
Seharian ini Jevian tampak sibuk sekali. Ia bukan hanya sibuk mengurus pemutusan kerja sama dengan Tobey dan segala hal yang bersangkutan dengan perusahaan T Company itu, tapi ia juga mempersiapkan segala hal mengenai kerja samanya dengan Admark Investments. Ia harus mempersiapkan segalanya dengan baik agar kerjasama dengan pihak Admark Investments bisa terjalin dengan baik dan tentunya saling menguntungkan satu sama lain.
"Tuan, ada Jhon ingin menemui Anda," ujar Matson.
Jevian yang sedang mengerjakan pekerjaannya di layar laptop pun segera menghentikan gerakannya dan mengangkat wajah. Ia pun segera melepaskan kacamata yang menggantung di atas hidungnya.
"Suruh dia masuk sekarang!" titahnya.
Matson pun gegas keluar untuk mempersilahkan Jhon masuk.
Jevian duduk sambil menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya. Entah apa Jhon sudah mendapatkan apa yang ia inginkan atau belum, ia benar-benar penasaran. Namun Jevian harap, Jhon membawa kabar baik. Terlalu lama rasanya bila harus kembali menunggu selama 3 bulan untuk memutuskan hubungan pernikahannya dengan Eve. Baginya, pintu kesempatan untuk Eve sudah benar-benar tertutup.
Tak lama kemudian Jhon pun masuk. Ia pun segera duduk setelah dipersilakan oleh Jevian.
"Bagaimana? Apa kau membawa kabar baik untukku?" tanya Jevian datar.
Jhon pun mengangguk dengan cepat, "seperti dugaan Anda, Tuan. Prediksi Anda tidak salah sama sekali," ujar Jhon seraya menyerahkan sebuah USB kepada Jevian.
Jevian pun segera menerima USB tersebut dan memasukkan ujungnya di tempatnya. Lalu ia pun segera membuka file yang ada dalam dalamnya. Sebuah video berdurasi cukup panjang.
Saat video diputar, perut Jevian terasa diaduk-aduk. Muak dan mual, itu yang ia rasakan saat melihat adegan demi adegan yang Eve lakukan dengan pasangannya. Sungguh Jevian tidak menyangka kalau ia sudah menikah dengan perempuan semacam itu. Meskipun sudah banyak negara yang menormalisasi perbuatan menyimpang itu, tapi tetap saja bagi Jevian hal itu salah. Perbuatan itu menjijikan. Tidak sepantasnya mereka melakukannya.
Jevian bergidik sendiri. Bagaimana ia dulu pernah menyentuh perempuan seperti itu. Jevian merasa jijik sendiri melihatnya. Membayangkan tubuhnya pernah menyatu dengan perempuan seperti itu, rasa jijik utu seketika menyeruak.
Jevian membekap mulutnya. Ia pun segera berlari menuju toilet untuk mengeluarkan sesuatu yang sudah tak sabar keluar dari kerongkongannya.
Rasa asam seketika melingkupi. Wajahnya pun seketika memucat. Ia lantas memejamkan mata. Berusaha membuang bayang-bayang percintaan panasnya dengan Eve dahulu.
Untung saja sudah lama ia tidak melakukannya lagi. Lebih tepatnya setelah Eve dinyatakan hamil. Dan semenjak itu pula hubungan ranjangnya mendingin. Bila dihitung, mereka hanya beberapa kali saja melakukannya. Itupun bukan karena inisiatifnya, melainkan inisiatif Eve sendiri.
Jevian sendiri tidak mengerti, bagaimana Eve bisa berhubungan dengan laki-laki dan perempuan sekaligus. Mungkin itu karena tuntutan Tobey, ayahnya. Bila tidak, mana mungkin Eve mau melakukannya dengannya. Apalagi sampai mengandung anaknya.
Beruntung, Jefrey bisa lahir dengan selamat. Meskipun berbeda dari bayi lainnya dan harus mengidap penyakit yang sulit disembuhkan, paling tidak ia terlahir dengan selamat. Untuk masalah penyakitnya, Jevian yakin tidak ada penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Dan ia akan terus berusaha dan melakukan apapun demi kesembuhan putranya yang berharga.
Setelah berkumur dan membasuh mukanya agar lebih segar, Jevian pun kembali ke kursinya. Ia menghentikan video itu. Video ini dan kumpulan video bagaimana Eve yang begitu abai pada putranya hingga membuat psikis Jefrey sedikit berguncang sudah cukup baginya untuk mempercepat proses perceraiannya. Ia harap pihak pengadilan tidak menunda-nunda lagi keinginannya untuk segera berpisah dengan Eve.
"Bagus, Jhon. Good job. Terima kasih atas bantuanmu. Uangmu akan segera Matson transfer. Lain kali aku akan menghubungimu lagi bila membutuhkan bantuanmu lagi," tukas Jevian sebelum mengakhiri perbincangan.
Setelah Jhon pergi, Jevian pun menghubungi pengacaranya yang bertugas membantu urusan perceraiannya untuk datang membahas progres perceraiannya. Setelahnya, ia kembali melanjutkan pekerjaannya. Apalagi beberapa hari lagi ia harus kembali ke kantor Admark Investments untuk membahas mengenai kerja sama mereka. Setelah kesepakatan kerja resmi terjalin, barulah dana akan ditransfer agar proyek yang sedang ia rencanakan bisa segera terealisasi.
Tiba-tiba ia mengingat Roseline. Ia belum mengucapkan terima kasih atas bantuan pengasuh putranya itu. Ia yakin, tanpa bantuan Roseline, proposalnya pasti takkan sesempurna ini. Ia yakin, kesempatan memenangkan investasi ini akan sangat kecil. Oleh sebab itu, ia oh berencana mengajak Roseline makan malam bersama di luar sebagai ungkapan terima kasih.
Jevian pun segera meraih ponselnya dan menghubungi Roseline.
"Halo, Seline," ucap Jevian saat panggilannya diangkat.
"Ya, halo, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Roseline dengan nada formal seperti biasa. Jevian berdecak. Entah mengapa ia tidak suka Roseline terlalu formal padanya. Padahal hal itu wajar sebab Roseline merupakan bawahannya.
"Tidak. Tidak ada. Aku hanya ingin memintamu nanti malam bersiap. Kita akan makan malam berdua di luar," ujar Jevian tanpa basa-basi.
Alis Roseline bertaut, "Anda tidak salah, tuan? Apa saya salah dengar? Anda mengajak saya makan malam berdua di luar?"
Setelah panggilan ditutup, tanpa sadar Jevian tersenyum memandangi layar ponselnya.
...***...
Jevian pulang tepat pukul 7 malam. Saat memasuki kediamannya, Jevian mendapati Roseline dan Jefrey sedang duduk berdua. Roseline tampak sedang membacakan buku cerita pada Jefrey. Sesekali Jefrey terkekeh. Ia merespon cerita yang Roseline bacakan dengan antusias. Sungguh pemandangan yang indah, batin Jevian.
"Daddy," pekik Jefrey semangat saat ia mendapati sosok sang ayah.
"Hai, boy," sapa Jevian yang langsung menghampiri sang putra dan mencium dahinya. Karena posisi Jefrey yang begitu menempel pada Roseline membuat Jefrey bisa menghidu aroma tubuh bercampur parfum Roseline. Entah mengapa, Jevian tiba-tiba gugup. Ia bahkan menelan ludahnya sendiri.
'Aku kenapa sih?' batinnya bingung dengan reaksi tubuhnya yang aneh saat menghidu aroma tubuh Roseline yang lembut dan menenangkan. Sakit kepala yang tadi sempat mengganggu seketika mereda. Bahkan tubuhnya terasa jauh lebih rileks saat ini.
Jevian pun segera menarik diri lalu duduk di samping Jefrey. Roseline tampak biasa saja. Jevian sampai heran, Roseline tampak berbeda dari perempuan-perempuan yang kerap mendekatinya. Ia bersikap acuh tak acuh, tapi tetap terlihat anggun di matanya.
"Daddy, kata mommy Seline, Daddy mau mengajak kami makan malam di luar ya? Wah, pasti menyenangkan. Jefrey sudah tidak sabar lagi. Daddy buruan mandi jadi kita bisa segera pergi," ujar Jefrey.
Mata Jevian membulat. Padahal jelas-jelas ia meminta Roseline makan malam berdua, tapi Roseline justru mengajak Jefrey. Satu lagi, ternyata Jefrey benar-benar memanggil Roseline dengan panggilan 'mommy', bukan aunty Seline lagi.
Mata Jevian mendelik ke arah Roseline, tapi Roseline bersikap acuh tak acuh. Namun tiba-tiba Roseline mendekatkan wajahnya ke telinga Jevian. Jevian sampai terkesiap. Ia pikir apa yang ingin Roseline lakukan, tapi nyatanya ia justru membisikkan sesuatu padanya.
"Pertama aku tidak tega meninggalkan Jefrey sendirian meskipun ada maid yang akan menjaganya. Apalagi Lora sudah pulang kampung lebih awal. Kedua, keberadaan Jefrey bisa menghilangkan suasana canggung di antara kita. Ingat, status kita itu atasan dan bawahan. Rasanya tak pantas aku bila makan malam berdua saja denganmu," jelas Roseline mengemukakan uneg-unegnya.
Jevian tertegun. Ternyata Roseline berpikir sampai sejauh itu. Jevian senang sebab Roseline begitu memikirkan putranya pun dirinya.
Setelah Jevian mandi dan membersihkan diri, Jevian pun segera mengajak Jefrey dan Roseline makan di restoran yang tidak begitu jauh dari kediamannya.
"Sebenarnya apa tujuan Tuan mengajak saya makan malam di sini?" tanya Roseline yang penasaran.
"Begini, sebenarnya aku mengundangmu makan malam berdua sebab aku ingin berterima kasih padamu. Sebab berkat bantuan mu, proposal ku diterima pihak Admark Investments. Bahkan perusahaanku menjadi pemenang nomor satu."
"Oh. Anda seharusnya tidak perlu repot-repot melakukan ini."
"Kenapa?" tanya Jevian, tapi Roseline justru mengedikkan bahunya. "Seline, boleh aku bertanya sesuatu?" pinta Jevian sambil melirik Jefrey yang tampak makan dengan lahap.
"Silahkan saja. Selagi bisa, say pasti akan menjawabnya."
"Baiklah. Siapa kau sebenarnya? Dari caramu membantuku menyelesaikan proposal saat itu, sepertinya kau sudah terbiasa melakukan pekerjaan ini. Apa kau pernah bekerja di perusahaan sebelumnya?" cecar Jevian. Roseline mengangkat bola matanya menatap netra Jevian yang menatapnya penasaran.
"Maaf, saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu," jawabnya membuat Jevian kecewa sebab Roseline sepertinya begitu enggan membahas mengenai masa lalunya. "Maaf, saya permisi ke toilet sebentar," ucap Roseline seraya berdiri. Setelah beberapa menit kemudian, Roseline pun kembali. Namun belum sempat perempuan itu duduk, tubuhnya tiba-tiba menabrak sesuatu.
"Argh ... " pekik Roseline pelan. "Maaf, saya tidak ... " Roseline tiba-tiba menghentikan kalimatnya.
"Rose ... " pekik seseorang itu dengan mata berbinar cerah membuat Jevian yang baru saja berdiri terkejut dan hendak melihat keadaan Roseline seketika terdiam di tempatnya. "Ini benar kau?" imbuhnya.
Namun Rose memandangnya datar, "maaf tuan, Anda salah orang," jawab Roseline acuh tak acuh sambil kembali duduk di tempatnya.
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...