Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 229 (S3 Part 71)


"Baby," panggil Jevian yang baru saja pulang.


Roseline yang sedang menemani Jefrey membuat kolase pun menoleh, "kau sudah pulang?"


"Menurutmu?"


"Tapi kan ini baru jam 3, cepat sekali?"


"Daddy, lihat!" Jefrey memamerkan kolase miliknya yang berbentuk ikan.


"Waw, cantik sekali?" puji Jevian. Lalu ia menoleh ke arah Roseline. "Aku tadi meeting di luar. Pulang meeting, tiba-tiba aku merindukan kalian jadi aku langsung pulang saja."


"Mau minum sesuatu?" tawar Roseline.


Jevian menggeleng, "aku tadi membeli buah strawberry, bisa tolong cucikan. Aku letakkan di meja dapur. Aku ingin memakannya," ujar Jevian membuat dahi Roseline mengernyit. Sebab selama mengenal Jevian, ia belum pernah melihat laki-laki itu memakan buah yang mengandung rasa asam seperti itu.


Roseline pun segera melakukan apa yang Jevian minta. Tak lama kemudian, Roseline pun sudah kembali bergabung dengan Jevian yang tengah bermain rubik dengan Jefrey.


"Ini ... " Roseline menyerahkan mangkok yang berisi strawberry segar. Sungguh menggiurkan. Jevian pun dengan cepat mengambil satu dan melahapnya dengan nikmat.


"Wow, strawberry! Jefrey mau," seru Jefrey yang ikut mengambil satu buah dan menggigitnya.


"Huekkk ... Asam," pekik Jefrey dengan wajah meringis setelah menyemburkan strawberry yang ada di mulutnya ke belakang.


Roseline terkejut. Ia pun segera memberi Jefrey segelas air. Jefrey Oun segera mengambil air tersebut dan menenggaknya hingga bersisa setengah.


"Daddy, strawberrynya tidak enak. Asam."


"Punya daddy manis. Mau coba?" Jefrey yang mengira mungkin dia memang salah memilih dan mendapatkan yang asam pun membuka mulutnya kemudian menggigit strawberry milik Jevian. Namun lagi-lagi ia memuntahkan strawberry tersebut.


"Itu juga asam. Jefrey tidak suka," ujarnya sambil mencebikkan bibirnya.


"Beneran masam?" tanya Roseline yang penasaran.


"Yes, mommy. Mulut daddy aneh. Strawberry asam dibilang manis," sungut Jefrey.


"Tapi beneran manis kok. Mungkin mulut Jefrey yang sedang bermasalah." Jevian menukas.


"Itu asam, Daddy. Mulut daddy yang aneh."


"Ini manis, Jef. Mulut Jefrey yang aneh."


"Asam."


"Manis, Jef."


"Asam, Daddy."


"Manis, Jefrey."


"Itu benar-benar asam, Daddy," pekik Jefrey.


Roseline menghela nafas kasar, kemudian ia mengambil sebiji strawberry yang terlihat paling menggoda dengan warna merah menyala dan berukuran besar. Roseline sampai menelan ludah. Namun baru satu gigitan, Roseline sudah melemparkan buah tersebut.


"Huek ... Asam sekali," pekik Roseline sambil mengusap-usap bibirnya. Kemudian ia pun segera mengambil gelas berisi air minum sisa Jefrey tadi dan menghabiskannya.


"Baby, kenapa dibuang? Kan sayang," ujar Jevian yang segera memungut strawberry yang Roseline lempar tadi. Ia lantas mencucinya dengan air minum dan mulai menggigitnya membuat mata Jefrey dan Roseline membulat.


"Manis," ucap Jevian membuat Roseline dan Jefrey bergidik sendiri.


"Itu asam, Dad."


"Manis, Mom."


"Ck, mulut kalian berdua aneh. Strawberry semanis dan senikmat ini dibilang asam. Ya sudah, strawberrynya buat daddy semua saja. Hmmm ... Enaknya," ucap Jevian sambil melahap satu persatu buah strawberry itu hingga tidak bersisa satupun. Roseline sampai ternganga sendiri melihat Jevian yang melahap strawberry super asam tersebut hingga habis tak bersisa.


...***...


"Morra, sampai kapan kau akan mengurus laki-laki gila itu? Ini sudah satu bulan, bahkan sampai sekarang tak ada perkembangan apapun padanya," tukas Ayah Morra yang kesal karena putrinya masih saja mempertahankan Bastian di sisinya. Padahal ayahnya sudah meminta Morra menceraikan Bastian, tapi Morra tetap bersikeras ingin mempertahankan hubungannya dengan Bastian tak peduli dengan keadaannya saat ini.


"Bastian tidak gila, Dad. Dia hanya depresi. Tertekan," sahut Morra tidak terima suaminya disebut gila meskipun oleh ayahnya sendiri.


"Terserah dia mau gila, depresi, atau apapun. Yang pasti, otaknya itu sudah tak waras. Mau kau bicara sepanjang waktu pun, ia tidak akan merespon sebab bukan kau yang diinginkannya, tapi perempuan lain. Jadi untuk apa kau tetap di sisinya? Buang-buang waktu, tenaga, dan biaya saja," kesal ayah Morra karena Morra tetap bersikeras mempertahankan Bastian.


"Untuk apa? Aku melakukan ini semua karena aku mencintainya. Stop ikut campur urusanku, Dad. Bukankah yang patut di salahkan itu daddy? Kalian yang memaksa kami menikah, padahal daddy tahu saat itu kami sudah memiliki pasangan masing-masing. Jadi jangan salahkan Bastian bila ia seperti ini. Dia begitu mencintai kekasihnya, tapi obsesi kalian yang tidak memikirkan perasaan kami, anak-anak kalian yang sudah menghancurkan kami. Dan saat Bastian seperti ini, kalian dengan mudahnya ingin membuangnya? Ingat Dad, dia bukan hanya suamiku, tapi juga ayah anak-anakku. Sampai kapanpun aku takkan pernah meninggalkan Bastian. Terserah ia masih mencintai perempuan lain. Aku yakin, seiring bergantinya waktu, aku pasti bisa meluluhkan hatinya. Bastian pasti akan sembuh. Kalau Daddy tidak memiliki kepentingan lain, lebih baik Daddy pergi sebab sampai kapanpun aku akan tetap dengan pendirianku," tukas Morra tegas. Terserah ayahnya tidak terima dengan keputusannya ataupun marah sebab sejak menikah dengan Bastian, maka Bastian lah yang lebih berhak atas dirinya.


"Kau ... " Ayah Morra mengeraskan rahang dengan jari telunjuk mengarah ke Morra. " ... benar-benar keras kepala. Terserah kau sajalah. Urus saja suami gila mu itu, daddy tidak akan peduli lagi," sentak ayah Morra.


Setelah mengucapkan itu, ia pun segera pergi dari ruangan dimana Bastian dirawat. Semenjak dinyatakan mengalami gangguan mental, Bastian dirawat secara intensif di rumah sakit jiwa. Tidak semua pasien di rumah sakit jiwa itu gila. Banyak juga dari mereka merupakan pasien yang mengalami gangguan mental seperti depresi, gangguan disosiatif, PTSD, dan lain sebagainya. Mereka membutuhkan penanganan ekstra untuk mencegah terjadinya hal yang lebih parah. Begitu pula dengan Bastian. Morra berharap dengan dirawat secara intensif, kesehatan mental Bastian akan segera pulih.


Setelah ayahnya pergi, Morra pun segera berjongkok di depan Bastian yang duduk di kursi roda sambil memandang ke luar jendela. Morra merebahkan kepalanya di. Pangkuan Bastian. Tak peduli Bastian tidak meresponnya, yang penting Bastian tidak mengusirnya. Itu sudah lebih baik.


Morra menangis sesenggukan di pangkuan Bastian. Memang awalnya Morra terpaksa menikah dengan Bastian, tapi Bastian selalu memperlakukannya dengan baik sehingga benih-benih cinta itupun tumbuh seiring berjalannya waktu.


Tiba-tiba Morra merasakan sebuah telapak tangan hangat mengusap puncak kepalanya. Morra pun mendongak. Ditatapnya Bastian yang juga sedang menatapnya dengan mata memerah.


"Mengapa kau tidak menuruti perintah ayahmu? Apa yang ayahmu katakan benar? Untuk apa berharap pada laki-laki gila sepertiku? Bahkan aku tidak pernah mencintaimu. Pergilah, Morra. Kejarlah bahagiamu. Kau berhak bahagia, meskipun bukan dengan aku. Aku tak pantas untukmu, Morra. Aku hanyalah laki-laki bodoh yang terbelenggu pada cinta masa lalunya. Aku ... tak pantas untukmu. Kau terlalu sempurna untukku laki-laki bodoh dan gila sepertiku," ucap Bastian tiba-tiba membuat jantung Morra berdetak hebat.


"Bas, kau ... "


"Pergilah, Morra. Aku tak pantas untukmu."


"Kau sudah sehat? Kau ... Bastian, kau sudah kembali? Bastian ... Suamiku ... " Bukannya menanggapi kata-kata Bastian, Morra justru terlalu terlarut dalam euforia karena Bastian sudah sadar dari depresinya. Bahkan ia bisa berkata-kata seperti biasanya.


"Bastian ... " Morra lantas memeluk erat tubuh Bastian. Ditumpahkannya tangisnya. Bastian pun perlahan mengangkat tangannya dan membalas pelukan Morra.


"Kenapa, Morra? Kenapa kau masih terus bertahan? Bukankah aku sudah menyakitimu? Kenapa kau masih bersedia menunggu dan menjagaku? Aku ... "


"Please, jangan katakan kau ingin aku pergi darimu. Tolong jangan katakan itu. Sampai matipun aku takkan pernah pergi darimu. Aku mencintaimu, Bas. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Tolong, jangan minta aku pergi! Kalau kau sekali lagi meminta aku pergi, maka aku takkan segan-segan pergi dari dunia ini selamanya," tukas Morra dengan wajah yang sudah basah oleh derai air mata.


Morra merenggangkan pelukannya. Ditatapnya mata Bastian yang juga sudah basah. Tangan Bastian perlahan terulur dan mengusap bulir-bulir bening yang terus berjatuhan dari netra sebening telaga Morra.


"Morra, tapi aku tak pantas mendapatkan cintamu yang begitu tulus."


Morra menggeleng cepat, "siapa bilang kau tak pantas? Kau terlalu pantas untuk mendapatkannya. Kau laki-laki yang baik dan setia yang pernah aku kenal. Aku tidak membencimu karena masih mencintai mantan kekasihmu. Justru aku kagum karena kau terlampau setia menjaga cinta padahal ada aku yang selalu di sisimu. Namun kali ini, tolong pikirkanlah aku. Perempuan yang kau cinta kini telah berbahagia dengan pasangannya. Kalau kau memang mencintainya, lepaskan dia. Ikhlaskan dia. Kini giliranmu yang menjemput bahagia. Ada aku, anak-anak kita yang mencintaimu dengan tulus. Kau mau kan membuka lembaran baru dengan hanya aku wanita yang ada di hatimu?" Morra meraih tangan Bastian dan menggenggamnya erat.


Dengan berlinang air mata, Bastian pun mengangguk.


"Ajari aku mencintaimu. Bantu aku melupakannya."


Mendengar itu, senyum Morra merekah dengan begitu indah. Seindah bunga-bunga yang bermekaran di taman Keukenhof.


Benar kata Morra, bila ia benar-benar mencintai Roseline, maka ia harus ikhlas melepaskannya. Apalagi ia dapat melihat betapa laki-laki itu mencintai Roseline. Bastian akui, ia sudah tak pantas untuk Roseline lagi. Ia sudah begitu menyakiti Roseline. Sudah sewajarnya Roseline melupakan segala cinta padanya. Kini saatnya ia membuka hatinya untuk perempuan yang beberapa tahun ini dengan setia mencintainya. Apalagi ia sudah memiliki anak-anak dengan Morra. Alangkah jahatnya ia bila membuang anak dan istrinya demi perempuan yang sudah tidak mencintainya lagi.


Bastian lantas tersenyum. Ia benar-benar bersyukur memiliki istri yang tetap mau menerimanya dalam keadaan apapun. Bahkan ia rela menentang orang tuanya sendiri demi mempertahankannya. Bastian kini sudah bertekad akan melupakan Roseline dan mulai mencintai istrinya ini.


Melihat Bastian tersenyum, perlahan Morra mendekatkan wajahnya. Bastian tahu apa yang ingin Morra lakukan pun memejamkan mata. Bibir mereka pun saling menyatu. Perasaan hangat menjalar seiring rasa saling menerima satu sama lain.


...***...


...Udah lumayan panjang ya!🤩...


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...