Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 174 (S3 Part 17)


Tok tok tok


Pintu ruang perawatan diketuk dari luar, Jevian pun gegas membuka pintu untuk melihat siapa yang datang.


"Ya, ada apa?" tanya Jevian saat melihat seorang suster sudah berdiri di hadapannya. Bukankah tadi suster itu sudah memeriksa keadaan Jefrey, tapi kenapa ia justru datang lagi?


"Maaf tuan, mengganggu. Saya membawa cleaning service untuk membersihkan ruangan putra Anda," jelas suster tersebut.


Jevian pun mengangguk. Ruangan ini memang baru ditempati putranya sire kemarin, jadi sudah pasti pagi ini harus kembali dibersihkan.


"Baiklah."


Jevian pun segera menyingkir dari depan pintu. Namun saat suster tersebut mempersilahkan seseorang untuk masuk dan membersihkan ruangan putranya, mata Jevian membulat.


"Maaf tuan, saya ingin membersihkan ruangan ini sebentar," ujar cleaning service tersebut.


Jevian pun mempersilahkan. Suster yang tadi mengantar cleaning service tersebut pun segera pamit undur diri.


Cleaning service tersebut pun mulai menyalakan robot vakum cleaner untuk menyedot debu-debu di lantai. Setelah melepaskan robot vakum cleaner, ia membereskan barang-barang yang terkapar. Ia juga mengelap meja hingga bersih. Setelahnya, ia menyalakan vakum untuk menyedot debu-debu di sofa. Setelah beres, ia menyiapkan alat pel elektrik dan mulai mengepel lantai dengan air yang sudah dicampur desinfektan hingga bersih.


Sejak cleaning service itu masuk hingga melakukan pekerjaannya, tak sedetikpun Jevian melepaskan tatapannya. Apalagi saat ini Jefrey sedang tertidur jadi ia bisa memperhatikan perempuan itu tanpa mengalihkan pandangannya.


Perempuan itu bekerja secara profesional. Tak sedikitpun ia berniat untuk melirik Jevian ataupun memperhatikan sekitar selain memperhatikan segala detail mengenai pekerjaannya. Jadi ia sama sekali tidak menyadari kalau Jevian sedang memperhatikannya.


Setelah semua pekerjaannya selesai, perempuan itu pun segera beranjak untuk pamit keluar.


"Pekerjaan saya sudah selesai. Kalau begitu, saya pamit, tuan," ujarnya sambil membungkukkan tubuhnya ke arah Jevian. Namun, baru saja perempuan itu hendak membalikkan badannya, Jevian sudah lebih dulu menghentikannya.


"Tunggu sebentar!" seru Jevian membuat perempuan itu kembali membalikkan badannya menghadap Jevian.


"Ada apa, tuan? Apa ada pekerjaan saya yang kurang memuaskan?" tanya perempuan itu khawatir. Ia baru beberapa hari bekerja di rumah sakit itu, jelas saja ia merasa khawatir. Bagaimana kalau ada yang komplain atas hasil kinerjanya.


Tidak mudah mendapatkan pekerjaan di sana. Apalagi ia tidak menggunakan ijazah magisternya. Entah mengapa, ia sedang enggan berhubungan dengan perusahaan. Ia ingin bekerja biasa-biasa dulu. Ia sebenarnya hanya tak mau masa lalunya diulik lagi.


Tidak masalah kalau hanya satu orang yang mengetahui, tapi bagaimana bila hal itu tersebar, ia tak sanggup mendapatkan cercaan dari orang-orang.


Sungguh, ia amat menyesali perbuatannya di masa lalu. Beruntung orang yang bersangkutan tidak menuntutnya. Meskipun awalnya mereka menuntut, namun setelah mengetahui alasan ia melakukan kesalahan fatal tersebut, mereka justru memaafkannya. Benar-benar orang-orang yang berhati mulia. Hal itulah yang membuatnya begitu malu untuk kembali berhadapan dengan orang-orang di masa lalunya itu. Namun hukum tetaplah hukum, ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Namun hukuman yang ia terima tidak seberat sebelumnya. Karena itu, hanya dalam kurun waktu 4 tahun, ia akhirnya dibebaskan.


Jevian tersenyum dan menggeleng, "tidak. Pekerjaanmu bagus dan rapi. Saya suka. Hanya saja, boleh kita bicara sebentar?"


"Maaf tuan, saya tidak bisa. Saya masih memiliki banyak pekerjaan," tolak perempuan itu.


Jevian mengangguk, "kamu orang yang kemarin menyelamatkan anak saya kan?" Karena sepertinya perempuan itu tidak bisa diajak berbicara santai, Jevian pun langsung melontarkan pertanyaan.


Dengan gerakan lambat, perempuan itupun mengangguk.


"Sungguh saya sangat berhutang budi padamu. Saya bingung, bagaimana caranya menbalas kebaikanmu. Tanpa bantuanmu, entah bagaimana keadaan anak saya saat ini. Keadaannya sedang tidak bagus. Bila sesuatu yang buruk sampai terjadi padanya, entah bagaimana aku bisa hidup."


"Anda tidak perlu terlalu memikirkannya, tuan. Saya ikhlas membantu. Saya juga kebetulan berada di sana. Kalaupun bukan saya, bisa jadi ada orang lain yang menolongnya. Semua sudah takdir. Bersyukurlah pada Tuhan. Sebab semuanya tak lepas dari tangan Tuhan yang ingin menyelamatkan putra Anda," ujar perempuan itu sambil melirik Jefrey yang tampak mengerjapkan mata.


Jevian mengangguk membenarkan.


"Begini saja, lain kali, kalau kau membutuhkan pertolongan, hubungi aku, aku berjanji akan berusaha membantumu sebisaku, bagaimana?" tawar Jevian.


Alis perempuan itu terangkat. Tak ingin berlama-lama di sana, perempuan itupun mengangguk.


"Sepertinya anak Anda sudah bangun," ujar perempuan itu membuat Jevian segera menoleh ke belakang.


"Ya, boy."


"Haus," ujar Jefrey.


"Tunggu sebentar."


Jevian lantas bergerak hendak mengambil air minum di atas nakas bersamaan dengan perempuan tadi yang ingin berpamitan keluar. Bagaimanapun tidak sopan rasanya kalau ia keluar begitu saja.


"Tuan, kalau begitu saya permisi dulu!"


"Tunggu!"


"Ya."


"Nama. Em ... Maksudku, siapa namamu? Jadi aku tidak bingung kalau ingin menyapamu saat kita berpapasan," ujar Jevian.


Perempuan itu terdiam sejenak. Lalu ia pun berkata, "Roseline. Namaku Roseline. Anda bisa memanggilku ... Seline."


Setelah mengucapkan itu, perempuan bernama Roseline itupun membungkuk dan segera berlalu dari sana. Setelah perempuan bernama Roseline itu keluar, Jevian pun melanjutkan memberi Jefrey minum.


Sementara itu, di perusahaan milik Tobey, tampak pria berusia 50 tahunan itu sedang marah-marah pada sang putri yang belum berhasil membujuk Jevian untuk membatalkan rencana perceraiannya.


"Kau ini bagaimana Eve, menaklukkan suami sendiri saja tidak bisa. Itu akibatnya kalau kau selalu bergaul dengan Lynda sialan itu. Apa perlu Daddy menyingkirkan wanita sialan itu agar kau kembali menjadi Evelyn yang dulu?" tukas Tobey dengan tatapan tajamnya.


Mata Eve sontak melotot tidak terima.


"Daddy jangan macam-macam dengan Lynda. Awas saja kalau daddy melakukan sesuatu padanya, aku takkan tinggal diam. Ingat itu, Dad," balas Eve tak mau kalah.


"Kau mengancam Daddy? Kau pikir Daddy akan takut? Begitu? Bila kau masih saja bersikap santai seperti ini, daddy tak main-main, daddy akan menghancurkannya?"


"Oke, oke, aku akan berusaha. Tapi bagaimana bila dia tetap berkeras ingin bercerai?"


"Kalau dia tetap keras kepala, dengan terpaksa daddy akan menghancurkan perusahaannya. Daddy akan menarik semua investasi di perusahaannya. Daddy juga akan membuat investor lainnya mengikuti jejak daddy sehingga perusahaannya hancur lebur. Daddy yakin, ia akan segera merangkak meminta bantuan daddy. Apalagi anak kalian membutuhkan uang yang tidak sedikit untuk pengobatannya."


"Kenapa daddy tidak gunakan cara itu saja? Apa daddy tidak malu, membiarkan anak perempuan daddy satu-satunya ini mengemis cinta dari laki-laki lemah seperti dia," sungut Eve kesal.


Bagaimana tidak ia kesal, sang ayah memiliki cara yang lebih ampuh, tapi justru menyuruhnya merendahkan harga diri untuk memohon Jevian agar kembali padanya.


Tobey berdecak kesal, "ikuti saja perintah Daddy. Jangan banyak membantah!" sentak Tobey membuat dada Eve naik turun.


Dengan langkah menghentak, ia pun segera meninggalkan ruangan sang ayah. Setelah berada di dalam mobil, ia pun segera menekan salah satu nomor yang paling sering ia hubungi.


"Kau dimana?"


"Di apartemen. Kenapa baby? Apa terjadi sesuatu?" tanya seseorang di seberang sana.


"Hmmm ... Aku sedang kesal sekali. Hanya kau yang bisa membuat mood ku kembali membaik. Jadi tunggu aku."


"Okey, baby. Ku tunggu."


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...