
Seminggu telah berlalu semenjak hari dimana Theo akhirnya sadarkan diri. Bahkan hari ini ia sudah diizinkan pulang ke apartemen mereka. Meskipun belum bisa bergerak dengan leluasa, setidaknya Theo sudah bisa berjalan dengan bantuan kruk.
Theo dan Rhea baru saja tiba di apartemen mereka. Tadi Emery menyempatkan diri mengantarkan keduanya pulang, namun Emery tidak ikut naik sebab ia harus segera ke bandara menyusul suaminya yang sedang bertugas.
Klik ...
Ruangan yang tadinya gelap gulita, seketika terang benderang saat pintu apartemen terbuka dan kedua suami istri itu masuk ke dalamnya.
Saat masuk ke dalam apartemennya, mata Theo seketika berbinar ceria. Di dinding ruangan itu, telah tergantung sebuah banner bertuliskan ucapan selamat pulang ke rumah, suamiku tercinta.
Bagaimana perasaan Theo tak membuncah bahagia. Semenjak Theo membuka dirinya untuk Rhea, Rhea pun sudah tak malu-malu lagi untuk menunjukkan rasa cintanya. Hal itu juga yang membuat Theo makin berani membuka diri dan berupaya segenap jiwa dan raganya untuk mencintai Rhea.
Theo sadar, rasa itu memang perlahan hadir. Sedikit demi sedikit mengikis bayang-bayang Shenina dalam hatinya. Meskipun tidak sepenuhnya sebab Shenina telah menetap di sisi lain hatinya dan sukar tuk dilenyapkan, tapi setidaknya keinginan untuk membahagiakan Rhea dan calon anaknya itu makin menguat.
"Kau ... Yang menyiapkan ini semua?" seru Theo tak menyangka. Padahal Rhea sibuk menjaganya di rumah sakit. Pulang pun hanya sesekali saat ada keperluan saja, tapi tanpa ia duga Rhea menyempatkan diri membuat penyambutan untuk dirinya. Bahkan ruang tengah apartemen itu telah dihias dengan balon-balon berwarna putih dan merah dengan beberapa kertas ucapan selamat atas kepulangannya.
Rhea tersenyum lebar kemudian menyelipkan lengannya ke lengan Theo dan meletakkan dagunya di pundak sang suami sambil berkata, "kau suka?"
Theo mengangguk cepat kemudian berkata, "aku suka. Sangat suka," ujarnya sambil menatap Rhea yang sedang bergelayut manja di pundaknya. Rhea yang merasa diperhatikan pun mendongak ke atas sehingga mata mereka pun saling bersirobok.
Keduanya saling menatap dalam. Seakan terbawa suasana, Theo mendekatkan wajahnya perlahan, Rhea reflek menutup matanya. Tak lama kemudian, bibir mereka pun saling menempel. Melihat Rhea yang tampaknya pasrah dengan apa yang ingin ia lakukan pun lantas ikut memejamkan mata. Perlahan, ia menggerakkan bibirnya. Awalnya mengecup, kemudian perlahan ia memagut dan melu mat bibir merah Rhea dengan begitu lembut.
Seakan belum puas, Theo memberi kode agar Rhea membuka sedikit celah bibirnya hingga akhirnya lidah Theo pun melesak dengan bebas. Mengeksplor setiap bagian dengan mesra. Luma tan itu makin lama makin panas dan liar. Bahkan tangan Theo yang memegang kruk telah berpindah ke tengkuk Rhea, sedangkan satunya lagi memeluk pinggang Rhea. Sedangkan tangan Rhea telah bergelayut mesra di leher Theo. Keduanya saling memagut dan melu mat dengan gelora yang membuncah. Suara decapan pun telah memenuhi ruangan tersebut.
Rhea memukul pelan dada Theo, membuat laki-laki itu melepaskan tautan bibir mereka. Nafas keduanya terengah. Rhea tersipu dengan semburat merah di pipinya. Sungguh ini pengalaman pertamanya dicumbu sedemikian rupa oleh seorang laki-laki. Bahkan malam panas mereka waktu itu pun, mereka lewati tanpa ada cumbuan sama sekali.
"I want you, darling," bisik Theo dengan suara parau.
"Tapi kakimu ... " Rhea khawatir. Bagaimana Theo bisa skidiuhah kalau kakinya saja masih sakit. Bisa-bisa belum selesai menumpahkan hasratnya, kakinya kembali sakit sehingga harus kembali dirawat di rumah sakit.
"Don't worry! Aku ingin menjenguk anak kita. Bukankah saat ini saat-saat terbaik untuk membuka jalan lahir anak kita? Supaya anak kita bisa lahir dengan lancar, benar bukan?"
Wajah Rhea tersipu, kemudian mengangguk.
Ah, apakah benar ia akan melewati malam panas itu kembali malam ini?
Namun seketika Rhea menegang. Rhea masih mengingat jelas betapa sakitnya ia malam itu akibat penyatuan kasar yang Theo lakukan.
Theo yang sadar apa yang Rhea khawatirkan dari ekspresinya pun menarik dagu Rhea agar menatapnya.
"Kau tak perlu khawatir. Aku akan pelan-pelan kali ini. Aku pastikan, setelah ini kau akan selalu ketagihan dengan permainanku. Bagaimana? Masih mau lanjut?"
Melihat ekspresi penuh keyakinan di wajah Theo membuat Rhea reflek mengangguk. Sejujurnya pun, meskipun ada ketakutan tersendiri, ia pun mengharapkan bisa melewati malam panas itu lagi. Tapi dengan lebih lembut dan mesra serta penuh cinta seperti yang Theo katakan.
Theo yang tersenyum bahagia. Ia lantas mengajak Rhea masuk ke kamarnya. Tanpa mengunci pintu, Theo menarik lengan Rhea dan mendorongnya agar berbaring di ranjang. Lalu tanpa basa-basi lagi, Theo pun segera melancarkan aksinya untuk membuka jalan lahir bagi si calon bayi.
"Hello baby, daddy datang!" serunya sebelum mereka kembali melakukan penyatuan.
...SKIPPPPP ๐...
Rhea tersenyum-senyum sendiri sejak tadi. Wajahnya kembali merah padam mengingat bagaimana Theo memperlakukannya dengan begitu lembut dan penuh cinta. Theo benar-benar berhasil membuatnya melayang dan terbuai. Hingga akhirnya ia tahu apa itu kenikmatan bercinta.
"Pantas saja orang-orang suka bercinta. Ternyata rasanya senikmat itu," gumamnya pelan. Lalu ia tertawa kecil sambil melirik Theo yang sudah terlelap akibat efek obat yang diminumnya setelah mereka bercinta.
Theo akhirnya berhasil menyingkirkan ingatan kelam percintaan menyakitkan mereka dahulu. Ingatan itu justru berganti menjadi ingatan keindahan. Tapi sayang, Theo tidak bisa melakukan percintaan itu lebih dari dua ronde.
Bukan Theo tak kuat. Bukan pula Rhea yang tak sanggup. Hanya saja, Rhea khawatir kaki Theo kembali sakit. Apalagi saat ronde kedua, Theo sempat meringis. Mungkin karena terlalu gencar menghentak membuat kakinya kembali sakit. Oleh sebab itu, meskipun Theo belum puas menumpahkan hasratnya, Rhea dengan cepat melarang. Ia tak mau karena keasikan bercinta malah berakhir ke ranjang rumah sakit.
...***...
Semakin hari rumah tangga Rhea dan Theo makin bahagia dan harmonis. Bahkan tak terasa hari persalinan Rhea sudah semakin dekat. Saat memeriksakan diri, posisi janin sudah bagus. Begitu pula air ketuban dan lain-lainnya juga sudah bagus. Perkiraan hari kelahiran hanya tinggal menghitung hari lagi.
"Sayang," panggil Rhea lirih sambil mengusap perutnya yang tiba-tiba sakit kemudian menghilang, kemudian sakit lagi, kemudian rasa sakit itu kembali menghilang. Rasa sakit yang datang dan menghilang itu membuat Rhea menyadari kalau bayinya akan segera lahir.
"Ada apa, Sayang? Kau ingin ke kamar mandi?" tanya Theo sambil mengucek matanya. Setahu Theo, setiap Rhea bangun di jam seperti itu, Rhea selalu ingin ke kamar kecil. Karena perutnya yang makin membesar membuat Theo kian over protektif. Ia tidak mengizinkan Rhea ke kamar mandi seorang diri saat malam hari. Jadi Rhea selalu membangunkan Theo untuk menemaninya ke kamar mandi.
Rhea menggeleng, "bukan."
"Lantas?" Theo sudah duduk mengawasi Rhea yang meringis kesakitan. "Kau kenapa? perutmu sakit? Kau ... air apa ini?" seru Theo dengan mata terbelalak saat merasakan kasurnya yang basah.
Mata Rhea pun melotot, "sayang, sepertinya aku akan segera ... "
Theo pun dengan sigap berdiri. Ia lantas segera berjalan menuju samping lemari dan mengambil tas berisi perlengkapan melahirkan sang istri yang telah disiapkan jauh-jauh hari tanpa menunggu kelanjutan kata-kata sang istri. Dari apa yang Theo baca mengenai ciri-ciri perempuan ingin melahirkan akhir-akhir ini, Theo sudah tahu kalau istrinya akan segera melahirkan.
Setelah mencangklong tas berisi perlengkapan melahirkan, Theo pun gegas menggendong Rhea ala bridal style. Beruntung kaki Theo sudah pulih sepenuhnya jadi urusan menggendong seperti ini tidak masalah baginya.
Singkat cerita, kini Rhea sudah berada di rumah sakit. Ia bahkan sudah ditangani petugas medis.
"Nyonya Rhea sudah akan melahirkan. Apa Anda ingin menemani istri Anda?" tanya sang dokter sambil mengulum senyum melihat penampilan Theo. Theo yang begitu mengkhawatirkan Rhea tidak begitu menyadari ekspresi beberapa petugas medis di sana saat menatapnya.
"Iya. Boleh kan?"
Sang dokter mengangguk. Ia pun segera dipersilahkan masuk ke dalam menemani Rhea berjuang melahirkan buah hati mereka. Setelah perjuangan antara hidup dan mati itu, akhirnya bayi perempuan Rhea dan Theo pun berhasil dilahirkan tanpa kendala berarti.
Theo menangis terharu saat melihat perjuangan Rhea melahirkan putrinya. Apalagi saat melihat bayi mungil itu menangis, membuat Theo tak bisa membendung air matanya.
"Terima kasih, Sayang. Terima kasih. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu."
Akhirnya, kata-kata keramat itupun keluar dari bibir Theo. Rasa sakit yang mendera sekujur tubuh Rhea seakan tak berarti lagi sebab telah tergantikan dengan cinta dari sang suami.
Air mata Rhea tumpah. Ia merasa begitu bahagia. Hari itu merupakan hari terindah bagi Rhea sebab ia bukan hanya berhasil melahirkan bayi cantiknya, tapi juga berhasil mendapatkan pengakuan cinta dari sang suami.
"Aku pun sangat mencintaimu. Sangat. Terima kasih karena sudah menbalas cintaku."
Mereka lantas saling berpelukan penuh haru. Namun sayang, tangisan hari itu harus terinterupsi oleh Emery yang baru saja datang.
"Theo, kau ke rumah sakit dengan penampilan seperti ini?" pekik Emery dengan mata membelalak.
Bagaimana tidak, Theo masih menggunakan bokser bergambar kartun one piece dengan simbol tengkorak tepat di bagian tengahnya. Bukan hanya itu, Theo pun menggunakan sendal yang berbeda. Sebelah kanan sendalnya sendiri, sedangkan sebelah kiri sendal bulu milik Rhea. Dan jangan lupakan, ia tidak sedang memakai baju. Karena terlalu panik membuat keduanya tak menyadari penampilan Theo saat itu.
Mata Rhea seketika membelalak. Begitu Theo yang baru menyadari penampilannya seketika merasa malu. Namun ia tidak mau menunjukkannya. Ia justru dengan percaya diri mengangguk. Padahal dalam hati ia merutuk tak henti-hentinya.
'Pantas saja mereka sejak tadi menertawakan ku. Ternyata ini masalahnya. Dasar ceroboh.'
"Namanya juga panik. Keselamatan anak dan istriku lah yang paling penting, benarkan Sayang?" Theo menoleh ke arah Rhea yang terpaksa mengangguk samar.
Emery menepuk dahinya melihat kekonyolan tingkah sang putra. Namun dalam hati ia bersyukur, akhirnya Rhea dan Theo sudah bisa berdamai dengan keadaan. Bahkan keduanya terlihat saling mencintai satu sama lain.
Mungkin ini salah satu karma baik dari permintaan maafnya tempo hari dengan Shenina sehingga akhirnya putranya bisa menemukan kebahagiaannya. Ia benar-benar bersyukur.
...***...
Semoga puas dengan part ini. Ini udah panjang pake banget ya! Demi kelarin ini, othor sampai nunda makan dulu meskipun lapar. Takut selesai makan, malah ngantuk terus tertidur. ๐
Selamat hari kemerdekaan Republik Indonesia ke 78. Dirgahayu negeriku. Semoga Bangsa Indonesia makin jaya dan sejahtera ke depannya.
...๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐...
^^^๐ฎ๐ฉ๐ฎ๐ฉ๐ฎ๐ฉ๐ฎ๐ฉ๐ฎ๐ฉ๐ฎ๐ฉ๐ฎ๐ฉ๐ฎ๐ฉ๐ฎ๐ฉ๐ฎ๐ฉ๐ฎ๐ฉ๐ฎ๐ฉ๐ฎ๐ฉ๐ฎ๐ฉ^^^
...HAPPY READING ๐ฅฐ๐ฅฐ๐ฅฐ...