Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 205 (S3 Part 47)


Saat sibuk termenung seorang diri, tiba-tiba ada sepasang mata yang berbinar saat melihat keberadaan Roseline. Senyum tersungging di bibir tebal dan seksinya. Ia pun segera melangkahkan kakinya menuju Roseline dan memeluk pundaknya dari belakang seraya berbisik.


"Akhirnya aku menemukanmu, Sayang."


Tubuh Roseline menegang seketika. Matanya membulat saat menyadari siapa sosok laki-laki yang tengah memeluknya ini. Tangan Roseline bergetar, jantungnya berdegup dengan kencang, dadanya bergemuruh. Namun sebisa mungkin ia bersikap tenang. Tak ingin ia menunjukkan sisi lemahnya terhadap pria masa lalunya itu.


"Lepas!" desis Roseline.


Bukannya melepaskan, laki-laki yang tidak lain adalah Bastian itu justru terkekeh sambil menyeringai.


"Aku sangat merindukanmu, Baby."


"Bullshittt! Lepaskan aku, Bastian! Aku tidak ingin terjadi kesalahpahaman dengan orang lain. Lepas!" sentak Roseline.


"Aku serius, Baby," ucapnya lagi.


Roseline yang geram lantas mencengkeram tangan sang mantan kekasih, hendak menarik dan membantingnya, tapi nyatanya tak semudah itu.


Bastian terkekeh, "apa kau lupa, siapa yang mengajarkanmu judo, taekwondo, dan krav maga, hm?" ejek Bastian membuat mulut Roseline bungkam.


Ya, yang mengajarkan Roseline bela diri adalah Bastian sendiri. Ia sangat tahu, laki-laki itu merupakan ahlinya. Ia begitu jago. Semasa sekolah dulu, Bastian kerap menjuarai berbagai pertandingan bela diri. Dari Bastian pula ia bisa bela diri. Bastian mengajarkannya sebab dulu ia kerap menjadi sasaran bully-an. Hingga akhirnya ia berpacaran dengan Bastian, barulah orang-orang menjadi segan. Bastian laksana pelindungnya. Bastian bukan hanya melindungi, tapi mengajarinya bela diri agar Roseline bisa melindungi dirinya sendiri saat Bastian tak ada.


Dan benar saja, apa yang Bastian ajarkan memang sangat berguna. Apalagi setelah mereka berpisah dan Bastian menghilang. Orang-orang yang dulu selalu menatap benci dirinya namun tak dapat berbuat apa-apa satu persatu menunjukkan jati diri mereka. Mereka mengganggu Roseline di setiap waktu. Namun berkat bekal dari Bastian, Roseline mampu melawan mereka hingga akhirnya mereka tidak berani lagi mengganggu Roseline.


Namun tetap saja, sehebat apa dirinya, ia masih kalah dengan Bastian. Selain dia lebih menguasai berbagai macam ilmu bela diri, ia pun seorang laki-laki. Jelas saja tenaganya lebih kuat dibandingkan dirinya.


"Lepaskan tanganmu, Brengsekkk!" desis Roseline dengan wajah merah padam.


"Wow, kau sudah pandai mengumpat, hm?"


"Jangan macam-macam, Bastian! Kau tidak lupa kan kalau aku sudah menikah."


Tiba-tiba Bastian tergelak. Ia pun melepaskan rengkuhannya dan beralih berdiri di hadapan Roseline. Ditatapnya wajah Roseline yang lebih cantik dan dewasa. Roseline yang tak mau kalah pun balik menatap wajah Bastian tanpa gentar sedikitpun.


"Kau pikir aku bodoh, hm? Kau pikir kau bisa menipuku? Kau pikir aku tidak tahu apa hubunganmu dengan laki-laki itu? Kau pikir aku tidak tahu siapa dia, hah?" desis Bastian dengan satu sudut bibir terangkat.


Mata membulat. Ia terkejut, tapi dalam hitungan detik, ia kembali memasang wajah datar. Ia tak ingin membuat Bastian merasa menang karena berhasil mengetahui rahasianya.


"Kenapa? Kau terkejut bagaimana aku bisa tahu? Ayolah Rose, kenapa kau harus berlelah-lelah menjadi seorang Nanny bila aku bisa memberikan segalanya untukmu. Asal kau tahu, aku menikah dengannya bukan karena cinta. Aku melakukan segalanya untukmu. Dan kini, aku sudah mendapatkan segalanya. Kini kita bisa bersama Rose. Aku akan memberikan segalanya untukmu. Aku juga akan segera bercerai agar kita bisa segera bersama. Bagaimana, kau mau kan kembali padaku?" ucap Bastian serius.


Manik matanya yang kelabu menyorot tegas penuh kesungguhan ke arah Roseline. Roseline tertegun, tapi bukan berarti ia terkesima dengan apa yang Bastian ucapkan. Tidak. Ia justru merasa miris. Apakah Bastian pikir ia begitu menggilai harta sehingga akan dengan begitu mudah kembali ke pelukan Bastian setelah semua yang laki-laki itu inginkan ada dalam genggamannya. Ia bahkan tak pernah meminta apapun dari laki-laki itu selain berharap ia tetap setia dan terus menemaninya dalam keadaan apapun. Tapi laki-laki itu justru lebih memilih meninggalkan dirinya demi harta. Jelas saja Roseline kecewa dan terluka. Ia sakit hati.


Roseline terkekeh miris, "ternyata kau tidak pernah benar-benar mengenalku. Sudahlah Bastian, lupakan obsesimu itu. Itu bukanlah cinta. Kau bukan hanya tidak mengenalku dengan baik. Kau bahkan tidak pernah mencoba memperjuangkan ku. Kau pikir aku tidak kecewa, hah? Kau pikir dengan apa yang sudah kau miliki saat ini, kau dapat dengan mudah meluluhkan hatiku? Menyembuhkan luka hatiku? Menepis rasa kecewa, sehingga bisa menerimamu dengan begitu saja? Tidak. Kau sudah membuangku dan sejak itu pula aku sudah melupakan dirimu. Tak usah buang-buang waktumu untuk meluluhkan hatiku karena sampai kapanpun aku takkan pernah kembali padamu," ucap Roseline tegas membuat Bastian menggertakkan giginya.


"Seharusnya kau berterima kasih padaku, Rose. Sebab hanya aku yang mau menerimamu dengan tulus. Apa kau lupa siapa kau sebenarnya, hah? Kau hanya seorang mantan narapidana. Memangnya pria mana dan keluarga mana yang mau menerima statusmu itu? Tidak ada. Hanya aku. Hanya aku, Rose, yang mau menerima segala masa lalu mu itu. Ingat itu!" desis Bastian dengan rahang mengeras.


Roseline mendesis lirih. Bastian mengancamnya dengan memanfaatkan masa lalunya. Roseline semakin yakin, apa yang Bastian rasakan itu bukanlah cinta, melainkan obsesi. Entah dari mana pria itu tahu mengenai masa lalunya. Ah, Roseline ingat, Bastian bukanlah laki-laki sederhana yang dikenalnya dulu. Sekarang ia meminta kekuasaan jadi mudah saja baginya untuk mendapatkan informasi tentang dirinya.


Roseline menghela nafas panjang. Hari sudah semakin larut. Udara pun sudah semakin dingin hingga menusuk tulang. Roseline pun gegas berdiri untuk kembali ke dalam kamar rawat Jefrey dan Jevian. Namun baru saja Roseline hendak menutup pintu, tiba-tiba ada sebuah tangan yang membalik tubuhnya dan mendorongnya hingga merapat ke dinding.


"Aaargh ... " pekik Roseline terkejut. Matanya seketika membulat saat melihat Jevian lah yang ternyata menari tubuhnya. Bahkan kini ia sudah mengungkungnya dengan sebelah tangan. Wajah mereka nyaris tak berjarak karena Jevian begitu mendekatkan wajah mereka.


"Jevian, apa yang kau lakukan?" desis Roseline pelan sambil melirik ke arah ranjang di mana Jefrey sedang tertidur pulas.


"Katakan padaku, apa kau masih mencintai laki-laki itu?" tanya Jevian tiba-tiba membuat Roseline membulatkan matanya.


"Kau ... Melihat ... "


"Ya, aku melihat saat kau bertemu dengannya. Kenapa? Kau terkejut?" Jevian menyeringai sinis membuat Roseline menelan ludahnya kasar. Entah mengapa ia merasa bersalah. Padahal mereka belum memiliki hubungan apapun, tapi Roseline justru merasa bersalah pada Jevian.


"Bu-bukan seperti itu" Sergah Roseline.


"Lantas apa? Jelaskan padaku? Apa alasanmu menolak ku karena kau masih mencintai laki-laki itu? Jangan diam saja! Aku butuh penjelasanmu."


"Aku sudah tidak mencintainya. Aku tidak sebodoh itu masih mempertahankan cinta pada seseorang yang sudah membuangku. Sejak dimana mendengar ia lebih memilih wanita pilihan orang tuanya sejak itu pula perasaanku mati," ucap Roseline sungguh-sungguh membuat Jevian terpana dan segera menjatuhkan kepalanya di pundak kiri Roseline membuat perempuan itu seketika menegang kaku.


"Kau serius?"


"Untuk apa pula aku bercanda."


"Hah, aku lega mendengarnya," ungkap Jevian seraya menghidu rakus aroma tubuh Roseline.


Lalu Jevian mengangkat wajahnya memandang wajah Roseline yang sedang menegang dengan semburat merah di pipinya.


Jevian diam-diam mengulum senyum. Senang sekali ia melihat ekspresi perempuan itu.


"Jadi, bisa kau jelaskan kenapa kau selalu menolak ku? Apa karena aku kurang tampan? Kurang kaya? Atau apa?"


"Bukankah aku sudah bilang karena aku tidak mencintaimu?"


Jevian menekuk wajahnya. Ia mencebikkan bibirnya. Geram dengan jawaban to the point Roseline.


"Cinta bisa datang karena terbiasa. Aku tahu, selain itu, kau pasti memiliki alasan lain. Ayolah, jelaskan padaku? Oh ya, berkali-kali kau bilang aku belum mengenalmu. Memangnya kau siapa? Apa ada hal yang kau tutupi dariku? Jelaskan padaku agar aku paham! Bagaimana aku bisa tahu sementara kau tidak mau bercerita."


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...