
Bastian menyeringai, "kesepakatan yang mudah. Bila kau menang, aku akan menyerah, tapi bila kau kalah ... kau harus bersedia menjadi istriku, bagaimana?" tantang Bastian dengan seringai licik di bibirnya.
Roseline membulatkan matanya, ia tidak menyangka Bastian akan menawarkan kesepakatan yang aneh itu. Ia tidak menyangka, Bastian akan berpikir sepicik itu demi mengentaskan obsesinya.
"Jangan turuti permintaan bajingaan itu, Seline!" sergah Jevian sambil bersusah payah untuk berdiri, namun belum sempat berdiri, Jevian terjatuh. Entah apa yang terjadi dengan kakinya. Yang pasti, kakinya terasa amat sangat nyeri.
"Jevian," pekik Roseline terkejut saat Jevian kembali tersungkur.
Roseline pun gegas mendekati Jevian membuat dada Bastian bergemuruh.
"Jangan ikuti permintaannya, Seline! Laki-laki itu licik. Aku yakin, ia akan berbuat licik demi mendapatkan mu," ucap Jevian sambil menggenggam erat tangan Roseline.
"Apa kau begitu mengkhawatirkan ku?" seloroh Roseline berusaha mengalihkan kekhawatiran Jevian. Dadanya pun bergemuruh. Amarah di dadanya menggelegak melihat keadaan Jevian yang tidak baik-baik saja. Padahal ia belum lama dirawat di rumah sakit dan ia yakin, setelah ini Jevian akan kembali dirawat.
"Bohong kalau aku bilang tidak. Aku tak ingin kau jatuh ke tangannya, Seline. Kau tahu, aku sudah jatuh cinta padamu Aku sangat mencintaimu dan aku takut kehilanganmu. Aku mohon, Seline, jangan ikuti permintaannya. Dia licik, Sayang. Aku ... "
Mata Jevian berkaca-kaca. Tak terbayang rasanya kalau Roseline benar-benar jatuh ke tangan Bastian. Ia sudah terlanjur jatuh cinta pada Roseline. Entah bagaimana nasibnya bila ia kembali kehilangan. Bahkan rasanya, cintanya pada Roseline jauh lebih besar dari cintanya pada Adisti. Ia bisa hancur dan binasa bila harus kembali kehilangan cintanya.
Jevian sungguh menyesali kemampuan bela dirinya yang sangat tidak mumpuni. Sepanjang usianya, orang tuanya dulu hanya menuntutnya untuk belajar, bahkan waktu untuk bersenang-senang pun nyaris tak ada. Apalagi untuk belajar bela diri. Alhasil, ia hanya bisa berkelahi semampunya saja. Bahkan untuk menumbuhkembangkan Bastian saja ia kesulitan setengah mati.
"Ssst ... jangan khawatir! Apa kau meragukan kemampuanku?"
"Aku bukannya meragukan kemampuanmu, hanya saja bajingaan itu licik dan aku tidak mau kau terpaksa menuruti permintaannya karena kelicikannya itu," ucap Jevian yang benar-benar mengkhawatirkan keadaan Roseline pun nasibnya bila Roseline menyanggupi permintaan konyol Bastian.
Roseline lantas balas menggenggam tangan Jevian, "yang aku inginkan sekarang keyakinanmu. Keyakinanmu dan kepercayaanmu adalah kekuatanku. Tolong percaya aku!" ucap Roseline dengan tatapan penuh arti.
"Tapi ... "
Melihat sorot mata penuh keyakinan sekaligus permohonan dari netra Roseline, dengan berat hati Jevian pun mengangguk.
"Aku percaya padamu. Tolong jaga dirimu. Maaf karena aku yang terlalu lemah hingga kau harus turun tangan sendiri untuk menghadapi bajingaan itu. Ingatlah, ada aku dan Jefrey yang menunggumu. Aku mencintaimu, sungguh," ucap Jevian dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Bohong kalau ia tidak khawatir apalagi takut. Namun ia harus memberikan kepercayaan pada Roseline demi membangkitkan kepercayaan diri dan keyakinannya.
Roseline tersenyum lebar kemudian ia mendekatkan wajahnya lalu mengecup bibir Jevian.
"Aku pun mencintaimu. Tunggu aku!" bisik Roseline lirih, namun masih bisa di dengar oleh orang-orang yang jaraknya tidak begitu jauh darinya.
Jelas saja hal tersebut memantik amarah Bastian. Ia mengetatkan rahang. Tangannya mengepal erat hingga buku-bukunya memutih. Ingin rasanya ia segera menarik lengan Roseline dan menyeretnya menjauh dari Jevian. Namun ia sekuat tenaga menahan diri agar tidak memantik amarah Roseline.
Setelah mengucapkan itu, tanpa menunggu respon Jevian, Roseline pun gegas berdiri. Lalu ia meminta salah satu bodyguard yang Roseline kenali merupakan salah satu anak buah Rainero. Bahkan laki-laki itu merupakan salah satu orang yang ikut meringkusnya dulu saat menyekap Delena dan Shenina.
"Kau," tunjuk Roseline pada laki-laki bertubuh besar itu. "Tolong bawa tuan Jevian menjauh. Jaga dia. Kalau terjadi apa-apa padaku, tolong segera bawa tuan Jevian ke rumah sakit. Terima kasih," ujarnya seperti permintaan sekaligus perintah secara bersamaan.
Mata Jevian mendelik saat mendengar itu, tapi ia tidak bisa protes. Ia hanya bisa menerima sambil terus berdoa agar Roseline bisa memenangkan pertarungan ini.
...***...
Roseline pun memulai mengambil ancang-ancang, begitu pula Bastian. Keduanya sudah bersiap sambil mengukur kemampuan masing-masing. Namun Bastian yakin, ia pasti bisa mengalahkan Roseline. Ia sudah mengenal Roseline sejak bertahun-tahun yang lalu. Ia yang melatihnya selama ini, bagaimana mungkin Roseline bisa melampaui kemampuannya. Ia yakin, tak butuh waktu lama untuk membuat mantan kekasihnya itu bertekuk lutut padanya.
Roseline bergerak terlebih dahulu. Ia maju dengan kepalan tangan yang ia sasarkan ke wajah Bastian, tapi Bastian mampu menghindar dengan gesit. Kemudian Bastian meraih pergelangan tangan Roseline dan memelintirnya ke belakang bertujuan untuk mengunci pergerakan Roseline. Namun dengan sigap Roseline memutar tubuhnya kemudian menghantamkan lututnya ke arah Bastian. Bastian pun reflek melepaskan cengkraman tangannya.
Roseline kembali menyerang, tapi berkali-kali Bastian berhasil menangkisnya. Kini giliran Bastian bergerak maju untuk menyerang, namun Roseline berhasil mengelak. Pertarungan berlangsung dengan cukup sengit. Berkali-kali jantung Jevian mencelos sampai rasa-rasanya mau putus saat bagaimana Jevian melancarkan serangannya pada Roseline, tapi beruntung Roseline lebih banyak berhasil menghindar dan balas memukul.
Namun saat terus memperhatikan dengan seksama, tiba-tiba Jevian menyadari, Bastian tidak benar-benar ingin menyerang Roseline. Bahkan bila pukulannya nyaris mengenai Roseline, ia selalu sedikit menggeser pukulannya agar tidak mengenai Roseline. Bila pun terlanjur kena, Bastian tidak mengeluarkan kekuatan sepenuhnya.
Sebenarnya Jevian bisa melihat kalau Roseline sedikit lebih unggul. Sebab selama menjadi asisten pribadi Delena, Roseline terus mengasah kemampuannya. Begitu pula saat di penjara, karena tak ada kegiatan berarti, ia jadi memilih mengasah kemampuan bela dirinya. Bahkan di penjara, ia diminta melatih teman-temannya Alhasil, kemampuan bela diri Roseline kini lebih baik dari sebelumnya. Bastian pun sebenarnya sedikit kewalahan, namun saat ada kesempatan membalas, ia justru merasa tak sanggup. Ada sisi yang membuatnya tak bisa menyakiti Roseline. Mungkin benar, cinta itu masih bertahta sehingga ia tak mampu menyakiti Roseline lebih banyak lagi.
Bugh ...
Roseline berhasil menendang tepat di perut Bastian membuat laki-laki itu muntah darah setelahnya.
Bastian terkekeh sambil menyeka darah di mulutnya lalu berkata, "ternyata kemampuanmu telah maju dengan pesat. Ternyata aku terlalu meremehkan mu, Sayangku."
Kata-kata Bastian rasa membakar sekujur tubuh Jevian. Ingin rasanya ia memukul mulut kurang ajar Bastian dengan teflon panas agar gosong sekalian.
"Sudah aku katakan aku bukan Rose yang dulu, tapi kau tidak mau mendengar. Bukan hanya kemampuanku yang berubah, tapi juga perasaanku padamu," tandas Roseline membuat mata Bastian memerah.
"Tidak. Kau pasti berbohong kan! Aku yakin, kau masih seperti yang dulu, masih mencintaiku seperti aku mencintaimu," tolak Bastian yang tidak terima saat Roseline mengatakan kalau perasaannya telah berubah.
"Untuk apa aku berbohong, Bastian. Tolong sadarlah, semuanya telah berubah. Tidakkah kau kasihan pada wanitamu yang menantimu di sana. Tidakkah kau sadar betapa ia mencintaimu. Jangan sampai kau menyesal telah menyia-nyiakan istri dan anak-anakmu sendiri, Bastian. Sadarlah."
Pandangan Bastian beralih pada Morra yang menatap nanar ke arah dirinya. Wanita mana tak sakit hati dan kecewa saat melihat suaminya berjuang untuk mendapatkan perempuan lain yang tak lain mantan kekasihnya. Hati Morra hancur sehancur-hancurnya, tapi ia bisa apa kalau suaminya sendiri ternyata masih mencintai mantan kekasihnya.
"Tapi aku masih sangat mencintaimu, Rose. Bagaimana aku bisa hidup kalau kau memilih bersama yang lain," mata Bastian sudah berkaca-kaca. Ia sungguh-sungguh dengan kata-katanya.
Hati wanita mana yang tak tersentuh mendengar penuturan bernada putus asa dari Bastian. Tapi Roseline sungguh-sungguh kalau rasanya telah musnah pada Bastian. Semuanya hambar tak bersisa. Mana mungkin ia bisa bersama Bastian sementara rasanya sudah terkikis habis tak bersisa. Selain itu, ada hati yang harus ia jaga. Bukan hanya Jevian, tapi juga Morra, istri sah Bastian.
...***...
Udah ya, dah lumayan panjang. Double pula hari ini. 😂
Othor mau mie time dulu sebelum bobok. Good night, all. 🥰🥰🥰
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...