
Sudah sejak dua hari yang lalu, Jevian dan Jefrey akhirnya bisa pulang ke rumah. Jevian merasa amat sangat bahagia sebab sejak operasi yang putranya jalani berhasil, kesehatan sang putra pun makin membaik. Meskipun tetap harus berjaga-jaga agar penyakit sang anak tak lagi kambuh, setidaknya perlahan Jefrey sudah bisa beraktivitas seperti anak yang lain.
"Daddy, Mommy, kapan Jefrey bisa sekolah lagi?" tanya Jefrey setelah selesai menghabiskan sarapannya.
"Jadi Jefrey sudah rindu sekolah, hm?"
"Yes, Daddy. Jefrey ingin bertemu teman-teman Jefrey sambil bilang ke mereka kalau Jefrey sudah punya mommy," ujarnya dengan mata berbinar.
"Ya sudah, nanti kalau kondisi Jefrey sudah benar-benar pulih dan tidak ada masalah, Jefrey bisa kembali bersekolah," jawab Jevian membuat Jefrey berseru girang.
"Oh iya, Mom, kata Mommy, mommy akan menjawab permintaan Jefrey setelah Jefrey sembuh. Kan Jefrey sudah sembuh, jadi mommy mau kan jadi Mommy Jefrey? Mommy mau kan menikah dengan Daddy?"
Roseline yang sedang meminum air putih sontak tersedak hingga airnya menyembur melalui hidung dan mulutnya. Roseline sampai terbatuk-batuk membuat anak dan ayah itu seketika panik.
"Mommy ... "
"Seline ... " Seru keduanya. Jevian segera menepuk-nepuk punggung Roseline pelan, sementara Jefrey mengambil tisu untuk menyeka wajah Roseline yang basah.
"Mommy tidak apa-apa?"
"Kau tidak apa-apa?" tanya keduanya yang lagi-lagi kompak.
Roseline menggeleng sambil menepuk dadanya sendiri.
"Aku tidak apa-apa," ucapnya pelan.
Roseline pikir, Jefrey akan melupakan pertanyaannya tadi, namun ternyata tidak. Melihat Roseline sudah tidak terbatuk-batuk lagi, ia pun kembali bertanya, "Mom, Mommy belum jawab pertanyaan Jefrey tadi. Kapan Mommy dan Daddy menikah?"
...***...
Selepas sarapan, Roseline dan Jefrey mengantar Jevian ke depan. Mereka sudah seperti keluarga kecil bahagia yang tengah mengantarkan kepala keluarga mereka pergi bekerja.
Sebelum naik ke mobil, Jevian terlebih dahulu mengecup pipi Jefrey kiri dan kanan. Jefrey sekarang tampak lebih bersinar. Kondisi fisik yang kian membaik membuatnya lebih segar dan bergairah.
Setelah mencium sang putra, Jevian pun segera berdiri berhadapan dengan Roseline.
"Kenapa daddy diam saja? Cium mommy juga dong. Nanti mommy sedih lho dad tidak daddy cium," ujar Jefrey dengan wajah polosnya membuat Roseline rasanya geregetan sendiri dengan sikap bocah kecil yang sok dewasa itu.
"Oh iya, hampir saja daddy lupa," ujarnya sambil terkekeh. Apalagi saat melihat mata Roseline yang melotot seolah berkata, 'jangan macam-macam!'
Tapi sebagai ayah yang baik, ia tak mau mengecewakan sang putra. Ia juga kan calon suami yang baik, jadi ia tak mau mengecewakan calon istrinya. Ia juga tak mau membuat calon istrinya cemburu karena ia hanya mencium sang putra saja. Jadi ...
Cup ...
Cup ...
Cup ...
Mata Roseline seketika terbelalak sebab dengan cepat Jevian bukan hanya mencium pipi kiri dan kanannya, tapi juga ... bibirnya.
Sungguh terlalu.
Modus.
"Yeaaaa ... " Jefrey berseru girang sambil bertepuk tangan.
Jevian mengulum senyum saat melihat ekspresi cemberut Roseline.
"Aku pergi dulu, ya. Titip Jefrey. Kalau ada apa-apa, jangan lupa hubungi aku," pesan Jevian seraya tersenyum manis kepada Roseline.
"Bye, boy."
"Bye, Daddy. Emmuach ... " Jefrey memberikan kiss bye ke arah Jevian yang disambut gelak tawa sang ayah.
"Emmuach ... " Jevian pun memberikan kiss bye pada Jefrey. Lalu ia melirik ke arah Roseline yang masih menatapnya dengan bibir mencebik. Jevian pun mengerlingkan sebelah matanya membuat pipi Roseline yang sejak tadi bersemu merah kian merah seperti tomat matang.
Ting ...
Tiba-tiba sebuah pesan masuk ke ponsel Roseline. Gadis itu pun segera membukanya.
[Kau ingin menggodaku?]
Roseline mengerutkan keningnya, bingung.
[Maksudnya?]
[Tolong kondisikan bibirmu kalau tak mau aku makan.]
Mata Roseline seketika melotot. Kemudian ia mengarahkan pandangannya ke mobil Jevian yang sudah mulai menjauh. Namun sebelum mobil itu benar-benar menghilang, tangan Jevian terulur keluar dan melambai. Senyum Roseline seketika merekah.
"Cie, mommy kok senyum-senyum sendiri? Pasti lagi mikirin daddy, ya?" goda Jefrey membuat semburat merah di pipi Roseline kian bersemu.
Jefrey tergelak kencang sambil berlari, "tidak ada, Mom."
"Bohong."
"Jefrey sungguh-sungguh, Kom. Tidak ada yang mengajari. Hanya saja ... "
"Hanya saja apa, hm?" tanya Roseline ketika berhasil menangkap Jefrey.
"Hanya saja itu mom, Miss Sasya kan sering perhatikan daddy waktu daddy antar dan jemput Jefrey, terus ada Miss lain yang bilang seperti itu sama Miss Sasya," ungkap Jefrey jujur.
Seketika mata Roseline melotot tajam, "Miss Sasya itu kan guru Jefrey?" tanya Roseline saat mengingat kalau Jefrey pernah beberapa kali menyebut nama Miss Sasya saat menceritakan aktivitas sekolahnya di preschool dahulu.
Jefrey mengangguk. Tiba-tiba saja dada Roseline bergemuruh. Ia seakan tidak terima ada perempuan lain yang memperhatikan Jevian.
"Miss Sasya juga sering kirim salam untuk Daddy, Mom. Malah Miss Sasya bilang, Miss Sasya mau jadi Mommy Jefrey kalau Jefrey mau."
Degh ...
Mata Roseline kian membelalak saat mendengar pengakuan yang bernada mengompori itu.
...***...
Selama beberapa hari ini Jevian tampak sangat sibuk. Ia bahkan pulang lebih larut sebab kerja sama dengan Admark Investments akan segera direalisasikan. Semua harus direncanakan dengan begitu matang dan hati-hati agar investasi berujung menguntungkan, bukannya merugikan kedua belah pihak.
Jevian pulang cukup larut, sudah hampir pukul 11 malam. Saat memasuki mansion, tampak Roseline sedang menonton televisi sambil memakan kacang.
"Kau belum tidur?" tanya Jevian tiba-tiba membuat Roseline tersentak.
Jevian meletakkan tasnya begitu saja, pun jasnya yang sudah lebih dulu ia lepas. Lalu ia duduk di samping Roseline.
"Lelah?"
Jevian mengangguk sambil menyandarkan kepalanya di pundak Roseline membuat gadis itu menegang kaku. Jevian menyadari hal itu dan terkekeh.
"Kau sensitif sekali. Disentuh sedikit pasti langsung tegang."
Roseline seketika mencebikkan bibirnya, "memangnya masalah?"
"Tidak. Justru aku suka. Hal itu menunjukkan kalau kau bukan perempuan yang bisa sembarangan disentuh."
"Tapi kau suka menyentuhku sembarangan," ejek Roseline membuat Jevian terkekeh. Seperti belum puas mengerjai Roseline, ia pun melingkarkan tangannya di pinggang gadis itu.
"Jev ... "
"Kenapa?"
"Tanganmu."
"Tanganku? Kenapa dengan tanganku? Dia hanya ingin melingkar di pinggangmu."
"Ck ... Selalu saja," kesal Roseline, tapi ia justru membiarkan saja. "Kau sudah makan?"
Jevian menggeleng.
"Kau mau makan?"
"Makan kamu, boleh?"
"Jevian!" seru Roseline dengan suara sedikit meninggi membuat Jevian tergelak kencang.
"Aku hanya bercanda. Aku sudah makan tadi. Sudah malam, ayo lekas tidur. Atau mau aku tidurkan?"
Puk ...
Roseline menggeplak tangan Jevian yang berada di depan perutnya.
...***...
Keesokan paginya, seperti biasa meja makan itu dihiasi dengan celotehan Jefrey. Seperti tak ada bosan-bosannya, Jefrey selalu saja menanyakan kapan orang tuanya akan menikah?
"Jefrey sabar, ya. Daddy sekarang sedang sibuk, jadi mommy belum bisa menikah dengan daddy sekarang," ujar Roseline lembut.
"Jadi mommy mau kan menikah dengan daddy?"
Roseline pun mengangguk membuat Jefrey amat sangat senang. Mereka pun kembali sarapan sambil bercengkerama. Namun tiba-tiba saja ponsel Jevian berbunyi. Roseline yang kebetulan sedang meletakkan minum untuk Jevian pun melirik ke arah ponsel yang terkapar di meja makan. Seketika wajah Roseline berubah cemberut. Apalagi saat melihat Jevian mengangkat panggilan itu sambil berlalu dari hadapan mereka membuat Roseline seketika kesal dengan wajah ditekuk masam.
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...