
"Eungh ... "
Terdengar suara lenguhan dari bibir Rainero. Ia baru saja membuka matanya setelah semalaman tidur dengan lelap.
Ya, malam ini ia tidur dengan sangat lelap. Sampai-sampai ia tak sadar kalau posisi matahari telah tinggi dan nyaris di atas kepala.
Rainero tersenyum. Percakapannya dengan Shenina semalam benar-benar membuat perasaannya membuncah bahagia. Ia yakin, sebentar lagi Shenina pasti akan luluh dan menerimanya.
"Ah, dia sedang apa ya sekarang?"
Mata Rainero membeliak saat sadar jarum jam sudah menunjukkan pukul 10 lewat.
"Ah, tidurku malam ini benar-benar berkualitas. Apalagi kalau aku bisa tidur dengannya. Ah, tak sabar rasanya setiap sebelum dan sesudah bangun tidur mendapati wajah cantik Shenina," gumamnya sambil membayangkan wajah bantal Shenina yang begitu seksi. Dengan gaun tipisnya membuat kadar kecantikan Shenina naik 180°.
Seketika Rainero kembali teringat malam panas mereka, membuat pusaka yang mati suri bila di hadapan wanita lain justru kini menjulang tinggi bagaikan menara Eiffel.
"Shittt! Baru membayangkannya saja dia sudah bangun, apalagi kalau ... " Rainero terkekeh sendiri dengan pikiran mesyumnya. "Ck ... Tak sabar rasanya bisa melewati malam panas itu lagi, tapi secara sadar," imbuhnya dengan pikiran yang kian berkelana.
Rainero meraba sisi bantalnya, tempat dimana ia meletakkan ponselnya. Ia sangat merindukan Shenina jadi ia ingin menghubunginya sekarang juga.
Setelah ponsel berada di tangan, ia pun segera membuka kunci layar, dan matanya membeliak saat melihat ada hampir seratus panggilan tak terjawab. Yang lebih membuatnya khawatir adalah panggilan ini berasal dari seseorang yang ia tugaskan mengawasi Shenina.
Dilihatnya, ada pesan masuk dari orang itu. Ia pun segera membuka pesan itu dan matanya pun kian terbelalak saat mendapati sebuah foto yang benar-benar tak terduga.
"Mommy ... Ke-kenapa Mommy menemui Shenina? Jangan-jangan ... "
Pikiran buruk memenuhi otak Rainero. Ia pun segera berdiri dan hendak melompat dari atas ranjang, tapi karena kakinya terbelit selimut ia justru terjungkal hingga jatuh ke lantai.
Brugh ...
"Aduh ... " pekik Rainero saat lutut dan dahinya membentur lantai. "Shittt! Selimut sialan!" geram Rainero yang langsung menarik selimut itu dan melemparkannya asal.
"Mom, jangan macam-macam, Mom, Rain mohon!" Rainero benar-benar gelisah. Ia pun segera menekan panggilan pada nomor ponsel sang mama, tapi hingga 10 kali, panggilannya tak kunjung diangkat.
"Aaaargh ... " pekiknya frustasi. Ia pun mencoba menghubungi Shenina, tapi ternyata nomor perempuan itu tidak aktif. Begitu pula nomor Gladys dan Adisti membuat Rainero benar-benar gelisah. Dibukanya lagi foto-foto yang dikirimkan orangnya itu. Rainero seketika panik saat mendapati foto ibunya keluar dari kontrakan Shenina dengan wajah Shenina yang tampak sembab.
"Tidak, tidak, bagaimana kalau Shenina pergi lagi? Tidak. Ini tidak bisa dibiarkan," gumam Rainero gelisah. Rasa takut kembali terpisahkan dengan Shenina dan calon buah hatinya membuat Rainero benar-benar ketakutan. Ia kembali mencoba menghubungi ibunya, tetapi tetap saja panggilan itu tak kunjung diangkat meskipun sudah berpuluh kali ia mencoba menghubungi.
"Mom, please, jangan berbuat macam-macam!" racun Rainero frustasi.
Rainero lantas segera menghubungi Axton, "Axton, siapkan jet pribadi kita sekarang juga. Satu jam lagi aku akan terbang ke Bali. Cepat!"
"Heh, are you crazy? Dua jam lagi kita akan melakukan meeting dengan ... "
"Tolong kau handle semua urusan di sini! Ini masalah hidup dan mati ku. Terlambat sedikit saja aku bisa mati," pekik Rainero dengan jantung yang terpompa bertalu-talu.
"Hei, what's wrong? Apa yang terjadi di Bali? Shenina tidak apa-apa kan?"
"Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang. Cepat kerjakan apa yang barusan aku perintahkan. Aku akan segera bersiap," pungkas Rainero yang langsung menutup panggilan itu.
Rainero pun gegas masuk ke kamar mandi. Tak sampai 10 menit, ia sudah keluar sambil mengelap tubuh basahnya yang tanpa penutup itu dengan handuk.
Rainero benar-benar terburu-buru. Ia benar-benar takut, Shenina pergi meninggalkannya.
Sementara itu, di dalam ruangannya, Axton tampak tersenyum lebar. Ia pun langsung menghubungi nomor seseorang yang beberapa hari yang lalu meminta informasi mengenai sesuatu yang seharusnya ia rahasiakan. Setelah panggilan tersambung, ia pun segera berbicara.
"Halo Axton, ada kabar apa?"
"Halo Aunty Delena, aku punya kabar baik."
Ya, yang dihubungi Axton adalah Delena. Delena awalnya berusaha mencari informasi mengenai foto hasil USG itu seorang diri, tapi setelah 5 hari mencari tahu, Delena tak kunjung mendapatkan informasi apapun.
"Oh ya, kabar apakah itu? Apakah rencana kita berjalan sesuai rencana?"
"Sesuai perkiraan Aunty, satu jam lagi putra kesayangan Aunty akan segera terbang ke Indonesia, bersiaplah," tukasnya yang dibalas kekehan.
Sementara itu, di Indonesia, tepatnya di kota yang terkenal akan keindahannya itu, tampak Shenina ditemani Gladys dan Adisti jalan-jalan ke taman kota. Hari ini sekolah pulang lebih awal jadi Shenina hahya berjualan setengah hari saja.
"Mbak Bule, mau jajan cilok nggak?" tawar Adisti.
"Mau, mau. Yang pedas ya!" ucap Shenina sambil mengeluarkan uang dari dalam dompetnya. Saat akan mengeluarkan uang, tiba-tiba Adisti melihat kartu berwarna hitam membuat Adisti memekik.
"Huaaaa, mbak Buleeee punya kartu ini, wow banyak duit dong Mbak Bule," serunya heboh.
Gladys yang sedang memakan kerak telor pun menoleh dan membelalakkan matanya, "wah, mantap banget tuh! Mau shopping apapun bisa itu, nggak nyangka aku kalau kau sekaya itu Shen?"
"Hah? Ini ... " Shenina mengeluarkan kartu yang membuat kedua temannya itu heboh, "ini dikasi Rain. Aku udah nolak, tapi diam-diam dia tinggalkan di meja," ucapnya membuat Gladys dan Adisti saling menoleh.
"Wow, Mas Bule emang luar biasa itu! Mommy Mas Bule pun udah kasi lampu hijau, kayaknya sebentar lagi ... "
"Sebentar Dis, aku mau ke sana dulu. Ini uang buat beli ciloknya." Shenina segera memberikan selembar uang berwarna biru pada Adisti. Kemudian ia segera beranjak entah kemana. Adisti yang teringat ingin membeli cilok pun segera berlari menuju penjual cilok yang sudah mau pergi.
"Mang, beli ciloknyo!" pekik Adisti.
Sementara itu, Shenina sedang menuju seorang kakek-kakek yang tampak terengah-engah. Bajunya tampak berantakan dengan peluh yang membasahi wajahnya. Karena paras sang kakek berwajah bule, Shenina pun menegurnya dengan bahasa Inggris.
"Ada yang bisa saya bantu, kek?" tanya Shenina membuat pria tua itu menoleh.
"Kakek barusan dicopet. Tas kakek berisi identitas, ponsel, dan dompet semua ada di sana. Hah, bagaimana kakek bisa pulang kalau begini? Kau ... turis juga?"
Shenina menggeleng, "aku sementara tinggal di sini. Memang kakek pulang kemana? Nanti saya pesankan taksi. Eh, lutut kakek berdarah? Ayo kek, kita kesana dulu. Lukanya harus kita bersihkan dulu baru pulang. Nanti bisa infeksi."
Sang kakek menoleh ke arah kakinya dan terkejut. Tadi ia tidak sadar kalau kakinya terluka karena terjatuh saat hendak mempertahankan tasnya.
"Astaga, kakek baru sadar! Tapi ... apa itu tidak merepotkan?"
Shenina tersenyum lembut, "tidak kok kek. Ayo, kita duduk di sana!"
Sang kakek pun menurut. Shenina pun meminta izin membeli antiseptik di toko obat yang berada tak jauh dari sana. Awalnya sang kakek kembali menolak, apalagi dengan kondisi Shenina yang tengah hamil. Tapi Shenina tetap berkeras. Ia meminta Gladys menemani sang kakek sementara ia membeli antiseptik dan kapas. Tak butuh waktu lama, Shenina pun kembali lagi dan segera mengobati kaki kakek itu.
"Kau bukan hanya cantik, tapi juga baik hati," puji sang kakek setelah Shenina selesai mengobati luka di lutut sang kakek. Shenina hanya tersenyum tipis menanggapinya. Diliriknya perut buncit Shenina, "seandainya kau masih single, dengan senang hati kakek akan menjadikanmu cucu mantu kakek. Kakek punya cucu yang sangat tampan, tapi sayang dia belum juga menikah," imbuhnya lagi.
"Mungkin jodohnya belum datang, Kek. Aku yakin, cucu kakek akan segera menemukan tambatan hati yang tepat," ujar Shenina. Sang kakek mengulas senyum. Kemudian Shenina segera memesankan taksi untuk mengantarkan kakek itu ke hotel dimana ia tinggal.
"Apa perlu kami ikut mengantar, Kek?"
"Ah, tidak perlu. Sudah dibantu seperti ini saja, kakek sudah sangat berterima kasih. Sayang ponsel kakek hilang, kalau tidak, kakek bisa meminta nomor teleponmu. Kau juga tidak memiliki kartu nama."
"Semoga kita bisa berjumpa lagi di lain kali, Kek."
"Semoga saja. Semoga umur kakek panjang dan bisa bertemu denganmu lagi."
"Tapi Kek, bagaimana dengan identitas kakek? Visa dan passport kakek? Kalau kakek mau, kami bersedia membantu kakek mengurusnya."
"Tidak perlu. Kakek bisa sendiri. Nanti kakek akan meminta tolong orang yang kakek kenal. Terima kasih atas bantuannya. Tanpa kalian, kakek pasti akan kesulitan untuk pulang."
Taksi yang dipesan Shenina pun tiba. Kakek itupun segera masuk ke dalam taksi setelah mengucapkan terima kasih. Ia juga melambaikan tangan sebelum taksi itu benar-benar menghilang dari hadapan Shenina, Gladys, dan Adisti.
"Kita pulang yuk, Mbak. Kita makan ciloknya di rumah saja." Shenina mengangguk. Mereka pun segera kembali ke kontrakan.