
Beberapa jam sebelumnya
"Tuan, harga saham kita terus merosot tajam," lapor asisten pribadi Tobey.
Tobey yang sejak tadi sudah menahan amarah yang hendak meletup-letup setelah mengetahui berita tentang kelakuan menyimpang sang putri lantas mendongakkan wajahnya. Cerutu yang tengah dihisapnya ditekannya ke dalam asbak. Rahangnya mengeras. Asisten pribadi Tobey sampai bergidik sendiri melihat ekspresi suram sang atasan yang seakan siap untuk menikamnya.
"Apa kau bilang? Harga saham kita terus merosot tajam?"
"Be-benar, tuan."
Lantas asisten pribadi Tobey pun menyerahkan tabletnya kepada Tobey. Tobey menerimanya dengan letupan-letupan kegelisahan di dalam dada. Tangannya bergetar. Ia marah sekali melihat hal itu. Ia pernah mengalami hal seperti ini, tapi semua yang ia alami itu karena perbuatannya sendiri yang menentang Rainero. Lalu kini, perusahaannya kembali terancam. Posisinya bahkan sudah membahayakan dan penyebab utamanya adalah putrinya sendiri.
"Brengsekkk! Semua karena anak sialan itu!"
Brakkk ...
Tanpa memikirkan kalau tablet itu menyimpan banyak hal penting menyangkut pekerjaan, Tobey pun menghempaskannya ke lantai hingga bukan hanya layar, tapi beberapa bagian tablet itu hancur.
Mata asisten pribadi Tobey hanya bisa menatap nanar tabletnya yang entah sudah berapa banyak hancur begitu saja di tangan Tobey. Untung saja ia sudah mencadangkan file-file di dalamnya, bila tidak, mungkin ia akan lebih kesulitan lagi karena harus memulihkan data yang melekat di dalamnya.
Sementara itu, dengan nafas yang menderu dan emosi yang menggebu-gebu, Tobey pun menghubungi seseorang.
"Lakukan seperti perintahku!" tukasnya dengan tangan kiri mengepal. Setelah mengatakan itu, Tobey pun segera menutup panggilannya tanpa menunggu respon orang yang dihubunginya. Toh ia sudah tahu apa yang harus dilakukan sebab orang yang diteleponnya itu merupakan orang kepercayaannya. Orang suruhannya untuk melakukan hal-hal di luar urusan kantor.
Sementara itu, di rumah sakit, ternyata kondisi Matson cukup memperihatinkan. Kepalanya mengalami benturan yang cukup keras dan tangan kirinya patah karena terjepit. Begitu pula kakinya, setelah menjalani pemeriksaan CT scan, ternyata kaki Matson mengalami keretakan. Beruntung kondisinya tidak begitu fatal sehingga dengan melakukan operasi serta perawatan intensif, dokter mengatakan Matson akan segera pulih seperti sedia kala.
"Matson, Matson," pekik seorang wanita dengan bersimbah air mata. Dia adalah Wina, istri Matson.
Wina yang melihat keberadaan Jevian pun lantas mendekat atasan suaminya itu.
"Tuan Jevian, sebenarnya apa yang terjadi? Bagaimana dengan keadaan suami saya?" tanya Wina sambil memegang pergelangan tangan Jevian. Jevian melepaskan tangan Wina lalu membimbingnya untuk duduk di kursi. Setelah melalui perjalanan berjam-jam, Wina pasti lelah pikirnya. Bukan hanya fisik, tapi jiwanya karena mengkhawatirkan keadaan sang suami.
"Duduklah dulu! Tenangkan dirimu!" ujar Jevian. Lalu ia meraih air minum kemasan yang ada di kursi. "Minumlah dulu!" ujarnya lagi seraya menyodorkan botol minum yang dibelinya beberapa saat yang lalu.
"Terima kasih," ujarnya.
Jevian mengangguk.
"Jadi tuan, bagaimana keadaan Matson? Sebenarnya apa yang terjadi? Bagaimana ia bisa mengalami kecelakaan ini?" tanya Wina dengan tersedu-sedu.
"Keadaannya kurang baik. Ia sekarang sedang bersiap untuk menjalani operasi di bagian lengannya. Lengannya patah. Sedangkan luka di kepala sudah ditangani lebih dulu. Dan untuk mengapa Matson bisa mengalami kecelakaan, polisi masih menyelidikinya lebih lanjut. Kau tenanglah, saya pastikan, Matson akan segera sembuh. Dan sang penabrak pun akan segera mendapatkan hukuman setimpal," tukas Jevian.
Wina pun mengangguk. Karena sudah ada Wina, istri Matson, Jevian pun segera kembali ke ruangan Jefrey. Tampak di sana Roseline sedang tertidur sambil duduk dengan kedua tangan menjadi bantalan kepalanya.
Ada rasa hangat menjalar. Ia bertanya-tanya, mengapa Roseline bisa begitu baik pada Jefrey. Bahkan ia memperlakukan Jefrey seperti anaknya sendiri. Sebaliknya, ibu kandung Jefrey justru tidak menghiraukan Jefrey sama sekali.
"Seline," bisik Jevian tepat di samping telinga Roseline. "Seline," panggil Jevian lagi saat Roseline tak kunjung membuka matanya.
Tiba-tiba Roseline menahan nafas. Bagaimana tidak, saat matanya terbuka, wajah Jevian ternyata begitu dekat dengan wajahnya. Membuat ia bisa melihat jelas binar kelelahan di sekitar matanya.
"A-ada apa?" cicit Roseline seketika gugup.
Jevian tersenyum lembut, "pindahlah ke ranjang yang di sana." Tunjuk Jevian pada ranjang tambahan yang memang sengaja diminta Jevian agar ia atau Roseline bisa beristirahat di sana selama berada di rumah sakit.
"Hah! Kalau aku tidur di sana, lalu Anda dimana?"
"Aku bisa dimana saja. Bisa di sofa atau seranjang berdua denganmu juga tak masalah. Asal kau izinkan tentunya," ujarnya enteng membuat Roseline mendelik.
"Enak saja. Jangan macam-macam!"
"Aku tidak macam-macam. Aku hanya bilang satu macam saja kok."
"Jangan mencari kesempatan dalam kesempitan tuan Jevian!"
"Kenapa tidak boleh? Lagipula aku kan tidak macam-macam, hanya ingin berbagi ranjang denganmu. Tapi kalau kau mau macam-macam juga boleh. Tapi nanti, setelah Jefrey sembuh dan kita berada di mansion," ujarnya ambigu.
"Maksudnya?" tanya Roseline yang benar-benar tidak bisa memahami jalan pikiran sang calon duda hot.
"Maksudnya ... " Jevian lantas makin mendekatkan wajahnya sehingga cuping hidung mereka kini saling beradu. Mata Roseline membola dan hampir saja berteriak kalau tidak segera dibungkam dengan telapak tangannya. "Ssst ... Jangan berteriak. Nanti putra kita terbangun," ujarnya pelan nyaris berbisik. Karena wajah mereka yang terlampau dekat membuat Roseline bisa menghidu aroma nafas Jevian yang anehnya tidak bau sama sekali. Padahal sekarang nyaris tengah malam. Tapi nafasnya kenapa justru terasa menyegarkan di hidungnya.
Karena posisi yang terlalu dekat membuat pikiran Roseline jadi linglung. Bahkan ia sampai tidak menyadari ada kalimat ambigu yang Jevian ucapkan. Jevian tidak menyebut Jefrey putranya, tapi justru menyebut putra kita. Entah Jevian sadar atau tidak dengan perkataannya ini. Bisa jadi tanpa sadar Jevian pun menginginkan Roseline menjadi ibu pengganti bagi Jefrey seperti yang para pembaca harapkan. Bukan sekedar ibu pengganti, tapi juga istri pengganti yang lebih baik dari Eve. Semoga saja Jevian mengabulkan doa-doa para pembacanya ya.
"Jadi bagaimana, kau ingin minta aku temani tidur atau ... "
Tiba-tiba Roseline menggigit jari Jevian yang menutup mulutnya, "dasar cabul!" desis Roseline dengan mata melotot.
Ia pun segera beranjak dari sana dengan pipi memerah. Bagaimana tidak, apa yang Jevian lakukan akhir-akhir ini membuat debar yang lama tidak ia rasakan kembali hadir. Ia yang memiliki trauma terhadap sebuah hubungan seketika khawatir. Ia takut perlakuan manis Jevian membuatnya jatuh hati. Apalagi Jevian bukanlah orang sembarangan. Meskipun J Company tidak sebesar SC Company, tapi tetap saja, status Jevian adalah seorang CEO. Ia adalah orang kaya dan ternama. Ia tak ingin kembali patah hati karena terhalang status yang tidak sepadan. Ia pun harus sadar diri, dirinya hanyalah seorang pengasuh. Tak pantas baginya menginginkan seseorang seperti Jevian.
Bila Roseline khawatir jatuh hati pada Jevian, maka Jevian justru sebaliknya. Melihat tingkah Roseline yang baginya sungguh manis membuat Jevian berkeinginan menaklukkan hati seorang Roseline dan membuatnya jatuh hati padanya. Perlahan ia menyadari, kehadiran Roseline membuat bukan hanya hidupnya yang lebih berwarna, tapi juga Jefrey. Ia yakin, Roseline pantas menjadi istrinya sekaligus ibu bagi Jefrey.
Dengan tersenyum penuh arti, Jefrey mengambil ponselnya dan mengetikkan sebuah pesan.
Roseline yang belum tertidur mengerutkan merasakan getaran ponselnya. Ia pun gegas mengambil ponsel dan memeriksa jendela notifikasi. Mata Roseline seketika terbeliak lalu mengerjap beberapa kali.
[Good nite and sweet dream, Mommy Jefrey.]
Lalu Roseline melirik ke arah sofa dimana Jevian sudah duduk di sana. Matanya semakin terbelalak saat mendapati Jevian mengedipkan sebelah mata padanya.
"Apa dia habis kemasukan setan?" gumam Roseline bergidik ngeri karena sikap Jevian yang tiba-tiba berubah aneh.
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...