
Dengan hati ceria, Rainero masuk ke dalam mansionnya. Tidak menemukan istrinya di ruang tamu, Rainero pun gegas masuk ke dalam lift yang akan mengantarkannya menuju lantai 3 dimana kamarnya berada. Rainero membuka pintu tak sabaran. Namun saat pintu terbuka, yang ada hanyalah kekosongan. Ruangan itu terasa dingin, seolah telah lama ditinggalkan.
"Sweety, dimana kau?" panggil Rainero, tapi ia tak kunjung mendapatkan respon. Rainero mencari ke balkon hingga kamar mandi, tapi tak kunjung menemukannya.
Rainero lantas dalam kamar menyusuri setiap tempat mencari keberadaan istrinya, tapi tetapi setelah beberapa saat mencari, Rainero tak kunjung menemukan keberadaan Shenina.
"Bibi Moo, apa kau melihat istriku?" tanya Rainero pada asisten rumah tangganya.
Bibi Moo mengerutkan keningnya, "bukankah nyonya pergi dengan madam Delena dan belum pulang hingga sekarang, tuan."
"Apa? Belum pulang?" gumam Rainero memastikan.
Bibi Moo mengangguk, "benar, tuan. Nyonya belum pulang hingga sekarang."
Rainero merasa heran, tidak biasanya ibunya mengajak istrinya hingga berjam-jam lamanya seperti ini. Rainero pun segera mengambil ponselnya dan menghubungi ibunya, tapi hingga beberapa kali menghubungi, Rainero tak kunjung mendapatkan respon.
Rainero lantas mencoba menghubungi Shenina, tapi ternyata sama saja. Shenina tak kunjung mengangkat panggilannya.
Rainero baru saja menurunkan tangannya yang memegang ponsel, tapi tiba-tiba panggilan masuk terdengar di ponselnya. Rainero pun gegas memeriksa siapa penelpon itu. Ia pikir Shenina lah yang menghubunginya balik. Tapi sayang, yang menghubunginya ternyata bukanlah Shenina apalagi ibunya, melainkan Axton.
Dengan malas, Rainero mengangkat panggilan itu.
"Rain, apa Gladys ada di sana?" tanya Axton tanpa basa-basi.
"Gladys? Tidak ada. Memangnya dia bilang mau kemari?" tanya Rainero dengan dahi berkerut.
"Iya, tadi siang dia bilang ingin menemui Shenina. Setibanya di mansionmu, Gladys menghubungi lagi, katanya aunty Delena mengajaknya pergi membeli perlengkapan bayi kalian yang belum dibeli. Aku pikir dia sudah pulang, tapi ternyata belum. Aku sudah mencoba menghubungi, tapi panggilanku tak kunjung diangkat. Makanya aku telepon kamu mau menanyakan apa Gladys ada di sana," papar Axton.
Dahi Rainero makin berkerut dalam, "tapi Gladys tidak ada di sini. Bukan hanya Gladys, tapi Shenina dan Mommy Oun belum pulang. Aku juga sudah mencoba menghubungi mereka, tapi tak satupun panggilanku diangkat," tukas Rainero yang mulai cemas. Tapi mengingat kalau ibunya selalu dikawal Rose, ia sedikit menghalau kekhawatirannya.
Namun ternyata setelah menunggu 30 menit kemudian dan tak kunjung mendapatkan kabar juga dari ketiga orang itu, jelas membuat kekhawatiran Rainero kian menjadi. Ia pun segera menghubungi sang ayah.
"Apa Mommy ada di mansion?" tanya Rainero langsung saat panggilannya telah Reeves angkat.
"Tidak. Bukannya mommy ada di mansionmu?"
Kekhawatiran Rainero kian bertambah, "tidak, Dad. Sejak tadi Mommy, Shenina, dan Gladys belum pulang. Bahkan ketiganya tak bisa dihubungi. Panggilan kami tak satupun yang diangkat. Aku khawatir terjadi sesuatu dengan mereka," ujar Rainero mengungkap kegelisahannya. "Daddy punya nomor Rose? Bisa Daddy hubungi Rose, siapa tahu Rose bisa mengangkat panggilan Daddy," pinta Rainero.
Reeves pune mengiyakan. Segera setelah panggilan ditutup, ia mencoba menghubungi Rose, tapi ternyata nomor Rose tidak aktif. Ia mencoba menghubungi Delena, panggilannya terhubung, tapi tak kunjung diangkat.
"Kau dimana, Sayang. Jangan membuatku cemas," lirih Reeves cemas.
Reeves pun segera menghubungi Rainero untuk mengabarkan kalau nomor Rose tidak dapat dihubungi.
"Astaga, jadi dimana mereka, Dad? Ini sudah hampir malam. Karena Shenina selalu keluar denganku, jadi aku tidak mempekerjakan bodyguard untuk mengawalnya. Apalagi ada Rose, aku pikir, mereka pasti aman-aman saja seperti biasa."
"Kau sudah meminta orang-orang mu mencari keberadaan mereka?"
"Sudah. Axton sudah mengerahkan orang-orang ku untuk mencari Mommy, Shenina, dan Gladys. Tapi belum ada jawaban pasti."
"Kau tenanglah, Daddy yakin, mereka akan baik-baik saja," ujar Reeves memcoba menenangkan Rainero. Meskipun hatinya pun sebenarnya merasa was-was, tapi ia harus bisa bersikap tenang agar Rainero tidak kian khawatir.
"Bagaimana aku bisa tenang, Dad, Shenina sedang hamil besar. Aku takut ... astaga, kau dimana, Shen? Mom, sebenarnya kalian dimana?" raung Rainero benar-benar panik.
Panggilan masih terhubung, saat Axton tiba-tiba masuk dengan wajah cemasnya.
"Axton, bagaimana? Apa ada kabar keberadaan mereka?" tanya Rainero yang telah berdiri dengan perasaan was-was.
Axton menarik nafas dalam-dalam. Nafasnya terasa tersengal karena berlari masuk ke kediaman Rainero.
"Coba kita lacak GPS mereka. Kau juga, periksa posisi Gladys. Siapa tahu, kita bisa menemukan petunjuk," ujar Rainero.
Axton pun mengiyakan. Rainero sampai lupa kalau panggilannya dengan Reeves masih terhubung.
"Dad-"
"Kau lacak dulu posisi mereka dari GPS Shenina. Daddy juga akan melakukan hal yang sama pada Mommy-mu."
Rainero pun mengiyakan dan segera memeriksa lokasi terakhir mereka yang ternyata sama.
Rainero dan Axton pun gegas mencari lokasi tersebut. Begitu pula Reeves.
"Apa benar lokasinya di dekat sini?" tanya Rainero memastikan sebab lokasi yang mereka masuki ini merupakan area yang masih ditumbuhi semak belukar.
"Benar. Sebentar lagi kita sampai," ujar Axton. "Rain, lihat, bukankah itu mobil aunty Delena?" seru Axton saat melihat sebuah mobil yang berjarak kurang lebih 20 meter dari posisi mereka.
Rainero mengangguk, "cepat kita kesana. Semoga saja mommy, Shenina, dan Gladys juga Rose ada di sana. "
Namun melihat lokasi yang tampak mencurigakan, sebenernya perasaan Rainero sudah was-was. Bagaimana kalau ibu, istri, dan kedua orang lainnya menjadi korban perampokan? Sebisa mungkin Rainero menepis pikiran buruk itu, tapi kenyataan yang terpampang di depan matanya justru membuatnya makin khawatir. Sebab mobil itu dalam keadaan kosong.
"Mereka tidak ada. Jadi kemana mereka?" gumam Axton yang tak kalah panik.
"Coba periksa mobil ini!" titah Rainero pada anak buahnya yang menyusul ke lokasi.
"Bos, lihat ini."
Anak buah Rainero menunjukkan 3 buah tas yang setelah diperiksa merupakan milik Shenina, Delena, dan Gladys.
"Pantas saja panggilan kita tak kunjung diangkat sebab ponsel mereka semua ada di sini."
"Bos, kami menemukan ini," seru anak buah Rainero lagi sembari menunjukkan sebuah benda kecil yang diselipkan di AC mobil.
"Ini apa?" tanya Rainero tidak mengerti.
Mark pun mendekat dan memperhatikannya, "tuan, ini sejenis obat bius yang akan menguap di udara bila diletakkan di ruang terbuka. Apa jangan-jangan ... "
"Jangan-jangan apa? Jangan bertele-tele!" sentak Rainero tak sabaran.
"Nyonya, madam, dan istri tuan Axton dibius lalu diculik," tukas Mark yang membuat Rainero, Reeves, dan Axton syok bukan main.
"Apa ini perbuatan saudara perempuan Shenina?" tukas Reeves menyela.
"Entahlah. Tapi beberapa hari ini, orang-orang ku mengabarkan perempuan itu tidak melakukan sesuatu yang mencurigakan."
"Kalau bukan dia, lantas siapa?"
"Rain, lihat, ada foto ini di dalam dasboard. Apa kau tahu foto siapa ini?" Axton menunjukkan sebuah foto laki-laki dan perempuan yang saling berangkulan mesra. Sepertinya mereka adalah sepasang kekasih. Tapi gambar laki-laki di foto tersebut dicoret sehingga tidak terlihat jelas. Hanya sang perempuan yang terlihat jelas.
Rainero menggeleng. Ia memang tidak mengenal sosok dalam foto tersebut. Reeves yang penasaran pun segera mendekat dan melihat foto itu.
Deghh ...
Jantung Reeves nyaris putus dari rongganya saat melihat foto tersebut. Ia tahu dan sangat tahu siapa yang ada di dalam foto tersebut.
"Tidak. Ini tidak mungkin. Tidak mungkin ini perbuatan dia," gumam Reeves dengan jantung yang bertalu-talu.
...***...