
Roseline tercenung. Memikirkan haruskah ia menceritakan masa lalunya? Lantas, bagaimana kalau Jevian tiba-tiba ilfil dan membenci dirinya. Siapapun itu, takkan mau mempekerjakan seorang mantan narapidana terlebih untuk mengurus anaknya. Tentu mereka memiliki kekhawatiran tersendiri. Pertama, ia khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada anaknya dan kedua ia pasti khawatir orang tersebut membentuk karakter anak menjadi penjahat seperti dirinya. Apalagi ia merupakan seorang pembunuh. Meskipun korbannya selamat, tapi bila tidak ada yang menolong, sudah pasti korbannya akan benar-benar mati di tangannya.
Roseline bingung. Bahkan ia sampai tak sadar kalau Jevian sudah menuntunnya menuju ke sofa yang ada di dalam ruangan itu. Kemudian Jevian menggenggam tangannya erat. Jevian bisa melihat ada keraguan di netra Roseline. Ia pun dapat melihat binar ketakutan di netranya yang biru.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Jevian menyentak Roseline dari lamunannya.
"Ah, aku ... aku ... " Roseline tiba-tiba gelagapan sendiri.
"Seline, tarik nafas dalam-dalam lalu hembuskan!" titahnya membuat Roseline melongo.
"Ya."
"Lakukan seperti perintahku!"
Dengan patuh, Roseline menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya.
Jevian tersenyum melihat Roseline yang begitu patuh dengan ucapannya.
"Sudah," ucapnya.
Setelah melihat raut wajah Roseline yang tenang, ia pun kembali bertanya.
"Seline, selama ini kau selalu saja mengatakan aku belum tahu siapa kau sebenarnya. Kini, aku benar-benar ingin tahu, siapa kau sebenarnya? Kenapa kau selalu saja berkata seperti itu, seolah ... Ada sebuah rahasia kelam yang kau sembunyikan," ujarnya membuat Roseline seketika gugup. Bahkan kedua telapak tangannya pun sudah terasa dingin.
"Seline," tegur Jevian lagi.
"Aku ... seorang mantan narapidana," ujarnya tiba-tiba membuat Jevian seketika membulatkan matanya.
Sebenarnya berat bagi Roseline untuk mengungkapkan masa lalunya. Terlebih itu pada Jevian, majikannya. Bagaimana kalau Jevian memecatnya karena tidak mau dirinya memberikan pengaruh buruk pada sang putra?
Ini bukan masalah takut kehilangan pekerjaan, tapi ia sudah terlanjur nyaman bekerja di rumah itu. Dan yang lebih penting lagi, ia sudah terlanjur sayang pada Jefrey. Tak tahu bagaimana hidupnya kelak bila harus berjauhan dengan anak asuhnya itu. Terlebih setelah Jefrey kerap memanggilnya 'mommy', Roseline kerap merasa seperti seorang ibu sesungguhnya. Ia merasa Jefrey seperti anak kandungnya sendiri. Padahal sudah jelas, Jefrey anak dari Jevian dan Eve, tapi karena sikap Jefrey yang memperlakukannya seperti ibu kandungnya sendiri membuat Roseline terbuai. Ia terlalu mendalami perannya hingga ia terkadang lupa, dirinya hanyalah seorang pengasuh.
Namun Roseline harus sadar, tak mungkin ia terus menyimpan rahasia ini. Terlebih melihat sikap Bastian, ia khawatir Bastian mengungkapkan rahasianya terlebih dahulu. Ia tak mau mengecewakan keluarga yang sudah begitu baik padanya ini dengan membiarkan orang lain yang mengungkapkan rahasia itu.
Dengan tekad yang kuat, Roseline pun memberanikan diri mengungkapkan rahasianya. Ia sadar, tindakan nekadnya ini pasti akan memiliki konsekuensi. Namun ia harus siap sebab ia tahu masa lalunya memang seburuk itu.
"Apa?" tanya Jevian merasa ia mungkin salah mendengar.
"Aku mantan narapidana percobaan pembunuhan," ujar Roseline lagi membuat Jevian makin terkesiap.
Ia yang tadinya duduk mepet ke tubuh Roseline seketika menarik dirinya. Roseline tersenyum miris. Bahkan sebelum ia menceritakan segalanya saja, Jevian sudah menarik dirinya.
Jevian mencoba mencerna kata-kata Roseline. Ia terkejut, tapi kenapa ia seakan tidak bisa mempercayakan kata-kata Roseline.
"Kau ... tidak sedang berbohong agar aku membatalkan niatku menikahimu kan?" Jevian mengesampingkan keterkaitannya.
"Aku mengatakan yang sejujurnya."
"Benarkah? Kalaupun memang benar, aku yakin kau memiliki alasan yang kuat."
Jevian berusaha sekuat tenaga untuk menepis pikiran buruknya. Ia hanya tak ingin salah mengambil keputusan. Hanya karena mendengar sepotong penuturan membuatnya menilai buruk Roseline. Apalagi melihat sikap Roseline selama ini, ia yakin, Roseline sebenarnya perempuan yang baik.
Roseline menarik nafas dalam-dalam dan kembali menghembuskannya. Mengenang masa lalu itu selalu saja membuat dadanya sesak. Seakan ada batu besar yang menghimpit dadanya. Berat dan menyesakkan. Rasa bersalah selalu saja menghantui dirinya. Terlebih Delena tidak menuntutnya sama sekali. Ia memaafkannya begitu saja. Pun Rainero dan Shenina. Galdys, meskipun ia tidak menyakiti perempuan itu, tapi tetap saja ia jadi ikut terlibat.
Roseline menggeram sambil menutup matanya.
'Semua karena ulah bajingaan itu.'
"Aku ... Melakukan itu karena dendam. Lebih tepatnya, dendam yang keliru. Pamanku selalu saja mengatakan kalau ibuku dibuang saat hamil. Lalu dia menikah lagi dengan perempuan lain yang lebih kaya. Melihat hidupnya bahagia, aku sakit hati, kecewa, hingga akhirnya membenci dan mendendam. Aku pun berencana membalaskan dendam ku. Tapi ternyata aku salah. Ternyata paman ku itulah ayah biologis ku. Ia melakukan itu karena kecewa sebab ibuku tidak pernah menganggapnya. Sepanjang usianya ternyata ibuku masih mencintai laki-laki yang menjadi suami atasanku. Aku yang terlalu bodoh, dengan mudahnya dibodohi. Aku sampai merencanakan untuk melenyapkan atasanku itu beserta menantunya. Itu aku lakukan karena aku sakit hati keluarga mereka bisa hidup bahagia, sementara aku ... hidup menderita. Bahkan karena kehidupanku yang menyedihkan itu pula, keluarga Bastian menolak ku mentah-mentah. Karena dendam yang kian berkobar, aku pun merencanakan untuk melenyapkan mereka. Tapi beruntung, ada seseorang yang menggagalkan niat buruk ku itu. Kalau tidak, mungkin aku akan memilih mati karena terkungkung penyesalan. Sungguh, aku benar-benar menyesal. Sangat menyesal," ujar Roseline tergugu.
Bahkan untuk pertama kalinya, ia menumpahkan tangisnya di depan Jevian. Jevian terhenyak. Ia tidak menyangka, hidup Roseline semenyedihkan itu.
"Dan kau tahu, apa yang makin membuatku tenggelam dalam penyesalan?" Roseline menoleh ke arah Jevian.
Jevian menggeleng dengan dada bergemuruh.
"Setelah apa yang aku lakukan, mereka memaafkan ku. Mereka tidak menuntut ku sama sekali. Seharusnya sampai sekarang aku masih di penjara, tapi karena mereka tidak menuntut ku, aku jadi hanya menjalani masa tahanan sesuai tuntutan jaksa saja. Hal ini yang membuatku kian merasa bersalah. Mereka terlalu baik. Padahal aku ... Aku hampir saja melenyapkan nyawa atasanku, tapi juga menantunya yang tengah hamil besar. Aku bingung. Bagaimana caranya aku menebus kesalahanku? Aku benar-benar bodoh. Aku jahat. Aku ... nyaris saja menjadi seorang pembunuh. Aku ... huhuhu ... "
Roseline menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia tak mampu menahan derai air mata yang terus turun membasahi pipi.
Jevian yang tak kuasa menahan gebrakan di dadanya karena melihat kesedihan di wajah Roseline pun kembali mengikis jarak. Kemudian ia menarik tubuh Roseline dan membenamkan wajahnya di dadanya. Roseline makin menumpahkan tangisnya. Selama ini ia selalu menangis seorang diri. Tak ada tempat berbagi. Hingga saat Jevian merengkuhnya ke dalam pelukan membuat Roseline pun menumpahkan segala kesedihan yang menghimpit dadanya. Jevian yang mendengar bagaimana memilukannya tangis Roseline pun tak dapat menahan gemuruh kesedihan. Matanya memerah. Ia pun bisa merasakan kesedihan bercampur penyesalan yang Roseline rasakan.
"Siapa mereka? Apa kau mau bertemu dengan mereka? Kalau iya, aku akan dengan senang hati menemanimu," tawar Jevian yang merasa kalau sebenarnya Roseline ingin sekali bertemu dengan orang-orang yang sudah ia sakiti dan meminta maaf pada mereka.
Roseline pun mengangkat wajahnya dan menatap retina Jevian.
"Benarkah? Apa kau tidak keberatan?"
Jevian menggeleng, "tapi ada syaratnya?"
"Apa?"
"Setelah segala urusanmu selesai, menikahlah denganku? Kau mau?"
Mata basah Roseline mengerjap, namun bagai dihipnotis, Roseline justru mengangguk. Mungkin inilah saatnya untuk melepaskan semua bebannya sekaligus membuka lembaran baru. Sebab sejauh ia mengenal Jevian, ia adalah sosok laki-laki yang baik dan bertanggung jawab. Meskipun ia belum mencintai laki-laki itu, tapi tidak salah kan bila ia menjatuhkan pilihannya pada laki-laki itu?
Melihat anggukan Roseline, jelas saja membuat dada Jevian bergemuruh bahagia. Ia bahkan kembali menarik Roseline ke dalam pelukannya dan mencium puncak kepalanya hingga berkali-kali! sebagai ungkapan kebahagiaannya.
Jevian pun sebenarnya masih ragu akan perasaan dirinya pada Roseline. Tapi ia tak menampik kalau ia merasa bahagia dan nyaman saat bersama Roseline. Ia ingin menikahi Roseline bukan semata-mata karena keinginan sang anak, tapi ia sadar, ia membutuhkan Roseline. Kehadirannya seperti oase di padang gurun yang luas. Menyejukkan.
Roseline pun merasakan kenyamanan serupa saat berdekatan dengan Jevian dan Jefrey. Apalagi seperti saat ini. Ketika Jevian memeluknya erat, Roseline merasa gemuruh di hatinya mulai mereda. Meskipun sedu sedannya masih terdengar, tapi ia sudah tidak menitikkan air mata lagi.
Setelah merasa Roseline sudah cukup tenang, Jevian pun merenggangkan pelukannya. Jevian dan Roseline pun saling bertatapan dengan penuh arti. Melihat tatapan Jevian, entah mengapa Roseline reflek menutup matanya. Melihat Roseline seakan memberikan lampu hijau padanya, Jevian pun kian mengikis jarak dan mulai membenamkan bibirnya di bibir merah Roseline. Mereka pun berpagutan mesra. Jika sebelumnya, Jevian lah yang memaksa memagut bibir Roseline tanpa balasan, maka kali ini Roseline akhirnya mulai membuka diri. Bahkan ia mulai membalas pagutan itu tak kalah mesra.
Setelah beberapa saat kemudian, mereka pun saling melepaskan diri. Keduanya sama-sama tersenyum. Mungkin karena Roseline yang sudah mulai membuka diri, ia pun bisa tersenyum dengan ringan di hadapan Jevian.
"Em, Seline, kalau boleh tahu, siapa keluarga yang kau sebut tadi. Bukankah kau ingin bertemu dengan mereka jadi aku pun harus tahu siapa mereka kan," tanya Jevian yang sebenarnya sudah sejak tadi penasaran siapa keluarga yang begitu baik hati itu. Padahal mereka hampir terbunuh, tapi mereka masih bisa memaafkan kesalahan Roseline.
Roseline menelan ludahnya kasar. Tapi apa yang Jevian katakan tadi benar. Sudah sewajarnya Jevian tahu siapa orang yang telah ia sakiti itu.
"Mereka adalah nyonya Delena Sanches, dan menantunya, Shenina."
Degh ...
...***...
...Udah panjang yooo!...
...Selamat malam and happy weekend....
...❤️❤️❤️...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...