
Tobey mengerjapkan matanya. Silau cahaya lampu membuatnya memicingkan mata. Namun ia tetap memaksakan untuk membuka mata selebar-lebarnya. Matanya memicing, saat menyadari dimana ia kini berada.
"Aaargh ... Ssst ... " Tobey mendesis saat ingin menggerakkan anggota tubuhnya. Mungkin karena efek bius saat operasi sudah habis membuatnya bisa merasakan sakit di sekujur tubuhnya.
Hingga saat Tobey ingin menggerakkan kakinya, tapi ia merasakan sesuatu yang aneh. Diraba-rabanya anggota gerak bagian bawah. Ada yang ganjal. Dengan tangan bergetar dan jantung berdegup kencang, Tobey pun menyingkap selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.
Mata Tobey membeliak, disusul pekikan dari mulutnya.
"Ka-kakiku mana? Kakiku? Mana kakiku? Kakiku kemana? Kaki ada dimana, brengsekkk?" raung Tobey membuat polisi yang bertugas menjaga di luar pun segera masuk.
"Heh kau polisi brengsekkk, kau kemanakan kakiku, hah? Pasti kau yang sudah meminta dokter memotong kakiku, iya? Katakan, Brengsekkk? Katakan kakiku mana? Kakiku dimana?" raung Tobey saat melihat kakinya sudah tidak ada alias diamputasi.
Mata polisi itu mendelik tajam, "heh, lantas kau ingin kakimu tetap dibiarkan begitu saja sampai membusuk, seperti itu?" sentak polisi itu yang memang sudah jengah dengan sikap arogan Tobey sejak lama.
Bila bertahun-tahun Tobey selalu berhasil meloloskan diri dari hukum, maka kali ini tidak. Apalagi ada kekuatan besar yang membantu pihak kepolisian mengumpulkan bukti-bukti kejahatannya. Tak cukup sampai disitu, kekuatan besar itu juga menekan pihak kepolisian agar tidak kembali mengulangi kesalahan yang sama, yaitu membebaskan pelaku kejahatan dengan iming-iming uang yang nominalnya fantastis.
Tobey bungkam. Ia tak tahu harus mengatakan apa. Apalagi setelah sang dokter yang ikut masuk menjelaskan kondisi kakinya yang tak mungkin diselamatkan. Tulangnya remuk. Bila hanya retak atau patah biasa, mungkin masih bisa ditangani dengan melakukan operasi atau terapi. Tapi karena kondisi tulangnya yang hancur membuat tim medis akhirnya mengambil keputusan dengan mengamputasi kaki Tobey. Hal ini pun disetujui pihak kepolisian.
Tobey menatap kosong langit-langit kamarnya. Bukan satu kaki, tapi kedua kakinya sudah tidak ada. Bagaimana ia bisa berjalan?
Ah jangankan memikirkan berjalan, memikirkan bagaimana nasibnya ke depan saja ia tak tahu. Apalagi barusan pengacaranya datang dan menyampaikan kalau perusahaannya dalam keadaan pailit. Karyawan melakukan demonstrasi menuntut gaji mereka dibayarkan. Bagaimana membayar gaji, rumahnya pun sekarang disita akibat penggelapan pajak yang sudah ia jalankan selama bertahun-tahun.
Hukuman Tobey ternyata bukan hanya karena percobaan pembunuhan pada Jevian, tapi akuisisi ilegal yang tidak sesuai aturan yang berlaku, penggelapan pajak, dan berbagai kejahatan lainnya yang perlahan-lahan terungkap. Bagaimana ia menghancurkan perusahaan orang lain dan masih banyak lagi.
Sementara itu, di depan mansion Tobey telah terpasang papan bertuliskan kalau rumah itu dalam penyitaan. Eve yang sudah kehabisan uang pun berniat meminta maaf pada sang ayah agar dimaafkan dan diterima lagi di mansionnya.
Namun apa yang terpampang di depan matanya sungguh membuatnya terbelalak. Eve tak percaya dengan apa yang ia lihat. Ia lantas menggedor-gedor gerbang berharap itu hanya tipuan semata. Tapi sejak 30 menit yang lalu, tak ada tanda-tanda orang keluar dari mansionnya. Dengan tangan gemetar, Eve mencoba menghubungi sang ayah, tapi nomornya tak aktif.
Bahkan sampai hari-hari berlalu pun, ia tak kunjung mendapatkan kabar keberadaan sang ayah. Hingga saat ia melihat lembaran koran yang terkapar di kursi halte, dengan tangan gemetar dan jantung berpacu kencang, Eve meraih lembaran koran itu dan membaca headline yang terpampang di depannya.
Dadanya bergemuruh saat membaca kalau ayahnya sudah ditangkap polisi akibat kejahatan yang sudah dilakukannya. Bukan hanya itu, di koran juga dijelaskan bagaimana Tobey mencoba melarikan diri, namun akhirnya tertangkap. Namun nahas, kaki Tobey terpaksa diamputasi karena tulangnya yang hancur akibat terjepit. Di koran itu juga diberitakan tentang T Company yang akhirnya dinyatakan bangkrut.
Eve menjatuhkan koran itu. Kepalanya mendadak pening. Eve berjalan gontai, bingung harus melakukan apa. Sementara uangnya hanya tersisa sedikit saja. Atau bahkan hanya bisa bertahan beberapa hari saja.
Seketika ia mengingat Jevian dan Jefrey. Eve terkekeh, bagaimana ia tiba-tiba mengingat kedua orang itu di saat ia sudah seperti ini. Padahal selama ini ia tak pernah menganggap keberadaan kedua orang itu.
"Apa aku meminta bantuan mereka saja untuk menolong daddy?" gumamnya sambil menatap ke langit yang mulai menghitam. "Tapi ... Apakah dia mau membantuku? Sedangkan dia saja celaka karena perbuatan daddy."
Eve menghembuskan nafas kasar. Ia kembali melangkahkan kakinya, namun saat melewati sebuah pusat perbelanjaan, mata Eve memicing tajam.
...***...
Seperti permintaan Jefrey, akhirnya Roseline benar-benar membantu merawat Jevian. Padahal kan laki-laki itu bisa saja meminta bantuan perawat untuk membersihkan tubuhnya. Tapi dasar, majikan menyebalkan, ia beralasan tidak suka tubuhnya disentuh orang lain.
Lah, bukankah Roseline pun juga orang lain?
Saudara bukan, kekasih bukan, apalagi istri. Tapi Jevian selalu saja bisa mematahkan pertanyaannya.
"Kan kamu calon istriku, jadi wajar dong kalau aku memintamu membersihkan tubuhku. Memangnya kamu rela tubuhku yang keren ini disentuh orang lain? Perempuan lain?" tanya Jevian di kala Roseline mengajukan protes. Tapi tentu saja protes itu ia sampaikan saat Jefrey sudah terlelap.
Roseline mendengus, "kan ada perawat laki-laki."
Tiba-tiba Jevian memasang wajah bergidik ngeri, "no, aku tidak mau. Bagaimana kalau laki-laki itu tipe ... pecinta sesama jenis, sssttt ... No, aku tidak mau."
Melihat ekspresi Jevian yang memasang wajah jijik membuat Roseline tergelak, "jangan berpikiran negatif. Nanti ada yang dengar, bahaya. Kamu bisa dituntut karena ucapanmu barusan."
"Aku kan hanya khawatir. Kau tahu, aku dulu tidak pernah berpikir seperti itu. Tapi semenjak aku tahu kalau Eve memiliki hubungan tak biasa dengan temannya sendiri, perempuan lagi, aku jadi ngeri berdekatan meskipun itu dengan sesamaku sendiri. Walaupun tidak semua, tapi aku tetap merasa khawatir."
Roseline lagi-lagi tergelak. Ia sedang membantu menyeka tubuh bagian atas Jevian dengan handuk basah.
"Bagaimana kalau aku sama seperti Eve?" tanya Roseline iseng.
Mendengar itu, mata Jevian memicing tajam. Lalu ia menahan pergelangan Roseline dan menariknya sehingga wajah mereka kini saling berhadapan dengan jarak amat sangat dekat. Bahkan hidung keduanya nyaris bertemu.
"Kalau itu benar adanya, maka aku akan mengurung mu di kamar dan mengajakmu bercinta di sepanjang waktu sampai kau benar-benar lupa akan kebiasaanmu yang aneh itu," ujar Jevian sambil menatap lekat netra Roseline.
Mendengar kalimat vulgar itu jelas saja membuat Roseline membelalakkan matanya. Ia ingin mengangkat satu tangannya yang lain untuk memukul Jevian, tapi satu tangannya yang lain justru lebih dulu menangkap tangan itu. Lalu dalam gerakan cepat Jevian mengecup bibir Roseline.
"Jev," desis Roseline terkejut dengan apa yang Jevian lakukan.
"Jadi ... Apakah kau sudah ada jawabannya?"
Jevian mengingatkan Roseline tentang lamarannya tempo hari.
Bukannya melepaskan, Jevian justru mengeratkan cengkramannya. Namun tidak terlalu kuat agar tidak menyakiti Roseline.
"Kau tidak akan melepaskan mu sebelum kau memberikan jawaban."
"Tapi kau belum benar-benar mengenalku, Jev."
"Tidak masalah. Setelah kita menikah, kita akan melakukan pillow talk. Kau bisa mengatakan semua tentang dirimu saat itu. Apalagi kita melakukan pillow talk setelah bercinta, pasti sangat ... " Jevian menyeringai membuat Roseline mendelik tajam.
"Mulutmu itu ... " Roseline mendesis, tapi Jevian bersikap acuh tak acuh.
"Kenapa? Kau mau dicium lagi?" goda Jevian membuat Roseline tanpa sadar memekik
"Jevian ... "
"Apa, Sayang?"
"Kau ... "
"Jawab pertanyaanku tadi!"
"Tapi aku belum bisa menjawab saat ini."
"Jadi kapan? Bukankah kau bilang bila operasi Jefrey kau akan segera memberikan jawaban. Jangan bilang kau hanya ingin mempermainkannya?"
"Aku tidak sekejam itu ingin mempermainkan seorang anak kecil."
"Lantas, kenapa kau belum memberikan jawaban?"
"Karena ... karena ... Karena aku tidak mencintaimu," jawab Roseline sambil memalingkan wajah.
Tapi Jevian segera meraih dagu Roseline agar menghadapnya, "benarkah?"
"Benar."
Jevian yang kesal karena Roseline yang tak kunjung memberikan kepastian apalagi jawaban lantas segera menarik tengkuk Roseline, hendak menciumnya.
Namun baru saja bibir keduanya hampir menempel, terdengar suara Jefrey membuat Roseline reflek mendorong dada Jevian membuat laki-laki itu mendesis kesakitan.
"Daddy, mommy, kalian sedang apa?"
"Eh, Jefrey, mommy dan Daddy tidak sedang apa-apa kok. Mommy hanya ingin membantu daddy mengenakan pakaiannya."
Jefrey mengucek matanya tanpa merespon kata-kata Roseline.
Roseline lantas menoleh ke arah Jevian dan menjulurkan lidahnya mengejek. Jevian mengerucutkan bibirnya dengan mata melotot.
"Mommy bohong," ucap Jefrey tiba-tiba membuat Roseline segera menoleh dengan dahi berkerut.
"Bohong?" tanya Roseline bingung.
"Ya, bukankah tadi mommy ingin mencium daddy. Kalau mau cium, cium aja Mom. Tidak perlu bohong. Kan mommy sendiri yang bilang bohong itu dosa."
"Mommy, mommy tidak sedang ingin mencium daddy kok," sergah Roseline gugup.
"Bohong!" seru Jevian. "Mommy, beneran mau cium daddy, Son. Tapi mommy malu. Ya sudah, sini mom, biar daddy aja yang cium, daddy tidak malu kok," imbuh Jevian membuat Roseline memelototinya.
"Oh, mommy malu ya?" tanya Jefrey seraya mengangguk-anggukkan kepalanya. "Ya sudah dad, ayo cium mommy. Mommy tidak perlu malu, Mom. Cium kan tanda sayang, seperti daddy dan mommy suka cium Jefrey, kan itu tanda kalau mommy dan daddy sayang Jefrey," ujar bocah itu polos. "Ayo dad, cium Mommy. Kalau mommy malu, nih, Jefrey tutup mata." Jefrey lantas menutup matanya dengan kedua telapak tangannya.
Jevian menyeringai, sedangkan Roseline bergidik ngeri.
Roseline ingin menghindar, tapi dengan cepat Jevian menahan tangannya.
"Ayo, kita lakukan dengan cepat sesuai permintaan Jefrey!"
Setelah mengucapkan itu, Jevian menarik tengkuk Roseline dan mengecup bibirnya dengan sedikit luma tan. Tidak lama. Hanya beberapa detik, namun sanggup menjungkirbalikkan kewarasan Roseline.
Roseline tak sanggup menyembunyikan semburat merah di pipinya. Ia malu. Sangat malu. Ia lantas segera berlari ke toilet untuk menyembunyikan diri. Agar ayah dan anak itu tidak terus mengerjainya.
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...