Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 216 (S3 Part 58)


Dengan tangan mengepal, Roseline akhirnya turun dari dalam mobil. Ia tidak tahu, siapa orang-orang ini sebenarnya dan apa tujuannya memintanya turun seperti ini.


"Apa mau kalian?" tanya Roseline dingin.


"Kami hanya ingin Anda ikut dengan mobil kami, silahkan!" Salah satu dari mereka lantas membukakan pintu mobil untuk Roseline. Jelas saja Roseline bingung. Ia mengerutkan keningnya penasaran.


"Ikut kalian? Untuk apa? Saya tidak mengenal kalian sama sekali."


"Tidak perlu banyak tanya, Nona. Lebih baik patuh pada ucapan kami atau ... "


"Atau apa? Kalian ingin menghajar ku? Kalian pikir aku takut, hah!" bentak Roseline yang sudah kehilangan kesabarannya.


Lalu tanpa basa-basi, Roseline pun menerjang para laki-laki berseragam serba hitam itu satu persatu. Tak peduli tubuh mereka lebih besar ataupun lebih kuat, yang pasti ia takkan pernah tunduk pada orang-orang tak jelas seperti mereka.


"Berhenti, Nona! Jangan sampai kami melukai Anda. Lebih baik Anda patuh mengikuti permintaan kami."


"Memangnya kau siapa, hah, mempunyai hak untuk memerintah ku?" sentak Roseline.


Lalu ia maju dan menghantamkan tinjunya ke arah laki-laki itu, tapi ternyata ia cukup sigap dan langsung menepis tangan Roseline. Roseline tak tinggal diam, ia memutar tubuhnya sambil mengangkat kaki untuk menyasar leher laki-laki itu. Tapi laki-laki itu justru merundukkan tubuhnya sehingga tebasan kaki Roseline hanya mengenai angin.


Roseline menggeram marah. Ia pun kembali maju. Para laki-laki itu tak tinggal diam, mereka mencoba mendekati Roseline untuk menahan tangan perempuan itu agar berhenti bergerak.


Roseline berhasil menjatuhkan 2 orang laki-laki bertubuh cukup besar. Ia menginjak dadanya sambil bertanya siapa mereka dan apa tujuannya menangkap dirinya.


"Katakan, sebenarnya kalian siapa? Apa kalian disuruh seseorang? Kalau iya, katakan siapa orangnya?" tanya Roseline dengan mata melotot tajam dan rahang mengeras. Kakinya sudah bertengger di dada salah seorang laki-laki. Diinjaknya dada laki-laki itu dengan kuat agar ia mau mengaku.


"Kau tak perlu tahu siapa yang menyuruh kami. Sebaiknya cepat ikuti perintah kami sebelum kami melakukan hal yang tidak kau bayangkan!" ancam laki-laki lain yang sepertinya ia merupakan pimpinan dari gerombolan laki-laki berpakaian serba hitam itu.


"Kau pikir aku takut!" sahut Roseline dengan gigi bergemeletuk.


"Kau benar-benar keras kepala!" desis laki-laki itu. Lalu ia meminta anggotanya segera menyerang Roseline secara bersamaan. Dengan gesit Roseline menghindari pukulan demi pukulan yang mereka layangkan. Meskipun ada kalanya ia terjatuh akibat hantaman kaki, tapi Roseline tetap berusaha bangkit dan terus melawan. Pertarungan sengit pun terjadi. Lalu lalang jalanan itu cukup sepi sehingga tidak ada yang tahu kalau ada seorang perempuan yang diintimidasi sekelompok laki-laki.


Meskipun mereka tidak imbang, tapi Roseline tetap mampu melawan mereka. Hantaman kaki dan tangan Roseline yang cukup bertenaga membuat beberapa dari mereka babak belur.


"Aaakkh ... " Roseline mendesis saat rahangnya terkena hantaman tinju dari salah seorang dari mereka.


Roseline tak tinggal diam, ia pun segera mengangkat tangannya untuk membalas, namun tangannya seketika berhenti di udara saat suara bernada ancaman mampir di indra pendengarannya.


"Ikutin perintah kami atau anak ini akan celaka?" ancamnya membuat perhatian Roseline seketika teralih dengan tangan menggantung di udara.


"Mommy," cicit Jefrey membuat gigi Roseline bergemeletuk tajam.


"Pengecut! Lepaskan anak itu, sialan!" desis Roseline. Ingin ia mengumpat laki-laki pengecut itu dengan kata-kata kasar, namun harus ia tahan. Bagaimanapun situasinya saat ini, Jefrey tetaplah anak kecil yang tidak boleh mendengar kata-kata yang tak pantas.


"Kami akan melepaskannya asal kau mau mengikuti perintah kami!"


Di sisi lain tampak sopir Jevian yang ia tugaskan menjaga Jefrey pun sedang diringkus laki-laki lain. Tangannya mengepal erat. Ia benar-benar marah. Ingin sekali ia menghabisi laki-laki pengecut itu, tapi ia tak mau mengambil risiko apalagi ada sebilah pisau yang bertengger di leher Jefrey. Ia tak ingin Jefrey celaka. Dengan dada bergemuruh, akhirnya Roseline pun memilih menyerah.


"Baiklah! Aku akan ikut kalian, tapi biarkan anak itu pergi dengan sopirnya terlebih dahulu," ujar Roseline berusaha bernegosiasi.


"No! Kamu masuk lebih dulu ke mobil itu, hari mereka akan kami bebaskan."


Laki-laki itu tak mau mengambil risiko, bisa saja setelah Jefrey pergi, Roseline kembali melawan mereka.


"Okey, okey! Baiklah. Aku akan segera masuk. Tapi biarkan anak itu masuk ke mobil bersamaan denganku."


"Baiklah. Tak masalah."


Di saat bersamaan, laki-laki itu pun mendorong Jefrey masuk ke dalam mobil bersama sang sopir. Saat Roseline sudah berada di dalam mobil, laki-laki itu memberi kode pada bawahannya untuk melakukan sesuatu. Bawahannya yang paham kode pun segera menyemprotkan sesuatu ke depan wajah Roseline. Roseline terkejut hingga terbatuk-batuk, lalu tak lama matanya terpejam. Setelah memastikan Roseline terbius, laki-laki barulah membiarkan sopir Jefrey pergi dari sana.


Tak lama kemudian, mobil-mobil hitam itupun segera melaju kencang membelah jalanan. Saat dalam perjalanan, laki-laki yang menjadi pimpinan kelompok itupun segera menelpon tuannya.


"Bagaimana?" tanya orang di seberang sana.


"Kami berhasil, Tuan," jawabnya.


"Dia tidak apa-apa kan?"


"Tidak, Tuan. Kini ia dalam pengaruh obat bius." Laki-laki itu tidak mengatakan kalau wajah Roseline sedikit babak belur karena berkelahi. Biarkan orang itu melihatnya secara langsung saja, pikirnya sebab ia sempat berpesan agar tidak menyakiti Roseline. Namun melihat kemampuan bela diri Roseline yang mampu mengimbangi 5 laki-laki sekaligus membuat mereka tak punya jalan lain selain melawan bersamaan.


"Bagus. Segera bawa dia ke tempat sesuai yang aku perintahkan sebelumnya."


"Baik."


Sambungan telepon itupun diputus sepihak. Kini mereka pun segera bertolak menuju pelabuhan sesuai perintah laki-laki yang tak lain adalah Bastian itu.


Setibanya di pelabuhan, laki-laki itu langsung memakaikan Roseline jaket dan masker. Lalu ia membawa Roseline ke sebuah kursi roda. Ia memperlakukan Roseline seperti seorang pasien yang tengah sakit. Laki-laki itupun berganti pakaian dan berdandan seperti seorang dokter.


Di atas geladak kapal, Bastian ternyata sudah menunggu dengan seringai lebar di bibirnya. Ia senang akhirnya Roseline berhasil jatuh ke tangannya. Tak peduli seberapa keras Roseline menolak, ia takkan pernah melepaskan Roseline. Ia akan mengurungnya di suatu tempat dan menjadikan Roseline hanya miliknya seorang.


"Hai sayang, akhirnya kita bisa bersama. Kau tak perlu takut, Sayang, aku akan membahagiakanmu. Kau akan jadi ratu di istana kita. Aku yakin, kau masih mencintaiku. Aku tahu, penolakan mu tempo hari itu hanyalah ungkapan kekesalan mu karena aku yang tidak memperjuangkan mu, tapi tidak kali ini. Aku sudah berjuang, kau pasti akan bahagia akhirnya bisa kembali bersatu denganku," ujarnya penuh percaya diri.


Obsesi Bastian nyatanya telah akut. Ia tak mempedulikan kalau tindakannya kali ini berisiko sebab tujuannya kali ini hanya satu, yaitu memiliki Roseline.


Tak lama kemudian kapal pun mulai berlayar meninggalkan negara yang ditempati Roseline beberapa bulan ini.


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...