
Seperti biasa, setiap pagi sebelum ke kantor, Jevian akan menemani Jefrey jalan-jalan ke taman yang ada di samping rumah sakit. Begitu pula dengan pagi ini, dengan setelan kemeja berwarna navy dan celana bahan berwarna coklat susu, Jevian mendorong kursi roda Jefrey menuju taman rumah sakit. Dengan ditemani stoples kukis, Jefrey menikmati segarnya udara pagi pun hangatnya mentari pagi yang baru saja beranjak naik ke atas memancarkan sinarnya.
"Daddy, mau balon," ujar Jefrey saat melihat ada pasien yang seusianya memegang sebuah balon di tangannya.
Jevian celingukan mencari dimana penjual balon itu berada, tapi Jevian tidak menemukannya.
"Tapi daddy nggak tau dimana jualnya, Jef."
"Mau balon, pokoknya Jef mau balon, daddy," rengek Jefrey membuat Jevian kalang kabut.
"Daddy mau cariin, tapi kamu sama siapa di sini? Atau Jef balik ke kamar aja dulu, ya. Nanti daddy akan beliin balonnya," ujar Jevian membujuk sang putra.
Tapi Jefrey menggeleng cepat, "no, Jef mau di sini," kekek Jefrey membuat Jevian menghela nafasnya.
Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, kemudian ia melihat Roseline yang berjalan dengan alat kebersihan di tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya tampak menyeka keringat yang bercucuran. Sepertinya ia baru saja selesai mengerjakan pekerjaannya entah di kamar mana.
"Seline," pekik Jevian, tapi Roseline berjalan acuh tak acuh.
"Seline," panggil Jevian lagi, tapi sepertinya Roseline tidak mendengar.
Ah, sebenarnya ia bukannya tak mendengar, tapi ia lupa dan belum terbiasa. Sejak kecil hingga dewasa dipanggil Rose, jelas saja saat ada yang memanggil nama belakangnya membuatnya tidak menyadari hal tersebut. Padahal dia sendiri yang mengubah nama panggilannya untuk melupakan masa lalunya yang menyedihkan.
"Seline," panggil Jevian lagi sambil memegang pundak Roseline membuat Roseline reflek menangkap tangan Jevian dan memelintirnya. Jevian yang tidak siap pun seketika tercengang saat tangannya sudah berada di belakang tubuhnya.
"Seline, ini aku, Jevian," ujar Jevian lagi membuat Roseline mengerjapkan matanya beberapa kali, kemudian ia membeliakkan matanya.
"Astaga, maaf, tuan. Maafkan saya. Saya tidak tahu," ujar Roseline yang segera melepaskan cengkraman tangannya. Ia seketika merasa bersalah.
Jevian mengibaskan tangannya. Dalam hati Jevian merutuk, padahal Roseline seorang perempuan, tapi tenaganya ternyata cukup kuat. Ia juga cukup gesit dan reaktif.
"Tak apa. Aku sudah memanggilmu beberapa kali, kau memang tidak mendengar atau pura-pura tidak mendengar?" tanya Jevian dengan tatapan menyelidik.
Roseline menggaruk pangkal hidungnya, bukannya tidak mendengar atau pura-pura tidak mendengar, tapi memang ia tidak menyadari kalau yang dipanggil itu adalah dirinya. Ia lupa kalau kemarin mengatakan panggilannya adalah Seline.
"Maaf tuan, mungkin karena saya terburu-buru, jadi tidak mendengar panggilan Anda," ujar Roseline mencari alasan.
Jevian mengangguk, "kau masih sibuk?"
"Sebenarnya tidak sih. Saya baru saja menyelesaikan pekerjaan terakhir saya di sisi ini, jam 10'an nanti baru saya bertugas membersihkan kamar di sayap kanan rumah sakit ini."
Jevian menganggukkan kepalanya, "em, karena kau tidak sedang sibuk, boleh aku minta tolong?"
"Ya? Tolong apa?"
"Itu, putraku, Jefrey minta dibelikan balon. Tapi aku tidak melihat penjualnya di sekitar sini. Aku mau mencoba mencari di luar. Tapi tidak ada yang menemani Jefrey kalau aku keluar. Meninggalkan Jefrey sendirian di taman juga tidak membuatku tenang. Jadi ... boleh aku minta bantuanmu untuk menemani anakku sebentar saja, please?" melas Jevian.
Alis Roseline bertaut, lalu tatapannya beralih pada Jefrey yang duduk di kursi roda tak jauh dari tempatnya. Merasa tak tega, Roseline pun mengangguk.
"Atau begini saja tuan, bagaimana kalau saya saja yang ... "
"No, tidak perlu. Biar aku saja. Kau pasti lelah jadi lebih baik kau duduk di kursi panjang itu sambil menemani Jefrey, tak apa kan?"
Roseline pun mengangguk. Jevian tersenyum lebar. Sebelum pergi, Jevian pun berpamitan dengan sang putra untuk membelikan apa yang ia inginkan.
...***...
"Hai tampan," sapa Roseline pada Jefrey yang sejak tadi diam tak bergeming.
Jefrey mengangkat wajahnya, "hai aunty," jawab Jefrey terbata.
"Mau ke situ?" tanya Roseline sambil menunjuk ke arah bawah pohon mangga yang cukup rimbun.
Jefrey mengangguk, dengan tersenyum Roseline pun mendorong kursi roda Jefrey menuju ke bawah pohon mangga.
"Mau ini?" tawar Roseline sambil menyodorkan sebuah lolipop ke hadapan Jefrey membuat mata anak laki-laki itu berbinar.
"Ini untuk Jefrey?"
Jefrey mengangguk. Roseline pun segera membuka bungkusnya dan menyerahkan lolipop tersebut pada Jefrey.
"Terima kasih, aunty."
"Sama-sama tampan."
Roseline tersenyum melihat senyum manis Jefrey. Entah sudah berapa lama ia tidak tersenyum. Mungkin terakhir kali saat ia masih bekerja dengan Delena.
Delena memang kerap mengajaknya bercerita. Ada rasa nyaman saat dekat dengannya, tapi sayang kini kedekatan itu takkan terjadi lagi. Dan semua karena kesalahannya. Ia terlalu bodoh hingga termakan tipu daya laki-laki yang ia kira paman, tapi ternyata ayah biologisnya sendiri.
"Bagaimana? Enak?"
"Enak aunty. Aunty bekerja di sini?"
Roseline mengangguk.
"Aunty sudah besar kok masih suka makan permen seperti ini?" tanya Jefrey heran sebab setahunya hanya anak-anak yang menyukai lolipop.
"Karena rasanya manis," jawab Roseline diplomatis. Hidupnya sudah pahit sedari kecil, sehingga membuat Roseline kebiasaan mengonsumsi permen lolipop untuk membuat perasaannya menjadi lebih baik. "Oh ya, Jefrey sakit apa?"
"Jefrey sakit di sini, Aunty," ujar Jefrey sambil menunjuk dadanya."
Mata Roseline membola. Ia tidak menyangka anak sekecil ini bisa mengidap penyakit yang berhubungan dengan jantung. Meskipun Roseline belum bisa menebak penyakit apa yang anak laki-laki itu idap, tapi Roseline bisa melihat kalau anak kecil itu bukan sekedar sakit biasa.
"Jefrey pasti anak hebat."
"Kenapa?"
"Karena bisa menahan sakit di situ terus diam aja tanpa nangis. Kalau Aunty yang sakit, uh pasti aunty akan nangis-nangis terus. Sini aunty bisikkin sesuatu," lalu Roseline membisikkan sesuatu ke telinga Jefrey membuat Jefrey terkekeh.
"Jadi aunty cengeng," ujarnya membuat mata Roseline membola lalu menarik jari telunjuknya ke depan bibir.
"Ssst ... Nanti ada yang dengar."
"Aunty kalah sana Jef. Jef tidak cengeng."
"Karena Jef anak hebat."
"Tapi Jef sakit."
"Aunty yakin, Jef akan segera sembuh. Percaya sama aunty."
"Benarkah?"
"Benar. Jefrey percaya apa kata aunty?"
"Jefrey," seru seseorang yang membuat wajah ceria Jefrey seketika meredup.
"Aunty, antar Jef ke kamar Jef, please!" mohon Jefrey.
"Tapi ... "
"Please!"
"Jef, ini. Mommy. Mommy ingin ... "
"Saya mohon Nyonya, jangan membuat Jefrey takut. Perbuatan Anda bisa membuat Jefrey ketakutan."
"Siapa kau? Tak usah ikut campur. Lebih baik kerjakan saja pekerjaanmu. Sana pergi!"
"No, aunty. Bawa Jef pergi dari sini. Jef, tidak ingin bertemu dia."
"Jef, " panggil Eve lagi. "Mommy ..."
"Aku tidak memiliki mommy. Kau bukan mommy Jef. Jef benci sama mommy," pekik Jefrey membuat Roseline mendadak khawatir. Ia pun segera mendorong kursi roda itu menjauh, berharap Eve tidak mengejar mereka.