Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 123


Tak perlu menunggu matahari meninggi, pagi-pagi sekali, bahkan langit masih tampak gelap, beberapa mobil polisi sudah berjajar rapi di sepanjang jalan perumahan elit dimana keluarga Austin berada.


Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamar Austin. Ketukan itu terdengar tanpa henti membuat Austin dan Christina mengumpat kesal.


"Siapa sih? Kenapa pagi buta seperti ini sudah mengganggu saja? Mau cari mati apa mereka?" geram Christina kesal.


"Kau lihat sana. Tidak biasanya ada yang mengetuk kamar sepagi ini. Mungkin saja ada hal genting yang ingin mereka sampaikan," titah Austin yang masih berbaring di tempat tidurnya.


Christina pun segera bangkit dengan wajah bersungut-sungut kesal. Lalu ia membuka pintu dengan kasar membuat wanita paruh baya yang mengetuk pintu kamarnya tersentak.


"Kamu apa-apaan sih? Kau tahu kan ini jam berapa? Baru jam 5 pagi. Kenapa kau mengganggu tidur kami, hah pembantu sialan!" sentak Christina kesal.


Pelayan keluarga Austin itu sampai menelan ludahnya sendiri. Dengan sedikit ketakutan, ia pun berujar, "ma-maaf Nyonya. Di bawah ... Di bawah ada ... "


"Ada apa?" bentak Christina. "Apa ada yang mencari kami? Katakan saja kami masih tidur. Ini baru jam berapa. Masa' sepagi ini sudah mau bertamu. Dasar manusia tidak punya otak," imbuhnya masih dengan suara meninggi.


"Bukan, Nya. Mereka bukan tamu. Mereka ... Polisi."


"Hah? Apa aku tak salah dengar?" seru Christina dengan dahi berkerut.


"Apa katamu tadi? Polisi? Mengapa polisi datang kemari?" tanya Austin yang langsung menghampiri sang pelayan.


Wanita itu menggeleng tidak tahu.


"Saya tidak tahu, tuan. Mereka hanya bilang mau bertemu nyonya Christina. Itu saja."


Mata Austin memicing. Lalu ia menoleh ke arah Christina yang kini tampak gugup.


"Apa yang sudah kau lakukan sebenarnya?" tanya Austin datar.


"Aku ... aku tidak melakukan apapun," kilah Christina khawatir perbuatannya telah terbongkar. Padahal dari ekspresi dan kegugupan perempuan itu, sudah dapat ditebak kalau ada yang perempuan itu rahasiakan.


Tanpa banyak kata, Austin pun segera keluar dari dalam kamar setelah mengenakan pakaiannya. Melihat suaminya yang hendak menemui polisi itupun membuat Christina kian gugup. Ia pun segera mengikuti di belakangnya.


'Sebenarnya apa yang terjadi? Apa laki-laki itu gagal melakukan pekerjaannya? Awas saja kalau ia gagal dan menyeret namaku,' geram Christina dalam hati bercampur khawatir perbuatannya benar-benar terbongkar.


Kini Austin dan Christina telah berada di ruang tamu kediamannya. Tampak beberapa polisi ada yang mengenakan seragamnya dan ada yang hanya mengenakan jaket hitam telah berdiri seakan sudah sangat menunggu kedatangan mereka. Saat melihat Austin dan mereka pun segera bersiap. Austin sampai bingung sendiri.


"Ada apa ini Mom, Dad?" tanya Jevian yang sudah ikut turun ke ruang tamu kediaman keluarganya setelah mendengar kasak-kusuk dari depan rumah hingga ke ruang tamu.


Austin menggeleng sebab ia pun memang tidak tahu apapun. Sementara Christina tampak gugup meskipun ia ikut menggeleng.


"Maaf tuan-tuan, ada apa ya datang ke kediaman kami?" tanya Austin pada salah seorang petugas kepolisian yang sepertinya pemimpin dari gerombolan polisi tersebut.


"Maaf pak Austin mengganggu pagi-pagi sekali seperti ini. Kami hanya menjalankan perintah penangkapan nyonya Christina atas kasus percobaan pembunuhan terhadap Nona Adisti," ujar polisi tersebut.


"Mom, benar apa yang dikatakan polisi barusan?" tanya Austin dengan tatapan tajamnya.


"Mom, jawab! Apa benar Mommy melakukan itu? Mommy ingin membunuh Adisti? Iya?" tanya Jevian dengan sorot mata kecewa.


"Itu ... Itu tidak benar. Ini pasti fitnah. Jangan percaya begitu saja dengan kata-kata mereka. Ini pasti fitnah. Ini pasti hanya jebakan," tolak Christina tak mau disalahkan.


"Tapi bukti-bukti sudah mengarah kepada Anda. Bahkan barusan penculik yang baru sadarkan diri itu langsung memberikan pernyataannya. Meskipun kalian tidak bertemu secara langsung, tapi riwayat panggilan dan pesan terakhir serta bukti transfer bayaran Anda telah berhasil tim kami dapatkan."


Meskipun ponsel penculik itu saat ditemukan dalam keadaan basah, tapi karena masih baru, jadi masih dapat ditangani oleh timnya yang memang ahli di bidangnya. Bahkan riwayat percakapan yang telah dihapus, berhasil mereka pulihkan, berikut dengan bukti transfer pembayaran. Christina berpikir pendek, ia tidak terpikir kalau perbuatannya akan terendus dengan cepat karena kecerobohannya itu. Apalagi Christina menghubungi dengan nomor pribadinya dan mentransfer uang dengan aku bank milik pribadinya sendiri juga. Ia pikir semuanya akan aman-aman saja dan berakhir sesuai keinginannya, tanpa ia tahu, kecerobohannya ini justru memberikan kemudahan bagi pihak Rainero dan kepolisian untuk menyelidikinya.


Austin menatap Christina dengan kecewa. Belum selesai permasalahannya karena ulah istrinya itu yang membuat banyak investor menarik modalnya, lalu kini ia kembali berulah dan ulahnya itu lebih besar dari yang sebelumnya.


Begitu pula dengan Jevian, ia menatap kecewa ibunya. Karena ibunya ia gagal mendapatkan Adisti. Lalu kini ditambah percobaan pembunuhan yang dilakukannya, sudah dapat dipastikan Adisti akan kian menjauh darinya. Bahkan membayangkan untuk menemuinya pun Jevian merasa malu. Ia seakan tak memiliki muka lagi untuk menemui Adisti.


Christina menggeleng cepat, "tidak, Anda pasti salah. Itu bukan saya. Saya tidak pernah memerintahkan seseorang untuk menculik perempuan itu. Ini fitnah. Ini pasti jebakan," pekik Christina tidak terima saat tangannya telah dipasangi borgol dan diseret menuju mobil polisi.


"Anda bisa menjelaskannya nanti di kantor polisi. Anda juga diberikan hak untuk melakukan pembelaan dan mendatangkan pengacara untuk membela Anda," tukas polisi tersebut.


"Dad, Jevian, tolong Mommy. Mommy tidak mau dipenjara. Dan, Jevian, tolong Mommy, Mommy tidak bersalah," teriak Christina lagi. Tapi ayah dan anak itu bergeming di tempatnya. Tak lama kemudian, Austin terduduk sambil memegang dadanya. Kehancuran kini sudah di depan mata. Tak dapat Austin pungkiri, sebentar lagi kehancurannya akan benar-benar tiba. Usahanya yang ia bangun susah payah, sudah dapat ia pastikan sebentar lagi akan hancur tak bersisa. Kini apa lagi yang dapat ia pertahankan. Semuanya telah hancur. Hancur tak bersisa.


"Dad," pekik Jevian saat melihat wajah pucat sang ayah. Bahkan nafasnya sudah naik turun dengan sedikit terputus-putus membuat Jevian benar-benar khawatir. Padahal tadi ia ingin menanyakan keadaan Adisti dengan polisi tersebut, tapi melihat keadaan sang ayah yang tidak baik-baik saja membuatnya benar-benar khawatir dan melupakan niatnya.


"Jev-"


"Dad, bertahanlah. Kita akan ke rumah sakit sekarang!" ujar Jevian yang nyaris putus asa. Jevian pun langsung berteriak meminta bantuan pelayan dan sekuriti agar membantunya membawa sang ayah ke rumah sakit.


Sementara itu, di sebuah kamar serba hijau, tampak seorang perempuan mengerjapkan matanya. Setelah matanya benar-benar terbuka, ia tampak kebingungan sebab ia tidak mengenali tempat itu sama sekali. Namun, seketika ia ingat sesuatu, ia ingat suasana ini pernah ia lihat saat ia menjenguk Shenina yang baru saja melahirkan.


"Owh, akhirnya kau bangun, Sayang. Madre sudah sangat cemas saat mengetahui kau nyaris kehilangan nyawa karena tenggelam," seru seorang wanita paruh baya membuat Adisti mengernyit heran.


Lalu Adisti celingukan ke kanan dan ke kiri. Ia pikir, apa wanita itu tengah berbicara dengan orang lain.


"Hei, kenapa ekspresimu begitu, hm?" tanyanya saat sudah berdiri di samping Adisti.


"Anda ... bicara dengan saya?" tunjuk Adisti pada dirinya sendiri.


"Ya, memangnya siapa lagi? Yang sedang Madre ajak bicara tentu saja kau, calon menantu Madre," ujar wanita paruh baya itu membuat mata Adisti terbelalak.


"Calon ... menantu?"


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...