
Hari ini Roseline sudah mulai bekerja di kediaman Jevian. Melihat kedatangan Roseline di rumahnya, Jefrey pun tersenyum lebar.
"Aunty Seline?" gumamnya dengan mata berbinar. "Kenapa aunty ada di sini?" Lalu Jefrey melirik ke arah sebuah koper berukuran lumayan besar yang digeret Roseline ke dalam rumah. Dahinya berkerut, hingga interupsi Jevian membuatnya akhirnya tahu tujuan kedatangan Roseline.
"Mulai sekarang aunty Seline akan bekerja di sini sebagai Nanny mu. Kau tahu kan, aunty Lora tidak lama lagi akan pulang ke negaranya jadi kau membutuhkan nanny baru untuk menemani dan menjagamu. Bagaimana? Jefrey setuju?"
Jevian lupa, seharusnya ia bertanya ini sebelum menawarkan pekerjaan itu pada Roseline. Namun saat itu ia tidak memiliki ide lain untuk membantu sekaligus menebus kesalahannya pada Roseline. Apalagi dapat ia lihat, Roseline merupakan sosok yang kuat dan tidak mudah diintimidasi. Sangat cocok untuk menjaga Jefrey dari rencana-rencana busuk Tobey dan Eve yang bisa kapan saja mereka lancarkan.
Jefrey menarik kedua sudut bibirnya ke atas. Mengingat bagaimana Roseline menjaga dan membelanya tempo hari membuat Jefrey pun jadi menyukai sosok Roseline. Dengan cepat, Jefrey mengangguk setuju.
"Jef setuju, Dad. Aunty Seline baik dan hebat, Jef suka," ujarnya apalagi saat mengingat bagaimana Roseline mencengkeram tangan sang mommy yang hendak menghentikannya dan memelintirnya.
Jevian pun bernafas dengan lega. Akhirnya, ia tidak perlu pusing-pusing lagi mencari calon nanny pengganti Lora. Apalagi zaman sekarang susah mencari seseorang yang benar-benar dapat dipercaya. Terlebih ada Tobey dan Eve yang bisa melakukan apapun untuk menghentikan niatnya bercerai. Ia harap Roseline benar-benar bisa dipercaya. Apalagi baginya kini Jefrey adalah prioritasnya. Kesehatan, keamanan, dan keselamatan Jefrey adalah yang utama.
***
"Wah, Jefrey suka menggambar, hm?" tanya Roseline seraya meletakkan segelas susu coklat yang dicampur es batu untuk Jefrey. Di siang yang terik ini memang sangat nikmat menyantap maupun meminum sesuatu yang dingin. Menurut Lora, Jefrey menyukai susu coklat jadi ia membuatkan susu coklat diberi es batu untuk menemani Jefrey yang sedang menggambar.
"Iya aunty, Jef suka menggambar," jawab Jefrey antusias.
"Hebat. Kupu-kupunya cantik sekali. Persis asli," puji Roseline membuat Jefrey tersenyum lebar.
"Aunty bisa menggambar?"
Roseline terkekeh, "bisa. Tapi hanya gambar orang lidi," jawabnya sambil tergelak.
"Orang lidi?" beo Jefrey yang tidak pernah mendengar nama itu.
Roseline menggaruk tengkuknya sambil terkekeh, "Jef tidak tahu, ya? Orang lidi itu ada di cerita kartun dari negeri nan jauh di sana."
"Oh ya? Tapi kok Jef tidak pernah mendengarnya ya?" beo Jefrey. "Bisa aunty gambarkan?" pinta Jefrey memelas.
Roseline tersenyum kikuk. Tapi tak pelak ia menuruti keinginan Jefrey. Setelah gambar itu selesai, Roseline pun menunjukkannya pada Jefrey. Mata Jefrey sontak membulat. Lalu sepersekian detik kemudian ia pun tertawa terbahak-bahak. Roseline pun ikut tertawa. Ia merasa geli sendiri dengan hasil gambarnya.
"Aunty serius cuma bisa gambar ini? Aunty pasti hanya bercanda, iya kan?"
"Aunty serius. Aunty itu paling tidak bisa dalam urusan menggambar. Tapi kalau urusan pelajaran apalagi matematika, aunty pasti jagonya."
"Wah, aunty hebat. Berarti kalau Jef sudah masuk elementary school, Jef bisa minta ajarin Aunty saat belajar," seru Jefrey girang.
"No problem. Sekarang, minum dulu ya susu coklatnya. Jef pasti haus setelah menggambar dan tertawa barusan,' ujar Roseline seraya menyodorkan segelas es susu coklat padanya.
Jefrey pun menerima dengan antusias. Jefrey meminum es susu coklatnya dengan bersemangat.
Semua interaksi antara Jefrey dan Roseline tak luput dari sepasang mata yang sejak tadi memperhatikan mereka. Tak lupa ia memotret kebersamaan Jefrey dan Roseline kemudian mengirimkan fotonya kepada seseorang yang sudah sejak tadi menunggu kabar darinya.
***
Jevian menatap puas pada foto-foto dan video yang dikirimkan Lora. Ternyata sikap Roseline cukup baik pada putranya meskipun mereka belum lama saling mengenal. Jevian sengaja meminta Lora mengawasi secara diam-diam interaksi antara Roseline dan Jefrey. Dan dari foto serta video itu, seketika membuat Jevian terkesima. Bagaimana perempuan yang selalu memasang wajah datar itu bisa membuat Jefrey tertawa lebar jelas saja membuat Jevian terperangah tak percaya.
Setelah melihat foto-foto dan video yang dikirimkan Lora, akhirnya Jevian bisa benar-benar bernafas lega. Sepertinya Roseline memang sosok yang dapat ia percaya.
Sore ini Roseline menemani Jefrey bermain bola. Bukan sepak by, main lempar-lemparan bola sebab Jefrey tidak bisa terlalu banyak bergerak. Jantungnya lemah, Roseline sudah mendapatkan segala informasi mengenai Jefrey. Roseline merasa iba dengan anak sekecil Jefrey.
Menurut Lora, ibu Jefrey tidak pernah menginginkan anak itu. Alhasil, meskipun hamil ia masih sering mengkonsumsi alkohol dan merokok tanpa sepengetahuan Jevian. Bahkan saat ketahuan pun, ia tidak merasa bersalah. Setelah Jefrey lahir dan dinyatakan mengalami kelainan jantung, bukannya merasa bersalah, Eve justru makin membencinya. Sudah tidak pernah diinginkan ibunya, menderita penyakit pula, sungguh malang nasib Jefrey.
Beruntung Jefrey masih memiliki seorang ayah yang begitu menyayanginya. Tidak seperti dirinya dulu, memiliki ayah, tapi tidak mau mengakuinya. Hose justru memprovokasi dirinya kalau Reeves lah ayah kandungnya. Segala tipu daya Hose hembuskan membuat dirinya begitu membenci Reeves dan Delena serta putra satu-satunya, Rainero. Apalagi sedari kecil ia tidak pernah merasakan kasih sayang orang tua membuatnya makin membenci keluarga Sanches itu. Ia merasa dendam. Ia merasa, seharusnya ia lah berada di posisi Rainero sebab ia yang lebih dulu lahir ke dunia.
Namun kenyataan menampar dirinya, Hose telah menipunya mentah-mentah. Roseline merasa benar-benar malu. Ia kehilangan wajah untuk kembali bertemu Delena dan keluarganya. Bahkan setelah hampir terbunuh, Delena dan Shenina masih mau memaafkan dan mencabut tuntutan mereka.
Bagaimana Roseline bisa kembali berhadapan dengan mereka? Oleh sebab itu, Roseline memilih pergi dari negara tersebut ke negara tetangga. Meskipun masih merupakan negara bagian, tapi setidaknya kemungkinan untuk saling bertemu sangat kecil. Berbeda bila mereka masih tinggal di dal satu negara.
"Jef, tangkap bolanya!" seru Roseline sambil melemparkan bola ke arah Jefrey. Jefrey pun mengulurkan tangannya hingga bola itupun masuk ke dalam dekapannya.
Tiba-tiba terdengar keributan dari luar gerbang. Roseline yang begitu awas pun segera mendekat ke arah Jefrey, mengambil posisi untuk mengamankannya.
"Jefrey, Jefrey," pekik Eve yang sudah meringsek masuk ke dalam gerbang. Padahal gerbang itu dijaga beberapa orang bodyguard atas perintah Jevian, tapi ternyata sore itu Eve tiba-tiba datang dengan membawa pengawal yang lebih banyak lagi. Sepertinya ia sudah mempersiapkan segalanya agar bisa masuk ke dalam.
Mata Jefrey membulat. Seketika ekspresi ceria Jefrey berubah menjadi panik.
"Tenang, Jef, aunty di sini. Aunty akan melindungimu," ujar Roseline mencoba menenangkan.
"Jefrey, kau di sini?" seru Eve dengan senyum lebarnya. Namun entah mengapa, Roseline tidak menyukai senyum itu. Terlihat palsu dan memuakkan.
"Berhenti di tempat!" seru Roseline yang sudah berdiri di depan Jefrey. Jefrey duduk di kursi, memalingkan wajah tak ingin melihat ibu yang tidak pernah mengharapkannya.
"Kau lagi!" desis Eve penuh kebencian. "Minggir! Aku ingin bertemu putraku," usir Eve pada Roseline.
"Apa? Putra? Sejak kapan Jefrey menjadi putramu? Bukannya kau tidak pernah mengharapkan kehadirannya?" sinis Roseline membuat mata Eve melotot tajam.
"Itu bukan urusanmu. Segera menyingkir sebelum aku melakukan kekerasan padamu," kukuh Eve.
"Lakukan saja bila kau mampu," sahut Roseline acuh tak acuh.
Eve menggeram marah. Kemudian ia menyuruh dua orang pengawal yang berdiri di belakang tubuhnya untuk maju menyingkirkan Roseline. Roseline melihat Lora pun segera memanggilnya dan memintanya membawa Jefrey masuk ke dalam.
Lora pun menurut dan bergegas meraih Jefrey ke dalam gendongannya kemudian masuk kedalam rumah. Sementara itu, Roseline tampak berusaha menghalang-halangi pengawal Eve yang ingin mendekat Jefrey.
"Bodoh, melawan satu perempuan tidak bisa," sentak Eve saat melihat dua pengawalnya yang kewalahan menghadapi Roseline.
Satu pengawal Eve sudah tumbang. Tinggal satu lagi. Kemampuan beladiri laki-laki itu kelihatan jauh lebih tinggi. Tapi banyak jalan menuju Roma. Roseline takkan mengalah. Akhirnya, pengawal kedua Eve pun berhasil tumbang.
Melihat kekalahan orang-orang suruhannya, akhirnya Eve pergi dengan dengan gelora amarah yang menggebu-gebu.
Setelah Eve pergi, di saat bersamaan Jevian pun pulang. Keamanan rumah pun segera melapor. Jevian yang panik dengan keadaan Jefrey pun gegas berlari masuk ke dalam rumah. Ia pun segera berjongkok di hadapan Jefrey menanyakan keadaan putranya itu.
"Jef tidak apa-apa, Daddy. Daddy tidak perlu khawatir kan sudah ada aunty Seline. Aunty Seline ternyata hebat berkelahi, Daddy. Kalau Jef sudah sembuh, Jef ingin belajar berkelahi seperti aunty Seline, daddy. Boleh kan?"
Alis Jevian menukik. Ia memang sudah mendengar cerita keamanan rumahnya bagaimana menumbangkan pengawal Eve. Mereka yang juga melawan pengawal Eve yang lain pun kesulitan, tapi Roseline yang seorang perempuan ternyata mampu melawan dua orang sekaligus. Ia tak sengaja melihat setelah susah payah melawan pengawal Eve lainnya dengan teman-teman yang lainnya. Oleh sebab itu, ia tahu bagaimana tangguhnya Roseline melawan pengawal Eve.
Jevian lantas menoleh ke arah Roseline. Namun dahi Jevian seketika berkerut saat melihat wajah Roseline yang tiba-tiba memucat.
"Seline, kau kenapa?" tanya Jevian mendadak khawatir.
"Saya tidak apa-apa ... "
Bruk ...
Tiba-tiba Roseline tersungkur di lantai. Jevian, Jefrey, dan Lora seketika panik. Jevian pun gegas memeriksa keadaan Eve yang sudah pingsan. Mata Jevian seketika membelalak saat melihat aliran darah dari bagian belakang tubuh Roseline.
"Lora, jaga Jev di rumah. Aku akan membawa Seline ke rumah sakit sekarang!" ucapnya pada Lora.
"Dad," panggil Jefrey yang juga khawatir.
"Tunggu daddy di rumah, oke!" Jefrey mengangguk dengan mulut terkunci. Setelahnya, tanpa banyak bicara Jevian meraih Roseline ke dalam gendongannya. Ia akan membawa Roseline ke rumah sakit.
...***...
Maaf kalau ada typo, mata othor mejem melek terus soalnya. 🥱😝
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...