Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 49


Seminggu kemudian,


Seorang wanita paruh baya yang masih tampak sangat cantik di usianya yang mendekati senja turun dari pesawat pribadinya diikuti oleh seorang perempuan muda yang merupakan asisten pribadinya.


Dengan mengenakan kacamata hitam, ia berjalan menyusuri koridor menuju tempat parkir di mana mobil jemputannya telah menunggu.


"Kita kemana dulu, Nyonya?" tanya sang sopir.


"Hotel," jawab wanita itu cepat.


"Baik, Nyonya," sahut sang sopir itu cepat.


"Apa kau sudah dapat alamat wanita itu?" tanya wanita itu pada sang sopir.


Laki-laki masih tampak muda itu mengangguk, mengiyakan, "sudah, Nyonya," jawabnya sambil menekan persneling dan menjalankan mobilnya.


"Bagus," ucap wanita itu seraya menyeringai.


Sementara itu, di kediaman Shenina tampak wanita hamil itu sedang melamun. Angannya melayang ke sosok yang beberapa hari ini tidak menghubunginya. Entah kemana sosok yang mengganggu pikirannya itu.


"Kemana Daddy kalian ya, Twins? Semoga Daddy kalian baik-baik saja," ucapnya sambil mengusap perutnya yang kian membuncit.


Entah mengapa Shenina tiba-tiba merasa khawatir. Bagaimana kalau Rainero memutuskan menyerah untuk memperjuangkannya?


Lalu bagaimana dengan anak-anaknya?


Meskipun sebelumnya ia merasa yakin dan sanggup untuk membesarkan kedua anaknya seorang diri, namun setelah merasakan respon anak kembar yang ada di dalam kandungannya saat kehadiran Rainero pun perhatian yang diberikannya membuat Shenina sedikit berharap. Andai saja rasa takut, cemas, dan khawatir tidak mendominasi, mungkin ia akan menerima laki-laki itu. Tapi Shenina yang keras hati dan berpendirian teguh, tidak semudah itu untuk diluluhkan. Ia tak mau seperti perempuan lain yang begitu mudah luluh hanya dengan bujuk rayu lalu berakhir mengenaskan.


"Hai Shen," tegur seseorang membuat Shenina terlonjak.


"Ah, ternyata kau, Wayan. Mengagetkanku saja," ucap Shenina seraya mengulas senyum tipis.


Wayan pun terkekeh, "makanya, jangan melamun terus. Mikirin apa sih?"


"Ah, nggak. Aku nggak mikirin apa-apa kok."


"Yang bener?"


"Iya. Oh ya, katanya Minggu depan adik kamu menikah ya?"


"Iya. Makanya aku kesini mau undang kamu. Kamu mau ya datang? Temenin aku?"


"Hah, maksudnya?" Shenina bingung saat Wayan mengatakan mengundangnya sekaligus memintanya menemaninya.


"Iya, kamu mau kan temenin aku? Jadi partner aku. Aku suka kesal soalnya, keluarga aku sering banget jodoh-jodohin aku. Kan kalau aku udah ada gandengan, keluarga aku nggak bisa lagi jodoh-jodohin," terang Wayan.


Shenina terkekeh, "kenapa nggak sama Adisti atau Gladys aja? Kamu liat ... perut aku segede ini, apa kamu nggak malu? Gimana kalau mereka malah makin banyak yang bertanya-tanya?"


"Nggak masalah. Justru aku senang. Tinggal aku jawab aja kalau kamu itu istri aku," sahut Wayan seraya terkekeh.


Shenina tersenyum geli, "liat aja nanti ya." Shenina tidak langsung mengiyakan.


Wayan tersenyum kecut, ia pikir itu pasti karena Rainero.


"Oh ya, mana laki-laki itu?"


"Laki-laki mana?"


"Yang waktu itu tinggal di kontrakan sebelah. Dia ... ayah anak kamu ya?"


Shenina menoleh, tak lama kemudian ia pun mengangguk.


"Apa kalian akan baikan?" Wayan memang belum tahu sama sekali bagaimana hubungan Shenina dan Rainero. Entah pasangan kekasih atau suami istri. Tapi melihat bagaimana Shenina sampai memilih tinggal di sini, sepertinya hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja. Hal itu tentu saja membuat Wayan senani. Seolah ada celah untuk dirinya masuk diantara keduanya.


"Mbak Buleeee ... " teriak Adisti seraya berlarian sambil membawa kantong yang tidak begitu besar di tangan kanannya. Shenina pun tersenyum lebar, merasa senang sebab dengan begitu ia tak perlu menjawab pertanyaan Wayan tadi.


"Kamu kayak anak kecil aja lari-larian gitu. Kamu bawa apa tuh?" tanya Shenina seraya menggestur dagunya ke arah kantong yang Adisti bawa.


"Nih, buat Mbak Bule. Aku bawa jambu air, mangga muda, sama jeruk Bali. Aku ambil ini di kebun temen aku."


"Kamu serius, Ti? Ini buat aku semua?"


"Ya dong. Apa sih yang enggak buat Mbak Bule," ucap Adisti penuh semangat.


"Ah, makasih ya, Disti. Kamu emang yang terbaik," ucap Shenina. Ia pun segera beranjak masuk ke dalam kontrakan untuk mengambil pisau dan piring.


"Eh, Disti baru sadar ada mas Wayan. Lagi ngapain, Mas? Jangan bilang mau pdkt'in Mbak Bule?" Tatapan Adisti memicing.


"Ih, nggak boleh dong. Mbak Bule itu milik Mas Bule. Mas Wayan kalo mau cari cewek, yang single aja. Kan banyak tuh yang sering datang ke toko, tinggal pilih aja mau yang mana."


"Itu pelanggan aku, Disti. Sembarangan. Kalau mereka ternyata udah punya suami, gimana? Bisa kena bacok aku," sahut Wayan seraya terkekeh.


"Lah, Mbak Bule juga gitu, dia sebentar lagi nikah sama Mas Bule, iya kan Mbak?" tanya Adisti pada Shenina yang baru saja keluar sambil membawa piring dan pisau.


"Eh, iya, apa?"


Tiba-tiba saja telepon genggam Shenina berdering nyaring. Shenina pun gegas melihat siapa sang penelepon. Tiba-tiba saja jantungnya berdegup kencang saat melihat nama yang terpampang di layar ponselnya.


Sesaat sebelumnya,


Rainero baru saja merebahkan tubuhnya setelah seharian ini benar-benar sibuk mengurusi para tikus pengkhianat. Rainero sudah tahu dalang dari segala permasalahan yang menimpa perusahaannya. Rainero yang tidak tinggal diam pun segera bertindak dan membalas para tikus pengkhianat tersebut.


Rainero tidak langsung menyerahkan mereka pada pihak kepolisian sebab bisa saja mereka berkilah atau membayar pihak kepolisian untuk segera dibebaskan. Rainero menangkap mereka dan menghukum mereka di markasnya sendiri. Hanya tinggal sang dalang. Rainero akan membiarkannya terlebih dahulu. Entah sampai kapan dia akan bersembunyi dari dirinya.


Saat sedang melepaskan lelahnya, tiba-tiba saja ponsel Rainero berbunyi.. Matanya seketika terbeliak saat melihat foto yang dikirimkan orangnya yang bertugas mengawasi Shenina. Foto itu merupakan foto saat Shenina berbincang dengan Wayan. Tepatnya sebelum Adisti muncul.


Rasa kesal dan cemburu menjadi satu, Rainero pun segera menghubungi Shenina.


"Ya, hallo."


"Kau sedang apa?"


"Ah, aku ... sedang ingin makan buah dengan ... "


"Ai tukang buku itu?"


"Tukang buku?"


"Iya, tukang buku yang selalu saja ingin mendekatimu."


"Iya, tapi ada ... "


"Pulang!" titahnya memotong perkataan Shenina.


"Hah? Memangnya kenapa?"


"Pokoknya pulang."


"Beritahu dulu alasannya, kenapa aku harus segera pulang? Toh aku juga duduk di depan kontrakanku sendiri."


"Pulang, Shen. Masuk ke dalam sana."


"Iya, jelaskan kenapa? Apa alasannya?"


Rainero berdecak. Entah mengapa Shenina bisa merasakan kalau laki-laki itu tengah cemburu padanya.


"Aku tak suka. Aku tak suka kau berdekatan dengan laki-laki lain selain diriku," ucapnya akhirnya.


Shenina tiba-tiba terkekeh. Rainero sampai tertegun mendengar tawa renyah Shenina sebab selama hampir satu bulan tinggal di Bali, ia tak pernah sekalipun bisa membuat perempuan itu tertawa lepas seperti ini. Namun, di saat mereka jauh Shenina justru bisa tertawa lepas dan renyah.


"Kau tertawa?" tanyanya bodoh.


"Tidak. Aku sedang menangis," ketus Shenina sambil mengikis senyum. Tanpa ia tahu, setiap apa yang ia lakukan diabadikan seseorang dan foto tersebut akan dikirimkan kepada Rainero seperti permintaan laki-laki itu.


"Hah? Kenapa? Kenapa kau menangis? Apa aku sudah melakukan kesalahan? Maafkan aku, Shen. Maafkan aku yang sudah tanpa sengaja menyakitimu. Maafkan aku, Shen," ucapnya gelisah karena merasa bersalah.


Tawa Shenina pecah. Adisti dan Wayan sampai terbengong-bengong melihatnya.


"Aku ... aku tidak menangis, Rain. Kau mudah sekali dibodohi," ucap Shenina seraya tergelak.


"Hah, benarkah? Jadi ... "


"Kamu kenapa jadi seperti orang bodoh sih, Rain?"


Rainero seketika tersadar kalau ia baru saja dikerjain oleh Shenina membuat laki-laki itu pun ikut tersenyum.


"Mungkin karena aku sedang jatuh cinta. Jatuh cinta memang terkadang bisa membuat seseorang menjadi bodoh. Tapi bila itu bisa membuatmu tersenyum dan tertawa bahagia, aku rela. Aku tak masalah menjadi orang bodoh," ucapnya serius membuat Shenina tertegun dengan jantung yang berdebar.


"Cie, Mbak Bule kenapa tuh? Pipinya sampai merah-merah udah kayak tomat masak," goda Adisti membuat Shenina salah tingkah. Wayan yang melihatnya pun membuang muka. Ia yakin, itu adalah Rainero.


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...