Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 82


"Eungh ... " terdengar suara lenguhan dari bibir seksi Shenina saat jemari kokoh Rainero semakin aktif menjelajahi setiap jengkal kulit Shenina. Nafas keduanya kian memburu, tapi Rainero belum mau ke puncak permainan. Apalagi ini kali pertama ia menikmati setiap jengkal kulit seorang perempuan. Dan yang paling penting, sang perempuan adalah pujaan hatinya, wanita yang ia cintai, yang kini telah resmi menjadi istrinya.


Ya, pertama, sebab meskipun selama setahun lebih ini ia telah menjadi seorang Cassanova, tapi Rainero tak pernah sekalipun menikmati tubuh seorang perempuan. Menyentuh ataupun disentuh, hal itu tak pernah ia lakukan. Rainero hanya memanfaatkan perempuan-perempuan bayaran itu untuk melampiaskan hasratnya saja. Melalui oral se x, **** ***, ataupun hand job, lalu langsung ke permainan inti. Tak lebih. Ia tidak pernah benar-benar menikmati aktivitas panas tersebut. Bahkan ia tak pernah mencumbu mereka. Hanya dua perempuan yang pernah bercumbu dengan Rainero, yaitu Delianza dan Shenina.


Namun, satu-satunya perempuan yang pernah merasakan sentuhannya hanyalah Shenina. Satu-satunya wanita yang mampu membuatnya mabuk kepayang dan benar-benar menikmati permainan panas ini pun hanyalah Shenina.


Mendengar suara lenguhan itu membuat Rainero kian bersemangat menjelajah tubuh indah Shenina. Bahkan tangan Rainero kini telah berada di salah satu melon import Shenina. Ukurannya benar-benar pas di telapak tangan besar Rainero. Mungkin karena pengaruh kehamilannya membuat ukuran melon import itupun kian besar dan mengkal.


Belum hamil saja, melon import itu sering masuk ke fantasi liarnya, apalagi setelah hamil, membuatnya makin membuatnya gila. Gundukkan yang beberapa hari kemarin hanya bisa ia tatap tanpa menyentuh sedikitpun, kini telah berada dalam genggamannya. Rainero tersenyum lebar, ia pun meremas salah satu melon import itu membuat Shenina mende sah lirih. Alhasil, hasrat Rainero kian terpacu. Lalu ia memasukkan melon import satunya lagi ke dalam mulut. Dihisapnya puncaknya dengan tangan satunya tetap bergerak aktif membuat desa han itu kian menjadi. Bila tadi suaranya terdengar tertahan, maka kali ini Shenina tak dapat menahannya lagi. Semakin keras suara Shenina, semakin bersemangat pula Rainero melakukan aktivitasnya.


"Rain ssshhh ... "


"Hmmm ... " gumam Rainero tanpa melepaskan mulutnya dari salah satu melon kembar itu.


"Axton, apa dia masih ... ahhh ... "


Rainero sedikit mengangkat wajahnya, "dia sudah pergi. Dia akan mengajak kedua temanmu jalan-jalan," jawabnya sebelum kembali meraup si melon import ke dalam mulutnya.


Shenina merasa pening, apalagi saat tangan Rainero yang satunya mulai menyusuri pahanya dengan gerakan seduktif. Kepala Shenina bergerak ke kiri dan ke kanan. Gila. Rasa ini benar-benar membuatnya gila.


Rainero mengangkat wajahnya. Ia tersenyum puas saat melihat ekspresi wajah Shenina yang juga berkabut gairah sama seperti dirinya.


Mata Shenina terpejam. Rangsangan yang Rainero berikan padanya benar-benar terlalu hebat. Apalagi saat tangan yang tadi menyusuri pahanya telah tiba di depan gerbang gua kenikmatan miliknya. Rainero memainkan biji kacang kedelai Shenina dengan ujung jarinya. Nafas Shenina kian memburu, dadanya naik turun, ia sampai menelan ludahnya berkali-kali saat gelombang kenikmatan itu menerjang menjungkirbalikkan kewarasannya.


"Rain uh ... hah ... ah ... "


Melihat bibir Shenina yang terbuka tertutup membuat Rainero tak bisa menahan keinginannya untuk mencumbu kembali bibir itu. Rainero pun segera menyatukan bibirnya dengan bibir Shenina. Dipagutnya bibir itu dengan gerakan sedikit kasar, tapi tidak menyakiti. Rainero menerobos celah bibir Shenina dan menyesap isinya dengan rakus. Shenina tak tinggal diam, ia pun mengalungkan lengannya di leher Rainero dan mulai membalas setiap luma tan Rainero. Kini lidah keduanya saling bertaut. Jemari yang bermain di bawah pun bergerak kian liar dengan menerobos masuk ke dalam gua kehangatan Shenina.


"Eeeeunggghhh ... " Shenina melenguh tanpa melepaskan tautan bibir mereka saat jari telunjuk Rainero menerobos masuk gua kenikmatannya. Jari itu bergerak maju mundur, keluar masuk, membuat Shenina kian menggila dengan hasrat yang kian menggebu.


"Rain ... aku ... "


Rainero menarik wajahnya, menatap netra Shenina yang telah tertutup kabut gairah sepenuhnya.


"Katakan, Sweety! Katakan! Apa yang kau inginkan?" pancing Rainero tanpa menghentikan gerakan jemarinya di bawah sana.


"Fuc king me, please!" melas Shenina yang tak kuasa menahan hasratnya. Rainero menyeringai, tanpa menjawab, ia pun segera menarik jarinya dan memasukkannya ke dalam mulut, mengecupnya tanpa merasa jijik sedikitpun.


Lalu ia segera memposisikan dirinya di atas Shenina tanpa melepaskan tatapannya sedikitpun. Ia ingin menikmati setiap ekspresi Shenina saat bercinta dengannya. Apalagi ini percintaan pertama mereka secara sadar.


"Apa kau siap?" tanya Rainero memastikan.


"Kau tak perlu khawatir, Sweety. Aku akan melakukannya dengan pelan-pelan dan hati-hati," sahutnya sambil menekan Rainoconda ke dalam gua secara perlahan. Shenina mendesis saat benda tumpul itu mencoba meringsek masuk.


Rainero ikut mendesis saat kepala Rainocondanya seakan terjepit karena gua yang terlalu sempit.


"Aaargh ... ini terlalu sempit, Sweety, tapi ... nikmat," erangnya sambil terus berusaha mendorong Rainocondanya.


Setelah beberapa menit berusaha, akhirnya Rainoconda berhasil terbenam di dalam gua kenikmatan Shenina. Rainero benar-benar bahagia. Rasanya benar-benar luar biasa. Sangat berbeda dengan ladang-ladang wanita bayaran yang pernah ia singgahi.


Setelah terdiam beberapa saat, Rainero mulai menggerakkan pinggulnya. Diraupnya kembali bibir Shenina. Kedua tangannya pun tak tinggal diam, bergerak aktif di kedua melon kembar import Shenina. Suara lenguhan dan desa han jadi senandung terindah kala itu. Keduanya terus memadu kasih. Tak peduli matahari mulai meninggi dan perut kosong belum terisi, mereka terus dan terus berbagi kenikmatan hingga akhirnya mereka pun berhasil tiba ke puncak kenikmatan yang tiada tara.


...***...


Sementara Shenina dan Rainero sedang sibuk berbagi peluh dan kenikmatan, tampak seorang laki-laki dengan wajah putus asanya masuk ke apartemen. Sang wanita yang kesal melihat sang laki-laki yang lagi-lagi kembali ke rumah di hari menjelang siang dengan penampilan kacau balau pun segera menghadangnya. Belum lagi jejak-jejak kemerahan di leher Theo membuat Rea benar-benar sakit hati.


"Theo, sampai kapan kau akan terus begini?" lirih Rea.


Theo memicing tajam, "bukan urusanmu," ketus Theo. Lalu kembali melangkahkan kakinya menuju kamarnya.


"Bukan urusanku kau bilang? Apa kau lupa, aku istrimu, Theo. Istrimu dan segala hal yang menyangkut dirimu juga menjadi urusanku," balas Rea sedikit memekik.


"Lantas ... kau mau apa, hm? Kau mau pergi? Silahkan! Pintu apartemen ini selalu terbuka untuk kepergianmu," jawabnya acuh tak acuh.


"Theo, apa kau tak pernah sedikitpun memikirkan diriku? Perasaanku? Belum cukupkah kesabaranku selama ini menghadapi mu? Aku istrimu, Theo, ISTRIMU. Tolong hargai aku! Buka hatimu untukku. Shenina telah menikah. Kau tidak mungkin lagi bisa kembali dengannya, kau dengar!" pekik Rea.


Mendengar Rea menyebut nama Shenina membuat wajah Theo menggelap. Lalu ia berbalik mendekati Rea dan mencengkeram rahangnya.


"Jangan pernah menyebut nama Shenina dengan mulut busuk mu itu!" desisnya membuat Rea terperanjat tak percaya Theo akan bersikap kasar padanya.


"Siapa yang busuk? Aku tidak busuk. Justru kau yang busuk. Lihat ini ... " Rea berusaha mengusir rasa takutnya dan memberanikan diri menunjuk leher Theo. "Kau memiliki istri, tapi mau justru bercinta dengan perempuan lain, menjijikan," desis Rea. Melihat jejak-jejak kemerahan itu membuat dada Rea terbakar. Ia yang merupakan istri Theo saja belum pernah laki-laki itu sentuh, bagaimana ia tidak emosi.


Theo tiba-tiba menyeringai, "jadi karena ini? Kau pun ingin seperti mereka, begitu? Menjadi jalaang ku? Baiklah kalau itu mau mu, aku akan mengabulkannya."


Rea terperanjat saat Theo tiba-tiba saja menyeretnya masuk ke dalam kamar dan membantingnya begitu saja ke atas kasur. Lalu dengan kasar, Theo menarik pakaian Rea. Rea memekik ketakutan, tapi Theo yang sedang dikuasai napsu iblis tidak memedulikan itu. Ia menurunkan resleting celananya dan memaksakan dirinya ke dalam Rea. Rea menjerit kesakitan, tapi Theo tak kunjung menghentikan kegiatannya. Rea sakit hati, ia terluka, ia kecewa.


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...