "Bisa lebih pelan-pelan," ringisnya menahan perih. Wajah Harold kini benar-benar babak belur. Bila sebelumnya Rainero hanya memukulnya beberapa kali dan hanya membuat sedikit luka di sudut bibir dan memar yang tidak seberapa, maka kali ini wajah Harold benar-benar babak belur. Bahkan perutnya pun terasa sakit karena tinjuan bodyguard Rainero. Harold yang bukan hanya sudah mulai tua, tapi juga tidak bisa bela diri membuatnya hanya bisa menerima pukulan sambil menghindari semampunya.


"Iya, iya, jangan cerewet!" ketus Ambar yang masih merasa kesal. Bagaimana tidak, pikirannya sedang kusut saat ini. Membayangkan mereka terusir dari rumah itu dan kehilangan mata pencaharian karena minimarket yang merupakan sumber keuangan keluarga itu diambil alih Shenina, membuat pikirannya benar-benar kalut.


"Mommy, daddy kenapa?" tanya Jessica yang baru saja pulang.


Mata Harold seketika mendelik karena melihat Jessica yang baru saja pulang setelah pergi semalaman.


"Darimana saja kamu, hah? Jangan-jangan benar berita yang beredar kalau kau itu merupakan simpanan suami orang, iya?" sentak Harold membuat Jessica seketika terperanjat.


"Suamiku, apa-apaan kamu. Jangan sembarangan menuduh, aku tak suka," sentak Ambar tak terima Harold menghina anaknya.


"Kau membelanya? Aku hanya mengatakan apa yang ada dalam pikiranku. Lihat jam berapa ini, dia pergi sejak malam lalu baru pulang siang ini, memangnya apa yang dia kerjakan di luar sana sampai baru pulang sesiang ini?"


"Dad, Mom, jangan bertengkar!" sergah Jessica, kemudian ia duduk di samping Harold dan memeluk lengannya. "Maaf dad, aku ... aku sebenarnya bekerja. Aku bekerja sebagai cleaning service di hotel. Pekerjaanku itu ada siftnya, kadang pagi sampai sore, kadang sore hingga pagi, ada juga malam sampai siang. Aku tidak bisa melihat daddy terpuruk seperti ini. Penjualan minimarket kita sangat sepi, bagaimana kehidupan kita ke depannya kalau aku tidak bekerja," dusta Jessica mencoba meraih simpati sang ayah.


"Kau dengar itu kan. Anak kita tidak mungkin melakukan keburukan seperti itu. Jadi jangan sembarangan menuduh," omel Ambar tetap membela Jessica.


Harold menghela nafas panjang, "maafkan daddy. Daddy hanya masih terbawa emosi," ujar Harold penuh sesal.


Jessica menggeleng, "daddy tidak perlu meminta maaf. Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Kenapa daddy sampai luka-luka seperti ini? Siapa yang melakukannya?" ujar Jessica penuh khawatir.


"Semua ini ulah jalaang Shenina. Dia membawa bodyguard dan menyuruh mereka memukuli Daddy-mu," ujar Ambar berapi-api.


"Apa? Kenapa dia sampai setega itu? Tidak cukupkah dia sudah membuat semua orang mencaci maki keluarga kita? Mempermalukan keluarga kita? Membuat minimarket kita sepi pembeli?" ujar memasang wajah sedihnya.


"Ada yang lebih buruk, dia telah mengambil alih rumah ini dan minimarket. Lalu dia memberi kita waktu hanya tiga hari untuk segera pergi dari sini. Dia benar-benar keterlaluan," adu Ambar membuat mata Jessica terbelalak.


"Apa? Kenapa dia bisa melakukan itu? Ini tidak boleh dibiarkan. Padahal dia sudah menikah dengan laki-laki kaya, tapi kenapa dia begitu serakah, bahkan rumah yang ditempati ayahnya sendiri dan minimarket yang merupakan sumber keuangan keluarganya sendiri pun diambil. Mengapa ia bisa sejahat itu?"


"Dia memang perempuan jahat. Mommy tak habis pikir, dia bisa setega itu dengan kita. Padahal Mommy sudah berusaha membesarkan dia dengan baik, tapi balasannya justru seperti ini." Ambar memasang wajah sedih. Matanya tampak berkaca-kaca.


"Jadi kita harus bagaimana, Dad? Apa Daddy terima begitu saja?"


"Daddy pun bingung. Setelah menikah, dia menjadi orang yang sombong. Kau lihat, karena Daddy mencoba melawan, Daddy justru berakhir seperti ini. Tak ada pilihan lain selain kita pergi dari sini," ujar Harold pasrah.


Mau melawan pun ia tidak memiliki kemampuan. Mau menuntut balik, ia pasti kalah karena memang rumah dan minimarket itu milik Shenina. Bahkan tanpa Harold ketahui, Shenina memiliki surat kuasa yang dititipkan Shena pada sahabatnya yang seorang pengacara. Rainero bisa mengetahui tentang dimana surat-surat berharga itu tentu saja setelah menyelidikinya dan ia akhirnya tahu kalau mendiang ibu Shenina telah menitipkan surat kuasa itu dengan temannya itu.


Teman ibu Shenina tidak mengetahui apa yang terjadi dengan Shenina setelah kematian sahabatnya itu sebab ia pindah negara mengikuti suaminya. Bahkan ia hampir lupa dengan surat kuasa itu. Untung saja Rainero yang bekerja sama dengan investigator swasta berhasil menemukan jejak dan informasinya.


Jessica mengepalkan tangannya, "daddy dan mommy tunggu di sini. Jessi akan mencoba berbicara dengan Shenina. Semoga saja dia mau membatalkan niatnya tersebut," ujar Jessica penuh keyakinan.


"Memangnya kau tahu alamat tempat tinggalnya?"


Jessica menggeleng, "aku bisa mendatangi kantornya. Sangat mudah untuk mengetahui dimana kantor suaminya, bukan?"


Ambar dan Harold mengangguk, "perlu mommy temani?"


"Tidak usah. Biar Jessi sendiri yang pergi ke sana. Mommy urus saja Daddy.. Kasihan Daddy bila ditinggal sendiri," ucapnya penuh perhatian.


Harold merasa terharu, "kau memang putri daddy yang terbaik. Tidak salah kalau daddy lebih menyayangimu," ujar Harold bangga dengan Jessica.


Sementara itu, Shenina kini sedang berada di kantor Rainero. Rainero tampak sedang sibuk dengan berkas-berkas di hadapannya. Rainero memang sengaja mengajak Shenina ke kantornya untuk menemaninya. Shenina ibarat mood booster bagi Rainero, membuatnya kian bersemangat bekerja.


Saat sedang berkutat dengan berkas-berkas, perhatian Rainero tiba-tiba teralih pada Shenina yang tampak tertawa kecil sambil mengetik sesuatu di ponselnya.


"Sepertinya ada yang menyenangkan. Kau sedang berbalas pesan dengan siapa, Sweety?" tanya Rainero yang kini telah beralih duduk di samping Shenina. Ia melingkarkan lengannya di pinggang hingga telapak tangannya berada tepat di atas perutnya. Lalu ia mengusap pelan perut buncit Shenina, menghantarkan kehangatan dan kenyamanan pada wanita hamil itu.


"Oh, ini, Akku sedang berbalas pesan dengan Gladys."


"Memangnya apa yang kalian bahas?"


"Hal biasa kok. Tapi ... "


"Tadi Gladys cerita sedang masak sesuatu. Katanya makanan yang lagi viral di Indonesia. Dia juga kirim fotonya," ujar Shenina menggantung.


"Terus?"


"Emmm ... aku ... aku kok tiba-tiba pingin ya, Rain. Duh, pingin banget malah."


"Memangnya dia masak apa? Siapa tahu ada jualnya di sini jadi kita uta bisa beli," ujar Shenina. Kemudian ia menghisap kulit leher Shenina dan meninggalkan jejaknya di sana.


"Ini ... dia masak ini. Katanya namanya ... apa tadi ya? Sebentar." Lalu Shenina menggulir layarnya untuk membaca pesan sebelumnya. "Oh ini, se-be-lak co-bek ya namanya seblak cobek. Aku ... benar-benar menginginkan ini," ujar Shenina sambil menunjukkan foto yang Gladys kirim. Shenina sampai menelan ludahnya saat melihat foto itu lagi.


Rainero menatap bingung pada makanan yang menurutnya bentuknya unik sekaligus aneh. Seperti mie tapi bentuknya bulat pipih dan kecil-kecil. Lalu dilumuri sambal. Terus terang, Rainero tidak tertarik sama sekali, tapi ia tidak mungkin mengatakannya pada Shenina sebab wanita itulah yang menginginkannya.


"Aku akan coba tanya dengan mommy. Siapa tahu chef di restoran mommy bisa membuatkannya untukmu," ujar Rainero yang langsung meraih ponselnya untuk menghubungi Delena. Tapi baru saja Rainero hendak menekan tombol panggil di layar ponselnya, Shenina justru segera menghentikannya.


"Kenapa?" tanya Rainero.


"Tapi ... aku ingin kau yang membuatkannya," ujar Shenina dengan wajah tertunduk malu.


Mata Rainero melotot saat mendengar permintaan tak biasa istrinya.


"Tapi aku tidak tahu cara membuatnya."


Shenina tersenyum lebar, "gampang. Kita tinggal minta Gladys kasi tau caranya. Jadi kamu tinggal membuatnya, bagaimana?"


Rainero menggaruk kepalanya, tapi akhirnya mengangguk. Ini merupakan kali pertama Shenina meminta sesuatu padanya, tidak mungkin kan ia tidak mengusahakan mewujudkannya.


Shenina tersenyum girang. Kemudian ia segera berpindah ke atas pangkuan Rainero dan tanpa ragu mencumbunya. Rainero yang mendapatkan serangan tiba-tiba tentu saja merasa bahagia. Ia pun segera membalas cumbuan itu dengan tak kalah liar dengan tangan-tangan yang bergerak nakal.


"Astaga, sorry, sorry, aku tidak sengaja," seru Axton yang segera membalikkan badannya.


Shenina yang terkejut segera turun dari pangkuan Rainero. Wajahnya sudah memerah karena malu.


"Ada apa? Kenapa kau masuk tiba-tiba? Mengganggu saja, " ketus Rainero yang tetap bersikap tenang meskipun dalam hati ia mengumpati Axton yang masuk ke ruangannya secara tiba-tiba.


"Astaga, kalian yang bermesraan tidak tahu tempat aku yang disalahkan. Nasib ... nasib."


"Makanya cepat cari pacar atau langsung menikah sana. Jangan sampai senjatamu keburu karatan karena tidak pernah digunakan," cibir Rainero membuat wajah Axton berubah masam.


"Kau pikir aku tak mau. Tapi kalau orangnya pulang ke negaranya, aku harus bagaimana?"


"Ya kejar, bodoh. Sepertinya otakmu perlu di-upgrade supaya lebih peka dan tidak bodoh lagi."


"Sialan. Memang kau pikir aku ini apa perlu di-upgrade, mesin, PC, ponsel. Menyebalkan."


Shenina terkekeh melihat perdebatan dua orang itu.


"Jadi kenapa kau tiba-tiba masuk ke sini tanpa mengetuk pintu? Jangan bilang kau kau hanya sekedar iseng?"


Axton menepuk jidatnya karena hampir saja lupa dengan tujuannya menemui Rainero.


"Itu ... di bawah, ada yang membuat keributan."


"Siapa? Berani-beraninya dia membuat keributan di perusahaanku," ujar Rainero yang telah mengerutkan kening.


Axton melirik Shenina kemudian berkata, "dia ... saudari Shenina."


Rainero dan Shenina sontak membulatkan mata. Mereka saling menoleh, paham akan tujuan kedatangan Jessica ke sana.


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...