Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 55


Mata Shenina mengerjap. Rainero yang sejak tadi masih setia menemani Shenina pun tampak sumringah.


"Shen," panggil Rainero pelan. Mendengar suara Rainero sontak saja Shenina membuka matanya lebar.


"Rain, ini ... benar-benar kamu? Aku ... tidak sedang bermimpi kan?" gumamnya dengan bibir bergetar.


Rainero mengangguk cepat dan menyatukan kedua telapak tangan Shenina ke dalam genggamannya.


"Kau benar, Shen. Ini aku, Rain-mu. Daddy dari anak-anakmu," ucap Rainero yang telah berkaca-kaca. Bagaimana ia tidak terharu, di saat Shenina baru saja membuka matanya, yang ia tanyakan adalah dirinya.


Tiba-tiba saja, air mata Shenina mengalir. Kemudian ia mengulurkan tangannya ke arah Rainero, "peluk aku! Buktikan kalau aku tidak sedang bermimpi!" tukasnya tergugu.


Tak mau menyiakan kesempatan, Rainero pun langsung menarik tubuh Shenina ke dalam pelukannya. Dipeluknya Erta tubuh Shenina sambil melabuhkan kecupan di puncak kepala Shenina.


"Aku tidak bermimpi. Kau nyata. Kau benar-benar nyata."


Shenina menumpahkan air matanya. Ia merasa bersyukur karena masih diberikan kesempatan untuk melihat Rainero lagi.


"Kau tidak bermimpi. Ini nyata. Ini benar-benar aku. Apa kau masih ragu? Bila iya, aku akan membuktikannya dengan caraku," ucapnya membuat Shenina mendongakkan kepalanya.


Rainero lantas mengusap air mata di pipi Shenina dengan ibu jarinya sambil menatap lekat Shenina.


"Aku akan membuktikannya kalau kau tidak bermimpi. Aku nyata. Aku benar-benar berada di sisimu saat ini."


Shenina terdiam. Ia masih sedikit linglung dengan situasinya saat ini, hingga tiba-tiba saja Rainero mendekatkan wajahnya kemudian menyapu bibir Shenina dengan bibirnya membuat Shenina membelalakkan matanya.


Rainero memagut bibir Shenina dengan lembut. Shenina yang masih linglung hanya bisa mematung seraya mencerna apa yang sedang terjadi.


"Astaga, maafkan Mommy! Mommy datang di waktu yang tidak tepat. Silahkan lanjutkan acara kangen-kangenannya," seru Delena yang segera menutup kembali pintu kamar rawat Shenina.


Shenina yang tersadar, segera mendorong dada Rainero hingga ciuman itupun terlepas. Wajahnya memerah karena malu. Ia memalingkan wajahnya ke samping, tak ingin Rainero melihatnya. Akhirnya ia benar-benar sadar kalau ia tidak sedang bermimpi.


Rainero menyeka bibirnya yang basah. Ia tersenyum sumringah. Sudah sejak lama ia memimpikan dapat mencium bibir merah Shenina. Akhirnya, ia bisa benar-benar bisa mencium bibir Shenina secara langsung. Bukan hanya di mimpi seperti biasanya.


Tak terkira rasa bahagia yang membuncah di dada Rainero. Apalagi saat melihat wajah pucat itu tersipu, membuat perasaan Rainero meletup-letup.


"Shen," panggil Rainero yang telah mendudukkan bokongnya di samping Shenina.


"Emmm ... " gumam Shenina. Ia bingung harus mengatakan apa saat ini. Dia benar-benar malu.


"Mau minum?" tawar Rainero. Ia baru ingat, Shenina baru saja bangun, pasti ia merasa haus. Apalagi setelah menangis kencang dan sibuk menjeritkan namanya di antara kerumunan orang-orang.


Shenina mengangguk. Lalu Rainero mengambil air putih yang telah sejak tadi ia sediakan dan memberikannya pada Shenina. Shenina menerimanya dan meminumnya secara perlahan.


Setelah selesai, Shenina memberikan lagi gelas itu pada Rainero. Rainero pun meletakkannya di atas nakas.


Shenina yang masih merasa malu dengan apa yang ia alami tadi pun kembali memalingkan wajahnya. Tiba-tiba saja ia merasakan sepasang lengan mendekapnya dari belakang. Tangan siapa lagi kalau bukan tangan Rainero. Sekuat tenaga Shenina menahan debaran di dadanya, tapi yang terjadi ia justru makin menegang saat Rainero meletakkan dagunya di atas pundaknya.


"Rain," cicit Shenina. "Nanti ... bagaimana kalau Mommy masuk lagi ke mari?" imbuhnya gugup.


"Mommy?" Mata Rainero melebar dengan senyum merekah bahagia. "Sepertinya ... aku akan segera mendapatkan jawaban yang sangat istimewa, benarkah?" goda Rainero sambil mengeratkan pelukannya.


"Rain, lepas. Nanti Mommy ... "


"Biarkan saja. Mommy pasti suka melihat kita seperti ini. Kau dengar kan apa kata Mommy tadi, silahkan lanjutkan. Atau ... kau mau kita melanjutkan yang tadi. Jujur, aku belum puas. Bibirku masih kering dan ingin kembali dibasahi oleh salivamu," bisiknya di telinga Shenina membuat perempuan itu meremang.


Kesal karena ulah Rainero, ia pun mencubit lengan laki-laki itu yang memeluknya erat.


"Ah ... "


Mata Shenina membulat saat Rainero justru mendesah saat ia cubit. Shenina pun segera menutup mulut Rainero dengan telapak tangannya sambil melotot.


"Rain," desis Shenina yang justru membuat Rainero tergelak kencang. Ia sengaja menggoda Shenina dan ingin melihat ekspresinya.


"Gini ya kalau berhadapan dengan laki-laki berotak mesyum, dicubit bukannya menjerit sakit, malah mendesah. Dasar pervert!" sungut Shenina yang justru membuat Rainero makin tergelak.


"Aku begini hanya sama kamu lho."


"Nggak percaya. Lupa sama gelar kamu, sang cassanova," cibir Shenina membuat Rainero tersenyum lebar.


"Tidak lupa, tapi sungguh, aku begini hanya sama kamu. Mana pernah aku sok manis, apalagi berkata-kata seperti ini. Adanya langsung ke tujuan utama. Itupun tanpa pemanasan apalagi cium-ciuman. Aku tak suka ciuman soalnya."


"Aku serius, Shen."


"Lalu dengan nona Delianza?" cibir Shenina membuat wajah ceria Rainero seketika redup. Shenina merasa bersalah, tapi untuk menarik kata-katanya lagi rasanya tak mungkin.


Tok tok tok ...


Suara ketukan membuyarkan kebungkaman mereka.


Rainero pun segera turun dari atas ranjang dan membuka pintu.


"Mommy."


Delena melongokan kepalanya dari balik pintu. Melihat Shenina menatapnya, Delena pun segera masuk.


"Shen, bagaimana keadaanmu?" tanya Delena masih mencemaskan keadaan Shenina.


Sebenarnya Shenina masih merasa malu, tapi ia berusaha untuk bersikap biasa saja.


"Shen sudah merasa baikan kok, Mom."


"Syukurlah. Kau tahu, Mommy dan Rain tadi benar-benar mengkhawatirkan mu. Mommy senang kau sudah baikan. Tapi selama tiga hari ini, kau masih harus menjalani perawatan di sini, tidak apa-apa kan?"


Shenina pun mengangguk. Ia paham, ini bukan hanya untuk kebaikannya, tapi juga buah hatinya.


"Jadi bagaimana ini, kalian sudah membahas kelanjutan hubungan kalian? Tidak mungkin kan kalian mau pacaran dulu?" ucap Delena membuat Rainero dan Shenina saling menoleh.


"Tentu tidak, Mom. Kalau bisa, aku ingin menikahi Shenina sesegera mungkin," ucap Rainero tegas. "Bagaimana Shen? Kau setuju kan? Bukankah katamu di bandara tadi kau sudah mau memberikan jawabanmu?" Rainero mengerlingkan sebelah matanya. Mata Shenina melotot saat sadar kalau Rainero ternyata mendengar ucapannya.


"Iya, Shen. Mommy dengar dengan telinga Mommy sendiri kalau kau mengatakan ... " Delena pun menukikkan alisnya membuat semburat merah terbit di pipi Shenina. Ia ingat, memang ia mengucapkan itu. Itu karena ia benar-benar takut kehilangan Rainero. Membayangkan kehilangan Rainero, rasanya Shenina kehilangan bumi untuk berpijak. Membayangkan anak-anaknya tumbuh tanpa kasih sayang keluarga yang lengkap, cukup membuatnya frustasi.


Shenina hanyalah seorang perempuan yang memiliki impian indah memiliki sebuah keluarga yang utuh. Tak perlu kaya, asal bisa saling mencintai dan saling menyayangi serta saling mengisi kekosongan satu sama lain, itu sudah cukup.


Shenina masih ingat, betapa ia iri melihat teman-temannya memiliki keluarga yang lengkap. Bagaimana ayah dan ibu mereka begitu menyayangi anak-anak mereka, sungguh membuat hati Shenina iri. Ia pun ingin memiliki keluarga seperti itu. Dicintai dan disayangi oleh orang tuanya.


Shenina memang memiliki keluarga. Meskipun ibu kandungnya telah meninggal, tapi ia memiliki ibu tiri. Ayah kandungnya pun masih ada. Tapi sayang, ayahnya tidak pernah menyayanginya. Apalagi ibu tirinya, dia hanya berpura-pura menyayangi dan memberikan perhatian padanya. Tapi di belakangnya, mereka begitu jahat dan kejam padanya.


'Mungkin aku memang belum mencintai Rainero dan aku pun belum yakin sepenuhnya dengan apa yang Rainero katakan, tapi setidaknya dengan begitu aku bisa memberikan keluarga yang utuh pada anak-anakku. Semoga pilihanku tidak salah. Semoga aku tidak salah menjatuhkan impian dan harapanku padanya.'


Shenina menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Kemudian Shenina mengangguk sambil menggigit bibirnya.


"Keluarkan suaramu, Shen. Mommy dan aku tidak mengerti arti anggukan mu itu," ucap Rainero seraya menahan desakan kebahagiaan di dadanya.


Shenina menundukkan wajahnya, "i-iya, aku ... aku bersedia menikah denganmu," jawabnya terbata yang justru mendapatkan hadiah sebuah pelukan dan serbuan ciuman di puncak kepalanya.


"Ah, aku senang sekali. Terima kasih, Shen. Terima kasih atas kesempatan yang kau beri. Aku berjanji, aku akan sebisa mungkin membahagiakanmu dan anak-anak kita."


"Iya, Shen. Mommy juga berterima kasih karena kau mau memberikan kesempatan pada anak nakal ini. Kau tenang saja, bila sampai Rainero macam-macam apalagi sampai menyakitimu, Mommy berjanji, Mommy sendiri yang akan memberikan pelajaran padanya," imbuh Delena membuat Shenina tersenyum bahagia. Delena lantas ikut memeluk Shenina. Air mata mengalir dari pelupuk mata Shenina. Ia harap, pilihannya tidak salah. Ia harap, ini merupakan awal kebahagiaannya.


...***...


Shenina baru saja tertidur setelah makan dan meminum obatnya. Setelah memastikan Shenina telah tertidur dengan lelap, Delena pun mengajak Rainero berbicara berdua.


"Rain, tadi grandpa menelpon Mommy," ucap Delena membuat dahi Rainero berkerut.


"Lantas?"


"Grandpa tahu kau ada di sini dan menjadi salah satu korban pengeboman."


"Bagaimana grandpa bisa tahu?"


Delena mengedikkan bahunya, "Mommy juga tidak tahu. Grandpa lantas bertanya, kenapa kau ada di sini. Jadi Mommy terpaksa jujur kalau kau sedang mengejar cintamu," ujar Delena. Rainero diam, masih menunggu kelanjutan cerita sang Mommy. "Oleh sebab itu, grandpa meminta kita menemuinya setibanya Daddy di sini nanti."


Mendengar itu, Rainero menukikkan alisnya. Delena paham kalau Rainero bingung pun segera melanjutkan kata-katanya, "grandpa ternyata juga ada di sini. Tepatnya di Angkasa Hotel. Kau tahu kan bagaimana sifat grandpa mu, Mommy harap kau bersabar untuk mendapatkan restunya," ucap Delena membuat Rainero menghela nafas kasar.


Ya, Rainero tentu saja tahu bagaimana sifat sang kakek. Tapi bukan berarti Rainero akan menyerah. Meskipun sulit, Rainero tetap akan memperjuangkan Shenina agar segera resmi menjadi istrinya.


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...