Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 128


"Mark, kau sudah sadarkan diri?" seru Adisti dengan mata berbinar. Tak peduli dengan apa yang barusan Mark katakan, ia justru terfokus pada Mark yang sudah sadarkan diri. "Kalau begitu, aku akan memanggilkan dokter," imbuh Adisti yang segera membalikkan badannya. Ia pikir Mark baru sadarkan diri jadi ia akan memanggil dokter untuk memeriksakannya.


Tapi tiba-tiba Mark menahan lengan Adisti, "tidak perlu," sergah Mark membuat dahi Adisti berkerut.


"Kenapa? Kau itu baru sadar jadi harus diperiksa untuk memastikan semuanya baik-baik saja."


"Kataku tidak perlu ya tidak perlu, baby."


Tiba-tiba mata Adisti memicing tajam, "jangan katakan kalau sebenarnya kau sudah sadarkan diri sebelumnya?" tanya Adisti penuh selidik.


Mark meringis seraya menganggukkan kepalanya. Berbeda dengan Adisti yang sudah membeliak kesal.


"Jadi kau memang sudah sadarkan diri? Apa kau sengaja ingin membohongiku? Kau sengaja ingin membuatku seperti orang bodoh, heh?" berondong Adisti dengan mata yang sudah memerah.


"Tidak, tidak seperti itu, baby. Dengarkan aku dulu ... "


"Kau jahat. Kau tahu, aku sangat mencemaskan mu, tapi kau ... Kau justru membohongiku. Huhuhu ... "


Adisti tiba-tiba menangis. Mark sontak saja kelabakan. Ingin turun dari atas ranjang dan merengkuh tubuh gadis yang dirindukannya itu, tapi kakinya sakit.


"Baby, please, jangan menangis. Aku ... aku tidak bermaksud membohongimu. Sungguh."


Tapi Adisti terus saja menangis. Ia merasa dipermainkan. Padahal ia merasa begitu sedih sekaligus bersalah pada Mark, tapi Mark justru menipunya.


"Baby ... Aaaakh ... "


Tak tahan melihat Adisti yang terus menangis, ia memaksakan diri untuk menggerakkan kakinya hingga akhirnya luka yang belum mengering itu menimbulkan rasa sakit yang luar biasa. Adisti pun tersentak dan segera melihat wajah Mark yang merah padam karena menahan sakit.


"Mark, kau ini bodoh atau apa, hah? Sudah tahu lukamu belum sembuh, tapi malah bergerak," seru Adisti panik. Ia lantas segera membantu Mark agar membaringkan lagi tubuhnya. Setelah Mark kembali terbaring, ia pun ingin segera beranjak, tapi Mark justru menarik tangannya hingga tubuhnya kini sudah condong ke depan dengan satu tangan bertumpu di atas ranjang agar tubuhnya tidak jatuh menimpa Mark. Wajah mereka nyaris tak berjarak. Bahkan keduanya bisa merasakan hangat nafas masing-masing.


"Please, jangan menangis lagi!" melas Mark sambil menyeka sisa-sisa air mata di pipi Adisti. "Maaf kalau aku belum memberitahukan mu kalau aku sudah sadarkan diri sebab aku sebenarnya ingin memberikan kejutan padamu. Memangnya kau tidak senang melihat aku kembali membuka mataku? Bila iya, aku akan kembali memejamkan mataku saja. Semoga dengan begitu kau pu-,"


"Apa? Jangan mengada-ada, Mark. Kau tahu bukan maksudku seperti itu," potong Adisti dengan bibir mengerucut.


"Lantas apa?"


"Aku ... Aku hanya ... Ck, sudahlah. Kau memang selalu suka membuatku kesal," decak Adisti sambil berusaha untuk menjauhi Mark, tapi laki-laki itu justru terus menahannya.


"Aku memang selalu membuatmu kesal, tapi sekaligus selalu kau rindukan, benar kan?"


"Cih, GR. Percaya dirimu ternyata tinggi sekali tuan Mark."


Mark lantas terkekeh, "lalu ... Bagaimana?"


"Bagaimana apa?" tanya Adisti bingung.


"Yang tadi, kita menikah besok, bagaimana?"


"Hah, jadi yang kau katakan tadi itu ... serius?"


Mark pun mengangguk dengan cepat, "tentu. Aku tidak ingin kecolongan. Aku ingin menjadikanmu ratu dalam hidupku, bagaimana baby, kau bersedia?"


Adisti menatap netra Mark yang bersinar penuh harap. Tak ada lagi yang dapat ia ragukan dari seorang Marquez Alvernon. Laki-laki itu, tanpa kata telah menunjukkan kesungguhannya untuk menikahinya. Bahkan sang ibu pun menerimanya dengan sangat baik.


Dicintai oleh orang yang kita cinta itu merupakan anugerah. Dan diterima dengan baik oleh keluarga laki-laki yang kita cintai itu adalah bonus bagi Adisti. Bagaimana ibu Mark menerimanya dengan sangat baik jelas saja membuatnya benar-benar bahagia.


Dengan keyakinan penuh, Adisti lantas mengangguk dengan senyum merekah di bibirnya. Mark tak dapat menyembunyikan senyum kelegaan. Meskipun ia telah mendengar bagaimana Adisti menerima lamaran dari ibunya, tapi mendengar sendiri kalau lamarannya diterima merupakan sebuah kebahagiaan yang luar biasa.


"Eh, tunggu, tunggu, apa katamu tadi? Kita menikah besok?" tanya Adisti dengan mata melotot.


Mark pun menyeringai sembari mengangguk.


"What! Apa itu tidak terlalu cepat?"


Mark menggeleng, "memangnya kenapa? Apa kau ragu karena kakiku masih lumpuh?" tanya Mark sendu.


"Bu-bukan seperti itu. Hanya saja ... "


"Kalau begitu, tak ada yang perlu kita tunda-tunda. Pokoknya kita harus menikah besok. Harus. Karena aku tak ingin lagi jauh-jauh darimu," tegas Mark membuat Adisti menghela nafas panjang.


"Terserah kau lah. Kau memang suka memaksa," pasrah Adisti membuat Mark tersenyum lebar.


"Tapi kau suka kan?" Mark mengerling sebelah matanya membuat Adisti mengerucutkan bibirnya.


"G-" Belum sempat Adisti menyelesaikan kata-katanya, Mark justru lebih dulu melabuhkan kecupan ke bibir merah muda Adisti yang polos tanpa polesan apapun. Adisti sontak melotot karena Mark menyerangnya tiba-tiba.


"Ah, sayang sekali, aku masih kesulitan untuk bergerak. Kalau tidak, sudah habis bibirmu itu aku makan."


Mark hanya bisa mengecup sekilas. Tak ada luma tan seperti biasanya.


"Baby," panggil Mark.


"Hmmmm ... "


"Kiss me, please!" Mark sudah memajukan bibirnya berharap Adisti mencium bibirnya seperti biasa ia menciumnya.


Tapi Adisti justru menjulurkan lidahnya, "ogah. Bibirnya disuruh puasa dulu, ya. Aku mau kembali ke ruanganku. Nanti susternya kebingungan saat melihat aku tidak ada di kamar."


"Baby, jangan tinggalin aku. Tidur di sini, ya! Please."


"No!"


"Baby, please!"


"No! No! No!"


"Baby ... Ya udah, sebelum pergi, kiss dulu ya! Sebentar aja. 10 detik saja," rengek Mark.


"Nggak mau," tolak Adisti yang sudah melepas cekalan tangannya dari Mark.


"Baby, kalau nggak, aku paksa turun nih!" Mark memaksa mendudukkan dirinya membuat Adisti melotot dan segera kembali mendekati Mark.


"Ck ... Kau ini ... Ya udah, hanya 10 detik kan?" Mark mengangguk dengan sudut bibir sedikit terangkat.


Dengan perasaan gugup, Adisti lantas mendekatkan wajahnya pada Mark lalu mulai menempelkan bibirnya di bibir Mark.


10 detik, itu hanya akal-akalan Mark karena yang terjadi justru sebaliknya. Mark menahan tengkuk Adisti dan melahap bibir merah muda itu dengan rakus seolah ia sudah begitu merindukan benda kenyal berwarna merah muda itu. Jangan tanya Adisti bagaimana meresponnya. Awalnya ia ingin memberontak, tapi sapuan bibir dan lidah Mark nyatanya mampu membuat gadis itu terbuai hingga lupa kalau detik telah berganti menit.


Ah, Mark, kau memang sungguh pandai mengobrak-abrik perasaan Adisti! πŸ˜…


...***...


Tampak seorang laki-laki mendekati sang istri yang masih terlelap. Lalu ia duduk di tepi ranjang sambil mengusap-usap pipi sang istri. Sudah sejak tadi sang laki-laki tak bisa memejamkan matanya. Kebutuhan dasarnya tengah bergejolak, tapi karena tadi sang istri tengah begitu mengantuk, laki-laki itu jadi tak kuasa untuk menahan.


Laki-laki itu pikir, setelah didiamkan beberapa saat, gejolak itu akan mereda, namun ternyata tidak. Apalagi keinginannya semenjak sore tadi belum juga bisa ia realisasikan. Alhasil, di tengah malam buta, laki-laki itu mendekati sang istri dengan tujuan melaksanakan sesuatu yang sudah sejak tadi ditahannya.


Sang wanita yang pipinya diusap-usap pun menggeliatkan tubuhnya. Perlahan, ia membuka matanya sehingga netranya bersirobok dengan sesosok yang membuat sang wanita tiba-tiba terperanjat.


"Aaaaaaaaakkkkhhhhh ... " teriak sang wanita membuat sang laki-laki tergagap. Sang wanita yang merasa tak mengenali sosok di depan matanya reflek menendang sang laki-laki hingga jatuh terjengkang ke lantai.


"Aaaakh ... " teriak sang laki-laki saat bokongnya mendarat sempurna di lantai.


"Siapa kau? Kenapa kau bisa masuk ke dalam kamarku?" teriak sang wanita yang sudah menarik selimut ke atas hingga batas dagu.


Laki-laki itu lantas berdiri sambil mengusap bokongnya yang sedikit sakit sambil berujar, "ini aku, Sayang. Masa' kamu tidak mengenali wajahku yang kelewat tampan ini," ujar laki-laki itu setengah menggerutu. Wajahnya ditekuk. Tampak sekali ia sedang kesal sekarang.


Wajah sang wanita sampai melongo. Lalu ia memiringkan kepalanya agar bisa melihat sosok itu dengan jelas.


Setelah beberapa detik, reflek wanita itu menutup mulutnya. Bagaimana tidak ia terkejut setengah mati, sosok yang berdiri di hadapannya itu tampil begitu beda. Bahkan sangat berbeda dari sosok yang biasa terlihat tampan dan berwibawa. Sosok itu justru menjelma bak wanita penggoda. Ah, salah, tapi laki-laki jadi-jadian.


"Hei, apa kau sudah gila? Kenapa kau ... "


Wanita itu benar-benar speechless. Bagaimana sosok yang sejak awal ia kenal begitu berwibawa itu bisa berpenampilan seperti ini. Bayangkan, seorang laki-laki bertubuh kekar dan berwajah tampan tengah mengenakan lingerie berbentuk kelinci berwarna pink. Tak lupa bandana bertelinga panjang di atas kepalanya membuat sang wanita itu tak mampu berkata-kata lagi.


Bukannya marah, sang laki-laki justru tersenyum lebar. Bahkan saking lebarnya, deretan gigi putihnya terlihat jelas sudah seperti iklan pasta gigi.


"Hehehe ... Kenapa, Sayang? Lucu ya? Aku tadi membelinya di perjalanan pulang. Entah mengapa saat melihatnya terpajang di kaca display, membuatku langsung berimajinasi bercinta menggunakan lingerie ini."


Seperti orang bodoh, Axton memutar-mutar tubuhnya membuat Gladys tak mampu menahan tawanya. Tawa Gladys meledak. Ini kegilaan Axton untuk yang kesekian kali setelah ia dinyatakan hamil. Sepertinya kutukan Rainero benar-benar bekerja pada laki-laki itu. Bila saat itu Rainero hanya mengidam makanan saja, tapi Axton justru mengidam dengan melakukan hal-hal yang aneh.


Sayangnya Rainero tidak tahu kalau lingerie itu justru Axton lah yang memakainya. Ia pikir, lingerie itu dibeli untuk dikenakan Gladys. Bila ia tahu, habislah dia. Sudah pasti laki-laki itu akan menjadi bulan-bulanan Rainero sepanjang waktu.


Greppp ...


Saat sedang asik tertawa, tiba-tiba Axton memerangkap tubuh sang istri. Lalu ia menyeringai dan berkata, "sudah cukup tertawanya. Ini saatnya kita untuk bercinta," bisiknya seduktif membuat Gladys seketika terdiam dan menegang. Axton selalu saja mampu membuatnya tak mampu berkutik. Lalu yang terjadi setelahnya, pasti semua pembaca sudah dapat menebaknya. Dan kini, kamar berukuran 6 x 6 meter itu hanya diisi dengan suara-suara yang mampu membuat panas orang yang mendengarnya.


...***...


Halo kakak-kakak semua, terima kasih ya atas semua supportnya. Othor nggak nyangka, komentar dukungan kalian sampai nembus hampir 200'an. Sekali terima kasih atas segala support dan doanya. Doa yang terbaik untuk kakak-kakak semua. Maaf, nggak bisa balas satu persatu. πŸ™πŸ™πŸ™


Salam sayang dari othor D'wie. ❀️❀️❀️


...***...


...HAPPY READING πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°...