
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 4 PM, Rhea pun gegas membereskan barang-barangnya untuk segera pulang ke rumah. Meskipun restoran itu buka hingga larut malam, tapi atas kebijakan Ael, Rhea bisa pulang lebih awal sama seperti pekerjaan kantoran umumnya.
Setelah membereskan barang-barangnya, Rhea pun gegas berjalan keluar ruangan. Sesekali ia tersenyum ramah menyapa para karyawan yang bekerja di restoran tersebut. Kadang Rhea juga tersenyum saat berpapasan dengan pelanggan restoran tersebut.
"Sudah mau pulang?" tanya Ael saat berpapasan dengan Rhea.
Rhea lantas mengangguk sambil tersenyum tipis.
"Mau ku antar? Bukankah kau tidak membawa mobil," tawar Ael yang akan dengan senang hati mengantar Rhea bila ia setuju. Tapi Rhea yang pantang merepotkan orang lain pun menolaknya dengan lembut.
"Tidak perlu repot-repot. Aku bisa naik taksi."
"Aku tidak repot kok. Mau ya!" tawar Ael lagi sambil menaik-turunkan alisnya membuat Rhea terkekeh sendiri.
"Ya sudah kalau kau memaksa," putus Rhea akhirnya. Ael pun berseru riang.
"Kamu tunggu sebentar. Aku ambil kunci mobil dulu," ujarnya sebelum berlari menuju ruang kerjanya yang bersebelahan dengan ruangan Rhea.
Rhea mengangguk. Tak lama kemudian, Ael kembali dengan kunci mobil di tangannya. Mereka lantas berjalan keluar restoran sambil berbincang. Sesekali terlihat Rhea terkekeh mendengar gurauan receh Ael yang selalu mampu membuatnya terhibur.
"Makanya jangan terlalu lama jomblo jadi aunty pikir kamu itu gay," cibir Rhea membuat Ael mengerucutkan bibirnya.
"Ya mau bagaimana lagi, yang disuka malah nikah sama laki-laki lain. Mending karena cinta, eh ini nikah karena perjodohan. Makanya aku tidak mau dijodoh-jodohkan. Aku tidak mau berakhir seperti dirimu. Aku ingin menikah karena cinta. Pernikahan itu harus berakhir bahagia, kalo endingnya menderita, lebih baik tak usah. Menikah karena cinta saja bisa berakhir menderita, apalagi menikah tanpa cinta. Daripada makan hati, lebih baik makan sepuasnya. Hahaha ... " tukas Ael setengah menyindir.
Rhea yang merasa disindir hanya bisa mengerucutkan bibirnya, "jangan salah ya, banyak kok yang menikah karena perjodohan bisa langgeng saling mencintai hingga sepanjang usia. Sebenarnya itu tergantung manusianya. Kalau mereka sanggup berkomitmen pada pernikahan, mau saling menerima satu sama lain, mau saling melengkapi, dan saling menumbuhkan rasa cinta di hati masing-masing, pernikahan mereka pasti bisa kok langgeng," ucap Rhea memaparkan unek-uneknya.
"Tapi sayangnya tidak semua orang yang menikah karena perjodohan bisa menerima itu. Kebanyakan dari mereka justru sibuk dengan kepentingannya masing-masing. Egonya masing-masing. Apalagi bagi mereka yang diam-diam masih memiliki kekasih atau masih terbelenggu dengan seseorang di masa lalu, yakin deh, pernikahan yang diharapkan bahagia justru seakan menjadi bencana," tukas Ael lagi membuat binar mata Rhea berubah sendu.
Ael yang sadar dengan perkataannya yang membuat perempuan cantik di sebelahnya merasa sedih jadi terdiam. Kini mereka sudah berada di depan pintu masuk restoran. Baru saja Ael ingin membuka suaranya kembali, tiba-tiba terdengar suara klakson dari sebuah mobil tak jauh dari tempat mereka berdiri. Sontak keduanya pun mengalihkan pandangan ke arah mobil tersebut.
Lalu kaca pintu mobil bagian penumpang pun terbuka. Tampak seorang pria tampan di dalamnya sedang menatap ke arah Rhea. Rhea sempat tertegun sejenak saat melihatnya. Rhea memang mengenali mobil itu, tapi siapa sangka memang laki-laki itulah yang ada di dalamnya. Ia pikir, mobil itu sekedar mirip saja. Ia memang tidak menghapal nomor plat mobil laki-laki tersebut. Ia hanya sekedar familiar. Apalagi pagi tadi ia pun naik ke atas mobil itu.
"Theo," gumamnya dengan mata membulat.
"Suamimu ... menjemput," lirih Ael yang merasa kecewa karena tidak bisa mengantar Rhea pulang ke rumahnya.
Melihat Rhea mematung, si pengemudi yang tidak lain adalah Theo itu pun kembali menekan klaksonnya. Rhea akhirnya tersadar dari keterpakuannya.
Ia menelan ludah kasar saat menyadari sepertinya Theo sengaja datang untuk menjemputnya. Rhea lantas menoleh ke arah Ael yang wajahnya telah ditekuk.
Sambil meringis ia berkata, "maaf Ael. Sepertinya ... Theo sengaja menjemputku. Terima kasih atas tawarannya. Maaf, aku pulang duluan ya," ucap Rhea dengan binar bahagia di netranya.
Hal kecil yang Theo lakukan ternyata mampu membuatnya sedikit bahagia. Sebuah kemajuan yang cukup pesat. Ia tidak menyangka, kehamilannya mampu membuat Theo bersikap lebih lunak padanya. Meskipun belum bisa bersikap manis, tapi setidaknya perlakuannya terasa lebih hangat dari sebelumnya yang penuh kekakuan dan dingin. Tanpa sadar, bunga-bunga cinta di hati Rhea makin merekah. Tak peduli bagaimana akhir kisahnya nanti, ia akan menikmati perjalanan cintanya saat ini. Bagaimanapun, ia sedang hamil saat ini. Ia harus menjaga mental dan kewarasannya. Ia menjaga hatinya agar merasa bahagia. Bukan hanya untuk dirinya, tapi juga calon buah hatinya.
...***...
"Mau mampir ke suatu tempat?"
"Hah!" Menghadapi perubahan sikap Theo yang tiba-tiba terkadang membuat Rhea seperti orang bodoh. Seperti saat ini, padahal ia mendengar dengan jelas apa yang Theo katakan, tapi ia justru seperti orang bodoh dan tuli yang tidak mendengar apa yang Theo katakan.
Theo menghembuskan nafas kasar, kemudian kembali bertanya.
"Kau mau mampir ke suatu tempat?" ulangnya membuat bibir Rhea reflek terangkat.
"Aku ingin take a way burger, boleh?" tanya Rhea antusias.
Mumpung Theo menawarkan diri, apa salahnya memanfaatkannya kan. Kebetulan ia memang lapar dan ingin sekali makan burger.
Rhea berbicara dengan mata berbinar-binar. Telapak tangan kanannya mengusap perutnya yang dari luar terlihat rata, namun bila disentuh sudah terasa ada tonjolan padat.
Tanpa banyak bicara, Theo pun langsung memutar kemudinya berbelok ke arah lain yang akan akan menjadi tujuannya.
Tak butuh waktu lama, mereka pun telah tiba di tempat tujuan. Tanpa turun dari mobilnya, mereka pun segera melakukan pemesanan. Setelah mendapatkan apa yang Rhea mau, Theo pun segera melajukan kembali mobilnya untuk pulang ke apartemen.
Rhea tampak begitu menikmati burger miliknya. Malah karena terlalu menikmati, Rhea sampai lupa kalau ia tidak sendiri di sana. Perut Theo pun sebenarnya lapar karena itu ia membeli 3 buah triple beef burger with cheese, tapi untuk sambil makan rasanya sedikit sulit sebab ia sedang menyetir saat ini.
Setelah menghabiskan satu buah burger, barulah Rhea sadar kalau di sampingnya ada Theo. Tanpa sadar ia menyengir lebar.
"Hehehe ... Maaf, aku terlalu lapar sampai lupa menawarimu. Kau mau?" Rhea lantas menyodorkan sebuah burger yang baru ia buka bungkusannya ke dekat mulut Theo. Theo tampak mendengkus, tapi ia tetap membuka mulutnya untuk melahap burger tersebut.
Masa bodoh dengan gengsi. Ia sedang lapar saat ini. Sudah berapa hari ini ia kehilangan selera makannya. Mumpung selera makannya sedang kembali, jadi ia lahap saja burger tiada di hadapannya.
Melihat Theo yang mau menyantap burger yang disodorkannya membuat mata Rhea tiba-tiba berkaca-kaca.
Theo yang melihat mata Rhea berkaca-kaca sontak saja terkejut hingga mengerem mendadak.
"Kau kenapa? Apa ada yang sakit?" tanya Theo setelahnya.
Rhea menggelengkan kepalanya, "tidak."
"Kalau tidak, kenapa kau menangis?"
Dengan sesenggukan Rhea menjawab, "terima kasih. Terima kasih karena sudah mau bersikap lebih baik padaku. Aku tidak akan berharap lebih. Tapi kalaupun akhirnya kita memang harus berpisah, semoga saja kita bisa berpisah secara baik-baik. Tak ada kebencian, apalagi dendam. Aku juga tak akan melarangmu bertemu anak kita nanti. Bagaimanapun, kau tetaplah ayahnya. Tak ada yang dapat mengubah fakta itu," tukasnya lembut tapi entah kenapa apa yang Rhea katakan membuat dada Theo terasa seakan tercabik.
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...