
"Rain, Rainero," teriak Shenina setibanya di bandara. Sejak mengetahui kalau kemungkinan Rainero menjadi salah satu korban pengeboman di bandara, Shenina tak henti-hentinya menumpahkan air matanya.
Di kediaman Shenina tadi, Delena menceritakan rencananya agar Rainero segera kembali ke Bali untuk menjemput Shenina. Namun kejadian tak terduga pun terjadi, terjadi pengeboman tepat setelah beberapa menit pesawat pribadi Rainero mendarat di landasan.
Sama seperti Shenina, Delena pun tak henti-hentinya meneteskan air matanya. Ia merasa bersalah sekaligus takut memang terjadi sesuatu pada putra tunggalnya itu. Delena hanya ingin mempermudah jalan Rainero memperjuangkan Shenina, tapi tak disangkanya kejadiannya seperti ini.
"Shen, tenang! Kau ingat pesan Mommy sebelum kau ingin ikut ke mari? Kau harus tenang," peringat Delena setibanya di bandara.
Bandara tampak ramai. Jerit tangis terdengar memilukan. Asap tebal disertai kobaran api tampak dari beberapa bangunan dan kendaraan. Dada Delena pun sesak membayangkan bagaimana kondisi Rainero saat ini.
"Bagaimana Shen bisa tenang, Mom? Mom lihat, suasana di sini tampak kacau. Bagaimana dengan nasib Shen, Mom? Bahkan Shen belum memberikan kesempatan untuk Rainero menebus kesalahannya. Shen juga belum memberikan jawaban atas lamarannya. Dan ... bagaimana nasib anak-anak Shen, Mom, kalau terjadi sesuatu pada Rain? Bagaimana Shen bisa menjelaskan pada anak-anak Shen kalau Daddy'nya ... hiks ... hiks ... hiks ... "
Shenina menjerit histeris. Ia benar-benar menyesal terlalu lambat mengambil keputusan. Padahal ia dapat melihat ketulusan dan kesungguhan seorang Rainero.
Rainero merupakan lelaki yang angkuh dan sombong. Ia tidak pernah hidup dalam kesusahan, tapi demi dirinya dan calon anak-anaknya, Rain rela tidur dikontrakan sempit dengan fasilitas yang sangat jauh dari kata mewah.
"Mommy tau, Mommy sangat tahu. Tapi ... ingat, kau sedang mengandung anak-anak Rain. Rain pasti akan sangat sedih saat melihat keadaanmu seperti ini. Mommy tahu, kau sangat takut kehilangan Rain. Mommy pun juga. Mommy merasa bersalah karena ikut campur dalam urusan kalian. Maafkan Mommy, Shen. Semua salah Mommy. Seandainya ... hiks ... hiks ... hiks ... "
Delena tak mampu lagi berkata. Lidahnya terlalu kelu, tenggorokannya pun rasa tercekat.
"Rain, Rainero, RAINERO," teriak Shenina lagi diantara para manusia yang lalu lalang. Banyak orang yang juga mencari anggota keluarganya. Mereka takut anggota keluarganya pun menjadi korban.
"Rainero, dimana kau? Kembali Rain! Kembali! Bukankah kau sedang berjanji akan membahagiakan ku? Bukankah kau sudah berjanji akan kembali untuk meminta jawaban dariku? Bukankah kau sudah berjanji pada calon anak-anak kita kalau kau akan kembali? Rainero, tolong kembalilah! Rainero, aku mohon kembalilah!" jerit tangis memilukan kembali keluar dari bibir Shenina.
Delena tak lagi bisa mencegah ataupun melarang. Dirinya pun sakit membayangkan akan kehilangan putra satu-satunya itu.
Mereka terus berjalan, menerobos kerumunan yang juga sama histerisnya seperti mereka. Apalagi saat melihat korban yang bergelimpangan dengan darah bercucuran dan luka bakar yang mengerikan.
Rasa ketakutan itu kian bergejolak. Meskipun tertatih dan berdesak-desakan, Shenina terus menerobos kerumunan yang makin riuh itu. Suara jerit tangis berlomba dengan suara sirine membuat suasana kian mencekam. Sambil memeluk perutnya, Shenina menerobos kepulan asap. Tak peduli hawa panas api yang terbawa angin menerpa kulitnya, yang ia inginkan sekarang hanyalah menemukan Rainero.
Malam gelap tampak terang-benderang. Semua karena nyala api yang berkobar di beberapa titik. Beberapa mobil pemadam kebakaran telah tiba sejak beberapa saat yang lalu. Mereka terus berjibaku untuk memadamkan kobaran api.
"Maaf nona, Anda dilarang masuk," cegah salah seorang petugas polisi saat melihat Shenina hendak menerobos garis garis polisi yang baru saja hendak dibentang.
"Tidak, aku harus ke dalam. Calon suamiku berada di dalam. Aku mohon, biarkan aku masuk. Aku ingin mencari calon suamiku," tolak Shenina saat saat petugas polisi itu melarangnya menerobos masuk ke dalam lokasi kejadian.
"Maaf nona, tapi ... "
"Rainero, Rainero, kau dimana? Rainero, apa kau tega meninggalkanku seorang diri? Rainero, kembalilah!"
"Shenina," teriak Adisti dan Gladys serta Wayan yang ternyata menyusulnya.
"Disti, Gladys, Rain, Rainero ada di dalam sana. Aku harus masuk. Aku harus menyelamatkannya. Ukhuk ... ukhuk ... ukhuk ... "
Shenina terbatuk-batuk akibat asap yang masuk ke indra penciumannya.
"Shen, sebaiknya kita segera pergi dari sini. Ingat, kau sedang mengandung." Gladys mengingatkan Shenina, tapi Shenina tetap berkeras ingin mencari Rainero.
"Mbak Bule, jangan begini. Aku mohon, Mbak. Ingat, Mbak sedang hamil. Mas Bule pasti sedih kalau terjadi apa-apa sama Mbak Bule dan calon anak-anak kalian. Ayo Mbak, kita pulang ya! Kita serahkan semuanya pada petugas. Berdoa saja, Mas Bule selamat." Adisti berujar terbata-bata. Matanya sudah banjir oleh air mata. Ia pun tak tega melihat keadaan Shenina yang tampak begitu kacau.
Shenina menggeleng tegas dengan wajah yang kusam karena asap yang bercampur air mata, "Rainero. RAINERO, CEPAT MUNCUL KALAU TIDAK AKU AKAN PERGI DENGAN WAYAN. KAU DENGAR!" teriak Shenina menggunakan bahasa Inggris. Ia mengeluarkan suaranya sekencang mungkin berharap sosok itu mendengar dan segera berlari ke arahnya.
Namun, hingga beberapa menit berlalu, sosok itu tak juga muncul. Tubuh Shenina melorot ke tanah. Ia menangis tergugu pilu. Adisti dan Gladys ikut berjongkok dan memeluk Shenina. Pun Delena yang kembali mendekat tertatih ikut memeluk Shenina.
"Rain ... kau dimana?" lirihnya dengan suara serak. Suaranya nyaris hilang karena terus menerus berteriak dan menangis. "Aku mohon, jangan pergi. Jangan tinggalkan aku."
"Aku di sini, Shen. Aku di sini. Aku tidak pergi. Aku tidak akan meninggalkanmu."
Terdengar suara yang begitu familiar di telinga Shenina, tapi Shenina justru menganggap ia sedang berhalusinasi.
"Rain, lihat, aku sepertinya akan segera gila. Bahkan saat ini aku seakan mendengar suaramu," ucapnya dengan nafas tersengal. Ia sesenggukan.
"Kau tidak gila, Shen. Aku benar-benar di sini. Di hadapanmu. Angkat kepalamu dan tatap aku."
Shenina justru menutup kedua telinganya. Ia merasa benar-benar gila karena rasa takut kehilangan yang luar biasa.
Tak lama kemudian, ia merasakan satu persatu orang yang memeluknya tadi mulai melepaskan diri. Lalu ia merasakan seseorang meletakkan telapak tangan di atas punggung tangannya. Digenggamnya tangannya. Genggaman itu sangat hangat dan terasa menenangkan.
"Angkat wajahmu dan pandang aku. Kau tidak bermimpi. Kau pun tidak berhalusinasi. Aku ada di sini. Aku kembali. Aku ... merindukanmu Shenina."
Mendengar suara yang kian jelas di telinga itu membuat Shenina memberanikan diri mengangkat wajahnya hingga mata Shenina akhirnya bersirobok dengan netra seseorang yang membuatnya nyaris gila.
"Rain, kau benar Rainero? Aku ... tidak sedang bermimpi kan?" lirihnya dengan air mata yang terus berderai tanpa henti.
Sosok itu mengangguk dengan air mata yang juga berlinang.
"Ya, aku ... Rainero-mu. Aku ... benar-benar Rainero. Aku kembali. Takkan aku biarkan kau pergi dengan si tukang buku itu," ucapnya berseloroh dengan air mata yang berlinang.
"Rain ... " Pekik Shenina yang langsung saja berhambur memeluk tubuh Rainero. Ia meraung, menumpahkan tangisnya di pelukan Rainero. Rainero pun balas memeluk Shenina. Disekanya air matanya yang terus menetes, tak menyangka Shenina akan begitu mengkhawatirkannya.
"Rain, kau jahat! Kau membuatku khawatir," ucapnya sesenggukan.
"Maaf."
"Kau tau, aku hampir gila karena takut kehilanganmu."
"Maafkan aku."
"Aku membencimu, tapi ... aku takut kehilanganmu," lirihnya pelan.
Tiba-tiba saja, tubuh Shenina lunglai dalam pelukan Rainero. Rainero yang sadar kalau Shenina kehilangan kesadarannya pun seketika panik.
"Shen, Shenina ... Shenina, bangun sayang! Shenina ... " pekik Rainero panik.
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...