Secret Baby Twins CEO

Secret Baby Twins CEO
Mempertimbangkan


°°°~Happy Reading~°°°


Kedua gadis kecil itu tampak begitu menikmati permainannya. Suara-suara nyaring dari mulut cadel itu bahkan kini menggema di tengah hening ruangan.


"Dotell Mollin dotell Mollin, ini dedek bayi oek oek na Asha shakit-shakit, minta encush..." Gadis kecil itu mendorong kereta bayi mainan dengan raut wajah dibuat sepanik mungkin.


"Talluh shini Ashi, dotell Mollin shiap encus dedek bayi na Asha." Gadis kecil itu menggiring Arshi untuk meletakkan boneka mainan itu di atas bantal sofa.


Cush cush cush... .


Tiga suntikan mendarat di perut boneka itu. Tak puas, si kecil Arshi meminta lagi. "Dotell Mollin, ini muka na belum di encush."


Cush... .


Satu suntikan mendarat di dahi itu, membuat senyum itu sontak menyungging.


"Hamdallah... Anak na Asha sheullamat. Untung Ashi tadi teupat-teupat bawa shini ya dotell Mollin."


"Iya Ashi. Kalau tidak teupat-teupat nanti bullu dedek bayi na kabull, eundak mau encush."


"Kashihan shekali dedek bayi na tinggal mommy na, Mollin. Molla peullgi galla-galla Asha dutek tullush shama Molla. Ashi eundak mau tanggung dawab."


Mendengar dirinya selalu di sangkut-pautkan, membuat Arsha sontak berdecak. Apalagi saat dirinya kembali dipasangkan dengan si kecil Maura. Wajahnya semakin mengeras. Awas saja jika nanti sampai di rumah. Akan ia buat gadis kecil itu tak berkutik dan memohon ampun kepadanya.


"Ck, mereka berisik sekali." Decak Arsha tak suka. Cukup dengan Arshi dan Maura ia dibuat pusing, jangan lagi menambah personil.


"Ya, mereka sama-sama berisik. Membuat pusing saja." sahut Mallfin menimpali, tatapannya tak jauh berbeda dengan Arsha. Tatapan sinis dan muak mendominasi.


"Kau tahu, di sekolah dia sudah memiliki teman mirip seperti adikmu, jangan lagi bertambah dengan adikmu, mereka akan semakin rusuh." Membayangkan itu, Arsha bergidik. Oh tidak, kehidupannya yang tak tenang akan semakin tak tenang dengan ketiga cadel itu.


"Jika mereka berisik, kita sumpal saja mulutnya dengan makanan. Mereka akan langsung diam."


"Ide bagus. Sepertinya aku bisa mempraktekkannya nanti."


Melihat kedua pasukan berbeda aliran itu, membuat kedua perempuan yang tengah duduk di bangku sofa itu bisa bernafas lega. Setidaknya dengan ini mereka bisa semakin akrab. Bagaimanapun juga mereka masih saudara jauh yang harus saling mengakrabkan diri.


"Alhamdulillah, akhirnya mereka bisa saling akrab ya An." Seru Anelis penuh kelegaan.


"Iya, padahal putraku tipikal anak yang sulit untuk didekati. Aku sempat khawatir dia tidak akan punya teman. Dia terlalu pemilih." Sahut Ana mengutarakan kekhawatirannya.


"Ya, ku pikir juga begitu."


Keduanya terdiam sejenak, sebelum akhirnya Anelis kembali menimpali.


"Maaf jika ini terlalu pribadi An. Mas Marvell sudah bercerita padaku mengenai masalah kalian. Apa kamu dan Marc, sudah memutuskan untuk menikah?"


Ana menggeleng lemah. "Aku belum memutuskannya Ne. Rasanya sangat berat untuk mengambil keputusan ini."


"Dulu, aku juga begitu."


Membuat Ana sontak mengernyit. "Maksudnya?"


"Apa yang kamu alami dengan Marc, dulu aku dan suamiku juga mengalaminya."


Ana sontak membeliak. "Maksudnya, kamu--"


Mengerti maksud dari tatapan tak percaya itu, Anelis sontak mengangguk. "Ya. Dulu suamiku melakukan itu padaku. Bahkan suamiku melakukan kesalahan yang sangat fatal, lebih fatal dari yang Marc lakukan padamu. Tapi akhirnya aku memutuskan untuk menikah, demi anak-anak, tidak ada alasan lain."


"Meski waktu itu kebencian itu masih sangat dalam, tapi ku pikir mereka masih membutuhkan ayah mereka. Mereka berhak memiliki keluarga yang lengkap seperti anak-anak lain. Meski pada awalnya terasa sulit karena pernikahan itu tidak didasarkan atas nama cinta, tapi pada akhirnya kita bisa saling menyayangi."


"Kamu bisa mempertimbangkannya An, setidaknya semua demi anak-anak. Meski awalnya terasa berat, namun tidak ada yang lebih membahagiakan saat melihat anak-anak kita bahagia. Iya kan An?"


Ana menunduk dalam, ia bimbang.


"Entahlah Ne, putraku--dia sepertinya sangat membenci tuan Marc. Bahkan kemarin menangis tak ingin tuan Marc berada di sini. Aku tidak ingin menyinggungnya dulu, Mallfin masih dalam perawatan. Aku takut ini akan mengganggu kesehatannya."


"Tidak apa. Aku tau ini sulit untukmu, An. Tunggulah sampai Mallfin nanti pulih dan kamu benar-benar siap.


harus membicarakan ini dengan Mallfin lebih dulu."


🍁🍁🍁


Annyeong Chingu


Happy reading semua


Saranghaja 💕💕💕