Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 42


Rainero yang gegana jadi malas pulang ke kamarnya. Sepulang dari kontrakan Shenina, Rainero langsung menuju bar yang ada di hotel tempatnya menginap. Tak lupa Rainero menghubungi Axton agar mau menemaninya di sana.


Rainero menenggak minumannya dengan pikirannya berkecamuk. Membayangkan kesulitan yang Shenina alami selama ini membuat batin Rainero benar-benar tersiksa.


"Bagaimana kalau Shenina tidak mau memaafkanku? Kesalahanku terlampau fatal. Aku yakin, sulit bagi Shenina untuk memaafkanku," gumam Rainero. Kemudian ia menenggak minumannya lagi hingga tandas dan meminta bartender mengisi gelasnya kembali.


Dari pintu masuk, muncul seorang laki-laki yang tampan dan gagah dengan seorang perempuan yang bergelayut di lengannya. Saat akan melangkahkan kakinya masuk, tiba-tiba laki-laki itu memicingkan mata. Kemudian ia menyeringai saat melihat keberadaan seseorang yang selalu saja dianggapnya sebagai rival tersebut.


"Kau duduk di sana saja dan tunggu aku," ujar laki-laki itu sambil menunjuk ke arah salah satu meja yang posisinya sedikit menyudut.


"Kau mau kemana, honey?"


"Kau tak perlu tahu. Cukup turuti perintahku atau kau tak perlu temui aku lagi," titah laki-laki itu dingin membuat perempuan itu menciut seketika.


"Ba-baiklah."


Perempuan itupun segera menuruti perintah sang laki-laki untuk duduk di meja yang ia tunjuk.


Sementara itu, sang laki-laki pun berjalan santai dengan kedua telapak tangan berada di dalam saku celananya


"Hello brother, sebuah kebetulan yang menyenangkan bisa bertemu denganmu di sini," sapa laki-laki itu sambil mendudukkan bokongnya begitu saja di samping Rainero.


Rainero yang familiar dengan suara tersebut pun menoleh.


Rainero berdecih. Ia pun benar-benar tidak menyangka akan bertemu dengan sepupunya yang selalu menganggapnya sebagai rival selama ini. Rainero pun tak mengerti, padahal Rainero tidak pernah mencari masalah dengan sepupunya tersebut, tapi tetap saja laki-laki itu seperti takut tersaingi dan selalu saja menginginkan apa yang ia miliki.


"Brother, kenapa hanya diam, hah? Oh aku tahu, kau pasti masih merasa kecewa kan karena aku yang berhasil menikahi wanita pujaanmu itu," ucap laki-laki yang merupakan sepupu Rainero itu.


Ya, laki-laki itu adalah Justin. Ia datang ke pulau ini untuk berlibur. Namun siapa sangka dia justru menjumpai sepupunya yang selalu membuatnya iri. Apalagi kalau bukan karena Rainero selalu saja jadi kebanggaan kakeknya. Bahkan orang tuanya pun sering membanding-bandingkan dirinya dengan Rainero. Rainero baik, Rainero cerdas, Rainero berprestasi, Rainero ini, Rainero itu, dan itu benar-benar membuatnya kesal. Dari kecil hingga dewasa selalu saja seperti itu. Seolah Rainero merupakan laki-laki yang paling sempurna.


Tapi rasa rendah dirinya kini berganti kemenangan. Setelah ia tahu ternyata Rainero tak sesempurna itu. Rainero mandul dan kekasihnya memilih meninggalkannya. Justin yang tak ingin kehilangan kesempatan emas untuk membuat sepupunya itu kian hancur pun mendekati Delianza. Ia yakin, dengan begitu Rainero akan makin hancur.


Untuk kali ini, Justin merasa benar-benar bahagia sebab ia berhasil membuat nasib sepupunya itu kian nelangsa. Setelah ditinggal Delianza, hidupnya makin terpuruk setelah mendapatkan kabar mengenai rencana pernikahan sang mantan kekasih dengan sepupunya sendiri. Dan kini, wanita pujaannya pun tengah mengandung anaknya, ia yakin, Rainero akan kian hancur. Dia ditinggal lantaran mandul dan kini mantan kekasihnya justru mengandung benih dari dirinya. Sungguh kemenangan mutlak.


Mendengar kalimat penuh ejekan itu tidak membuat Rainero marah. Ia justru tersenyum miring. Suatu ekspresi yang berbanding terbalik dengan harapan Justin.


"Kau pikir dia seberharga itu untuk membuatku hancur dan terpuruk hingga berlarut-larut? No, brother. Untuk apa aku memikirkan wanita yang memilih meninggalkan kekasihnya hanya karena kekurangannya. Wanita seperti itu ... " Rainero berdecak kemudian menenggak minumannya. "Tak layak untuk aku puja apalagi harapkan. Ambillah, aku tidak butuh perempuan seperti itu," imbuh Rainero santai.


Bila dulu ia selalu emosi setiap ada yang membahas mengenai Delianza dan patah hatinya, maka kini ia merasa biasa saja. Sepertinya, perasaan cinta itu tanpa sadar entah telah menguap kemana. Rainero tak mau pusing-pusing memikirkannya sebab yang menjadi prioritasnya saat ini adalah Shenina. Ya, Shenina dan calon buah hatinya.


Justin terkejut dengan apa yang Rainero ucapkan. Justin yang anti membuat komitmen, terpaksa memikat Delianza hanya untuk menghancurkan sepupunya. Justin tahu, Rainero sangat mencintai Delianza, tapi ia benar-benar tidak menduga, reaksi Rainero justru biasa-biasa saja saat ia membahas tentang Delianza. Padahal rasanya belum lama ia melihat laki-laki itu begitu terpuruk akibat Delianza yang meninggalkannya begitu saja setelah tahu sepupunya itu tidak dapat memberikan keturunan.


Justin terkekeh. Mata Rainero memicing. Justin menunggu Rainero melampiaskan kekesalannya padanya, tapi bukannya kesal apalagi marah, Rainero justru tersenyum lebar.


"Oh, ya! Ah, tapi sayangnya aku tidak merasa iri sama sekali. Aku turut berbahagia atas kehamilan istrimu. Selamat," jawab Rainero acuh tak acuh. Justin yang tadi hendak memancing amarah Rainero, justru terbalik dirinya yang kini merasa kesal.


Kau ... "


"Rain," panggil Axton yang baru saja muncul. Lalu ia melirik Justin yang tampak menahan kesal.


"Sudahlah, lebih baik kau segera pergi. Lihat, wanitamu telah gelisah melihatmu yang tak kunjung kembali ke mejanya," cibir Rainero yang tahu Justin datang dengan seorang perempuan. Sebenarnya tadi ia sempat menangkap kedatangan Justin saat baru masuk. Tapi Rainero pura-pura tidak tahu. Bukan rahasia lagi kalau Justin gemar bermain perempuan. Bahkan Delianza tahu akan hal itu. Tapi Rainero tidak peduli. Itu pilihannya sendiri jadi ia tidak akan ikut campur dengan urusannya.


Dengan kesal, Justin segera beranjak dari sana menuju mejanya. Di meja itu, tampak seorang perempuan langsung menyambutnya dengan tatapan khawatir. Bukannya senang diperhatikan perempuan itu, Justin justru makin kesal dan memaki wanita tersebut.


Rainero dan Axton tersenyum acuh tak acuh. Padahal dia yang berusaha mengusik ketenangan Rainero, tapi justru dia sendiri yang terbakar.


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Shenina telah berganti pakaian dengan setelan training dan sweater. Pagi ini ia berniat untuk jalan-jalan pagi sebagai ganti berolah raga. Kebetulan hari itu hari Minggu jadi Shenina tidak akan berjualan dan dia akan memanfaatkannya untuk jalan-jalan ke taman yang tak jauh dari kontrakannya.


Shenina pun membuka pintu kontrakannya lalu duduk di kursi yang ada di depan kontrakannya. Dikenakannya sepatu sneaker di kakinya. Setelah selesai, ia pun menuju kontrakan di sampingnya. Kontrakan itu milik Adisti. Ia memang telah janjian dengan Adisti dan Gladys.


"Disti kemana sih? Kok belum keluar jam segini?" gumamnya sambil berjalan menuju pintu kontrakan Adisti.


tok tok tok ...


Shenina mengetuk pintu kontrakan Adisti. Tak lama kemudian, terdengar suara kunci yang diputar. Shenina yang ingin mengejutkan Adisti pun bersiap. Namun, baru saja ia hendak menyerukan nama Adisti, seseorang yang muncul dari balik pintu itu justru lebih membuatnya terkejut. Shenina sampai reflek mundur ke belakang dengan mata terbelalak.


Ceklek ...


"Adis---,"


"Hai, sweety. Good morning," ucap seseorang itu membuat mata Shenina terbelalak dan reflek mundur ke belakang. Teras rumah yang kecil dan tanpa pagar membuat Shenina nyaris saja jatuh ke tangga bila tidak ada sepasang lengan kekar yang menahannya.


"Hati-hati, Sweety," ucapnya cemas.


"K-kau, ke-kenapa bisa ada di sini?" pekik Shenina terkejut yang justru membuat seseorang itu terkekeh geli.


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...