
"Ada, tentu saja ada yang harus kita bicarakan. Ini tentang kau yang hanya tempat pelampiasan Rainero. Sebelum kau menyesal, lebih baik kau tinggalkan Rainero sebab yang ia cintai hanyalah aku."
Alis Shenina menukik tajam, sungguh ia tak menyangka Delianza belum menyerah untuk kembali pada Rainero.
"Benarkah? Kalau dia masih mencintaimu, kenapa dia tidak mau kembali padamu?"
"Itu karena dia sedang marah saja. Saat ia sudah tidak marah lagi, aku yakin ia akan segera kembali padaku dan meninggalkanmu," ucapnya penuh percaya diri. "Kau lihat mansion ini, apa kau tidak heran kenapa aku bisa masuk dengan bebas kemari? Tentu saja itu karena mansion ini memang dibangun untukku.. Untuk kami setelah menikah. Bahkan setiap detil bangunan ini sesuai keinginanku. Begitu juga semua perabot dan barang-barang yang menempel di sini, kau tahu, aku sendiri lah yang memilihnya. Rainero menyerahkan semuanya padaku karena memang mansion ini dibangun untuk kami setelah menikah. Jadi ... kau sadar kan bagaimana posisimu sebenarnya?" Delianza menyeringai licik.
Shenina tertegun mendengarnya.
"Percaya diri sekali Anda Nona Delianza. Apa Anda lupa, kalau Anda telah memiliki seorang suami. Bahkan Anda sedang mengandung anak suami Anda." Shenina tetap berusaha bersikap tenang dan tidak terpancing dengan provokasi Delianza.
"Itu bukan urusanmu. Lagipula yang aku kandung adalah keluarga Sanches, jadi tak masalah kan. Tidak sepertimu yang entah hamil anak siapa. Lihat, dari perutmu yang sudah sangat besar saja, usianya pasti hampir sama dengan usia kandunganku. Kau pasti telah menipu Rain kan? Atau jangan-jangan kamu menjebaknya dan mengancamnya agar mau mengakui anak itu anak Rainero?"
Shenina terkekeh, "picik sekali pikiranmu nona Delianza. Tau apa kau dengan anak yang ku kandung ini? Kalau aku bilang anak ini adalah anak Rainero, apa kau percaya?" Shenina tersenyum miring.
Delianza terkekeh sinis, "itu tidak mungkin karena Rainero itu ... mandul."
"Ah, sayang sekali Anda salah nona. Dengar, anak yang ku kandung adalah anak-anak Rainero. Dan kenapa perutku sama besar seperti perutmu karena aku mengandung anak kembar. Aku mengandung dua sekaligus, hebat bukan," ucap Shenina bangga.
Mata Delianza seketika melotot tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.
"Hahaha ... kau jangan mencoba menipuku, jalaang. Rainero itu mandul jadi mana mungkin kau bisa hamil."
Shenina menghela nafas kemudian menyunggingkan senyum mengejek.
"Sayangnya, aku memang benar-benar mengandung anak Rainero. Kau yang bodoh, saat surat keterangan hasil pemeriksaan keluar, kau langsung mengecap Rainero mandul tanpa mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu. Setelah kau meninggalkan Rainero begitu saja, lalu kau ingin kembali? Mimpi saja kau karena sampai kapanpun aku takkan pernah melepaskan Rainero," ucap Shenina dengan tegas.
"Seharusnya kau malu, bukankah kau sendiri yang memilih pergi, kenapa tiba-tiba kau ingin kembali dengan Rainero? Apa otakmu sudah bermasalah? Daripada sibuk mengejar laki-laki yang sudah jelas takkan lagi kembali padamu, bukankah kau lebih baik fokus pada kehamilanmu? Keluargamu? Rumah tanggamu?"
Shenina menarik nafas dalam-dalam. Lelah juga ternyata banyak berbicara, "lebih baik Anda segera keluar dari sini. Buang jauh-jauh keinginan bodoh mu itu dan jangan merendahkan harga dirimu sendiri dengan mengejar laki-laki yang jelas telah tidak mencintaimu lagi."
Setelah mengucapkan itu, Shenina pun segera berdiri, meninggalkan Delianza yang terpaku tak percaya dengan apa yang baru saja Shenina katakan.
Shenina tampaknya memilih pergi ke taman belakang. Saat punggung Shenina kian menjauh, Rainero pun keluar.
Delianza menoleh saat mendengar langkah kaki seseorang. Dengan mata berkaca-kaca ia pun berdiri dan berusaha mendekati Rainero.
"Tetap berdiri di tempatmu!" tegasnya dengan kedua tangan berada di saku celana. Sebenarnya ia sudah mendengar sedikit pembicaraan Shenina dan Delianza, tapi ia memilih menjadi pendengar. Ia ingin melihat bagaimana cara Shenina mempertahankan dirinya dan Rainero bangga, Shenina ternyata tidak akan menyerah begitu saja atas hubungan mereka.
"Aku sudah mendengar pembicaraan kalian tadi. Bukankah aku sudah bilang, aku tidak mungkin kembali padamu. Bukan karena masih marah. Kecewa itu mungkin masih ada, tapi saat ini aku sudah berusaha berdamai dengan keadaan. Apalagi sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah dan aku tak ingin ada bayang-bayang masa lalu yang mengganggu langkahku. Kalau kau bertanya-tanya anak siapa yang Shenina kandung, jawabannya benar adalah anakku. Shenina tidak berbohong. Sebenarnya aku tidak mandul. Aku memang memiliki masalah dengan kesuburan, tapi bukan berarti aku tidak bisa memiliki keturunan. Jadi aku harap kau jaga batasanmu. Jaga juga bicaramu karena aku tidak menyukai orang-orang yang berkata semaunya tentang Shenina. Sampai kapanpun aku takkan pernah kembali padamu karena aku telah mencintai Shenina. Aku mencintainya, sangat mencintainya. Dan rasa cintaku padamu pun telah benar-benar hilang tak bersisa. Jadi lebih baik kau fokus pada anak dan suamimu karena sampai kapanpun aku takkan pernah kembali padamu. Kau hanyalah bagian masa lalu kelamku, sedangkan Shenina adalah masa depan. Aku harap ini terakhir kalinya kau mencoba mengusik hidupku dan Shenina. Karena aku tak sebaik itu akan memaafkan setiap orang yang mencoba mengusik kebahagiaan orang-orang yang ku cinta," tegas Rainero membuat Delianza diam tak bergeming.
Ingin rasanya Delianza menyanggah kata-kata Rainero, tapi lidahnya serasa kelu. Apalagi setelah mendengar pernyataan Shenina dan Rainero yang sungguh di luar dugaan.
Tak ada cinta. Tak ada kasih. Tak ada sayang. Semua telah benar-benar sirna. Semua karena kesalahan dan kebodohannya.
Dengan langkah gontai, Delianza pun meninggalkan kediaman Rainero. Sebelum benar-benar pergi, dipandanginya rumah super megah itu dengan tatapan nanar. Air matanya jatuh. Impiannya kini tinggallah kenangan.
Sementara itu, di taman belakang tampak Shenina sedang melamun. Tiba-tiba sepasang lengan melingkari pundaknya. Shenina tersentak, tapi mulutnya bungkam, tak merespon sama sekali.
"Kenapa melamun, hm? Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Rainero lalu mengecup pipi chubby Shenina.
"Rain, apa benar mansion ini dibangun untuk Nona Delianza?" tanya Shenina tanpa basa-basi. Ia tak ingin menyimpan tanda tanya dalam benaknya yang mana hanya akan membuat batinnya tersiksa.
Rainero terhenyak, ia tak menyangka Shenina akan menanyakan ini. Namun Rainero sadari, mungkin ini ada hubungannya dengan kedatangan Delianza tadi. Pasti perempuan itu yang mengatakan semua itu.
Melihat kebungkaman Rainero membuat Shenina menghela nafas panjang.
"Maaf. Kalau kau tidak menyukainya, kita bisa membangun mansion yang baru. Yang lebih besar, lebih megah, sesuai keinginanmu. Mau juga mengisinya dengan barang-barang pilihanmu. Maaf, karena aku tidak mengatakan fakta itu. Aku pikir hal itu tidak masalah, tapi aku lupa, kalau hal itu pasti akan membuatmu terluka tanpa aku sadari. Maafkan aku!" ucap Rainero sambil mengeratkan pelukannya.
Shenina terdiam sejenak. Ia berusaha berpikir bijak.
"Tidak perlu. Buang-buang uang saja," ketus Shenina.
"Daripada hal itu jadi beban pikiranmu, bukankah lebih baik kita membangun mansion sendiri agar tidak ada bayang-bayang dia lagi?" Rainero berusaha bersikap bijak agar tidak menyakiti Shenina.
Shenina menghela nafas panjang, "awalnya memang aku sedikit kesal. Aku khawatir hal itu justru membuatmu selalu terbayang dia. Tapi setelah dipikir-pikir, bukankah aku yang jadi pemenangnya. Sepertinya tak masalah kita tetap tinggal di sini, tapi ... "
"Tapi apa?" Rainero telah berpindah duduk di samping Shenina.
"Boleh aku mengatur ulang isi mansion ini? Dan mengisinya dengan barang-barang pilihanku sendiri?" Shenina mengalihkan tatapannya pada Rainero yang kini mengulas senyum lebar.
"Tentu saja. Lakukan saja apa yang menurutmu baik dan yang pasti bisa membuatmu bahagia. Karena bahagiamu adalah bahagiaku."
Hati Shenina berbunga. Tak ada kata-kata yang lebih baik sebagai ungkapan terima kasih selain sebuah tindakan. Shenina lantas mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Rainero. Rainero sejenak terpaku dengan tindakan tak terduga Shenina. Sebagai balasan, Rainero lantas menarik tengkuk Shenina dan kembali menyatukan bibir mereka dalam pagutan mesra dan penuh cinta.
"Ck ... dicari-cari kemana ternyata malah bermesraan di sini. Dasar bucin parah," omel Axton saat melihat Rainero yang justru sedang berpagutan mesra.
Axton lantas memutar tubuhnya menjauh dari taman belakang dan membuka ponselnya. Mencari salah satu nomor yang entah mengapa beberapa waktu ini tiba-tiba menghilang tanpa kabar.
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...