
"Kenakan pakaianmu dan pergilah!" titah Justin yang segera merapikan pakaiannya.
Melihat kedatangan Delianza tiba-tiba membuat perasaannya tak nyaman. Hasratnya tiba-tiba saj padam. Terbesit rasa bersalah, apalagi saat netra mereka sempat bersirobok tadi. Ada gurat luka dan kecewa di netra biru Delianza. Tak pernah sekalipun Justin melihat sorot mata itu selama ini padanya.
"Tapi kita belum selesai," tolak perempuan itu.
"Pergilah. Aku sudah kehilangan minat," ujar Justin datar.
"Tapi bagaimana dengan rencana kita?" tanya Jessica memastikan.
Ya, perempuan itu adalah Jessica. Saat sedang menghabiskan waktu di club malam, mereka bertemu dan berbincang. Setelah itu, mereka menjalin kerjasama untuk menghancurkan rumah tangga Rainero dan Shenina.
"Nanti aku akan menghubungimu lagi," ucapnya lagi dengan nada benar-benar datar.
Jessica berdecak. Kemudian ia segera mengenakan pakaiannya dan pergi dari ruang kerja Justin.
Justin menghempaskan bokongnya di kursi kebesarannya. Ia ingin melanjutkan pekerjaannya, tapi pikirannya justru beralih kepada Delianza.
Justin menghela nafas kasar. Ia ingin menghubungi Delianza, tapi ia masih ragu. Ia pikir Delianza pasti sedang membutuhkan waktu untuk sendiri. Hingga tiba-tiba panggilan tanpa nama menghubunginya. 3 kali ponselnya berdering, Justin mengabaikannya. Hingga panggilan kelima, dengan malas-malasan, Justin pun mengangkat panggilan itu. Dadanya seketika bergemuruh saat si penelpon menyampaikan sesuatu dari seberang sana.
"Apa? Istri saya kecelakaan?" seru Justin dengan mata membelalak.
Ponsel terjatuh. Tubuhnya melemas seketika. Ia tak pernah menyangka, karena perbuatannya Delianza berakhir kecelakaan.
Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, Justin berusaha untuk bangkit. Ia harus segera melihat keadaan Delianza.
...***...
Justin telah sampai di rumah sakit. Ia pun gegas mencari ruangan Delianza.
"Bagaimana keadaan istri saya, dok?" tanya Justin khawatir.
"Kondisinya sangat buruk. Istri Anda mengalami pendarahan hebat. Untuk itu, kami harus segera mengoperasinya. Silahkan ke bagian administrasi untuk melengkapi prosedur persetujuan."
Dengan langkah panjang, Justin pun melakukan apa yang dokter itu lakukan. Operasi pun dimulai. Justin terduduk lemas menunggu hasil operasi. Berharap Delianza bisa segera pulih seperti sedia kala.
Waktu terus bergulir, operasi akhirnya selesai. Tapi nyatanya, hasilnya tidak sesuai harapan Justin. Delianza dinyatakan koma.
Justin terduduk di lantai sambil terisak. Ia tidak menyangka, perbuatannya telah membuat Delianza mengalami hal buruk seperti ini.
"Bangunlah, Anza. Maafkan aku. Aku tahu, kau pasti sangat membenciku. Aku mohon bangunlah. Bila bukan demi aku, setidaknya demi putra kita," bisik Justin lirih saat ia telah boleh masuk ke ruangan dimana Delianza berada.
Satu persatu keluarga datang untuk melihat keadaan Delianza, termasuk Rainero. Meskipun ia pernah kecewa dengan Delianza, tapi bukan berarti ia menginginkan hal buruk terjadi pada mantan kekasihnya itu. Begitu pula dengan Justin, meskipun sepupunya itu selalu saja mengganggu dirinya, tapi tak pernah sekalipun ia berusaha untuk menyakitinya.
"Berhentilah!" ujar Rainero datar pada Justin yang sedang terduduk di kursi panjang yang ada di depan ruangan Delianza.
"Berhenti apa maksudmu?" tanya Justin bingung.
"Hentikan kerjasama busuk mu itu."
"Kau ... "
"Aku tahu segalanya, Justin. Kau menjalin kerjasama dengan perempuan ular itu untuk menghancurkan hubungan aku dan Shenina, bukan?" Rainero tersenyum miring membuat Justin terkejut. "Kau pikir aku bodoh?"
"Apa maksudmu? Aku tidak melakukan itu," kilah Justin yang tiba-tiba gugup.
"Sudahlah. Jangan berpura-pura. Selama ini aku selalu diam saat kau mengusikku. Kau mengancam orang-orang ku untuk melakukan penggelapan pajak, membayar orang-orang di lapangan untuk mengganti material dengan kualitas rendah, kau menyusupkan orang untuk mencuri data, kau menyuruh wanita bayaran pengidap Aids untuk mendekatiku. Aku tahu semua. Tapi aku diam. Namun bukan berarti aku akan selalu diam. Kau boleh mengusikku, tapi bukan keluargaku. Aku takkan pernah tinggal diam bila kau mencoba mengusik keluarga kecilku. Bila sampai kau melakukan itu, tak peduli kau adalah keluargaku, sepupuku sendiri, maka aku akan menghabisi mu tanpa sisa," tegas Rainero penuh ancaman dan intimidasi.
Justin tertegun di tempatnya. Ia pikir, apa yang ia lakukan selama ini benar-benar aman. Ia pikir Rainero tidak mengetahui dalang dari semua kekacauan itu adalah dirinya.
Rainero melirik Justin yang tengah mengepalkan kedua tangannya dengan kepala tertunduk.
"Berhentilah, sebelum semuanya terlambat," tutup Rainero sambil beranjak pergi dari hadapan Justin yang masih tergugu dalam diam.
...***...
Sementara itu, di lain tempat, sudah beberapa bulan ini Harold menghabiskan harinya dengan termenung di rumah kecil yang dibelinya beberapa bulan yang lalu. Tak ada yang dikerjakannya. Ia pun tidak berusaha mencari pekerjaan. Pekerjaannya hanya termenung dan sesekali menangis. Meratapi kesalahannya yang sudah teramat sangat fatal. Kesalahan yang sungguh tak termaafkan.
Harold meratapi kesalahannya yang entah bagaimana untuk menebusnya. Karenanya, Shena meninggal dalam kesedihan dan kekecewaan. Karena kebodohannya, Shenina tidak tak pernah merasakan kasih sayang sedari kecil hingga dewasa. Bahkan Shenina selalu saja menjadi sasaran kemarahannya, caci makinya. Tak pernah Harold memperhatikannya walau sedikit saja.
"Aku memang laki-laki bodoh. Anak tiri di sayang-sayang, lalu anak kandung diperlakukan lebih parah dari anak tiri. Shenina pasti sangat kecewa dan membenci diriku. Tapi ini memang pantas aku dapatkan karena perbuatanku selama ini memang sudah sangat keterlaluan," gumamnya. Lalu ia menenggak lagi cairan memabukkan yang akhir-akhir ini selalu menemaninya. Hanya dengan meminum cairan itulah ia bisa sedikit melupakan segala permasalahannya.
...***...
"Sweety, kenapa belum tidur, hm?" tanya Rainero yang baru saja pulang ke rumah setelah dari rumah sakit melihat keadaan Delianza.
"Belum mengantuk," jawab Shenina apa adanya.
Rainero lantas duduk di samping Shenina dan memeluk pinggangnya dengan kepala yang ia sadarkan di pundak wanita hamil itu.
"Nonton apa sih? Sepertinya seru banget?"
"Oh, ini film Fathers and Daughters. Ceritanya tentang ayah dan anak yang tinggal bersama setelah ibunya meninggal serta perjuangannya untuk membesarkan si anak di diantara kesulitan ekonomi dan penyakit mental yang ia alami. Tapi si ayah tiba-tiba saja meninggalkan si anak tanpa alasan," papar Shenina dengan mata berkaca-kaca. Ia jadi teringat masa lalunya yang menyedihkan. Bedanya ia tinggal bersama sang ayah, tapi ayahnya justru menganggapnya seolah tak ada.
Rainero yang paham kesedihan yang dirasakan sang istri hanya bisa mengusap punggungnya.
"Oh ya, bagaimana keadaan Delianza, suamiku? Apa keadaannya baik-baik saja?" Shenina teringat kalau Rainero baru pulang dari rumah sakit untuk melihat keadaan Delianza. Shenina sendiri memilih tinggal karena kehamilannya yang sudah begitu besar.
"Keadaannya buruk. Anza koma," ucap Rainero singkat.
Shenina mendongakkan kepalanya, lalu menghembuskan nafas panjang.
"Kasihan sekali dia. Padahal anaknya masih dirawat di rumah sakit, sekarang dia justru koma. Semoga saja Delianza bisa pulih seperti sedia kala," ucap Shenina tulus. Rainero tersenyum, sebaik inilah memang istrinya.
"Ya, semoga."
"Oh ya, kok akhir-akhir ini aku tidak melihat Axton, ya? Dia memangnya kemana?" tanya Shenina tiba-tiba.
Mengingat Axton, tiba-tiba Rainero tersenyum kecil.
"Dia sedang pergi ke Indonesia."
"Hah, Indonesia? Masalah pekerjaan?"
Rainero menggeleng, "bukan, tapi masalah hati."
"Maksudnya?"
"Kau tahu, saat aku cerita padanya tentang aku yang melamar mu melalui pesan, dia malah menertawakan aku. Lalu aku pun menyumpahinya akan mengalami hal yang sama, bahkan lebih parah. Dan kau tahu Sweety, akhirnya ia pun mengalaminya. Dia ... melamar Gladys melalui ... "
...***...
...Hayooo, melalui apa? 😂...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...