Secret Baby Twins CEO

Secret Baby Twins CEO
Jangan Sampai Kecapean


°°°~Happy Reading~°°°


"Kenapa istriku ikut di periksa juga?"


"Tidak apa-apa tuan, hanya untuk pemeriksaan rutin saja. Seperti biasa." Seru sang dokter menimpali dengan senyum tipis di bibirnya. Terlihat sangat ramah.


Laki-laki itu hanya manggut-manggut. Dokter Wicaksono adalah dokter kepercayaan keluarganya, jadi sah-sah saja jika laki-laki itu meminta agar dilaksanakan pemeriksaan rutin seperti biasa.


Selepas kepergian dokter Wicaksono, mama Elena akhirnya menampakkan dirinya setelah tadi memilih menuggu saja di ruang kerja sang putra. Bukan apa-apa, ia hanya ingin memberikan waktu untuk sepasang suami-istri itu bisa saling memberikan perhatiannya.


"Kamu baik-baik saja? Apa yang terjadi, Marc. Tidak biasanya kamu seperti ini."


"Aku juga tidak tau ma. Kepalaku pusing sejak subuh tadi. Apalagi tadi sempat mencium bau parfum di ruang meeting, baunya benar-benar menyengat, jadi bikin tambah mual saja."


Mama Elena tampak mengangguk-anggukan kepalanya.


Ohhh... Jadi seperti itu... .


Senyum itu ia tahan sekuat tenaga. "Baiklah, kalau begitu mama pulang dulu. Kamu tolong urus Marc ya An. Kalau ngga mau minum obat, paksa aja."


"Baik ma. Mama hati-hati ya... Maaf Ana ngga bisa temenin mama lebih lama." Seru Ana sembari mengecup punggung tangan sang mertua penuh khidmat.


"Tidak apa-apa An. Kamu jaga diri baik-baik ya. Jangan sampe kecapean. Makan juga jangan sampai telat. Kalau bisa ngga usah gendong-gendong Maura, udah besar dia. Suruh jalan sendiri." Seru mama Elena memperingatkan. Membuat Ana sontak saja mengernyit kebingungan. Suaminya yang sakit kenapa ibu mertuanya itu terkesan mengkhawatirkannya dengan berpesan banyak hal padanya?


"Baik ma."


Mama Elena pun segera melenggang keluar dari ruangan itu meninggalkan sepasang suami istri itu dengan hati berbunga.


"Mas mau di pijit kepalanya?" Tawar Ana, tau sang suami masih mengeluh pusing.


Geleng Marcus. "Tidak, tidur sama mas aja sini." Pinta Marcus menepuk sisi ranjang yang kosong di sebelahnya.


Memaksa Ana untuk menuruti keinginan suaminya. Perempuan itu perlahan merebahkan tubuhnya di samping sang suami yang langsung meringsek masuk ke dalam rengkuhannya.


"Mas masih pusing?" Tangannya bergerak mengusap lembut kepala sang suami yang bertengger di dadanya.


Angguk Marcus. "Iya, sedikit. Setelah peluk kamu jadi agak mendingan."


"Nanti saja. Mas ini masih sedikit pusing, sayang... ."


"Ya sudah, mas tidur saja biar pusingnya cepet reda."


"Heummm... ."


Perlahan kelopak mata itu memejam. Marcus akhirnya terlelap di rengkuhan Ana yang tak henti menepuk-nepuk bahu kekar di dekapannya.


Cup... Satu kecupan itu mendarat di kening Marcus. "Mas baik-baik ya... Jangan sakit-sakit lagi. Cepet sembuh."


Ana kemudian ikut memejamkan matanya. Entahlah. Ia akhir-akhir ini cepat sekali mengantuk. Asal ada tempat untuk bersandar, pasti membuatnya tak sabar untuk bisa memejam.


Marcus dan Ana sampai di rumah bertepatan dengan anak-anak yang baru saja pulang sekolah. Baru saja menginjakkan kaki di lantai, Ana dibuat terkejut saat mendapati sang putri kini tiba-tiba merengkuhnya dengan isak tangis yang menggantung di wajahnya.


"Sayang, Maurin kenapa?"


"Hwa... Mommy..." Bukannya mereda, tangis itu malah semakin memekik kencang.


"Putri mommy kenapa, heummm... ."


"Mommy, Allah bullum kashih adek bayi oek-oek di pullut mommy, ya. Hiks..."


🍁🍁🍁


Annyeong Chingu


Triple update for today, hihihi


Dangan lupa banak-banak komen ya tingu, hihihi


Happy reading


Saranghaja 💕💕💕