Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 145 (S2 Part 14)


Seminggu telah berlalu sejak kepergian mendiang ayah Rhea dan selama seminggu itu pula, Theo tidur di kamar sang istri. Namun biarpun satu kamar, mereka tidak tidur di satu ranjang. Sebaliknya, Theo memilih tidur di sofa yang ada di kamar tersebut. Begitu juga saat mereka bermalam di rumah mendiang kakek dan nenek Rhea dari sebelah sang ibu. Mereka tak ingin menciptakan asumsi-asumsi keretakan rumah tangga mereka yang mana akan berdampak buruk bagi kesehatan ibu Rhea. Biarlah permasalahan mereka, mereka sendiri yang tahu. Mereka tak ingin permasalahan rumah tangga mereka justru menjadi beban bagi para orang tua.


Bila saat di kediaman Rhea dan orang tua July Rhea dan Theo tidur dalam satu kamar, maka sekembalinya mereka ke apartemen, mereka kembali tidur sendiri-sendiri. Seperti saat ini, Rhea tengah berbaring sambil memeluk bantal guling. Sorot matanya terpaku pada langit-langit kamar. Sekelebat ingatan bagaimana mereka menghabiskan malam berdua dengan saling membisu membuat Rhea terkekeh miris.


Meskipun Theo sudah berupaya bersikap lebih perhatian padanya, namun Rhea masih merasa kurang. Ia ingin sekali menjadi pasangan suami istri sebenarnya, tapi ... Sepertinya cukup sulit. Apalagi kalau Theo masih saja terbelenggu pada masa lalunya.


Rhea jadi terkenang saat ia berada di rumah orang tuanya.


"Rhe, aku membawakan mu makan malam. Sejak siang kau belum makan sama sekali. Kau makan ya!" ujar Theo yang berusaha lebih perhatian pada Rhea.


Itu adalah hari pertama kepergian sang ayah, pasti hari itu merupakan hari terberat bagi perempuan itu. Theo pun berusaha lebih perhatian. Ia tak ingin kondisi kesehatan Rhea makin memburuk jadi sebisa mungkin ia selalu menemaninya. Hati Rhea yang sedih jadi sedikit menghangat dengan perlakuan Theo tersebut.


"Tapi aku sedang tidak napsu makan," sahut Rhea dengan wajah tertunduk. Ya, setelah kepergian ayahnya, Rhea benar-benar terpukul dan hal tersebut berdampak pada selera makannya yang menghilang. Rasa lapar seakan lenyap. Yang ada hanyalah penyesalan karena tidak berada di sisi sang ayah di saat-saat terakhirnya.


"Aku paham apa yang kau rasakan, tapi ingat, kau sedang mengandung saat ini. Setidaknya kau pikirkan dia yang sedang tumbuh di dalam rahimmu. Dia butuh nutrisi untuk tumbuh kembangnya. Dan semua itu bisa ia dapatkan dari makanan yang kau makan. Apa kau tega membuatnya kelaparan di dalam sana?" tutur Theo lembut.


Rhea terhenyak. Bagaimana ia lupa kalau ia sedang mengandung saat ini. Sesedih-sedihnya dirinya, tidak seharusnya ia lupa akan fakta tersebut.


Reflek Rhea mengangkat tangannya lalu mengusap permukaan perutnya, "maafkan Mommy ya, Sayang. Maaf karena Mommy hampir saja mengabaikan mu," ujarnya lembut.


Theo tanpa sadar tersenyum. Rhea sempat melihat itu meskipun hanya beberapa detik saja sebab setelahnya Theo kembali mengubah mimik wajahnya menjadi datar.


Theo membantu menyiapkan makan malam Rhea. Bahkan beberapa hari berikutnya pun Theo tetap membantu. Apalagi keadaan Rhea sempat drop akibat terlalu bersedih.


Saat malam pun, meskipun Theo bungkam tak banyak bicara, tapi Theo selalu berusaha membantu Rhea dalam keadaan apapun. Bahkan saat Rhea terbangun ingin ke kamar kecil pun, seakan ada alarm di indra pendengaran Theo, laki-laki itu langsung bangun untuk menemaninya. Alasannya karena dirinya masih terlalu lemah. Ia khawatir bagaimana kalau Rhea terpeleset saat berada di kamar mandi. Perhatian sederhana, tapi mampu melambungkan asa Rhea padanya. Hal tersebut terang saja membuat bunga-bunga cinta Rhea makin merekah.


Beberapa hari berselang, sesuai pesan Emery pada Axton yang ingin sekali bertemu dengan Shenina, akhirnya Rainero pun mengatur waktu dan tempat untuk keduanya bertemu. Rainero yang selalu saja waspada pada orang-orang dari masa lalu Shenina terang saja selalu menugaskan orang untuk berjaga-jaga di sekitar Shenina.


Tap tap tap


Shenina masuk ke sebuah restoran tempat di mana Shenina akan bertemu dengan Emery. Saat memasuki restoran, Emery yang sudah datang lebih dahulu lantas berdiri.


Dengan anggun, Shenina berjalan menuju Emery yang telah menunggunya.


"Maaf Nyonya, saya sedikit terlambat," ujar Shenina lembut.


"Tidak," Emery menggeleng cepat, "kau sama sekali tidak terlambat. Justru aku yang datang terlalu cepat. Oh ya, silahkan duduk." Emery lantas mempersilahkan Shenina untuk duduk.


"Terima kasih."


Emery mengangguk. Matanya terkesima. Semakin hari Shenina semakin cantik. Ia pun selalu saja bertutur kata lembut. Kalau mau, sebenarnya bisa saja Shenina membalas perbuatannya dulu. Bahkan Shenina bisa dengan mudah menghina dan mencaci maki dirinya seperti yang pernah ia lakukan pada perempuan itu.


"Kau mau pesan apa?" tawar Emery, tapi Shenina menggeleng.


"Tidak perlu, Nyonya. Saya sudah makan tadi."


"Kalau minum?"


Shenina juga menggeleng, "tidak. Terima kasih. Saya tidak bisa lama-lama. Maklum, anak-anak saya masih sangat kecil jadi saya tidak bisa berlama-lama di luar. Saya harus segera pulang setelah ini," tutur Shenina menolak secara halus. Meskipun apa yang ia katakan benar, tapi ia memang enggan menerima traktiran dari ibu mantan kekasihnya itu.


Emery yang telah memesan minum lebih dulu hanya bisa tersenyum kecut. Bahkan untuk berlama-lama dengannya saja, Shenina merasa enggan.


"To the point saja, untuk apa Nyonya mengajak saya bertemu?" tanpa basa-basi, Shenina langsung menanyakan ke pokok tujuan mereka bertemu.


Emery menunduk sebentar sambil menghela nafas panjang.


"Shenina, saya ingin bertemu denganmu karena saya ingin meminta maaf padamu. Saya sadar, apa yang pernah aku lakukan padamu sungguh sangat keterlaluan. Saya terlalu sombong dan menilai rendah dirimu. Saya juga membuat hubunganmu dan Theo berakhir dengan tidak baik. Dan kini saya sudah menuai perbuatan saya. Saya memaksa Theo menikahi perempuan pilihan saya. Saya memilih perempuan itu dengan alasan ia jauh lebih kaya dan pantas bersanding dengan Theo, tapi nyatanya dugaan saya salah. Secara tak sadar saya sudah menghancurkan hidup dua orang manusia. Akibat sikap angkuhku, baik Theo maupun Rhea hidup tidak bahagia. Bahkan kekayaan Rhea yang pernah saya bangga-banggakan kini habis tak bersisa. Saya sadar, mungkin ini merupakan buah dari keangkuhan saya padamu. Saya yang waktu itu dengan sombong menganggap rendah dirimu, justru kini menuai akibatnya. Maka dari itu, saya mohon, maafkan aku. Maafkan kesalahanku. Maafkan segala keangkuhanku. Saya mohon ... "


Emery menangis terisak-isak. Ia benar-benar menyesali perbuatannya. Ia ingin sekali melihat putranya bahagia. Ia harap dengan meminta maaf dapat menjadi awal kebahagiaan putranya. Ia ingin melihat putranya bahagia. Entah bersama Rhea atau siapapun kelak, ia ingin Theo bahagia. Namun akan lebih membahagiakan kalau Theo bisa mempertahankan rumah tangganya.


Shenina terdiam. Ia masih bungkam. Pikirannya berkecamuk, benarkah ibu dari mantan kekasihnya itu benar-benar menyesali perbuatannya.


Namun melihat sorot mata sendu penuh gurat penyesalan di mata Emery membuat Shenina yakin kalau ia sudah benar-benar menyesali perbuatannya. Bukan karena ada tujuan tertentu.


"Jujur, rasanya sulit dipercaya saat Anda meminta maaf seperti ini. Rasanya ... seperti tidak mungkin. Tapi Nyonya tenang saja, sebelum Anda meminta maaf pun, saya sudah memaafkan Anda. Saya paham, Anda melakukan itu untuk kebahagiaan putra Anda. Mungkin ibu lain pun akan melakukan hal yang sama bila berada di posisi Anda."


Mendengar penuturan Shenina, membuat kaca-kaca bening di netra Emery sontak jatuh berderai. Ia pun gegas berdiri dan memeluk Shenina.


Orang-orang yang ditugaskan Rainero menjaga Shenina pun sontak berdiri hendak menarik Emery dari Shenina, tapi Shenina mencegah dengan mengangkat tangannya. Ia juga memberikan isyarat dengan mata kalau ia baik-baik saja. Para bodyguard itu pun segera mundur dan kembali ke tempatnya.


"Terima kasih, Shenina. Terima kasih. Kau memang baik hati. Wajar saja putraku begitu sulit melupakan mu sebab kau bukan hanya cantik, tapi juga begitu baik dan pemaaf."


Emery bertutur dengan suara bergetar.


Emery terlalu larut akan permohonan maafnya pada Shenina hingga tidak sadar kalau ada sepasang mata yang menatap Emery dan Shenina dengan sorot mata sendu. Dengan hati yang patah, ia pun bergegas pergi dari sana.


....***...


.....HAPPY READING 🥰🥰🥰...