Secret Baby Twins CEO

Secret Baby Twins CEO
Perkara Liwed dan Korek


°°°~Happy Reading~°°°


"Apa?!! Sepuluh? Kau gila, Marc?! Bukankah di kotak susunya sudah ada takarannya sendiri?"


"Ya, aku tadi sudah membacanya. Tapi ku pikir, bukankah semakin banyak, gizinya akan semakin tinggi, itu akan semakin baik untuk Ana dan baby, mam."


Mama Elena menghela nafas dalam. "Bukan begitu juga konsepnya, Marc. Kamu ini ada-ada saja. Satu gelas itu paling cuma 3 sendok. Jangan kelebihan ah, nggak bagus nanti."


"Heummm, kalau ingat." Cebiknya, kesal karena usahanya tadi seperti tidak dihargai.


"Tidak apa-apa mas, ini kan pengalaman pertama buat mas. Nanti juga terbiasa kok lama-kelamaan. Tadi susunya juga enak, jadi manis. Ana suka."


Menciptakan sebaris senyum di bibir itu. "Kamu suka? Beneran?"


"Heummm, iya mas. Ana suka sekali susu buatan mas."


"Jadi besok-besok mau mas buatin pake takaran 10 sendok?"


Membuat Ana seketika itu termangu. Tidak begitu juga kesimpulannya bambang. "Eummm, tiga saja sudah cukup, mas. Nanti susunya cepat habis." Memaksakan senyumannya. Ternyata bercanda dengan suaminya bisa ditanggapi lain oleh laki-laki itu.


"Tidak apa-apa, sayang. Nanti aku bisa beli pabrik susunya sekalian. Biar kamu bisa puas."


Ana semakin melotot mendengarnya. Apa laki-laki itu sudah gila. "T-tidak usah, mas. Eummm, Ana--" perempuan itu bingung bagaimana harus menjelaskan maksud perkataannya. Sedang mama Elena sudah ketawa-ketawa sendiri mendapati raut wajah Ana yang sudah ketar-ketir karena akan dibelikan pabrik susu di awal kehamilannya.


"Kenapa?"


"Itu-- Ana... ."


"Mommy..." Pekikan itu berhasil menjadi penyelamat Ana kali ini. Terlihat gadis kecil itu kini berlari kencang ke arahnya kemudian menghambur ke dalam rengkuhannya. Membuat Marcus seketika itu memekik. "Calm down, baby." Peringat Marcus. Takut jika putrinya yang terlalu aktif itu sampai menyakiti calon bayinya.


"Yesh daddy." Angguk Maurin yang kini malah duduk di pangkuan Ana. Membuat Marcus kemudian mengambil alih sang putri di pangkuannya. "Sini, pangku daddy saja."


"Shiap daddy." Gadis kecil itu menurut dan langsung meloncat ke pangkuan daddy nya.


"Kenapa, sayang. Sepertinya Maurin senang sekali hari ini?" Seru Ana merasa ada yang berbeda dengan sang putri.


"Yesh mommy. Tadi Mollin dapat shuttall lima. Mish Lili shuppik-shuppik kallau gamball na Mollin badush sheukalli, mommy..." Gadis kecil itu langsung membongkar isi tas nya kemudian mengambil selembar kertas yang tadi di gambarnya.


*shuttall : star /bintang


"Ashi shuppik-shuppik, kallau Ashi dapat shuttall lima, daddy na kashih lliwed."


Membuat semua orang dibuat kebingungan. "Liwed? Liwed apa sayang? Nasi liwed? Maurin mau itu?"


"No no no mommy. Li-Wed." Jelas Maurin, bibirnya sampau monyong-monyong lima senti.


"Liwed ya... Kamu tau mas liwed apa?" Seru Ana, sepertinya ini bahasa Inggris. Semenjak anak-anak sekolah dan bermain dengan Arshi dan Maura, putrinya itu memang kerap menyelipkan kata-kata dalam bahasa Inggris. Sudah sang putri belum terlalu pandai berbicara, di tambah dengan penggunaan bahasa Inggris, membuatnya makin mumet saja.


"Tidak tau sayang." Seru Marcus.


"Mama tau liwed?"


"Boro-boro, An." Keluh mama Elena.


"Terus apa dong... ."


"Riward, mommy." Seru Mallfin yang baru saja melenggang memasuki ruangan itu dengan penuh pesona.


"Riward? Riward apa, mas?" Dan inilah kendala Ana saat dihadapkan pada anak-anak yang sudah mahir berbahasa Inggris.


"Hadiah, sayang."


"Yesh, daddy kollek. Daddy dapat shuttall lima." Sentak Maurin, merasa lega sang daddy akhirnya mengerti apa yang menjadi keinginannya.


*kollek : correct / benar


"Astaghfirullah, korek apa lagi sayang. Kalau bicara sama mommy yang biasa aja ya. Mommy ngga paham sayang, heummm..."


🍁🍁🍁


Annyeong Chingu


Happy reading semua


Saranghaja 💕💕💕