
Sore harinya Reeves akhirnya tiba di Bali. Delena ditemani Mark dan Rose pun segera pergi menjemput Reeves, sedangkan Rainero masih setia menemani Shenina.
"Reeves," seru Delena seraya tersenyum sumringah saat melihat suaminya turun dari pesawat.
"Honey, kau tidak apa-apa?" seru Reeves saat berhadapan dengan Delena.
Semenjak melihat Delena terbaring kaku dengan berbagai macam perlengkapan medis di tubuhnya membuat Reeves sering ketakutan sendiri. Khawatir berlebihan saat mendengar kabar tidak mengenakan menimpa sang istri.
"Aku tidak apa-apa, Reeves. Yang seharusnya kau khawatirkan itu Rain dan calon menantu kita," ujar Delena sambil merangkul lengan Reeves. Reeves tersenyum lega dan langsung menarik Delena ke dalam pelukannya.
"Syukurlah. Kau tahu, jantungku nyaris putus saat tahu kau ada di lokasi pengeboman," ujarnya sambil tersenyum lega. "Oh ya, bagaimana keadaan Rain? Dan calon menantu serta cucu-cucu kita?" tanya Reeves sambil berjalan keluar area bandara. Bandara masih terlihat kacau. Banyak bagian bangunan yang rusak, tapi untungnya bandara masih bisa beroperasi meskipun tidak bisa maksimal.
"Mereka baik-baik saja. Calon menantu kita hanya shock sehingga membuatnya pingsan, sedangkan Rain mengalami luka-luka yang untungnya tidak begitu parah. Sebab saat kejadian terjadi, Rain ikut membantu menyelamatkan korban pengeboman," papar Delena.
Saat sudah berada di depan mobil, Mark ingin membukakan pintu, tapi Reeves mencegahnya. Lalu ia membukakan pintu untuk istrinya dan meletakkan telapak tangannya di atas agar kepala Delena tidak membentur saat masuk ke dalam.
"Hufh, syukurlah. Aku tak dapat membayangkan kalau sesuatu terjadi pada putra kita," desah Reeves.
"Aku juga. Jantungku rasanya nyaris copot saat mendapat kabar kalau Rainero berada di bandara saat pengeboman terjadi."
"Kau tahu siapa dalangnya?"
Delena menggeleng, "sebelumnya Rain sempat mengira apa itu lawan bisnis yang mencoba mencelakainya, ternyata bukan. Katanya itu *******. Tapi ah entahlah, terkadang ada orang-orang yang sengaja melakukan kejahatan untuk mengkambinghitamkan pihak tertentu. Yang penting saat ini adalah bagaimana caranya agar Daddy menerima Shenina sebagai calon istri Rainero."
Reeves mengerutkan keningnya, "Daddy? Maksudnya?"
"Daddy sudah tahu perihal kedatangan Rainero ke mari. Dan apa kau tahu Reeves, ternyata Daddy pun berada di sini. Daddy ingin bertemu kita setibanya kau kemari," ujar Delena. Kemudian ia menghela nafasnya, "dan inilah yang aku khawatirkan. Kau tahu kan bagaimana sifat Daddy-mu itu. Aku takut ... Daddy menentang hubungan Rain dan Shenina. Mungkin dulu kita berhasil meskipun tidak mudah awalnya, tapi ... aku tak sanggup bila melihat Rain kembali hancur bila kali ini ia kembali kehilangan orang yang ia cintai," lirih Delena. Reeves segera mendekap erat pundak Delena dari samping. Mengingat masa lalu mereka, sungguh membuat penyesalan yang pernah merajai hatinya kembali merebak. Rasa bersalah itu masih ada. Ia merasa bersyukur Delena masih mau memaafkannya dan memberikannya kesempatan.
"Kau tenang saja, aku takkan membiarkan Daddy memisahkan mereka. Jadi sekarang, kita langsung kemana?"
"Kita langsung ke hotel dulu. Nanti kita akan temui Daddy bersama-sama, bagaimana?"
Reeves pun mengangguk setuju. Mereka melewati perjalanan mereka sambil bercerita. Delena tampak menceritakan mengenai Shenina dengan begitu antusias. Sepertinya ia sudah tak sabar untuk menjadikan Shenina sebagai menantunya.
Sementara itu, di rumah sakit, mata Shenina memicing saat melihat Rainero melipat lengan bajunya.
"Rain, kau terluka?"
Rainero yang sejak kemarin menutupi lukanya seketika terkesiap, "ah, ini ... ini hanya luka kecil. Kau tidak perlu khawatir."
"Luka kecil?" Shenina mendengus. "Jangan-jangan kau bohong kalau luka di kepalamu itu karena terbentur? Ayo, jujur padaku? Kau belum menceritakan kejadian yang menimpamu saat itu."
Rainero tersenyum melihat perhatian kecil dari Shenina. Ada rasa yang membuncah di dalam dada. Rasanya benar-benar membahagiakan, bahkan rasanya jauh berbeda saat ia bersama dengan Delianza dulu. Kali ini kebahagiaannya terasa berkali lipat. Mungkin karena perjuangan yang ia lakukan untuk mendapatkan Shenina begitu luar biasa. Alhasil, rasanya begitu membahagiakan.
Delianza, ia mengenalnya sejak masih masa sekolah. Karena mereka memiliki kegemaran yang sama dan sering bertemu saat masa sekolah, mereka pun menjalin hubungan. Hampir tak ada perjuangan yang berarti untuk mendapatkannya. Berbeda dengan Shenina yang bukan hanya menguras emosi, tapi waktu, tenaga, dan biaya. Bahkan untuk meyakinkannya pun tidaklah mudah. Perlu perjuangan dan ujian yang tidak main-main.
Rainero duduk di samping Shenina lalu memandangnya lekat.
"Kau tahu, aku sangat bahagia sekali."
Bukannya merespon kekesalan Shenina, Rainero justru mengutarakan kebahagiaannya.
Lalu Rainero mengusap pipi Shenina tanpa memutuskan tatapannya. Dipandangi sedemikian rupa membuat jantung Shenina terpompa kencang.
"Kenapa? Apa kau gugup?" goda Rainero.
Shenina berdecak dengan bola mata bergulir menghindari tatapan Rainero. Rainero terkekeh.
"Malam ini aku akan pergi sebentar untuk bertemu grandpa. Aku akan meminta Adisti kemari memintanya menemanimu, kau tak apa?"
Shenina mendelikkan matanya, "heh, kau pikir selama ini aku tinggal dengan siapa?"
Rainero terkekeh, "kalau saja kau tidak mau aku tinggal." Shenina mencebikkan bibirnya membuat Rainero gemas dan mengecup bibirnya secepat kilat.
"Rain," protes Shenina yang hanya ditanggapi Rainero dengan kekehan.
"Jadi kau belum mau menceritakan apa yang terjadi saat di bandara?"
Rainero menghela nafasnya, "untuk apa dibahas lagi? Bukankah yang terpenting aku tidak apa-apa." Melihat tatapan Shenina yang mendelik tajam membuat Rainero menyerah dan akhirnya menceritakan apa yang terjadi padanya.
Singkat cerita, malam harinya Rainero, Reeves, dan Delena menemui Ranveer di hotel tempatnya menginap.
"Jadi bagaimana, dia berasal dari keluarga apa? Perusahaannya bergerak di bidang apa? Pekerjaan perempuan itu apa?" tanya Ranveer antusias.
Delena menatap cemas pada sang putra. Ia harap ayah mertuanya tidak menentang hubungan mereka.
"Dia hanya berasal dari keluarga biasa. Keluarganya tidak memiliki perusahaan apapun. Ayahnya hanya memiliki sebuah minimarket. Sedangkan Shenina sendiri merupakan mantan sekretarisku," jelas Rainero membuat Ranveer membeliakkan matanya.
"Apa? Mantan sekretarismu? Hanya seorang anak perempuan dari pemilik sebuah minimarket? Apa kau sudah gila, Rainero. Kau lupa siapa kau? Kau ingin membuat keluarga Sanches malu dengan memperistri perempuan dari keluarga biasa seperti itu," sentak Ranveer tak suka dengan fakta yang baru saja diceritakan Rainero.
"Tapi aku mencintainya, Grandpa."
"Tidak. Grandpa tidak setuju."
"Tak peduli grandpa setuju atau tidak, aku tetap akan menikahi Shenina. Apalagi saat ini dia sedang mengandung anakku," tegas Rainero yang memang kukuh pada pendiriannya yang akan memperjuangkan Shenina bagaimanapun caranya. Yang terpenting kedua orang tuanya setuju, jadi terserah kakeknya mau setuju atau tidak ia tetap akan segera menikahi Shenina.
"Kami juga mendukung Rainero, Dad. Perempuan itu hamil darah keluarga kita, aku harap Daddy pun merestui hubungan mereka," imbuh Reeves.
"Delena juga mendukung Rainero, Dad. Meskipun dari keluarga biasa, tapi dia perempuan yang baik."
"Apa? Hamil?" Tiba-tiba Ranveer tergelak membuat ketiga itu terdiam. "Apa kalian semua sudah gila, hah?" bentak Ranveer. "Apa kau lupa, kau itu mandul, Rainero. Jangan mau ditipu perempuan murahan itu! Dia pasti hanya menipumu untuk menguasai harta keluarga kita. Dan kalian berdua, bagaimana kalian bisa setuju begitu saja. Apa kalian tidak takut dia hanya menjebak Rainero untuk mewujudkan obsesinya menjadi bagian keluarga Sanches."
"Shenina bukan perempuan murahan. Justru akulah bajingaan yang menidurinya dengan paksa. Dan asal grandpa tahu, akulah laki-laki pertama yang menyentuhnya. Jadi aku percaya padanya. Lagipula aku sebenarnya bukan mandul. Aku yang salah memahami hasil test waktu itu. Aku mengidap oligospermia jadi masih ada kemungkinan aku bisa memiliki anak. Meskipun sulit, tapi kesempatan itu masih ada dan beruntung apa yang aku lakukan malam itu membuatku menyadari kalau aku tidak mandul."
Ranveer mendengus, "pertama menyentuhnya bukan berarti kau pula yang menghamilinya."
"Tapi aku yakin dan percaya kalau anak yang Shenina kandung adalah anakku."
"Tetap saja Grandpa tidak setuju. Kalaupun kau tetap ingin menikahinya, boleh saja. Tapi nanti, setelah kau berhasil membuktikan kalau anak yang ia kandung adalah anakmu. Jadi tunggulah sampai perempuan itu melahirkan dan segera lakukan test DNA. Mari kita buktikan, kau atau Grandpa yang benar."
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...